Kamis, 05 Mei 2011

Sekali lagi Bullying..

Hari ini menghadapi orang tua yang marah dan tidak terima karena anaknya mengalami "kekerasan" mental di sekolah oleh teman-teman sekelasnya sendiri. Si anak sebut saja namanya "Fulan" anak pendiam cenderung tidak berani melawan. Namun, justru kediamannya inilah yang membuat teman-temannya semakin mengolok-ngolok Fulan. Puncaknya, Fulan mogok sekolah dengan alasan sakit yang dibuat-buat.
Kasus serupa pernah terjadi dengan ciri-ciri "korban" yang mirip. Korban lemah secara fisik dan mental, pendiam dan tidak berani membalas.

Dari beberapa kasus yang pernah terjadi, perlu diwaspadai kondisi fisik dan mental anak-anak yang memiliki kecendurangan akan menjadi korban bullying. Anak-anak ini perlu dipanggil dan dimotivasi untuk dapat mengutarakan ketidaksukaanya di'gencet' oleh teman-temannya. Jika ditelusuri lebih lanjut, anak korban bully seringkali mengalami episode pendidikan di masa kecil di rumah yang kurang tepat. Diantaranya, keluarga secara tidak sadar menuntut lebih dari batas kemampuan anak, dan jika anak tidak mencapai keinginan keluarga, maka anak diejek dengan kata-kata hinaan. Hinaan yang sering mengakibatkan anak merasa minder dan yakin bahwa dirinya memang lemah dan tidak mampu. Perlu usaha ekstra keras menumbuhkan kembali rasa percaya diri anak-anak tipe ini. Bagi anak-anak seperti ini perlu "diwajibkan" agar mereka memilih salah satu kegiatan ekskul yang sesuai dengan minatnya. Aktif di satu kegiatan yang menyenangkan dan sesuai minat diharapkan dapat membantu mengembangkan eksistensi anak.

Bagi para pelaku bullying, siswa yang merasa "lebih" sehingga semena-mena terhadap temannya, perlu juga dipanggil khusus untuk diketahui riwayat pendidikan dan masalah sebenarnya yang dia hadapi. Seringkali anak-anak pelaku bully jika dirunut adalah anak-anak yang memiliki tekanan masalah di rumah atau di teman pergaulannya yang lain. Tekanan tersebut dilampiaskan kepada temannya yang secara fisik dan mental lebih lemah dan tidak berani melawan. Dengan diketahui masalah sebenarnya yang dihadapi, guru dapat membantu siswa tersebut menyelesaikan masalahnya dan pada akhirnya berhenti membully temennya.

Maraknya kasus bullying di sekolah, menjadi PR guru dan sekolah secara umm untuk mencegah, melindungi dan terutama berkomitmen untuk menciptakan sekolah ramah anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...