Meskipun pendidikan karakter seolah menjadi isu terkini dalam dunia pendidikan, tapi sebenarnya bukanlah hal baru di dunia pendidikan. Pendidikan karakter ini sebelumnya dikenal sebagai pendidikan dalam ranah afektif, atau pendidikan nilai. Apapun namanya, pendidikan karakter di sekolah/madrasah memang wajib dilaksanakan. Kasus maraknya tawuran antar pelajar, praktek-praktek bullying di sekolah, dan berbagai perilaku siswa yang seolah bebas nilai menjadi alasan mengapa pendidikan karakter di sekolah/madrasah kembali digaungkan. Namun demikian, apa dan bagaimana pendidikan karakter harus diterapkan di sekolah/madrasah masih menimbulkan perbedaan di kalangan guru maupun sekolah/madrasah. Tulisan ini bertujuan untuk menyemarakkan wacana pendidikan karakter di sekolah/madrasah.
Karakter
Karakter adalah seperangkat trait yang menentukan sosok seseorang sebagai individu (Kurtus, 2010, dalam Mardapi, 2011). Karakter menentukan apakah seorang dalam mencapai keinginan-keinginannya menggunakan cara yang benar menurut lingkungannya dan mematuhi hukum dan aturan kelompok. Jadi, ‘karakter merupakan sifat dan watak seseorang yang bisa baik dan bisa tidak baik berdasarkan penilaian lingkungannya (Mardapi, 2011).
Karakter berkaitan dengan trait personalitas seseorang, namun berbeda dengan trait yang merupakan sifat bawaan, karakter adalah sifat individu yang diperoleh dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Pengembangan karakter hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Namun demikian, karena setiap individu hidup dalam lingkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Karakter berkaitan dengan penilaian oleh lingkungan, karakter tidak sekedar sifat baik semata, namun sifat baik yang diterima oleh lingkungan. Sebagai contoh seseorang yang dikenal baik dan santun, namun seringkali ragu dan tidak tegas dalam menentukan sikap, akan sulit diterima oleh lingkungan. Orang seperti ini dinilai kurang berkarakter.
Nilai-nilai karakter di sekolah/madrasah sebanyak 18 nilai karakter. (Kemdiknas, 2010). Masing-masing sekolah/madrasah disarankan untuk memilih nilai-nilai karakter tertentu yang diutamakan dan secara bertahap seluruh nilai karakter dapat dididikkan.
Pendidikan Karakter di Sekolah/Madrasah
Sekolah/Madrasah sebagai lingkungan sosial siswa menjadi sarana efektif pengembangan karakter siswa. Apa yang dilakukan, dilihat, dan didengar siswa di sekolah lambat laun akan membentuk karakter individu siswa. Proses pengembangan karakter di sekolah dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan baik dalam pembelajaran maupun pembiasaan diri. Dalam kegiatan pembelajaran, pendidikan karakter tidak perlu dijadikan mata pelajaran tersendiri namun diinternalisasikan dalam setiap mata pelajaran. Setiap mata pelajaran sebenarnya mengandung nilai-nilai afektif tertentu yang sesuai dengan jenis mata pelajaran. Pembelajaran sains/ilmu-ilmu alam selain menuntut kompetensi kognitif juga memerlukan kompetensi afektif seperti rasa ingin tahu, menghargai prestasi dan cinta alam. Sedangkan dalam pembelajaran ilmu social, nilai karakter yang dapat dikembangkan diantaranya cinta tanah air, toleransi, demokratis, komunikatif, dan sebagainya. Demikian juga dalam pembelajaran bahasa, seni budaya dan agama sarat dengan nilai-nilai karakter yang bisa dikembangkan.
Dalam rangka proses internalisasi nilai karakter dalam mata pelajaran, guru perlu membuat analisis nilai karakter yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan diusung dalam pembelajaran. Nilai karakter yang dipilih tersebut, selanjutnya diterjemahkan dalam silabus dan RPP sehingga dapat dioperasionalkan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai contoh, guru mengembangkan nilai karakter ‘toleransi’ melalui metode pembelajaran diskusi. Selain itu, pemilihan system belajar tertentu melalui kelas menetap atau kelas berpindah (moving class) juga berpengaruh terhadap pengembangan karakter siswa (Irawati dan Manisih, 2011).
Pengembangan karakter di satuan pendidikan juga dapat dilakukan melalui program pembiasaan diri baik melalui kegiatan ekstrakurikuler maupun kegiatan lain yang terprogram. Kebiasan shalat dhuha dan tadarus yang dilaksanakan di madrasah dapat membentuk nilai karaktek religius siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar