Kemeriahan pesta telah usai,
meninggalkan lelah dan sampah yang berserakan tak tentu arah. Dimana-mana di seluruh
dunia melakukan pesta serupa menyambut tahun baru, seolah
waktu akan berhenti bergulir jika tidak disambut. Dan ketika detik-detik
pergantian tahun akhirnya bergulir segera disambut meriah oleh dentuman mercon
dan nyala kembang api. Semua yang berpesta bersorak-sorai, berdesakan, meniup
terompet dan hingar bingar lainnya. Mengapa kegembiraan itu begitu meluap
sedang waktupun tetap berdetak sama, dan malampun masih menyelubungi diri
dengan misterinya.
Alhamdulillah, sejak remaja dan mulai
menangkap fenomena kemeriahan pesta tahun baru, aku tak pernah tertarik untuk
bergabung didalamnya. Apalagi sekarang, disaat usiaku sudah tidak remaja lagi. Tentu
saja aku tak hendak menyalahkan mereka yang berpesta. Setiap orang memiliki
pilihan-pilihan hidupnya masing-masing. Aku sendiri memilih tidur cepat, agar
bisa bangun lebih awal untuk memanfaatkan waktu-waktu utama di sepertiga malam
terakhir. Aku tak mau ketinggalan qiyammullail pertama di tahun 2013 seperti
orang-orang yang berpesta itu tak hendak melewatkan detik pertama tahun 2013.
Maka, ketika sebagian besar orang berpesta berangkat tidur, aku terbangun
membasuh muka dan tangan dengan wudhu pertama di tahun 2013.
Di momen-momen yang dianggap
istimewa ini, alangkah baiknya jika kita sedikit meluangkan waktu untuk
merenung, mengevaluasi diri, bermuhasabah, menghitung-hitung lebih banyak
amalan baik atau buruk yang telah kita lakukan di satu tahun yang telah lewat.
Evaluasi diri baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Untuk urusan dunia, apa
saja yang pernah kita harapkan, apa yang telah kita lakukan untuk mencapainya,
dan apa hasil yang kita terima. Dari itu, kita dapat menemukan apa yang kurang
dan apa yang lebih dari usaha kita. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu
dipertahankan dan apa yang perlu dibuang.
Untuk urusan akhirat, mari kita
menghisab diri. Bagaimana amalan wajib kita, sholat, zakat, puasa, menuntut
ilmu, menghormati orang tua dan guru, dsb. Apakah kita lakukan semua itu
sekedar memenuhi kewajiban, atau dengan kekhusyu’an semata untuk mendekatkan
diri kepada Allah? Bagaimana dengan amalan-amalan sunnah? Sudahkah aktivitas
harian kita mencontoh Nabi, Rasulullah Muhammad SAW. Apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita
berguna atau sia-sia bahkan menyakitkan orang lain? Berkatalah yang baik atau
diam, kata Nabi. Apakah kita sudah menghormati tetangga, tamu dan keluarga.
Apakah kita sudah manafkahi diri dan keluarga dengan rejeki yang halal?
Bagaimana sedekah kita, bantuan kita kepada orang lain yang membutuhkan apakah
hanya ketika diminta atau dengan sengaja dan sukarela kita berikan. Dan
sebagainya.
Lebih dari semua itu, apakah kita
selalu ingat Allah dalam setiap denyut nafas kita, dalam setiap hal yang kita
lakukan, dalam duduk dan terbaring kita, dalam suka-duka kita, dalam sempit dan
lapang kita, dalam senyum dan marah kita. Apakah kita kembalikan segala urusan
kepada Allah, Zat yang maha Kasih dan tak pernah pilih kasih. Tuhan yang Maha
Kuasa menentukan segala sesuatu. Ridhokah kita atas segala keputusanNya? Penuh
harap atau berputus-asakah kita atas rahmatNya. Berprasangka baikkah kita
kepadaNya atas misteri hidup yang terkadang mengoyak jiwa. Sudahkah kita
serahkan segala rasa ini kepadaNya pemilik segala rasa. Tahun baru seharusnya
menjadi momen kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan waktu.
Dari hasil evaluasi itu, mari
kita songsong hari dengan kesadaran baru untuk selalu berbuat dan berkata yang
manfaat. Dan agar lebih konsisten dan terarah ada baiknya resolusi awal tahun
itu dituliskan. Ini akan menjadi pengingat akan target-target yang akan kita
capai. Target utama dan terutama tentunya adalah menjadi manusia yang
senantiasa hidup dalam bimbingan Allah SWT. Target ini membuat kita rela diatur
olehNya. Bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika ditimpa musibah.
Segala kejadian tidak ada yang sia-sia bagi orang beriman. Selain itu, ada
baiknya kita tuliskan target-target yang konkret dan bisa diukur pencapaiannya.
Dan karena tujuan dari semua
tindakan kita adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, maka kita perlu
panduan untuk merengkuhnya. Al Quran surah Al Mu’minuun (surah 23) ayat 1-11 dapat
menjadi panduan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
1. Sungguh beruntung orang-orang yang beriman
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
4. dan orang yang menunaikan zakat
5. dan orang yang memelihara kemaluannya
6. kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya
mereka tidak tercela
7. tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (zina, dsb), maka mereka itulah orang yang melampaui batas
8. dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya
9. serta orang yang memelihara shalatnya
10. mereka itulah orang yang akan mewarisi
11. (yakni) yang akan mewarisi sorga (firdaus). Mereka kekal di dalamnya
Maha Benar Allah dengan segala
firmanNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar