Sebagai guru dan orang tua kita sering menemui ada anak yang minder disamping anak-anak lain yang percaya diri. Rasa minder atau percaya diri seseorang sedikit banyak dipengaruhi oleh konsep diri seseorang. Tulisan ini mencoba mengupas apa konsep diri dan bagaimana konsep diri terbentuk.
Konsep diri adalah persepsi/pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri secara keseluruhan. Persepsi/pandangan diri tersebut diperoleh dari hasil pengalaman diri yang dihayati oleh diri orang tersebut dengan penuh kesadaran. Pengalaman tersebut membentuk keyakinan diri mengenai apa yang diharapkan orang lain (significant others) terhadap dirinya. Oleh karenanya konsep diri sangat penting peranannya dalam perkembangan setiap individu khususnya remaja.
Fitts (1971), mendefinisikan konsep diri sebagai suatu konstruk sentral untuk memahami manusia. Konsep diri menurut Fitts bersifat fenomenologis, dalam arti aspek penting yang memegang peranan adalah dirinya sendiri, yaitu diri sebagaimana diamati (observed), dipersepsikan, dialami, dihayati dan dinilai oleh diri orang tersebut sendiri.
Konsep diri seseorang terbentuk dan dipengaruhi oleh dua dimensi yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal.Pemahaman kita terhadap dua dimensi tersebut sedikit banyak memudahkan kita dalam memahami bagaimana seseorang dapat memiliki konsep diri yang positif atau negatif. Dimensi internal konsep diri sebagaimana dikemukakan Fitts (1971)terdiri-dari:
a. Identity Self
Identity self (diri identitas), merupakan aspek yang paling mendasar dari konsep diri. Dari aspek ini, simbol-simbol atau label-label yang digunakan pada diri seseorang akan membentuk identitas dirinya. Simbol atau label ini akan berbeda-beda pada tingkatan usia seseorang. Pada saat masih anak-anak maupun menjelang remaja simbol-simbol yang digunakan masih sederhana. Misalnya, anak melabelkan dirinya sebagai anak pandai, anak nakal, anak penakut dan sebagainya. Dari simbol atau label yang dikenakannya tersebut, seseorang akan bertindak menyesuaikan dengan label yang melekat pada dirinya.
Simbol atau label tersebut dapat diperoleh dari dalam dirinya dan dari luar dirinya. Semakin meningkat usia seseorang, semakin luas pergaulan dan ’dunia’ yang dikenal dan dialami seseorang maka semakin bertambah simbol-simbol yang dikenakan pada dirinya. Dengan demikian, semakin bertambah pula pengenalan terhadap diri identitasnya.
Memahami bagaimana simbol/label yang diterima anak akan melekat dan membentuk konsep diri si anak, maka penting bagi orang tua dan guru untuk memastikan bahwa si anak mendapatkan label-label yang positif dari lingkungannya. Bagaimanapun kekurangan dimiliki anak, penting bagi guru/orang tua menemukan sisi positif dari setiap anak.
b. Behavioral Self (diri pelaku)
Behavioral self (diri pelaku) merupakan persepsi seseorang terhadap tingkah lakunya sendiri apakah akan dipertahankan atau tidak. Ada hubungan timbal balik antara identity self dengan behavior self (diri pelaku). Dalam arti, apabila seseorang menginginkan untuk mendapatkan sesuatu maka dia harus berbuat sesuatu, dan untuk dapat berbuat sesuatu seseorang harus menjadi sesuatu.
Perilaku seseorang akan dipertahankan atau tidak cenderung tergantung pada konsekuensi yang diperoleh dari perilakunya tersebut. Misalnya, ketika seseorang berkeinginan mendapat prestasi bagus di sekolah, dan dia berperilaku agar mendapatkannya dan pada akhirnya dia berhasil mendapatkannya, maka perilaku tersebut akan dipertahankannya. Keberhasilan dan kesadaran akan kemampuannya mendapat prestasi bagus akan menjadi label baru bagi identitas dirinya.
c. Judging Self (diri penilai)
Diri penilai (judging self) adalah bagian dari dalam diri yang berfungsi sebagai penilai, pengamat, pengatur dan pembanding bagi diri sendiri. Diri penilai menunjukkan kapasitas manusia untuk menyadari dirinya sendiri. Judging self juga merupakan mediator antara identity self dan behavioral self. Dalam hal ini judging self akan memperhatikan dan membuat penilaian terhadap identity self dan behavioral self.
2. Dimensi Eksternal
Dimensi internal konsep diri meliputi lima komponen yaitu: physical self, moral ethic self, personal self, familial self, social self. Seperti halnya dimensi internal, kelima komponen dalam dimensi aksternal tersebut masing-masing saling berkaitan satu sama lain dalam membentuk keseluruhan konsep diri. Dimensi eksternal akan dikupas lebih lanjut.
Demikian semoga bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar