Kamis, 17 Januari 2013

Melawan Rasa Bosan

Dalam sejarah Islam diriwayatkan, ketika para sahabat pulang dari peperangan Rasulullah SAW menyampaikan bahwa jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu (diri sendiri). Meskipun beberapa ulama menjelaskan bahwa hadits ini dhaif, namun dalam konteks perjuangan melawan hawa nafsu agar tunduk dalam tuntunan Allah, hadits ini ada baiknya kita ikuti. Apalagi di zaman sekarang ketika perang dingin yang memerlukan jihad fisik sudah jarang terjadi dan  yang terjadi adalah godaan dunia yang bertubi-tubi, maka konteks jihadun Nafs rasanya relevan.

Diantara nafs buruk yang seringkali muncul  dalam diri kita dan harus kita lawan adalah sifat malas dan bosan. Dua jenis rasa ini saling mendukung satu sama lain dan pasti pernah kita alami. Tidak seperti jenis rasa lain yang jelas diketahui penyebabnya, rasa bosan dan malas kadang datang menyergap tanpa alasan yang jelas. Rasa bosan membuat kita malas melakukan apa saja. Dan jika memaksakan untuk melalukan aktivitas rutin hasilnya pasti asal-asalan bahkan bisa jadi tidak ada hasilnya sama sekali.

Dalam kondisi itulah saatnya kita berperang melawan diri sendiri.  Dan seperti dikemukakan dalam riwayat di atas, berperang melawan rasa bosan dan malas yang menghinggapi diri sendiri  perlu tekad yang kuat dan usaha yang ekstra. Aku sendiri sering melakukan perlawanan terhadap dua rasa yang mengganggu ini.  Biasanya aku lakukan dengan cara meluangkan waktu dengan melakukan hal-hal yang aku senangi. Bahkan ketika rasa bosan dan malas hadir di saat jam-jam sibukpun, aku ‘terpaksa’ melupakan segala kesibukan dan melakukan hal-hal ringan yang aku senangi misalnya membaca novel atau cerita fiksi, atau berbincang ringan dengan siswa atau sesama guru.

Seperti pagi itu, aku disergap rasa bosan yang amat sangat, bahkan untuk ngobrol saja malas. Untungnya hari itu tidak ada jadwal mengajar. Sejak duduk di belakang meja kerja dan menghidupkan laptop, aku tidak tahu dan tidak mau berbuat apa-apa rasanya. Barangkali teman-teman menyangka aku sedang sibuk karena tidak ada obrolan atau candaan seperti biasanya. Hingga jam 10.00 pagi, kondisi tidak juga juga berubah membaik. Ah, ini tidak bisa dibiarkan, ujarku dalam hati. Banyak pekerjaan harus diselesaikan. Akhirnya, aku putuskan untuk ke perpustakaan. Sepertinya enak, tiduran sambil membaca buku di perpustakaan. Siapa tahu ada bacaan ringan yang menginspirasi.

Setelah di perpustakaan, aku bertanya kepada teh Linda petugas perpustakaan, buku apa yang menurutnya menarik. Dia memberikan satu buku novel remaja karya Asma Nadia berjudul  “Serenade Biru Dinda”. “Ini menarik”, tanyaku setengah tidak percaya. Dalam kondisi normal, buku jenis ini sepertinya tak akan aku lirik. Bukan karena tidak bagus, tapi telalu ringan dan fiksi banget. Rasanya sudah bukan masanya. Namun menghargai teh Linda buku itupun aku ambil dan aku tambahkan dua buku lagi yaitu biografi Steve Jobs dan Bulughul Maram. Meski agak berlebihan aku bawa tiga buku yang bermacam-macam tema itu. Aku fikir, jika salah satu tidak menarik aku gampang menggantinya tanpa harus kembali ke jajaran rak buku. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan agak tersembunyi, aku membaringkan diri di situ dan mulai membaca. Pertama aku buka novel itu dan mulai membacanya. Meski jenis bacaan ringan, Asma Nadia memang bisa menjadi jaminan sebuah buku yang enak dibaca.  Kalimatnya mengalir lancar dan alur ceritanya terkesan natural meski agak berlebihan. Tak terasa aku larut dalam bacaan itu, bahkan berurai-urai air mata. Hehe. Untung tempatku membaca tersembunyi jadi tidak ada yang tahu. Sesuai dengan judulnya, novel ini memang menyajikan kisah pilu tokoh utamanya. Namun dengan genre penulis Islam, Asma Nadia mengakhiri kisahnya dengan kembali ke Allah dan happy ending.

Tak sampai satu jam aku telah menyelesaikan buku itu. Subhanallah wal Hamdulillah, selesai membaca buku itu tiba-tiba semangatku kembali pulih. Rupanya menangis dengan sebab apapun, saat ini karena larut dalam bacaan, dapat mengembalikan semangat yang hilang. Rasa bosan dan malas yang tak jelas asal-usulnya itu tiba-tiba menguap begitu saja. Akhirnya setelah mengucapkan terimakasih kepada teh Linda, aku kembalikan buku-buku itu di raknya, dan aku kembali bekerja.  Alhamdulillah.

Rasa bosan dan malas adalah ciptaan Allah maka pasti ada manfaatnya dalam porsinya yang pas.  Rasa bosan dan malas dalam porsi yang pas, sebenarnya menjadi semacam pertanda ada yang tidak sesuai dari apa yang saat ini sedang kita alami. Bisa jadi, pekerjaan kita sudah tidak lagi menantang sehingga pertanda kita harus memilih pekerjaan yang lain atau menambah porsi tantangan. Atau, karena lingkungan kita sudah tidak lagi kondusif, dan sebagainya.  Jadi, rasa bosan dan malas bisa menjadi pertanda baik untuk kita naik tingkat jika kita dapat menyikapinya dengan benar.

Wallahu’alam








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...