Rabu, 02 Januari 2013

DT, Catatan Akhir Tahun

DT atau  pesantren Daarut Tauhiid, bagi sebagian orang sudah cukup terkenal. Pesantren yang terletak di jalan Geger Kalong Gilang atau tepat di belakang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal. Ketenaran pesantren ini sejalan dengan kepopuleran KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym pendiri pesantren ini.  Akhir tahun 90-an hingga sepanjang tahun 2000-an menjadi puncak kepopuleran Aa Gym. Pengajian-pengajian yang beliau adakan baik di DT maupun di tempat manapun selalu dihadiri ribuan orang. Hal itu berdampak positif bagi perkembangan DT sehingga pesantren inipun mengalami kemajuan pesat dalam hal objek dan media dakwah maupun sarana prasarana pesantren.  Tidak saja bergerak di bidang pendidikan, pesantren ini juga mengembangkan berbagai bidang usaha dakwah seperti : MQFM (radio), MQTV (Televisi), penerbitan buku dan majalah, cottage, retail, dsb.

DT, 12 tahun silam

Akhir tahun 1999, sekitar 12 tahun lalu, aku berada diantara denyut nadi  semangat dakwah Aa Gym dan DT sebagai salah satu dari sekitar 30 (15 putri, 15 putra) santri mukim DT program 6 bulan. Iya, pada masa-masa itu program santri mukim DT hanya berkisar bulanan. Pondokan dan ruang belajar santri putri  berada tepat di seberang rumah panggung keluarga Aa Gym dan teh Ninih, sehingga memudahkan kami untuk belajar dan menangkap semangat dakwah beliau. Konsep dakwah Aa menurutku adalah “sedikit ilmu, lakukan”. Persis dengan slogannya yang terkenal “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga”. Aa Gym sendiri turun tangan dengan memberi contoh apa-apa yang beliau sampaikan. Maka sudah menjadi keharusan bagi kami para santri selain belajar dan menjalankan amalan sunnah (qiyamullail dan puasa sunnah), adalah menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan pesantren.

Saat itu bintang Aa sudah mulai bersinar. Masjid DT hampir selalu dipenuhi jamaah, bahkan untuk pengajian-pengajian rutin beliau (malam Jum’at dan ba’da dhuhur), dihadiri ribuan jamaah yang rela berada di lapangan/jalanan dengan menonton dari layar lebar yang disediakan. Sebagai santri, aku mendapat tugas berkeliling diantara jamaah putri menarik infak sukarela.Maka dapat dibayangkan betapa ramainya lingkungan DT waktu itu. Keramaian itu menghidupkan aktivitas ekonomi penduduk di sekitar pesantren. Rumah makan, penginapan, toko-toko tumbuh bak jamur di musim hujan. Wanita-wanita berbusana gamis dan kerudung lebar serta pria berbaju koko dan berkopiah putih lalu lalang tiada henti. Kamipun para santri menggunakan pakaian standar, gamis polos lebar dan kerudung lebar. Dengan pakaian ini kami bisa langsung shalat tanpa perlu memakai mukena. Hampir tidakdapat ditemui wanita tanpa busana muslimah berada di lingkungan DT. Minimal pasti menggunakan kerudung, meski seadanya.

Hubungan kami para santri dengan keluarga besar Aa Gym cukup akrab. Sering ada acara kebersamaan kami lakukan dengan acara memasak bersama  teh Ninih atau keluarga Adeda (adik Aa Gym). Sehingga kami para santri cukup mengenal baik keluarga pendakwah ini.

DT, Sekarang

Akhir tahun ini, 29 Desember 2012 hingga 1 Januari, aku dan keluarga menghabiskan akhir tahun dengan berkunjung ke DT. Kami meningap di cottage Darrul Jannah milik DT. Cottage bernuansa alam dengan rumah kayu itu cukup nyaman, bersih dan murah dibandingkan tarif hotel dengan pelayanan dan fasilitas setara. Lebih dari itu, cottage ini dipilih karena masih berada di lingkungan pesantren DT.  Sebelum memilih DT, aku sempat bertanya-tanya seperti apa DT sekarang? Masih ramai seperti dulukah, atau turun drastis seperti ramai diberitakan media? Seperti apa Aa Gym dan teh Ninih sekarang?

Yah, keputusan Aa untuk menikah lagi alias berpoligami, seperti diberitakan, menimbulkan dampak pamor DT meredup saat itu. Pemberitaan gencar tentang pribadi dan pilihan Aa itu juga mempengaruhi diri Aa sebagai da’I kondang. Sebagai orang yang pernah nyantri di DT dan belajar dari beliau, aku sendiri yakin bahwa pasti Aa punya pertimbangan sendiri tidak semata fisik-emosi dalam menentukan pilihan hidupnya. Bahwa akhirnya episode itu mempengaruhi tidak saja pribadi Aa Gym namun juga DT sebagai institusi sedikit banyak sempat membuatku prihatin. Dari teman-teman yang masih tetap di DT baik mengajar maupun bekerja, aku mengikuti perkembangan DT ini.

