DT atau pesantren Daarut Tauhiid, bagi sebagian orang
sudah cukup terkenal. Pesantren yang terletak di jalan Geger Kalong Gilang atau
tepat di belakang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini merupakan
salah satu pesantren yang cukup terkenal. Ketenaran pesantren ini sejalan
dengan kepopuleran KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym pendiri pesantren
ini. Akhir tahun 90-an hingga sepanjang
tahun 2000-an menjadi puncak kepopuleran Aa Gym. Pengajian-pengajian yang beliau
adakan baik di DT maupun di tempat manapun selalu dihadiri ribuan orang. Hal
itu berdampak positif bagi perkembangan DT sehingga pesantren inipun mengalami
kemajuan pesat dalam hal objek dan media dakwah maupun sarana prasarana
pesantren. Tidak saja bergerak di bidang
pendidikan, pesantren ini juga mengembangkan berbagai bidang usaha dakwah
seperti : MQFM (radio), MQTV (Televisi), penerbitan buku dan majalah, cottage,
retail, dsb.
DT, 12 tahun silam
Akhir tahun 1999, sekitar 12 tahun lalu, aku
berada diantara denyut nadi semangat
dakwah Aa Gym dan DT sebagai salah satu dari sekitar 30 (15 putri, 15 putra)
santri mukim DT program 6 bulan. Iya, pada masa-masa itu program santri mukim
DT hanya berkisar bulanan. Pondokan dan ruang belajar santri putri berada tepat di seberang rumah panggung
keluarga Aa Gym dan teh Ninih, sehingga memudahkan kami untuk belajar dan
menangkap semangat dakwah beliau. Konsep dakwah Aa menurutku adalah “sedikit
ilmu, lakukan”. Persis dengan slogannya yang terkenal “mulai dari diri sendiri,
mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga”. Aa Gym sendiri turun tangan dengan
memberi contoh apa-apa yang beliau sampaikan. Maka sudah menjadi keharusan bagi
kami para santri selain belajar dan menjalankan amalan sunnah (qiyamullail dan
puasa sunnah), adalah menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan pesantren.
Saat itu bintang Aa sudah mulai bersinar. Masjid
DT hampir selalu dipenuhi jamaah, bahkan untuk pengajian-pengajian rutin beliau
(malam Jum’at dan ba’da dhuhur), dihadiri ribuan jamaah yang rela berada di
lapangan/jalanan dengan menonton dari layar lebar yang disediakan. Sebagai
santri, aku mendapat tugas berkeliling diantara jamaah putri menarik infak
sukarela.Maka dapat dibayangkan betapa ramainya lingkungan DT waktu itu.
Keramaian itu menghidupkan aktivitas ekonomi penduduk di sekitar pesantren.
Rumah makan, penginapan, toko-toko tumbuh bak jamur di musim hujan.
Wanita-wanita berbusana gamis dan kerudung lebar serta pria berbaju koko dan
berkopiah putih lalu lalang tiada henti. Kamipun para santri menggunakan
pakaian standar, gamis polos lebar dan kerudung lebar. Dengan pakaian ini kami
bisa langsung shalat tanpa perlu memakai mukena. Hampir tidakdapat ditemui
wanita tanpa busana muslimah berada di lingkungan DT. Minimal pasti menggunakan
kerudung, meski seadanya.
Hubungan kami para santri dengan keluarga besar
Aa Gym cukup akrab. Sering ada acara kebersamaan kami lakukan dengan acara
memasak bersama teh Ninih atau keluarga
Adeda (adik Aa Gym). Sehingga kami para santri cukup mengenal baik keluarga
pendakwah ini.
DT, Sekarang
Akhir tahun ini, 29 Desember 2012 hingga 1
Januari, aku dan keluarga menghabiskan akhir tahun dengan berkunjung ke DT.
Kami meningap di cottage Darrul Jannah milik DT. Cottage bernuansa alam dengan
rumah kayu itu cukup nyaman, bersih dan murah dibandingkan tarif hotel dengan
pelayanan dan fasilitas setara. Lebih dari itu, cottage ini dipilih karena
masih berada di lingkungan pesantren DT.
Sebelum memilih DT, aku sempat bertanya-tanya seperti apa DT sekarang?
Masih ramai seperti dulukah, atau turun drastis seperti ramai diberitakan
media? Seperti apa Aa Gym dan teh Ninih sekarang?
Yah, keputusan Aa untuk menikah lagi alias
berpoligami, seperti diberitakan, menimbulkan dampak pamor DT meredup saat itu.
