Rabu, 02 Januari 2013

Evaluasi dan Resolusi


Kemeriahan pesta telah usai, meninggalkan lelah dan sampah yang berserakan tak tentu arah. Dimana-mana di seluruh dunia   melakukan pesta serupa menyambut tahun baru, seolah waktu akan berhenti bergulir jika tidak disambut. Dan ketika detik-detik pergantian tahun akhirnya bergulir segera disambut meriah oleh dentuman mercon dan nyala kembang api. Semua yang berpesta bersorak-sorai, berdesakan, meniup terompet dan hingar bingar lainnya. Mengapa kegembiraan itu begitu meluap sedang waktupun tetap berdetak sama, dan malampun masih menyelubungi diri dengan misterinya.

Alhamdulillah, sejak remaja dan mulai menangkap fenomena kemeriahan pesta tahun baru, aku tak pernah tertarik untuk bergabung didalamnya. Apalagi sekarang, disaat usiaku sudah tidak remaja lagi. Tentu saja aku tak hendak menyalahkan mereka yang berpesta. Setiap orang memiliki pilihan-pilihan hidupnya masing-masing. Aku sendiri memilih tidur cepat, agar bisa bangun lebih awal untuk memanfaatkan waktu-waktu utama di sepertiga malam terakhir. Aku tak mau ketinggalan qiyammullail pertama di tahun 2013 seperti orang-orang yang berpesta itu tak hendak melewatkan detik pertama tahun 2013. Maka, ketika sebagian besar orang berpesta berangkat tidur, aku terbangun membasuh muka dan tangan dengan wudhu pertama di tahun 2013.

Di momen-momen yang dianggap istimewa ini, alangkah baiknya jika kita sedikit meluangkan waktu untuk merenung, mengevaluasi diri, bermuhasabah, menghitung-hitung lebih banyak amalan baik atau buruk yang telah kita lakukan di satu tahun yang telah lewat. Evaluasi diri baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Untuk urusan dunia, apa saja yang pernah kita harapkan, apa yang telah kita lakukan untuk mencapainya, dan apa hasil yang kita terima. Dari itu, kita dapat menemukan apa yang kurang dan apa yang lebih dari usaha kita. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dipertahankan dan apa yang perlu dibuang.

Untuk urusan akhirat, mari kita menghisab diri. Bagaimana amalan wajib kita, sholat, zakat, puasa, menuntut ilmu, menghormati orang tua dan guru, dsb. Apakah kita lakukan semua itu sekedar memenuhi kewajiban, atau dengan kekhusyu’an semata untuk mendekatkan diri kepada Allah? Bagaimana dengan amalan-amalan sunnah? Sudahkah aktivitas harian kita mencontoh Nabi, Rasulullah Muhammad SAW.  Apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita berguna atau sia-sia bahkan menyakitkan orang lain? Berkatalah yang baik atau diam, kata Nabi. Apakah kita sudah menghormati tetangga, tamu dan keluarga. Apakah kita sudah manafkahi diri dan keluarga dengan rejeki yang halal? Bagaimana sedekah kita, bantuan kita kepada orang lain yang membutuhkan apakah hanya ketika diminta atau dengan sengaja dan sukarela kita berikan. Dan sebagainya.

Lebih dari semua itu, apakah kita selalu ingat Allah dalam setiap denyut nafas kita, dalam setiap hal yang kita lakukan, dalam duduk dan terbaring kita, dalam suka-duka kita, dalam sempit dan lapang kita, dalam senyum dan marah kita. Apakah kita kembalikan segala urusan kepada Allah, Zat yang maha Kasih dan tak pernah pilih kasih. Tuhan yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu. Ridhokah kita atas segala keputusanNya? Penuh harap atau berputus-asakah kita atas rahmatNya. Berprasangka baikkah kita kepadaNya atas misteri hidup yang terkadang mengoyak jiwa. Sudahkah kita serahkan segala rasa ini kepadaNya pemilik segala rasa. Tahun baru seharusnya menjadi momen kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan waktu.

Dari hasil evaluasi itu, mari kita songsong hari dengan kesadaran baru untuk selalu berbuat dan berkata yang manfaat. Dan agar lebih konsisten dan terarah ada baiknya resolusi awal tahun itu dituliskan. Ini akan menjadi pengingat akan target-target yang akan kita capai. Target utama dan terutama tentunya adalah menjadi manusia yang senantiasa hidup dalam bimbingan Allah SWT. Target ini membuat kita rela diatur olehNya. Bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika ditimpa musibah. Segala kejadian tidak ada yang sia-sia bagi orang beriman. Selain itu, ada baiknya kita tuliskan target-target yang konkret dan bisa diukur pencapaiannya.

Dan karena tujuan dari semua tindakan kita adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, maka kita perlu panduan untuk merengkuhnya. Al Quran surah Al Mu’minuun (surah 23) ayat 1-11 dapat menjadi panduan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Bismillahirrahmanirrohiim 
1.       Sungguh beruntung orang-orang yang beriman
2.       (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya
3.       dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna 
4.       dan orang yang menunaikan zakat 
5.       dan orang yang memelihara kemaluannya 
6.       kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya 
mereka tidak tercela 
7.       tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (zina, dsb), maka mereka itulah orang yang melampaui batas
8.       dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya 
9.       serta orang yang memelihara shalatnya 
10.   mereka itulah orang yang akan mewarisi 
11.   (yakni) yang akan mewarisi sorga (firdaus). Mereka kekal di dalamnya

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...