Namun seperti setiap orang memiliki episode suka-dukanya masing-masing, Aa Gym juga manusia yang melalui berbagai episode itu. Sebagai pihak luar aku tentu saja tetap berusaha menjaga prasangka positif terhadap pilihan Aa ini. Dan diam-diam mendo’akan agar Aa dan teh Ninih dapat melalui episode ini sebagai suatu hal yang tak pernah luput dari campur tangan Allah sehingga ikhlas melaluinya. Karena, dalam setiap episode hidup, yang penting adalah bagaimana mensikapinya. 

Hari sudah siang, ba’da dhuhur  ketika aku tiba di DT. Pesantren dan masjid kebanyakan diisi tamu dan warga sekitar karena santri-santri DT dari TK hingga SMA DT sedang libur. Namun ada sedikit pemadangan yang menggangguku di lingkungan DT sekarang. Dahulu hampir tidak aku temukan wanita tanpa kerudung berada di DT, namun sekarang beberapa kali aku temukan perempuan-perempuan menggunakan pakaian pas-pasan (kaos ketat, celana jins, bahkan ada yang menggunakan celana pendek) berada di lingkungan pesantren bahkan di masjid. Semoga mereka segera mendapat hidayah. Aamiin.

Hari pertama di DT, tanggal 29 Desember, Aa Gym sedang tidak di Bandung. Namun meski tidak ada Aa Gym, kegiatan rutin di masjid tetap berjalan. Ba’da shalat Ashar diisi dengan membaca Al Matsurot, sedangkan ba’da Maghrib diisi dengan kajian tafsir rutin oleh ustadz-ustadz yang sudah dijawalkan mengisi kajian rutin ba’da Maghrib. Besoknya, tanggal 30 Desember hari minggu, kegiatan masjid Dt cukup padat. Diawali, siaran langsung manajemen qolbu pagi ba’da subuh jam 05.00-06.00. Siaran MQ pagi disiarkan langsung melalui radio MQFm dan sudah berlangusng sejak tahun 90-an. Karena Aa Gym tidak di masjid DT maka kami mendengarkan dari radio yang diperdengarkan di masjid. Dan setelah 30 menit Aa ceramah dilanjutkan oleh ustadz Fahrudin dari masjid DT. Kajian berikutnya jam 10.00-12.00, adalah kajian untuk umum, lalu kajian muslimah oleh teh Ninih ba’da dhuhur. Sesuai namanya kajian ini khusus untuk muslimah. Hari itu juga, ternyata Aa Gym datang di DT. Pada saat shalat ashar, terdengar suara khas Aa Gym mengimami shalat Ashar. Ba’da Ashar, Aa Gym member sedikit tausiah dan menyapa para tamu ang datang ke DT.

Alhamdulillah, tiga malam di DT kemarin membukakan mataku bahwa Aa dan teh Ninih perlahan berangsur menunjukkan kualitas pribadi yang ikhlas diatur oleh Allah. Setidaknya begitulah yang aku saksikan. Dan DT sebagai institusi kembali ramai dan berkembang sebagai sentra dakwah. Bahkan, sudah mulai membangun dan mengembangkan beberapa cabang. Subhanallah, benar janji Allah bahwa setiap kejadian bahkan sekecil apapun sebesar zarah tidak ada yang sia-sia dalam pandangan Allah, asal kita benar mensikapinya. 

Perkembangan DT sekarang menurut pengamatanku, mulai berubah sistemik dan ‘menghindarkan’ bergantung dari figure AaGym semata. Meski tidak dapat dihindari, masih banyak orang yang berharap mendengar ceramah-ceramah Aa. Tentu saja ini ini boleh dibilang  sebagai hikmah dari suatu kejadian yang di mata orang masih dianggap masalah. DT sekarang mengembangkan sekolah-sekolah formal yang dilandaskan ruhiah Islamiah. Sebagai orang yang pernah belajar disini, aku mensyukuri perkembangan ini. Kejadian ini sekali lagi memberi contoh bahwa dalam tuntunan dan keyakinan akan pertolongan Allah setiap kejadian adalah sumber kebaikan. 

Seburuk apapun kejadian menurut ukuran manusia tetap akan menjadi kebaikan asalkan kita mampu menyikapinya dengan benar. Dan sebaliknya, sebaik apapun kejadian menurut pandangan manusia, jika menyikapinya salah, akan berakhir menjadi keburukan. Subhanallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...