Memasuki komplek perumahanku yang asri, udara malam menerpa, dingin oleh semilir angin. Pohon palm melambai-lambai tertiup angin. Bulan sabit bersinar pucat seirama dengan semburat redup lampu jalan. Jika boleh memilih, dalam beberapa hal, aku lebih suka berjalan kaki, seperti senja ini. Namun, kehidupan berpacu seperti tidak menyisakan waktu untuk kita menghayati setiap momen. Setiap kita berpacu dengan waktu. Berjalan kurang seirama dengan tuntutan itu.
Dengan berjalan, selain lebih menyehatkan, aku merasa dekat dengan alam. Menikmati setiap langkah seperti demikian seharusnya setiap fase kehidupan dinikmati. Dulu bahkan jika pulang dari kantor dan musim hujan aku sengaja berjalan di bawah hujan. Menikmati pancuran raksasa yang langsung dipancarkan oleh Allah dari langit. Berjalan menegaskan mana langkah yang telah lewati dan akan dilewati. Seperti itu kehidupan berjalan.
Suatu saat kita berhenti istirahat dalam perjalanan kita. Mengistirahatkan fisik dan fikiran untuk mengembalikan energi yang terkuras selama perjalanan. Dalam jeda itu, kita melihat kembali langkah-langkah yang telah kita lalui dan menjadi kenangan. Sambil mengukur jarak yang masih akan kita tempuh dan mempersiapkan bekal untuk perjalanan selanjutnya. Berapa lama seseorang mengambil jeda, tidaklah sama. Ada yang begitu kelelahan dan tak lagi sanggup berjalan lalu berkemah disitu menghabiskan waktu. Ada yang terlampau kuat dihantui bayangan masa-masa perjalanan yang telah lewat hingga ingin kembali menapaki masa-masa yang telah lewat itu. Ada yang cepat-cepat beranjak tak sabar menemui momen-momen baru di perjalanan selanjutnya. Ada yang tidak mengetahui jalan mana yang harus dia tempuh.
Duhai Allah yang mengilhamkan jalan kefasikan dan ketaqwaan (QS. As Syam;8, QS.Al Balad;10), sungguh jalan ketaqwaan itu mendaki dan penuh cobaan. Namun tiada yang tidak mungkin jika Engkau memberi pertolongan. Duhai Allah yang maha kasih dan tak pernah pilih kasih, jadikan kasih sayangMu sebagai lentera dalam perjalananku. Penunjuk jalan jika aku salah langkah, penyejuk dan penguat jiwa jika aku putus asa. Duhai Allah jadikan kasih sayangMu sebagai puncak kerinduanku, pelipur sedu sedanku. Duhai Allah, hanya kepadaMu aku bermohon. Aamiin Yaa Robbal'alamiin.
"Suatu senja di Arcadia"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar