Kemarin, tanggal 14 Februari, anak-anak murid saya meminta
diskusi tentang valentine day. Meski
sekolah sudah melarang perayaan ini, tapi rasa ingin tahu anak tak bisa dibendung.
Akhirnya saya bilang, “mari kita diskusi
tentang kasih sayang saja, bukan valentine day”. Maka mengalirlah jawaban riuh
rendah siswa ketika saya tanya apa makna kasih sayang menurut kalian. Sebagian mengatakan cinta kepada lawan jenis,
ada yang mengatakan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, atau sebaliknya
cinta anak-anak kepada orang tua.
Dalam keriuhan itu tiba-tiba salah seorang murid laki-laki
saya bertanya: “bu, bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang
kita sukai?”. Kontan saja pertanyaan itu mengundah komentar riuh rendah
teman-temannya. Sayapun terhenyak dengan pertanyaan polos dan berani itu.
Remaja tanggung usia 15-an itu nampak tersipu ketika teman-temannya akhirnya
ramai-ramai menggodanya. Saya berusaha menenangkan suasana kelas dengan
mengatakan bahwa pertanyaan itu sebenarnya mewakili sebagian besar kegalauan
remaja, jadi mari kita diskusikan.
Saya kembalikan pertanyaan tersebut kepada siswa, “bagaimana
caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Sebagian besar
murid saya klas X yang kisaran usianya
15 tahunan itu hanya tersenyum malu-malu. Di mata saya mereka masih terlihat
polos kekanakan. Yah mereka adalah remaja awal. Namun justru pada usia-usia ini
banyak hal masih bisa diluruskan dengan lebih mudah. Pada usia remaja lebih tinggi,
mereka tak kan mudah menerima begitu saja suatu penjelasan. Menyadari itu, saya takkan menyia-nyiakan
kesempatan ini, mereka membuka peluang diskusi jadi ini momen yang tepat untuk
berbicara dengan mereka.
Akhirnya saya katakan bahwa fitrah kita sebagai manusia
adalah memiliki rasa cinta kepada lawan jenis. Begitulah memang Allah
menciptakan manusia agar manusia berkembang biak. Jadi rasa cinta kepada lawan
jenis adalah perasaan normal yang dialami semua manusia normal. Tak bisa
dielakkan tak bisa dihindari. Perkembangan biologis dan psikologis memungkinkan
rasa cinta kepada lawan jenis berkembang di usia remaja seperti kalian.
Anak-anak nampak tekun menyimak kata-kata saya.
Pertanyaan salah seorang teman kalian itu sebenarnya bisa diawali dengan
pertanyaaan, “apakah rasa cinta kepada lawan jenis harus diungkapkan ?” Saya
tidak menunggu jawaban murid-murid saya, kerena dilihat dari pandangan mata,
mereka masih menunggu kata-kata saya.
Saya lanjutkan kata-kata saya, bahwa tidak salahnya rasa
cinta itu diungkapkan. Yang menjadi salah adalah ketika gayung bersambut, dan
hubungan cinta antara dua lawan jenis itu membutakan mata sehingga mengganggu
kegiatan utama di sekolah yaitu belajar atau bahkan melakukan hal-hal yang
dilarang agama. Saya perhatikan mereka masih menyimak. Jadi ungkapkan saja misalnya, “saya suka
kamu, karena kamu baik, atau “saya suka kamu, karena kamu manis, dan karena
kita masih sangat muda maka kita bersahabat saja. Insya Allah di saat yang
tepat,jika memang kita berjodoh maka Allah akan mempersatukan kita.”
Jika kita benar-benar mencintai seseorang maka kita pasti mengharapkan yang terbaik dari orang yang kita cintai. Bukan malah merusaknya, mengganggunya, membuat prestasi belajar merosot, dan seterusnya. Ingat ya, jika memang benar orang itu mencintai kalian seharusnya rasa cinta membaikkan diri. Jika sebaliknya maka itu pasti bukan cinta.
Begitulah, namun dalam hati saya masih bertanya-tanya,
khawatir kata-kata saya berpengaruh buruk terhadap siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar