Hari ini mendapat pelajaran tentang pendidikan setelah menyaksikan pentas tunggal anak-anak teater yang berbakat dan prima dalam berakting. Mereka tampil penuh penghayatan dan percaya diri. Saya bahkan sempat meneteskan air mata melihat kemampuan mereka berakting. Mengapa saya sedemikian terharu? Saya menyadari betapa Allah maha adil. Sementara kita manusia sering tak adil dalam menilai seseorang. Bahkan pendidikan-pun tidak adil dalam menilai kemampuan peserta didik. Meskipun dunia pendidikan mengenal ranah kognitif, afektif dan psikomotorik, namun dalam prakteknya proses balajar dan penilaian hasil belajar berpusat pada ranah kognitif atau kemampuan akademik saja.
Kemampuan dan bakat prima anak-anak teater tersebut hampir tidak ada kaitannya dengan hasil belajar apalagi kelulusan. Sehebat apapun mereka berakting jika skor mata pelajaran tak mencapai standar minimal maka mereka dianggap tidak kompeten bahkan tidak lulus. Faktanya, keseharian belajar anak-anak berbakat tersebut pas-pasan bahkan cenderung kurang. Dunia teater yang menunjukkan eksistensi dan kapasitas mereka sebagai manusia seniman hampir tidak ada artinya berhadapan dengan ujian nasional misalnya. Sungguh ironi.
Pendidikan yang baik seharusnya dapat mengembangkan semua potensi anak didik dan menjadi ajang untuk mereka tumbuh menjadi seperti potensinya. Pendidikan yang baik bukanlah seperti pabrik yang menghasilkan produk sama dan seragam. Pendidikan yang baik seharusnya menyadarkan kita semua bahwa setiap manusia unik. Sayangnya pendidikan kita masih seperti produk masal, sehingga bahan, resep, cara membuat dan produk yang dihasilkan harus sama.Pendidikan kita masih belum memberi ruang untuk menggali dan mengembangkan potensi masing-masing peserta didik.
Pendidikan oh pendidikan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar