Kartini, nama yang sederhana entah apa artinya. Wajahnya ayu, senyumnya lembut. Meski usianya baru 20an, matanya bersinar lebih dewasa dari usianya. Begitulah gambar sosok Kartini yang kita kenali dari fotonya. Namun, tidak sesederhana namanya, pemikiran Kartini jauh melampui zamannya. Bahkan seorang laki2pun pada masanya belum tentu memiliki pemikiran sejauh itu.
Apa yang membedakan Kartini sehingga sosoknya layak dijadikan pahlawan. Sebagai perempuan, Kartini tidak berdiam diri. Tembok kamar yang memasung kebebasannya tidak menjadi penghalang bagi fikiran-fikiran bebasnya.Dan Kartini menulis, menuliskan kegelisahannya, pertanyaan-pertanyaannya juga ide-idenya tentang kesempatan belajar bagi perempuan. Kartini membaca, membaca semua buku-buku kiriman sahabatnya, membaca lingkungannya, membaca ketidakadilan perempuan-perempuan dizamannya.Dari itu, pemikiran kartini kian berkembang menembus batas ruang dan waktu.Tidak berhenti disitu, Kartini berupaya mewujudkan mimpinya membangun sekolah khusus perempuan.
Kartini tidak berdiam diri dan pasrah menerima nasib. Kartini membaca dan menulis. Meski keras kemaunnya, Kartini lembut dan menunjukkan sosok keperempuannya. Itulah Kartini yang kita kenang setiap tanggal kelahirannya 21 April.
Sekarang, jika kita ingin mengambil pelajaran dari sosok Kartini, jadilah perempuan yang membaca dan menulis. Milikilah kepedulian terhadap lingkungan sekitar, terhadap ketidak-adilan yang masih kentara meski berbeda wujud dan alasannya. Berbuatlah untuk merubah ketidakadilan itu. Jangan pernah berdiam dan sekedar menerima nasib. Kuatkan tekad dan kemauan,merdekakan fikiran dari segala batasan. Tetaplah bersikap lembut dan mencirikan seorang perempuan dari segi biologis dan fisik, karena yang diperjuangkan Kartini kesamaan pendidikan bukan kesamaan fisik.
Arcadia, 21 April 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar