Flores dan wilayah NTT dalam bayanganku adalah wilayah panas, kering, tandus dan gersang. Namun image itu buyar seketika ketika aku mendarat di Labuhan Bajo awal Januari 2010. Pulau Flores yang membentang dari Labuhan Bajo hingga Ende adalah daerah pegunungan yang subur, indah dan dingin.
Flores dapat ditempuh dengan pesawat berkapasitas sekita 60 penumpang dari bandara Bali selama kurang lebih 45 menit. Tujuanku kali ini adalah ke kabupaten Manggarai dan Bejawa. Perjalanan darat aku tempuh dari Labuhan Bajo menuju Manggarai sekitar 5 jam. Jalanan cukup bagus, mulus berkelok-kelok membelah pegunungan Flores yang subur. Berdasarkan info dari teman yang pernah kesana, daerah ini relatif aman. Bahkan kalaupun harus melalui perjalanan dengan mobil rental berdua dengan sopir yang asli orang NTT. Jadi cukup tenanglah.
Manggarai dan juga model kota-kota lain di Flores adalah kota yang menempati daratan di dataran tinggi. Setelah perjalanan berkelok dan mendaki diluar dugaan tiba-tiba dibalik itu kita akan menemui sebuah perkampungan atau kota. Bayanganku seperti kota-kota dalam cerita Mushashi dan novel-novel Jepang jaman dahulu lainnya. Manggarai adalah kota yang berhawa dingin lebih dingin dari Puncak atau Bandung. Bahkan hotel yang aku tempati tak ber AC pun sudah sangat dingin. Saking dinginnya, sebagai pembicara dalam workshop pengembangan sekolah terpadu, aku baru berani mandi setelah sesi break pagi (tapi gak bilang-bilang peserta..hehehe). Manggarai kota yang indah. Tanaman padi juga tumbuh subur di petak-petak sawah yang terbentang. Bahkan disebut sebagai salah satu lumbung padi di NTT.
Kota ini "dihidupkan" oleh pendatang dari Jawa dan Padang yang bergerak di sektor perdagangan. Untuk muslim, kita harus berhati-hati dalam memilih makanan. Karena kota Manggarai dan kota-kota lain di Flores mayoritas beragama katolik sehingga makanan yang disajikan belum terjamin kehalalannya. Untuk itu aku memilih makan di warong Padang saja selama di sana. Warga asli Mangggarai sudah jarang yang menempati rumah adat Manggarai. Hanya beberapa rumah adat yang masih eksis di pinggiran kota Manggarai.
Di Manggarai juga terdapat goa (situs liang hoa) yang sempet terkenal sebagai salah satu tempat asal muasal manusia kerdil. Goa ini terletak di pinggiran kota Manggarai, dan mulai banyak dikunjungi wisatawan.
Bersambung..
Flores dapat ditempuh dengan pesawat berkapasitas sekita 60 penumpang dari bandara Bali selama kurang lebih 45 menit. Tujuanku kali ini adalah ke kabupaten Manggarai dan Bejawa. Perjalanan darat aku tempuh dari Labuhan Bajo menuju Manggarai sekitar 5 jam. Jalanan cukup bagus, mulus berkelok-kelok membelah pegunungan Flores yang subur. Berdasarkan info dari teman yang pernah kesana, daerah ini relatif aman. Bahkan kalaupun harus melalui perjalanan dengan mobil rental berdua dengan sopir yang asli orang NTT. Jadi cukup tenanglah.
Manggarai dan juga model kota-kota lain di Flores adalah kota yang menempati daratan di dataran tinggi. Setelah perjalanan berkelok dan mendaki diluar dugaan tiba-tiba dibalik itu kita akan menemui sebuah perkampungan atau kota. Bayanganku seperti kota-kota dalam cerita Mushashi dan novel-novel Jepang jaman dahulu lainnya. Manggarai adalah kota yang berhawa dingin lebih dingin dari Puncak atau Bandung. Bahkan hotel yang aku tempati tak ber AC pun sudah sangat dingin. Saking dinginnya, sebagai pembicara dalam workshop pengembangan sekolah terpadu, aku baru berani mandi setelah sesi break pagi (tapi gak bilang-bilang peserta..hehehe). Manggarai kota yang indah. Tanaman padi juga tumbuh subur di petak-petak sawah yang terbentang. Bahkan disebut sebagai salah satu lumbung padi di NTT.
Kota ini "dihidupkan" oleh pendatang dari Jawa dan Padang yang bergerak di sektor perdagangan. Untuk muslim, kita harus berhati-hati dalam memilih makanan. Karena kota Manggarai dan kota-kota lain di Flores mayoritas beragama katolik sehingga makanan yang disajikan belum terjamin kehalalannya. Untuk itu aku memilih makan di warong Padang saja selama di sana. Warga asli Mangggarai sudah jarang yang menempati rumah adat Manggarai. Hanya beberapa rumah adat yang masih eksis di pinggiran kota Manggarai.
Di Manggarai juga terdapat goa (situs liang hoa) yang sempet terkenal sebagai salah satu tempat asal muasal manusia kerdil. Goa ini terletak di pinggiran kota Manggarai, dan mulai banyak dikunjungi wisatawan.
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar