Minggu, 13 Januari 2013

Apakah karena Faktor Keturunan?

Seorang teman menceritakan kegalauannya melihat putrinya yang masih duduk di bangku kelas SMP sudah tertarik dengan lawan jenis. Meski hubungan mereka belum termasuk pacaran, namun dari kata-kata dan sikap sudah mengarah  ke pacaran.  Teman saya ini sudah hampir putus asa bagaimana menghadapi putrinya. Saya katakan, coba saja diajak dialog baik-baik apa, karena pada saat anak remaja, melarang saja tanpa penjelasan cukup berbahaya. Dengan setengah putus asa, teman saya ini berkata, apa perilaku anaknya karena faktor keturunan? Dia bercerita bahwa waktu SMP sudah mulai pacaran. Olalala...

Teman saya ini sudah menjalani kehidupan rumah tangganya secara Islami sejak awal pernikahan. Anak-anaknya di sekolahkan di sekolah Islam, dan di rumahpun orangtua memberi contoh pendidikan yang Islami. Segala jerih payah itu seolah tak ada artinya saat dia menghadapi kenyataan putrinya mulai berpacaran pada usia yang sama saat dia mulai berpacaran. Dan sepertinya, dia mulai meyakini bahwa perilaku putrinya dipengaruhi faktor keturunan.

Apakah perilaku/karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor keturunan atau pendidikan/pembiasaan menjadi diskursus yang menarik hingga kini. Menurut saya kedua faktor tersebut memang berpengaruh hanya intesitasnya berbeda. Saya sendiri cenderung pada yang kedua, bahwa faktor pendidikan/pembiasaanlah yang dominan mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor genetik bisa saja menjadi dominan jika pendidikan yang diterima seseorang tersebut mendukung tumbuhnya perilaku yang sama dengan kedua orangtuanya. Dalam hal ini berarti pendidikan yang diterima seorang anak, sama persis dengan model pendidikan yang diterima ayah atau ibunya.

Menjadikan faktor keturunan sebagai penyebab perilaku seseorang adalah ungkapan pesimistis. Seolah sifat/perilaku itu sudah takdir yang tidak dapat diubah. Jika ini yang diyakini, maka perilaku kita akan cenderung pasif. Kembali ke cerita teman saya di atas,saya sampaikan jika ingin mencari penyebab perilaku anak-anak kita, maka yang pertama harus disalahkan adalah diri sendiri. Benarkah orangtua sudah mendidik dengan baik? Sudahkah memenuhi kebutuhannya tidak saja fisik tapi juga psikis seperti kasih sayang, kenyamanan, rasa dibutuhkan dan diakui keberadaannya. Rupanya teman saya ini cukup pendiam jika di rumah. Dia bukan tipe yang senang berbincang, sehingga ketika di rumah, masing-masing sibuk dengan urusannya. Alhasil,  menurutnya, putrinya ini jika di rumah lebih asyik dengan handphonenya dibanding berbincang dengan saudara-saudaranya atau orangtuanya.

Mendengar penuturannya, saya katakan kepada teman saya itu bahwa dia harus hati-hati. Saya khawatir cowok yang dicintai putrinya pandai bicara, merayu, dan berkata-kata manis. Perasaan diperhatikan, dinomorsatukan, dipuji, dengan kata-kata manis, yang jarang dia peroleh di rumah telah mengisi kekosongannya selama ini. So, tidak ada gunanya memarahinya, karena sedikit banyak ini salah orang tua. Sebaiknya orangtua mulai meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak, mengetahui keinginan-keinginannya, kegalauannya dan teman-temannya.

Lebih dari itu, orangtua harus memohon pertolongan Allah agar anak-anaknya dapat terhindar dari perilaku yang akan merugikannya.

Wallahu'alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...