Pemberitaan gencar tentang pribadi dan pilihan Aa itu juga mempengaruhi diri Aa
sebagai da’I kondang. Sebagai orang yang pernah nyantri di DT dan belajar dari
beliau, aku sendiri yakin bahwa pasti Aa punya pertimbangan sendiri tidak
semata fisik-emosi dalam menentukan pilihan hidupnya. Bahwa akhirnya episode
itu mempengaruhi tidak saja pribadi Aa Gym namun juga DT sebagai institusi
sedikit banyak sempat membuatku prihatin. Dari teman-teman yang masih tetap di
DT baik mengajar maupun bekerja, aku mengikuti perkembangan DT ini.
Namun seperti setiap orang memiliki episode
suka-dukanya masing-masing, Aa Gym juga manusia yang melalui berbagai episode
itu. Sebagai pihak luar aku tentu saja tetap berusaha menjaga prasangka positif
terhadap pilihan Aa ini. Dan diam-diam mendo’akan agar Aa dan teh Ninih dapat
melalui episode ini sebagai suatu hal yang tak pernah luput dari campur tangan
Allah sehingga ikhlas melaluinya. Karena, dalam setiap episode hidup, yang
penting adalah bagaimana mensikapinya.
Hari sudah siang, ba’da dhuhur ketika aku tiba di DT. Pesantren dan masjid
kebanyakan diisi tamu dan warga sekitar karena santri-santri DT dari TK hingga
SMA DT sedang libur. Namun ada sedikit pemadangan yang menggangguku di
lingkungan DT sekarang. Dahulu hampir tidak aku temukan wanita tanpa kerudung
berada di DT, namun sekarang beberapa kali aku temukan perempuan-perempuan
menggunakan pakaian pas-pasan (kaos ketat, celana jins, bahkan ada yang
menggunakan celana pendek) berada di lingkungan pesantren bahkan di masjid.
Semoga mereka segera mendapat hidayah. Aamiin.
Hari pertama di DT, tanggal 29 Desember, Aa Gym
sedang tidak di Bandung. Namun meski tidak ada Aa Gym, kegiatan rutin di masjid
tetap berjalan. Ba’da shalat Ashar diisi dengan membaca Al Matsurot, sedangkan
ba’da Maghrib diisi dengan kajian tafsir rutin oleh ustadz-ustadz yang sudah
dijawalkan mengisi kajian rutin ba’da Maghrib. Besoknya, tanggal 30 Desember
hari minggu, kegiatan masjid Dt cukup padat. Diawali, siaran langsung manajemen
qolbu pagi ba’da subuh jam 05.00-06.00. Siaran MQ pagi disiarkan langsung
melalui radio MQFm dan sudah berlangusng sejak tahun 90-an. Karena Aa Gym tidak
di masjid DT maka kami mendengarkan dari radio yang diperdengarkan di masjid.
Dan setelah 30 menit Aa ceramah dilanjutkan oleh ustadz Fahrudin dari masjid
DT. Kajian berikutnya jam 10.00-12.00, adalah kajian untuk umum, lalu kajian
muslimah oleh teh Ninih ba’da dhuhur. Sesuai namanya kajian ini khusus untuk
muslimah. Hari itu juga, ternyata Aa Gym datang di DT. Pada saat shalat ashar,
terdengar suara khas Aa Gym mengimami shalat Ashar. Ba’da Ashar, Aa Gym member
sedikit tausiah dan menyapa para tamu ang datang ke DT.
Alhamdulillah, tiga malam di DT kemarin
membukakan mataku bahwa Aa dan teh Ninih perlahan berangsur menunjukkan
kualitas pribadi yang ikhlas diatur oleh Allah. Setidaknya begitulah yang aku
saksikan. Dan DT sebagai institusi kembali ramai dan berkembang sebagai sentra
dakwah. Bahkan, sudah mulai membangun dan mengembangkan beberapa cabang.
Subhanallah, benar janji Allah bahwa setiap kejadian bahkan sekecil apapun
sebesar zarah tidak ada yang sia-sia dalam pandangan Allah, asal kita benar
mensikapinya.
Perkembangan DT sekarang menurut pengamatanku,
mulai berubah sistemik dan ‘menghindarkan’ bergantung dari figure AaGym semata.
Meski tidak dapat dihindari, masih banyak orang yang berharap mendengar
ceramah-ceramah Aa. Tentu saja ini ini boleh dibilang sebagai hikmah dari suatu kejadian yang di
mata orang masih dianggap masalah. DT sekarang mengembangkan sekolah-sekolah
formal yang dilandaskan ruhiah Islamiah. Sebagai orang yang pernah belajar
disini, aku mensyukuri perkembangan ini. Kejadian ini sekali lagi memberi
contoh bahwa dalam tuntunan dan keyakinan akan pertolongan Allah setiap
kejadian adalah sumber kebaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar