Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Harian. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 November 2016

Kunci Sorga

Si bungsu ini memang lagi masa-masanya penuh rasa ingin tahu. Apapun yang menarik perhatiannya akan menjadi bahan pertanyaan yang nggak akan berhenti begitu saja dengan satu jawabannya. Pertanyaan lanjutannya bisa panjang dan lama. Beberapa postingan teman tentang 'keinginan-tahuan' anak usia 7 tahun akhirnya juga aku alami. Pernah suatu hari, mulut kecilnya bertanya "ibu, ML itu apa?". Hiks. "Maksudnya?", tanya saya balik, "iya ML itu apa, sambil menunjukkan tulisan di susu kotak yang sedang diminumnya. Oalah, baru ngeh saya, persis dengan postingan yang saya baca. Jadi saya tidak perlu panik dengan pertanyaannya. Suatu hari lagi, dia lagi asyik dengan kegiatan menirukan berbagai suara. Yang membuat saya terengah-engah karena harus meladeni ocehannya hampir 2 jam adalah setiap dia selesai menirukan suara, dia minta saya untuk menilai apakah sudah mirip atau belum. Mulai dari suara berbagai macam kendaraan, berbagai macam binatang dan sebagainya. Sebagai orang tua memang harus sabar, jika salah menanggapi bisa mematikan daya kreatifitasnya.

Si bungsu ini juga sudah saya biasakan untuk sholat 5 waktu sejak dari TK. Memasuki SD, saat usianya 7 tahun, saya bilang bahwa mulai usia 7 tahun sholatnya harus penuh. Beberapa hari lalu, sebelum mulai sholat jamaah bersama saya di rumah, tiba-tiba mulut  kecilnya bertanya: "Ibu, sholat itu kunci sorga ya?". Tak mau kehilangan momen, saya langsung jawab pertanyaannya; "Iya, nanti yang ditanya pertama kali di akhirat adalah sholat kita, kalau sholat kita baik, nggak bolong-bolong maka kita akan masuk sorga." Trus dia kembali bertanya, aku pernah nggak sholat isya sekali karena ketiduran, gimana kuncinya?" Yah, nggak boleh diulang lagi, Karena kalau keseringan ninggalin sholat, nanti kunci sorganya rusak, nggak bisa dipakai untuk membuka pintu sorga lagi". "Trus, kalo nggak bisa buka pintu sorga, kita masuk kemana?" Tanyanya lagi. "Ya, masuk pintu neraka" jawab saya cepat, sambil menjelaskan kalo ketiduran belum sholat, begitu bangun langsung mengganti sholat yang ditinggalkan." Sejak itu, dia akan marah kalo sampai lupa/terlambat dibangunkan untuk sholat berjamaah.

Begitulah, mendidik di masa kecil bagai mengukir di atas batu. Lebih mudah tertanam dengan baik dalam memori anak. Sebagai orang tua, yang masih punya anak kecil, sebaiknya kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menanamkan nilai-nilai agama dan moral kepada anak kita. Insyaa Allah akan diserap tanpa banyak membantah. Yang saya alami sendiri, kadang rasa sayang/kasihan kepada anak membuat kita kurang disiplin dalam menanamkan nilai. Contoh, pernah sekali saya 'sengaja' tidak membangunkan dia untuk sholat Isya, karena saya nggak tega melihat tidurnya pulas karena kelelahan. Namun, ternyata besoknya, dia marah, dan meminta saya untuk membangunkan dengan segala cara agar dia bisa sholat. Subhanallah, ternyata dia lebih tegar daripada fisiknya yang cungkring.

Memahami bahwa momen pendidikan agama dan karakter harus dimulai sejak usia kecil, saya mulai percaya diri (baca: tegaan) untuk mulai menanamkan berbagai nilai. Kuncinya memang teladan. Alhamdulillah, sudah tiap hari, si bungsu bangun sebelum subuh. Sebelum tidur, dia selalu berpesan "bangunin aku ya bu, jangan ditinggal sholat subuhnya!". Hiks. Jam berapapun aku bangun, dia ikut bangun. (Jadi inget video "children see, children do"). 

