Pagi ini selesai melakukan aktivitas pagi; memasak, baca koran,
mandi dan shalat dhuha, aku mulai mengumpulkan buku-buku tentang ekonomi Islam, materi yang akan aku
ajarkan di semester ini. Sudah seminggu ini sebenarnya aku mulai mempersiapkan
segala sesuatu untuk pembelajaran yang akan dimulai senin 7 Januari besok.
Namun persiapan itu belum sampai ke buku-buku. Aku masih merapikan program
semester, analisis kompetensi, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
Segala administrasi itu memakan waktu
yang tidak sedikit. Apalagi sudah
setahun ini aku tidak mengajar ekonomi Islam.
Namun demikian, aku tadi malam terbangun dengan mimpi yang aneh tapi nyata. Dalam mimpiku aku sedang mengajar tapi murid-muridku asyik dengan kegiatannya masing-masing, dan kondisi itu membuatku marah. Astaghfirullah. Mimpi itulah yang membuatku bersemangat untuk mempersiapkan materi pembelajaran dengan baik. Akhirnya aku temukan empat buku tentang ekonomi Islam dan satu buku yang tidak ada kaitannya dengan ekonomi Islam namun menarik perhatianku. Buku itu berjudul Memories, dreams, reflections tulisan Carl Gustav Jung. Bagi yang pernah belajar psikologi nama Carl Gustav Jung tentu tidak asing lagi. Bersama seniornya Sigmund Freud dan Alfred Alder, menjadi pelopor dalam teori psikoanalisis. Buku lama C.G. Jung ini menarik perhatianku, karena seperti seniornya dan sekaligus gurunya Sigmund Freud, C.G. Jung juga konsen ke masalah-masalah alam bawah sadar salah satunya tentang mimpi. Mimpi yang dimaksud disini adalah pengalaman yang terjadi ketika kita sedang tidur.
Aku sendiri termasuk pemimpi, alias sering bermimpi dalam
tidur. Bahkan mengalami mimpi-mimpi yang menurutku spektakuler yang sulit
ditafsirkan, namun juga mimpi-mimpi yang nyata seperti mimpiku tadi malam.
Kadang ada orang yang lebih sering aku temui dalam mimpi dibanding di alam nyata.
Beberapa mimpiku ada yang menjadi firasat sesuatu yang akan terjadi atau bahkan
tidak berarti apa-apa. Aku sendiri lebih senang menganggap mimpiku sebagai kembangnya tidur. Sepertinya indah
sekali jika setiap tidur mengalami mimpi.
Berbeda denganku yang hanya menganggap mimpi sebagai
kembangnya tidur, Jung menjadikan mimpi dan kejadian di alam bawah sadar
menjadi kajian ilmiah yang melahirkan teori-teori dalam psikologi. Dalam buku
setebal 568 halaman ini, Jung mengungkapkan fakta, hipotesis dan
teori-teorinya. Tentang mimpi Jung
menulis “..biasanya kita membuang petunjukyang dikirim alam bawah sadar-melalui
mimpi- misalnya , karena yakin permasalahan tersebut tidak mudah dijawab.
Namun, saya berargumen bahwa jika ada
sesuatu yang tidak kita ketahui, maka kita harus menempatkannya sebagai
permasalahan intelektual.” Itulah yang mendasari Jung untuk tidak berhenti
mengkaji alam bawah sadar sebagai bagian dari ilmu psikologi. Bahwa gejala jiwa
tidak saja dapat dianalisis melalui alam sadar yang tampak.
Tentang mimpi Jung menuliskan teorinya begini:
“Mimpi adalah sebuah pintu kecil yang tersembunyi di dalam
ceruk jiwa paling dalam dan paling rahasia, terbuka untuk jiwa pada dunia malam
kosmis, jauh sebelum munculnya kesadaran ego, dan akan menetap di jiwa, tak
peduli seberapa jauh kesadaran ego akan memperluas dirinya. Semua bentuk
kesadaran berdiri terpisah-pisah; namun di dalam mimpi, kita mengenakan segala
kesamaan dari manusia yang lebih universal, lebih nyata, lebih abadi. Di sana
ia masih menjadi keseluruhan, dan keseluruhan itu masih berada dalam dirinya,
tak terbedakan dari alam dan terlepas dari segala ego. Dari kedalaman tempat
menyatunya segala hal inilah muncul mimpi.”
Teorinya tersebut mungkin agak sulit dipahami. Namun
demikian segala jerih payahnya meneliti alam bawah sadar layak kita apresiasi.
Sebagian besar kita seperti yang disebutkan dalam argumentasinya di awal, lebih
suka membuang apa-apa yang sulit dipahami. Jung sendiri pernah mengesampingkan buku Freud
yang berjudul “the interpretation of dreams”, karena belum bisa
memahaminya.Freud dengan teori psikoanalisisnya membagi alam jiwa menjadi 3 yaitu alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Mimpi adalah bagian dari kehidupan di alam bawah sadar.
Bagiku sendiri, ternyata alam sadar dan alam bawah sadarku sama-sama sibuknya.
Bagiku sendiri, ternyata alam sadar dan alam bawah sadarku sama-sama sibuknya.
Wallahu'alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar