Rabu, 11 Mei 2011

Silaturahmi

Konon diriwayatkan bahwa orang-orang yang bersilaturahmi "dicemburui" para nabi. Pada suatu saat di akhirat kelak para nabi bertanya-tanya tentang siapakah yang didudukkan dalam singgasana dan mimbar-mimbar itu. lalu Allah SWT menjelaskan, bahwa mereka adalah orang-orang yang rajin menjalin silaturahmi selama hidup di dunia karena Allah. (sumber belum diketahui). Begitu utamanya amalan silaturahmi ini sehingga pelaku-pelakunya akan mendapatkan keutamaan di dunia dan di akhirat.

Sumber-sumber hadits sahih tentang silaturahmi cukup banyak, diantaranya; Nabi saw bersabda : "Maukah kalian aku tunjukkan akhlak yang paling mulia di dunia dan diakhirat? Memberi maaf orang yang mendzalimimu, memberi orang yang menghalangimu dan menyambung silaturrahim orang yang memutuskanmu” (HR. Baihaqi.
Demikian juga dalam hadits yang sudah sangat kita kenali tentang silaturahmi memperbanjang umur dan menambah rizki.
"Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali persaudaraan” (H.R. Bukhari-Muslim).

Dalam kehidupan kita seperti sekarang, silaturahmi menjadi barang mewah. Setiap hari kita disibukkan dengan urusan pekerjaan dari pagi hingga malam. Waktu libur sabtu dan minggu seringkali dihabiskan di rumah melepas penat seminggu dan bercengkerama dengan keluarga. Nyaris tak bersisa waktu untuk saling menyapa dan bersilaturahmi dengan kerabat dan teman jauh. Bahkan adakalanya tetangga dekat sakitpun kita tidak tahu.

Selain karena alasan klise kekurangan waktu, seringkali kita tidak bersilaturahmi karena kultur kehidupan masyarakat yang cenderung mengarah pada privasi. Orang akan bertemu, menelepon ataupun sekedar berkunjung ke kerabat meski harus membuat janji terlebih dahulu. Jika tidak, niat baik silaturahmi bisa jadi berakhir tidak baik karena yang akan kita temui sedang tidak ingin diganggu misalnya. Atau bahkan dalam diri kita lambat laun tertanam pola pikir 'nafsi-nafsi' alias tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Sehingga kita membatasi diri bergaul dengan orang lain bahkan timbul kecurigaan pada orang-orang yang hendak silaturahmi.

Namun menyimak keutamaan silaturahmi di atas, seyogyanya kita kembali menggalakkan silaturahmi. Sesibuk-sibuknya kita mari kita luangkan waktu untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar. Bila perlu sambil membawa bingkisan. Bahkam dalam era kemudahan komunikasi sperti sekarang, kita dapat memanfaatkan berbagai kemudahan tersebut untuk bersilaturahmi. Jika kita merasa malas dan capek, ingat-ingat keutamaan silaturahmi sehingga kita bersemangat kembali untuk bertemu dan kunjung mengunjungi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...