Pagi yang cerah jam 07.00 WIT, ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Sentani Jayapura setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih 7 jam dari Jakarta. Inilah enaknya penerbangan malam, jadi tidak begitu berasa capeknya.
Ini adalah perjalananku yang pertama kalinya ke tanah Papua. Berbagai informasi tentang Papua sudah aku cari sebelumnya. Termasuk antisipasi nyamuk malaria yang masih menjadi endemi disana.
Memasuki bandara, suasana cukup ramai di terminal kedatangan. Rupanya, transportasi udara menjadi andalan di daerah ini. Masyarakat bepergian ke kabupaten-kabupaten menggunakan pesawat-pesawat kecil. Menggunakan mobil rental, kami meninggalkan bandara ke kota jayapura. Perjalanan dari bandara ke Jayapura memakan waktu sekitar 1 jam. Jalanan cukup bagus, mulus dan lebar mengitari danau Sentani yang luasnya hampir seluas kota Sentani. Sepanjang jalan terpampang keindahan danau Sentani di satu sisi jalan dan di sisi lain pegunungan.
Sesampai di hotel kami mandi dan langsung berangkat ke salah satu SD di daerah pesisir Jayapura. Daerah Pesisir adalah desa-desa yang berada di pinggir laut dan teluk yang mengelilingi Jayapura. Perjalanan ke wilayah tersebut lebih cepat jika menggunakan kapal. Namun pagi itu, karena masih suasana libur natal, maka perjalanan dilalui dengan berjalan kaki. Jadi dapat dibayangkan betapa pegelnya kaki ini setelah menggantung 7 jam di pesawat, sekarang harus melenggang sekitar 2 km untung jalanan menurun. Selesai urusan, kami tak sanggup lagi berjalan kaki, maka meski harus menunggu 2 jam tidak apa-apa untuk kembali dengan kapal.
Untuk hotel di Papua sudah terbilang mahal. Hotel yang kami tempati kualitas bintang 3 dengan harga per malam Rp 600.000,-. Jadi bagi yang baru pertama kali kesana perlu untuk mengecek dan membandingkan tarif hotel dan layanan yang diberikan. Sedangkan makanan, hidangan laut adalah pilihan terbaik. Selain pasti halal, kualitas ikan di sana bagus sehingga dimasak ala kadarnyapun sudah enak. Sesekali sempatkan mencicipi ubi Papau atau sagu sebagai pengganti nasi. Dua jenis makanan ini adalah favorit saya disana. Maknyus. Saya kira ide bagus untuk menjadikan ubi dan sagu makanan pokok. Sepertinya juga lebih sehat karena kadar serat tinggi dan kadar gula rendah.
Demikian sekilas cerita perjalanan ke tanah Papua. Sayangnya tidak sempet menikmati wisata bawah laut yang terkenal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar