Minggu, 26 Februari 2012

Penilaian Pendidikan Karakter

Setiap proses pendidikan memerlukan penilaian untuk mengetahui sejauhmana ketercapaian kompetensi yang diharapkan. Demikian juga dalam pendidikan karakter, perlu dilakukan penilaian untuk mengetahui sejauhmana nilai karakter yang dikembangkan dicapai oleh siswa. Penilaian pendidikan karakter di sekolah pada dasarnya adalah penilaian afektif untuk menilai respon emosi siswa pada mata pelajaran tertentu maupun kegiatan pembiasan diri.

Penilaian pada ranah afektif, seperti pada ranah kognitif dan psikomotorik memerlukan data baik data kuantitatif maupun kualitatif sehingga hasil penilaiannya dapat dipercaya. Data kuantatif dan kualitatif dapat diperoleh melalui pengukuran atau pengamatan. Untuk itu guru perlu mengembangkan instrument penilaian afektif maupun pedoman pengamatan. Dalam hal ini pengembangan instrument penilaian afektif mengacu pada domain afektif yang dikenal di dunia pendididikan.

Jika dalam ranah kognitif dikenal domain kognitif Bloom atau dikenal dengan taksonomi Bloom, maka dalam ranah afektif dikenal domain afektif Krathwohl. Krathwohl, Bloom, & Masia, 1964 (dalam Santrock, 2004), mengemukan lima domain karakteristik afektif yang dikenal dengan taksonomi domain afektif Krathwohl. Dinamakan taksonomi karena kelima tingkatan domain tersebut menggambarkan suatu tahapan (sequence). Prinsip dari domain afektif Krathwohl adalah internalisasi nilai-nilai pada diri siswa mulai dari tingkatan umum sampai pada tingkatan tertinggi yaitu terinternalisasinya nilai afektif pada diri siswa. Taksonomi domain afektif Krathwohl adalah:
1. Receiving, pada tahap ini siswa mau menerima nilai-nilai yang disampaikan dan mau menggabungkan diri pada nilai-nilai tersebut.
2. Responding, dalam tahap ini siswa termotivasi untuk belajar tentang nilai-nilai baru yang diterima dan menampilkan perilaku baru sebagai hasil dari pembelajaran tersebut.
3. Valuing, dalam tahap ini siswa telah bersedia berkomitmen terhadap nilai-nilai yang dia terima atau menganggap penting nilai baru tersebut.
4. Organizing, dalam tahap ini siswa telah mengintegrasikan nilai baru tersebut dan menempatkannya sebagai prioritas.
5. Value Characterizing, dalam tahap siswa telah menginternalisasi nilai baru yang diterima ke dalam diri.

Domain afektif tersebut dapat menjadi panduan guru/sekolah dalam membuat instrument penilaian afektif/penilaian karakter.

Selain menggunakan instrument, penilaian karakter dapat dilakukan dengan pengamatan. Untuk ini guru menyiapkan lembar pengamatan yang berisi sikap-sikap tertentu yang dimunculkan siswa selama pembelajaran. Guru bisa mendeskripsikan salah satu nilai karakter tertentu yang akan diamati ke dalam beberapa indikator sikap yang dapat diamati.

Demikian, semoga bermanfaat.

Referensi

Balitbang., Pusat Kurikulum., (2010). Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Kemdiknas.

Mardapi., Djemari., (2011). Pendidikan Karakter, dalam Perspektif Teori dan Praktek. Yogyakarta: UNY Press.

Irawati., Intan & Manisih., Susiana., (2011). Implementation of Moving Class System on The Establishment of Student’s Character. Conference Proceeding: The International Conference on Psychology of Resilience. Jakarta: Universitas Indonesia.

Santrock., John.W., (2004). Educational Psychology. New York: McGraw-Hill Higher Education.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...