Saat ini, mulai tadi pagi, saya akan memulai eksperimen menanamkan nilai agama bahwa "laki-laki itu sunahnya sholat subuh di masjid". Meskipun sudah bangun sebelum subuh, si bungsu ini nggak pernah mau diajak ayahnya sholat subuh di mushola. Alasannya, 'Ibu juga nggak sholat di mushola"! (Hadeuh, bener2 "al umm madrosati ula"). Berbagai penjelasan masih belum bisa masuk dalam nalar dia. Barangkali, iming-iming surga dan seisinya akan berada ditangganya masih jauh dari jangkauan dia. Ujung-ujungnya, saya harus memberikan hadiah yang paling mungkin membuatnya tertarik. "Oke, kalo Akbar sholat subuh di mushola setiap hari selama sebulan, ibu akan kasih hadiah mainan lego yang besar".! Hadiah ini rupanya tokcer, dia langsung menyambar kopyahnya mengikuti langkah ayahnya ke mushola untuk sholat subuh. Pulang dari mushola, dia mulai menghitung hari untuk dapat hadiah mainan. Hehehe. Pada saat yang tepat nanti, ketika dia sudah terbiasa sholat subuh di mushola, saya akan menanamkan nilai bahwa hadiah terbaik adalah dari Allah. 

Subhanallah, sesuatu banget menjadi orang tua.


Senin, 19 September 2016

Dunia yang Bergegas

"Ibu, ibu kenapa sih kalo pagi selalu buru-buru?", pertanyaan si bungsu suatu kali. Si bungsu ini setiap hari berangkat ke sekolah bersama saya, karena sekolahnya searah dengan sekolah tempat saya mengajar. Jam 06.15, kami berdua sudah on motor cycle to school. Jarak ke sekolah yang hanya beberapa ratus meter dari rumah, membuat kami bisa berangkat mendekati jam 06.30, saat bel masuk sekolah DKI dibunyikan. Sesampai di sekolahnya, setelah cium tangan saya biasanya si bungsu akan bertanya tentang berbagai hal, dan jawaban saya cuma satu, "oke"!. dan sayapun bergegas menuju tempat saya mengajar. Biasanya sekitar 1 atau 2 menit menjelang 06.30, saya sudah sampai di sekolah. Saya bahkan tak sempat untuk menjawab berbagai pertanyaan sibungsu, menuntun tangannya hingga sampai batas mengantar, memberikan pesan-pesan, dan melambaikan tangan. Sesuatu yang saya perhatikan dilakukan oleh bebrapa orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah.

Di jalanan, manusia juga bergegas menembus kepadatan lalu lintas, agar tidak terlambat. Sayapun melakukan hal yang sama. Sesekali menyalip, sesekali menerobos, sesekali tetap ngebut meski melewati polisi tidur. Bahkan tak jarang harus selip-selipan dengan murid-murid saya yang juga bergegas. Setelah memarkir motorp, harus bergegas ke tempat finger absen. Dan baru bisa mengambil nafas lega, karena tidak terlambat. Anak-anak muridpun begitu, mereka harus ngebut, berlari, bergegas ke sekolah, kalo tidak pasti terlambat.

Sesampai di sekolah, sambil istirahat membuka hp yang sudah dipenuhi dengan berbagai berita melalui wa, bbm. fb, line, instagram dan lain-lain. Berbagai posting bersliweran dengan cepat, tanpa sempat memberi ruang untuk mencerna. Berita-berita itu akan berganti detik demi detik tanpa henti. Dan kita membacanya tanpa penghayatan. Banyak teman, banyak berita dan semua berlalu begitu saja. Berita gembira, berita duka cita, bercampur jadi satu membuat kita tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.

Hilangnya Jiwa yang Peka

Segala kesemrawutan itu menjadikan kita manusia yang setiap hari harus bergegas. Dengan anak bergegas, dengan kawan bergegas, dengan pasangan bergegas, dengan pekerjaan bergegas. Namun apakah kebergegasan ini membuat segalanya lebih cepat? Lebih efektif? lebih baik? Sepertinya tidak. Bahkan, yang terjadi adalah jiwa-jiwa yang lelah, anak-anak yang kurang memiliki kepekaan, orang tua yang selalu tidak punya waktu untuk anak-anaknya. Siswa-siswa yang hanya mengerti bagaimana mengerjakan soal ujian dan mendapatkan nilai rapor yang bagus, Guru-guru yang dituntut untuk mengejar ketuntasan mengajar, tanpa peduli pelajaran apa yang bisa diperoleh anak didiknya.

Terkadang, saya merindukan saat dunia belum ada hp. Ketika komunikasi masih menggunakan surat yang dikirm melalui pos. Surat berlembar-lembar yang sarat pesan dan kaya cerita. Yang kedatangannya ditunggu-tunggu, mungkin dalam beberapa hari, beberapa bulan, atau bahkan beberapa tahun. Komunikasi yang tidak terlalu intens namun berkesan. Bukan komunikasi yang cepat, singkat, lalu dilupakan seperti saat ini. 

Namun dunia tidak pernah surut ke belakang. Inilah dunia yang kita hadapi sekarang. Butuh perjuangan untuk tetap bisa menghidupkan hati di dunia yang bergegas..


Jakarta, suatu siang

Kamis, 17 Maret 2016

Berkata Jujur

Berkata jujur itu melegakan. Jika itu suatu kesalahan, jujur mengakui kesalahan membuat kita tidak perlu repot-repot mencari-cari alasan pembenaran kesalahan kita. Membela diri dengan berbagai argumentasi yang sebenarnya semakin meyakinkan bentuk kesalahan kita. Tentu lebih mudah mengatakan: ya, saya salah, dan bersiap menerima resiko kesalahan kita.

Jika itu suatu kebenaran, jujur mengakui apa yang kita anggap benar menguatkan hati dan tidak membuat kita membohongi diri sendiri. Apakah setiap kebenaran harus diungkapkan? Pada kenyataannya, tidak semua kebenaran yang diungkapkan membawa kebaikan. Kita mesti melihat situasi dan kondisi apa, bagaimana, dan kepada siapa kebenaran diungkapkan. Jika kebenaran yang akan kita ungkapkan menyebabkan pihak lain tersinggung, mungkin karena cara mengungkapkannya yang salah. Atau, belum waktunya kebenaran tersebut diungkapkan.Jadi mesti difikirkan bagaimana kebenaran dapat diungkapkan secara benar pula.

Jika itu suatu kelemahan, jujur mengakui kelemahan diri membuat kita paham apa yang mesti diperbaiki. Pengakuan akan kelemahan dan kekurangan diri menjauhkan kita dari sikap sombong dan tinggi hati. Senantiasa meyakini bahwa sehebat apapun kita pasti memiliki kekurangan, demikian juga orang lain. Sehingga kita tidak terjebak pada kekaguman mutlak pada makhluk, maupun rendah diri terhadap kehebatan orang lain.

Jadi, mulai saat ini berkatalah jujur. Minimal terhadap diri sendiri dan terutama kepada Allah.

Salam

Kamis, 03 Desember 2015

PUISI

Terhenyak, itulah ekspresi pertamaku saat menerima empat buku kumpulan puisi yang dikirim oleh seorang sahabat lama. Terhenyak, bukan saja karena buku kumpulan puisi ini adalah buku puisi hasil karya sahabat itu, seseorang yang semangat hidupnya menginspirasi. Namun, kesadaran betapa lama aku tak berinteraksi dengan dunia yang satu inilah yang paling membuatku terhenyak. Beberapa tahun silam, masa remaja hingga menjelang dewasa awal, dunia ini begitu kuakrabi. Tidak saja dengan menulis dan membaca puisi namun juga terlibat dalam komunitas pecinta puisi. Meskipun, semua itu tak pernah terpublikasi dan hanya tersimpan dalam lipatan sejarah hidupku sendiri.

Seperti biasa saat membaca buku baru, aku amati halaman sampul depan, layout cover, nama penulis dan sebagainya. Disitu aku temukan nama Lies W, dan kawan-kawan. Ya, itulah nama seorang sahabat lamaku, seniorku. Meskipun, interaksi dengannya tak pernah intens, namun setiap saat ada kontak, mbak Lies, begitu aku memanggilnya, aku merasakan kedekatan dan keakraban. Lengkapnya adalah Doktor Lies W, seorang ahli bio pangan dan peneliti di Kementerian Ristek dan Teknologi jebolan salah satu Universitas di Jepang. Wanita cerdas, mandiri dan bersahaja ini, hidupnya seperti puisi. Penuh penghayatan, mengalir dalam irama yang tenang namun menggelora. Itulah yang membuatku tak heran, hingga di tengah kesibukannya menggeluti dunia ilmiah yang sarat otak kiri, dia masih sempat menulis puisi yang sarat otak kanan. Sungguh keseimbangan yang tak mudah setiap orang mencapainya.

Lalu kubuka halaman demi halaman lembaran puisi tersebut. Menikmati setiap kata yang tertera hingga mengimajinasiku ke dunia seperti apa yang hendak disampaikan penulisnya. Ya, puisi bukan sekedar rangkaian kata indah. Namun, untaian kata yang sarat pesan. Lahir dari perenungan mendalam tentang hakekat segala hal. Puisi adalah hidup yang dihayati sepenuih jiwa. Kekayaan batin seseorang yang terangkai indah lewat kata. Dia tidak akan lahir dalam dunia  tergesa tanpa jeda. 

