Kamis, 21 April 2011

Tidak Ada yang Kebetulan

Ini salah satu kisah lama yang meyakinkanku bahwa hidup ini tidak ada yang kebetulan.Awal tahun 2000, dengan ijin Allah SWT saya berkesempatan menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kalinya. Waktu itu ikut rombongan biro Haji Dewan Dakwah Islamiyah Jakarta, rombongan haji reguler. Alhamdulillah perjalanan lancar hingga sampailah kami di Makkah Al Mukaramah. Sebagai jama'ah haji yang masih dianggap muda waktu itu, biro merencanakan menempatkanku sekamar dengan 2 ibu tua dan satu teman sebaya dengan harapan masing-masing kami yang muda menjaga dan membantu ibu-ibu tersebut.

Namun begitulah, apa yang direncanakan tidak selalu sesuai dengan fakta di lapangan. Sesampai di pondokan ternyata kapasitas kamar tidak sesuai jumlah rombongan. Lagi-lagi sebagai jama'ah yang dianggap muda, saya dan teman sebaya diminta mengalah dan menunggu hingga pembagian kamar beres. Lama menunggu tidak juga ada kepastian dimana kami akan menginap. Sampai ada salah satu jama'ah yang saya tahu kemudian bernama ibu Imas adalah ustadzah dari Tasik menawarkan kami bergabung di kamarnya. Jadilah kami ber-sepuluh dalam satu kamar!

Di kamar yang seharusnya berkapasitas 6 orang itu, kami jamaah haji perempuan mulai saling berkenalan dan menjalani aktifitas. Masing-masing kami mendapat jatah satu kasur tidur lipat, dan satu jeda lantai untuk menaruh kopor dalam posisi berdiri. Namun, seiring berjalannya waktu indahnya kebersamaan tercipta di kamar kami.

Sebelah kanan persis kasur tidurku adalah kakak beradik yang berangkat haji dengan suami masing-masing. Sang kakak adalah doktor psikologi lulusan Ausie, sang adik adalah profesional muda di salah satu bank di Jakarta. Kami bertiga dalam posisi sejajar. Di seberang kami berjajar 3 jamaaah lain, sehingga ketika tidur posisi kami beradu kaki dengan mereka. Bu Imas dan empat jamaah lainnya berjajar di sisi kiri kamar. Hemm, semua masih tergambar dengan jelas meski sudah 11 tahun lewat.

Keberadaan bu Imas yang ustadzah dan ibu psikolog yang juga pengasuh rubrik psikologi di majalah wanita terkenal inilah yang menjadikan kamar kami kamar pendidikan. Setiap saat obrolan-obrolan ringan berubah menjadi diskusi yang bermakna. Salah satu obrolan itu, adalah ketika si Ibu psikolog menyarankan saya jika mau kuliah S2 ambil saja di UI tempat dia bekerja sebagai dosen. Tentu saja saya yang saat itu wanita tanpa pekerjaan, tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa tidak membayangkan dan berharap.

Rupanya obrolan itu dicatat malaikat. Tahun 2006, Enam tahun kemudian saya berkesempatan mengikuti tes beasiswa S2, dan satu-satunya jurusan yang boleh saya pilih sesuai persyaratan adalah fakultas psikologi UI. Alhamdulillah saya diterima, dan apa yang sudah dicatat malaikat harus terjadi. Saya bertemu lagi dengan ibu psikolog teman sekamar di Makkah Al Mukaramah sebagai dosen saya. Ibu psikolog itu adalah Winarini W Dahlan, pengasuh rubrik psikologi di majalah Kartini.

Subhanallah wal hamdulillah, maha Suci Allah yang tidak pernah sia-sia dalam perkataan dan perbuatan. Bagi saya,kejadian ini membuktikan bahwa dalam hidup ini tidak yang kebetulan. Apa yang terjadi adalah apa yang disebabkan oleh fikiran, perkataan dan perbuatan kita sebelumnya. Tugas kita adalah berbuat dan berbuat, memperbanyak sebab untuk apa yang akan terjadi di masa depan yang kita tidak ketahui terjadi oleh sebab yang mana. Wallahu'alam.

Jum'at, suatu siang di Arcadia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...