Kamis, 03 Januari 2013

Saat Ada Hati Yang Lain

 “Aku pengin ketemu, ada yang ingin aku ceritakan, tolong datang ya”, bunyi sms siang itu. Seorang teman lama, dulu kami pernah sangat akrab. Sempat beberapa lama kami loss of contact setelah masing-masing kami menikah dan pindah keluar kota. Suatu saat aku berkesempatan mengunjunginya dan menemukan keluarga yang dimataku bahagia. Ya, temanku ini memiliki anak-anak yang tidak saja cantik dan ganteng tapi juga pintar seperti kedua orang tuanya. Maka saat sore itu  ada waktu senggang aku sempatkan memenuhi permintaannya , sekaligus bersilaturahmi setelah lama tidak bertemu.

Setelah bercipika-cipiki, temanku itu langsung ke pokok persoalan yang membuatku terhenyak. “Sepertinya aku memang sangat mencintainya”, ujarnya menerawang. “Aku tak mungkin menceritakan ini kepada suamiku, dia sangat baik tak mungkin aku menyakitinya”, ujarnya nyaris seperti berkata kepada diri sendiri. “Tapi rasa ini sungguh menyiksa”, lanjutnya. Aku menahan diri untuk menyela pembicaraannya. Kubiarkan dia terus berkat-kata. “Tak sengaja kami bertemu, setelah bertahun-tahun terpisah. Kami pernah saling mencintai dulu, dank arena ego masing-masing diantara kami, kami berpisah tidak dengan baik-baik. Ada kesalahpahaman yang tidak tuntas. Dia pergi dengan marah, akupun terluka.” Ujarnya sendu.

“Aku merasa bersalah, rumah tangganya tidak bahagia”, katanya melanjutkan. Oh ternyata, mereka sudah banyak berkomunikasi,  batinku.  “Awalnya kami hanya hanya ingin saling bercerita setelah lama tak bertemu. Darinya aku tahu bahwa selama ini dia mencariku, ingin mengetahui keberadaan dan kabarku, tapi seolah kami selalu berselisih jalan.” Dia terus bercerita. “Aku mencintainya, sangat mencintainya.” Ujarnya kelu. “Aku tak sanggup menyimpannya sendiri, tolong aku’, ujarnya mengakhiri. “Aku tidak berbuat macam-macam, kami hanya bicara di telepon, sms, dan bbm, kami menghindari pertemuan”, katanya tanpa ditanya, seolah menangkap kerisauanku.

Aku melihat sinar duka dimatanya. Dia yang memiliki konsep ideal tentang sebuah keluarga, dan menjalani rumah tangga seperti konsep yang diidealkan kini dihadapkan pada situasi sulit; tanggungjawab di depan mata, dan hati  lain yang tanpa disadari  masih tersimpan rapi dalam lubuk hatinya yang terdalam dan kini hadir kembali. Dalam kondisi seperti ini, tentu saja aku tak akan menjustifikasinya dengan dalil agama atau norma sosial bahwa itu dosa dan pengkhianatan. Dia yang berpendidikan dan menjalankan agama dengan patuh itu tak sanggup menahan rasa cinta yang tiba-tiba menyambar hatinya. Siapa yang menyangka akan menghadapi situasi ini. Oh Allah, bagaimana ini.

Aku prihatin dengan keadaannya. Aku juga khawatir jika hal ini akan mengusik kebahagiaan keluarganya. Akhirnya aku hanya bisa bilang, “serahkan pada Allah segala rasa itu, Dia  pemilik dan pencipta rasa cinta  tentu takkan menyia-nyiakan ciptaanNya. Serahkan dan mintalah petunjuk kepadaNya, dan biarlah Dia yang memutuskan. Insya Allah segala keputusanNya pasti baik dan melegakan.” Serahkan saja, dan jangan biarkan hatimu memihak”. Kamipun berpisah. Sambil berangkulan dia bilang “Jangan bosan membalas smsku, sepertinya aku akan banyak curhat lewat sms”.

Sepanjang jalan aku tak berhenti memikirkannya.  Apa yang terjadi dengan temanku, mungkin saja juga terjadi pada pasangan-pasangan yang lain. Aku tahu, temanku tak akan meninggalkan keluarganya, sebesar apapun rasa cinta pada hati yang lain itu menggodanya. Tetapi menjalani hidup dengan menyimpan hati yang lain tentu tidak membahagiakan. Aku mengenal suaminya, dia laki-laki yang baik berpendidikan dan tanggung jawab. Dari tampilan luar semua orang menilai mereka pasangan serasi dan keluarga yang bahagia. Aku tak henti bertanya, mengapa kehadiran sekilas cinta di masa lalu bisa mengoyak batinnya. Apa yang salah, dan bagaimana menyikapinya.

Meskipun temanku itu tidak menceritakan hal ini kepada suaminya, apakah suaminya tidak tahu. Aku yakin, suaminya merasakan perubahan itu, meski mungkin tidak terlalu jelas penyebabnya. Dan seandainya suaminya akhirnya tahu, aku berharap suaminya akan memahami kondisi temanku. Memahami bahwa sebelum menikah dengannya ada masa lalu yang tidak tuntas. Bahwa tidak semua pasangan suami istri menikah dengan seseorang yang pernah menjadi cinta pertamanya. Kesadaran ini diperlukan sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan seperti ini.

Mengapa keharmonisan rumah tangga yang telah dibinanya sekian tahun seolah pupus oleh kehadiran cinta lamanya? Bisa jadi selama ini, mereka sibuk dengan pekerjaan, anak-anak, dan dunianya masing-masing, tak sempat merawat tumbuhan cinta yang sempat mekar di awal-awal pernikahan.  Sudah berapa lama tidak saling memuji dan mengungkapkan kata-kata cinta. Sehingga kehadiran cinta pertamanya membuatnya kembali terkenang pada keindahan cinta masa lalu. Jadi kesalahan bisa saja terletak pada kedua belah pihak yang tidak merawat apa yang sudah diamanahkan.

Dengan kesadaran itu, alangkah baiknya jika suami mau membantu temanku itu menuntaskan masa lalunya. Dengan perhatian dan kasih sayang suaminya aku yakin temanku akan berhasil keluar dari kemelut cinta lamanya. Sebaliknya, jika suaminya tidak bisa memahaminya, dan justru memarahinya dan menuduhnya khianat, aku khawatir segalanya akan berakhir buruk. Oh, semoga ini tidak terjadi.

Perasaan cinta itu seperti halnya perasaan-perasaan lain memang sulit dihindari, tapi  bisa dikendalikan.



Wallahu'alam



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...