Itulah puisi yang telah lama tak kuakrabi. Aku mengabaikan bukan karena tak suka. Namun, ada saat aku merasa dunia itu tak nyata, cengeng, dan kurang bermanfaat. Hidup yang sesungguhnya penuh tantangan dalam lika likunya. Tak terselesaikan dengan hanya sebaris kata-kata yang bernama puisi. Namun, membaca kembali kumpulan puisi ini membuatku menyadari bahwa hidup ini sarat makna. Buka sekedar rutinitas kegiatan dari bangun pagi hingga tidur lagi. Setiap episodenya memperkaya batin kita. Bukanlah sesuatu yang seharusnya dilalui dengan begitu-begitu saja. Karena,  “hidup yang tak dihayati, tak layak untuk dijalani”.

Saat ngawas UAS di lantai tiga ruang kelas MAN 14 Jakarta

4 Desember 2015

Selasa, 04 November 2014

Nurture vs Nature

"Bu, apakah kalau orang tuanya berbuat sesuatu anaknya akan berbuat sama seperti orang tuanya?", tanya seorang anak dengan ekspresi takut dan cemas. Saya berusaha untuk membesarkan hatinya dengan menjawab bahwa perbuatan baik atau buruk bukanlah warisan. Itu adalah murni tanggung jawab dan pilihan pribadi masing-masing pelakunya. Saya tidak tahu apakah kata-kata saya saat itu dapat meringankan kecemasannya, namun pertanyaan itu menjadi bahan renungan saya berhari-hari sejauhmana perilaku/sikap orang tua berpengaruh terhadap anak. Di saat lain seorang teman menceritakan kecemasannya karena anak gadisnya yang masih SMP sudah mulai berpacaran. Di akhir cerita dan setengah bertanya teman saya ini berkata, "apakah ini karena faktor keturunan, karena dulu ibunyapun mulai berpacaran saat SMP".

Sebagai seorang guru, saya juga sering menemukan berbagai perilaku anak yang ekstrem dari berbagai sudut pandang. Ada ekstrem pemalu, ekstrem pemarah, ekstrem penggembira dan sebagainya.  Anak yang ekstrem pemarah, maka cenderung akan mengekspresikan kemarahannya melalui kata-kata bahkan perbuatan fisik yang merugikan temannya seperti memukul, mencakar, dan serangan fisik lainnya. Sedangkan anak yang ekstrem pemalu maka dia bisa bertahan dalam kesendiriannya di lingkungan sekolah.

Seringkali menghadapi sikap tersebut kita mencoba menganalisisnya dengan cara merunut bagaimana pendidikan pertama yang dia terima di rumah. Dalam banyak kejadian, sikap-sikap anak yang ditampilkan terutama saat mereka sudah remaja adalh refleksi sikap yang pernah dia terima di keluarganya, dalam hal ini adalh orang tuanya. Anak yang mengekspresikan kemarahannya secara berlebihan baik kata-kata maupun fisik 'biasanya' pernah diperlakukan dengan cara yang sama oleh orang tuanya di rumah. Demikian juga anak yang pemalu berlebihan, bisa jadi karena pendidikan masa kecil yang diterimanya tidak menumbuhkan rasa pervaya diri dia.

Dari beberapa hal di atas pertanyaannya adalah apakah nurture (pola asuh) atau nature (keturunan) yang paling berpengaruh terhadap perilaku seseorang. Apakah kedua-duanya berpengaruh. Apakah seorang anak yang pemarah karena dididik dan dilahirkan dari orang tua pemarah? Dan, orang tua yang pemarah karena juga dididik dan dilahirkan oleh orang tua pemarah, dan seterusnya kakek-buyut yang juga pemarah. Lalu sifat pemarah itu menjadi nature yang turun temurun dan menjadi nurture yang dikembangkan dalam pola asuh di keluarga tersebut sehingga melahirkan generasi-generasi berikutnya yang juga pemarah? Jika demikian manusia tak ubahnya robot masa lalu yang hanya mengulang-ngulang cetak biru orang tuanya.

Sebagai guru dan juga orang tua yang merasa perlu untuk terus menerus menanamkan optimisme kepada anak-anak tentu saja saya menentang dan tidak mau percaya dengan hal itu. Bagi saya setiap anak adalah unik dan baik. Bisa jadi faktor keturunan dan pola asuh yang diterimanya berpengaruh terhadap karakternya saat ini tapi tidak seluruhnya. Seorang anak masih sangat mungkin berubah menjadi jauh lebih baik dari apa yang diterimanya dari orang tua yang telah mendidiknya dengan cara yang salah.

