Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan pernah menginjakkan kaki di kota ini. Bajawa, yah, bahkan nama kotanyapun baru aku dengar setelah mendapat tugas berkunjung kesana.
Selesai kegiatanku selama dua hari di Manggarai, aku melanjutkan perjalanan ke kota Bajawa Flores. Kota ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam dari Manggarai. Kondisi jalan masih sama, bagus dan lancar. Berkelok-kelok melalui pegunungan Flores. Memasuki gerbang kota Bajawa yang terekam dalam benakku adalah ini kota yang dipenuhi rumpun bambu. Di kanan kiri jalanan dipenuhi rumpun bambu. Aku kembali membayangkan suasana kota-kota zaman dulu di Jepang yang aku baca dari novel-novel sejarah Jepang.
 |
| Gerbang Kota |
Bajawa lebih dingin dibandingkan Manggarai. Alhamdulillah fasilitas hotel yang aku tempat fasilitasnya agak lumayan ada air panas dan ber AC meski selalu aku matikan karena sudah sangat dingin. Ini kota kecil, bahkan menurutku sangat kecil, bisa disusuri seluruh penjuru kota dalam tempo 15 menit dengan naik ojek. Lagi-lagi perdagangan dihidupkan oleh pendatang dari Jawa, Padang dan Sulawesi. Agak terkesima ketika memasuki warung Padang, penjualnya satu keluarga berdialog dengan bahasa Padang di Bajawa Flores, jadi serasa di Bukit Tinggi. Bagi muslim, di pusat kota dekat pasar berdiri satu-satunya masjid di kota ini.
 |
| Masjid |
Di Bajawa terdapat kampung adat Bena. Kampung adat terletak sekitar 25km dari kota Bajawa. Karena penasaran, pagi-pagi diantar ojek aku sempatkan mengunjungi kampung adat Bena. Perjalanan selama 1 jam dengan motor lumayan jauh, namun terbayar dengan pemandangan langka kampung adat Bena. Kampung ini terletak di ketinggian, terdiri dari belasan rumah adat yang masih terjaga keasliannya. Rumah-rumah berjajar menghapap ke halaman yang ternyata adalah kuburan adat sejak ratusan tahun silam. Situs megalitikum, ditandai dengan batu-batu yang ditancapkan di atas kuburan.
 |
| kampung Adat Bena |
Pekerjaan penduduk kampung adat ini adalah menenun kain Flores dan bercocok tanam. Selain itu, anak-anak mereka juga boleh bersekolah.
 |
| Batu Kubur |
Bagi penduduk asli Bajawa yang mayoritas beragama katolik, kepercayaan terhadap adat dan nenek moyang masih sangat kuat. Menurut cerita tokoh setempat, dari sisi negatif ini salah satu yang membuat perekonomian masyarakat kurang berkembang. Karena hukum adat lebih dipercaya dibanding hukum formal baik perdata maupun pidana. Sehingga pihak luar yang ingin berinvestasi di daerah ini masih ragu.
Bersambung..
kapan-kapan maen lg ke bajawa, kebetulan saya juga dr bajawa...
BalasHapusInsya..Allah mudah2an bisa ke Bajawa lagi. Kota yang indah...
BalasHapusSalam
Ayo berkunjung lagi ke bajawa :) salam kenal kami orang Ngada-Bajawa :D
BalasHapusSalam kenal mbak Nita, Semoga someday, someway bisa ke Flores lagi.
BalasHapus