Kamis, 14 Februari 2013

Kasih Sayang yang Sesungguhnya

Kemarin, tanggal 14 Februari, anak-anak murid saya meminta diskusi tentang valentine day.  Meski sekolah sudah melarang perayaan ini, tapi rasa ingin tahu anak tak bisa dibendung. Akhirnya  saya bilang, “mari kita diskusi tentang kasih sayang saja, bukan valentine day”. Maka mengalirlah jawaban riuh rendah siswa ketika saya tanya apa makna kasih sayang menurut kalian.  Sebagian mengatakan cinta kepada lawan jenis, ada yang mengatakan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, atau sebaliknya cinta anak-anak kepada orang tua.

Dalam keriuhan itu tiba-tiba salah seorang murid laki-laki saya bertanya: “bu, bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Kontan saja pertanyaan itu mengundah komentar riuh rendah teman-temannya. Sayapun terhenyak dengan pertanyaan polos dan berani itu. Remaja tanggung usia 15-an itu nampak tersipu ketika teman-temannya akhirnya ramai-ramai menggodanya. Saya berusaha menenangkan suasana kelas dengan mengatakan bahwa pertanyaan itu sebenarnya mewakili sebagian besar kegalauan remaja, jadi mari kita diskusikan.

Saya kembalikan pertanyaan tersebut kepada siswa, “bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Sebagian besar murid saya klas X  yang kisaran usianya 15 tahunan itu hanya tersenyum malu-malu. Di mata saya mereka masih terlihat polos kekanakan. Yah mereka adalah remaja awal. Namun justru pada usia-usia ini banyak hal masih bisa diluruskan dengan lebih mudah. Pada usia remaja lebih tinggi, mereka tak kan mudah menerima begitu saja suatu penjelasan.  Menyadari itu, saya takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka membuka peluang diskusi jadi ini momen yang tepat untuk berbicara dengan mereka.

Akhirnya saya katakan bahwa fitrah kita sebagai manusia adalah memiliki rasa cinta kepada lawan jenis. Begitulah memang Allah menciptakan manusia agar manusia berkembang biak. Jadi rasa cinta kepada lawan jenis adalah perasaan normal yang dialami semua manusia normal. Tak bisa dielakkan tak bisa dihindari. Perkembangan biologis dan psikologis memungkinkan rasa cinta kepada lawan jenis berkembang di usia remaja seperti kalian. Anak-anak nampak tekun menyimak kata-kata saya.  Pertanyaan salah seorang teman kalian itu sebenarnya bisa diawali dengan pertanyaaan, “apakah rasa cinta kepada lawan jenis harus diungkapkan ?” Saya tidak menunggu jawaban murid-murid saya, kerena dilihat dari pandangan mata, mereka masih menunggu kata-kata saya.

Saya lanjutkan kata-kata saya, bahwa tidak salahnya rasa cinta itu diungkapkan. Yang menjadi salah adalah ketika gayung bersambut, dan hubungan cinta antara dua lawan jenis itu membutakan mata sehingga mengganggu kegiatan utama di sekolah yaitu belajar atau bahkan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Saya perhatikan mereka masih menyimak.  Jadi ungkapkan saja misalnya, “saya suka kamu, karena kamu baik, atau “saya suka kamu, karena kamu manis, dan karena kita masih sangat muda maka kita bersahabat saja. Insya Allah di saat yang tepat,jika memang kita berjodoh maka Allah akan mempersatukan kita.” 

Jika kita benar-benar mencintai seseorang maka kita pasti mengharapkan  yang terbaik dari orang yang kita cintai. Bukan malah merusaknya, mengganggunya, membuat prestasi belajar merosot, dan seterusnya. Ingat ya, jika memang benar orang itu mencintai kalian seharusnya rasa cinta membaikkan diri. Jika sebaliknya maka itu pasti bukan cinta.

Begitulah, namun dalam hati saya masih bertanya-tanya, khawatir kata-kata saya berpengaruh buruk terhadap siswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...