Manusia adalah makhluk berkesadaran. Lingkungan yang mendidiknya tidak saja lingkungan keluarga. Orang-orang baik yang ditemuinya di lingkungan yang lebih luas dapat menjadi teladan bagi perubahan perilakunya.  Manusia yang berkesadaran  tidak akan membiarkan apa yang tidak disukainya akan diterima oleh orang lain. Seorang anak yang lembut hatinya bisa jadi dibesarkan oleh orang tua pemarah namun dia tumbuh berkesadaran bahwa sikap pemarah tidak disukainya sehingga dia tidak memperlakukan orang lain dengan marah-marah.

Dalam Islam sendiri kisah keluarga Nabi Nuh dapat menjadi contoh bagaimana sikap baik bahkan keimanan tidak dapat diturunkan. Kan'an yang lahir dan dibesarkan seorang nabipun tidak otomatis tumbuh dan besar menjadi anak yang berakhlak baik. Bahkan Allahpun kemudian menegur nabi Nuh yang mengiba memohon pertolongan Allah untuk anaknya. Bahwa meskipun Kan'an anak biologis nabi Nuh, namun pada hakekatnya dia bukan anaknya.

Kisah itu menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap optimis dengan segala kondisi yang saat ini kita hadapi. Khususnya, bagi yang kurang beruntung pernah mendapat pendidikan yang tidak tepat di keluarganya. Bahkan tetap menjadi kesadaran dan bahan refleksi bagi siapapun yang berasal dari keluarga baik-baik.


Wallahu'alam






Kamis, 23 Mei 2013

Wanita Berhati Kuat


“Nangisnya sudah habis, tiga tahun nangis terus cukup sudah,” ujar wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu nyaris tanpa ekspresi.  Wanita itu seorang ustadzah dari Tasikmalaya. Kebersamaan kami selama berhari-hari dalam perjalanan ibadah haji membuat kami dekat. Kebetulan kami berada di kamar yang sama, dan sama-sama berangkat sendiri. Ustadzah itu berangkat haji dibiayai oleh menantunya yang sedang menempuh  studi S3 di Universitas Madinah atas biaya pemerinta Arab Saudi. Sekitar 7 hari terakhir menjelang kepulangan ke tanah air, kami berdua melewatkan malam-malam di Masjidil Haram untuk beriktikaf.  Kami mengaji bersama, shalat bersama, berdiskusi, berbincang ringan, dan merebahkan badan di lantai masjid jika rasa kantuk menyerang.
Selama kebersamaan kami, aku hampir tak pernah melihatnya menangis, bahkan dalam do’a-do’a dan ibadahnya di depan ka’bah. Karena merasa dekat, aku tanyakan keingintahuanku itu. Lalu mengalirlah cerita hidupnya yang tak kusangka.
Setelah belasan tahun masa perkawinannya yang bahagia dan harmonis dan sudah memiliki tiga orang anak, tiba-tiba suaminya yang ustadz itu minta ijin menikah lagi. Sebagai seorang ustadzah panutan umat dan tentu saja memahami agama, ibu itu meski galau, mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Pada saat hari pernikahan suaminya dia sendiri yang mempersiapkan segala hantaran dan mas kawin. Anak sulungnya yang masih SMP saat itu sempat bertanya untuk apa segala hantaran ini kepada uminya. Dan pernikahan kedua suaminya akhirnya berlangsung dengan keridhoannya.
Pada saat istri kedua suaminya melahirkan anak pertamanya, ustadzah ini ikut menunggui. Dia sendiri sedang mengandung sembilan bulan anaknya yang ke-empat. Subhanallah.  Semuanya nampak berlangsung dengan baik. Namun demikian kelahiran anak pertama dari istri keduanya ini dan kelahiran anak ke-empat dari ustadzah ini rupanya menjadi awal masa-masa penuh derai air mata bagi ustadzah. Anak ke-empatnya laki-laki, satu-satunya setelah tiga anak sebelumnya perempuan. Anak ini ‘dengan kehendak Allah’ menginginkan kedekatan dengan ayahnya lebih dari biasanya. Saat itu rasa keadilan  benar-benar diuji dan suaminya gagal memenuhi syarat keadilan bahkan terhadap anaknya sendiri. Ustadzah itu bercerita, seandainya saat itu suaminya bisa berlaku adil terutama terhadap anak-anaknya saya tidak akan mengajukan gugatan cerai.
Ustadzah itu, setelah masa tiga tahun, melalui perihnya ketidakadilan, akhirnya mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya.  Tentu saja suaminya menolak. Namun kegigihan ustadzah ini untuk memperjuangkan nasibnya di pengadilan, akhirnya berhasil. Perkawinan yang telah dirawatnya belasan tahun harus berakhir. Dia memilih bercerai dari suaminya. Keputusan ini membuatnya tidak saja dimusuhi oleh mantan suami dan keluarganya namun juga komentar miring masyarakat sekitar. Bagaimana mungkin seorang ustadzah mengguggat cerai suaminya yang juga ustadz. Begitulah komentar yang harus dia terima.
Dan kehidupan terus bergulir, beberapa lama setelah dia melalui masa iddahnya, seorang bujangan yang juga guru agama melamarnya. Dan diapun menikah lagi. Seperti do’a yang dia selalu panjatkan, seorang pengganti yang lebih baik. Dari pernikahannya yang kedua ini dia melahirkan tiga orang anak lagi. Sehingga jumlah seluruh anaknya tujuh orang. Dan kesemuanya dibesarkan dengan suami keduanya ini dengan baik. Bahkan anak pertama dan keduanya menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh suami keduanya. Alhamdulillah perkawinan keduanya sakinah mawwadah wa rahmah. Kebahagiaan hakiki dia rasakan.
Di akhir ceritanya dia berpesan. Dik, (begitulah dia memanggilku), setiap rumah tangga harus melakukan peran dakwah. Jika suami yang berdakwah, maka istri mendukung dakwah suaminya. Jika suami tidak bisa berdakwah,  maka istri harus berdakwah dan suami mendukung dakwah istri.
 Lewat tengah malam ketika dia menyudahi ceritanya. Angin malam di udara Mekkah saat itu bertiup hangat. Ribuan orang masih tak henti berthawaf. Berputar mengelilingi Ka’bah, bergantian antara yang datang dan pergi, seperti roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar. Dan itulah gambaran hidup kita, seharusnya menjadikan Allah sebagai muara segala urusan. Suka- duka, sedih-kecewa, marah-gembira, ujian-musibah, semua dipergilirkan pada waktunya. Dan hanya kepada Allahlah kita pusatkan segala sesuatu.
Bu Imas, nama ustadzah itu, sudah memejamkan mata di lantai masjid. Aku sendiri masih terjaga, terkesan dengan kisah hidupnya. Wanita yang punya pendirian, gumamku dalam hati. Allah-lah yang telah memberinya kekuatan untuk memilih dan memutuskan jalan hidupnya.  Mengijinkan suaminya menikah lagi, menggugat cerai suaminya, dan menikah lagi tentu memerlukan kekuatan hati yang luar biasa. Namun, seperti thawaf, jika semua dikarenakan Allah, segalanya menjadi lebih mudah. Beliau sudah berthawaf jauh sebelum datang ke Ka’bah ini.  Ah, aku akan merindukan saat-saat seperti ini, melakukan perbincangan penuh makna di depan Ka’bah, di Masjidil Haram yang penuh berkah.

Wallahu’alam..




Senin, 25 Februari 2013

Teori Hidup


Seorang teman mengomentari blog saya ini sebagai yang menyajikan berbagai permasalahan riil kehidupan, mulai masalah remaja, sekolah, suami istri dan lain-lain. Teman saya yang boleh dibilang tak pernah terpuaskan dahaga keilmuannya dan terus mempertanyakan tentang makna hidup itu juga mengajukan pertanyaan untuk dikomentari di blok ini tentang berbagai teori kehidupan. Apakah psikologi, filsafat, atau agamakah teori hidup yang tepat untuk diterapkan. Dia sendiri memilih agama, meski agama juga multi tafsir.

Filsafat dan psikologi memberi kita pengetahuan tentang berbagai hal dalam hidup ini. Psikologi sendiri, ilmu yang sedikit banyak, pernah saya pelajari, memberi tahu kita tentang gejala-gejala jiwa. Dari itu kita  memiliki pengetahuan agar bisa mensikapi dengan tepat gejala jiwa yang muncul. Demikian juga filsafat, saya kira. Namun demikian sebagai teori yang dihasilkan dari generalisasi suatu sikap yang teramati, psikologi dan filsafat pasti tidak selalu tepat penerapannya. Hal itu karena sebesungguhnya setiap jiwa adalah unik.  Agama bukan teori, tapi panduan langsung dari Tuhan untuk menuntun hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat. Meski penafsiran tentang petunjuk agama seringkali berbeda-beda, namun petunjuk agama menurut saya lebih bersifat universal. Universalitas agama meliputi ruang dan waktu.

Tentu saja, saya sendiri tidak hendak mengkonfrontir berbagai teori hidup dengan agama. Karena, dalam hal tertentu, teori hidup dapat memperkaya petunjuk agama sehingga upaya kita mensikapi berbagai permasalahan hidup menjadi lebih kaya. Sebagai misal, jika psikologi mempelajari gejala-gejala jiwa, maka agama memberikan petunjuk tentang hakikat jiwa. Jadi, hakikat jiwa bisa lebih mudah dipahami melalui gejala-gejala jiwa.

******
Namun demikian di atas segala teori itu, hidup terus berjalan dengan atau tanpa berbagai teori hidup maupun petunjuk agama. Bahkan seringkali berjalan tidak linier sesuai yang direncanakan dan diharapkan. Gejolak kehidupan menuntut kita tidak sekedar berteori namun menemukan teori/teknik sendiri dalam mengatasi gejolaknya. Kehidupan tidak seperti sekolah formal yang akan diuji setelah kita belajar. Namun seringkali keduanya seiring sejalan bahkan berjalan terbalik, dari ujian maka kita belajar.

Saya sendiri lebih senang menganggap hidup ini sebuah petualangan (life is the adventure). Dengan itu, saya mempersiapkan diri untuk menikmati setiap episodenya sebagai bagian dari petualangan yang tidak akan berhenti sebelum kita dipanggil olehNya. Saya menyadari medan kehidupan yang akan saya lalui dalam petualangan hidup ini tidak selalu mudah, bahkan cenderung penuh tantangan. Namun saya tidak akan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Barangkali sesekali saya akan berkemah di suatu tempat yang indah untuk sejenak melepas lelah dan menikmati keindahan alam sekitar. Namun,  kehidupan akan memberi tanda saat seharusnya saya kembali melanjutkan perjalanan.

Saya tahu tujuan akhir petualangan hidup ini adalah kembali ke haribaanNya dengan ridho dan diridhoiNya seperti disebut dalam QS. Al Balad (90); 27-28, “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya.” Untuk bisa kembali dengan hati yang ridho, tentunya kita harus menjalani hidup ini dengan ridho apapun episode yang sedang kita jalani. Agama memberi petunjuk dengan dua sikap: bersyukur ketika mendapat nikmat, dan bersabar ketika mendapat musibah. Petunjuk yang singkat sangat singkat meskipun akan sangat panjang pembahasannya.

Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa keduanya akan dipertukarkan di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menetap abadi salah satunya. Jadi, ini menguatkan kita untuk penuh harap saat ditimpa musibah, dan tidak berlebihan  bersuka cita saat mendapat karunia. What a lovely life.

Duhai Allah yang Maha Kasih, ajarkan hambaMu ini untuk mencintaiMu di atas segalanya, dan mencintai segalanya hanya karenaMu… Aamiin.

Wallahu’alam

Kamis, 17 Januari 2013

Melawan Rasa Bosan

Dalam sejarah Islam diriwayatkan, ketika para sahabat pulang dari peperangan Rasulullah SAW menyampaikan bahwa jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu (diri sendiri). Meskipun beberapa ulama menjelaskan bahwa hadits ini dhaif, namun dalam konteks perjuangan melawan hawa nafsu agar tunduk dalam tuntunan Allah, hadits ini ada baiknya kita ikuti. Apalagi di zaman sekarang ketika perang dingin yang memerlukan jihad fisik sudah jarang terjadi dan  yang terjadi adalah godaan dunia yang bertubi-tubi, maka konteks jihadun Nafs rasanya relevan.

Diantara nafs buruk yang seringkali muncul  dalam diri kita dan harus kita lawan adalah sifat malas dan bosan. Dua jenis rasa ini saling mendukung satu sama lain dan pasti pernah kita alami. Tidak seperti jenis rasa lain yang jelas diketahui penyebabnya, rasa bosan dan malas kadang datang menyergap tanpa alasan yang jelas. Rasa bosan membuat kita malas melakukan apa saja. Dan jika memaksakan untuk melalukan aktivitas rutin hasilnya pasti asal-asalan bahkan bisa jadi tidak ada hasilnya sama sekali.

Dalam kondisi itulah saatnya kita berperang melawan diri sendiri.  Dan seperti dikemukakan dalam riwayat di atas, berperang melawan rasa bosan dan malas yang menghinggapi diri sendiri  perlu tekad yang kuat dan usaha yang ekstra. Aku sendiri sering melakukan perlawanan terhadap dua rasa yang mengganggu ini.  Biasanya aku lakukan dengan cara meluangkan waktu dengan melakukan hal-hal yang aku senangi. Bahkan ketika rasa bosan dan malas hadir di saat jam-jam sibukpun, aku ‘terpaksa’ melupakan segala kesibukan dan melakukan hal-hal ringan yang aku senangi misalnya membaca novel atau cerita fiksi, atau berbincang ringan dengan siswa atau sesama guru.

Seperti pagi itu, aku disergap rasa bosan yang amat sangat, bahkan untuk ngobrol saja malas. Untungnya hari itu tidak ada jadwal mengajar. Sejak duduk di belakang meja kerja dan menghidupkan laptop, aku tidak tahu dan tidak mau berbuat apa-apa rasanya. Barangkali teman-teman menyangka aku sedang sibuk karena tidak ada obrolan atau candaan seperti biasanya. Hingga jam 10.00 pagi, kondisi tidak juga juga berubah membaik. Ah, ini tidak bisa dibiarkan, ujarku dalam hati. Banyak pekerjaan harus diselesaikan. Akhirnya, aku putuskan untuk ke perpustakaan. Sepertinya enak, tiduran sambil membaca buku di perpustakaan. Siapa tahu ada bacaan ringan yang menginspirasi.

Setelah di perpustakaan, aku bertanya kepada teh Linda petugas perpustakaan, buku apa yang menurutnya menarik. Dia memberikan satu buku novel remaja karya Asma Nadia berjudul  “Serenade Biru Dinda”. “Ini menarik”, tanyaku setengah tidak percaya. Dalam kondisi normal, buku jenis ini sepertinya tak akan aku lirik. Bukan karena tidak bagus, tapi telalu ringan dan fiksi banget. Rasanya sudah bukan masanya. Namun menghargai teh Linda buku itupun aku ambil dan aku tambahkan dua buku lagi yaitu biografi Steve Jobs dan Bulughul Maram. Meski agak berlebihan aku bawa tiga buku yang bermacam-macam tema itu. Aku fikir, jika salah satu tidak menarik aku gampang menggantinya tanpa harus kembali ke jajaran rak buku. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan agak tersembunyi, aku membaringkan diri di situ dan mulai membaca. Pertama aku buka novel itu dan mulai membacanya. Meski jenis bacaan ringan, Asma Nadia memang bisa menjadi jaminan sebuah buku yang enak dibaca.  Kalimatnya mengalir lancar dan alur ceritanya terkesan natural meski agak berlebihan. Tak terasa aku larut dalam bacaan itu, bahkan berurai-urai air mata. Hehe. Untung tempatku membaca tersembunyi jadi tidak ada yang tahu. Sesuai dengan judulnya, novel ini memang menyajikan kisah pilu tokoh utamanya. Namun dengan genre penulis Islam, Asma Nadia mengakhiri kisahnya dengan kembali ke Allah dan happy ending.

Tak sampai satu jam aku telah menyelesaikan buku itu. Subhanallah wal Hamdulillah, selesai membaca buku itu tiba-tiba semangatku kembali pulih. Rupanya menangis dengan sebab apapun, saat ini karena larut dalam bacaan, dapat mengembalikan semangat yang hilang. Rasa bosan dan malas yang tak jelas asal-usulnya itu tiba-tiba menguap begitu saja. Akhirnya setelah mengucapkan terimakasih kepada teh Linda, aku kembalikan buku-buku itu di raknya, dan aku kembali bekerja.  Alhamdulillah.

Rasa bosan dan malas adalah ciptaan Allah maka pasti ada manfaatnya dalam porsinya yang pas.  Rasa bosan dan malas dalam porsi yang pas, sebenarnya menjadi semacam pertanda ada yang tidak sesuai dari apa yang saat ini sedang kita alami. Bisa jadi, pekerjaan kita sudah tidak lagi menantang sehingga pertanda kita harus memilih pekerjaan yang lain atau menambah porsi tantangan. Atau, karena lingkungan kita sudah tidak lagi kondusif, dan sebagainya.  Jadi, rasa bosan dan malas bisa menjadi pertanda baik untuk kita naik tingkat jika kita dapat menyikapinya dengan benar.

Wallahu’alam








Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...