Selasa, 10 Mei 2011

Kegagalan memang mengecewakan

Meskipun pasti bahwa setiap manusia pernah dan mungkin akan mengalami kegagalan, tetap saja kosa kata satu ini menimbulkan ekspresi duka. Secara fisik terlihat dari raut muka masam, sorot mata layu, langkah gontai dan tak bergairah. Bahkan dalam kondisi ekstrim, kegagalan berpengaruh terhadap kesehatan badan. Tiba-tiba perut berasa mual, mules, dada sesak, fikiran pusing, jantung berdegup tak tentu iramanya.

Ada orang yang bisa cepat keluar dari efek negatif kegagalan bahkan menjadikannya sebagai titik balik mencapai keberhasilan. Namun tidak jarang orang terpaku diam dan berlama-lama meratapi kegagalan. Apakah kita akan menjadi seperti yang pertama atau yang kedua dalam menghadapi kegagalan, tergantung keyakinan dan keikhlasan kita menerima hitam-putihnya kehidupan.

Selain masalah keyakinan, sedikit banyak cara kita menghadapi kegagaln dipengaruhi pola pendidikan di masa kecil dan kanak-kanak. Ketika mendapati anak kecilnya menangis, secara reflek orang tua menghibur dan berupaya segala cara untuk menghentikan tangisannya. Adakalanya dengan memberikan hadiah makanan kesukaan atau mainan untuk meredakan tangis si anak. Perilaku seperti ini sedikit banyak mendidik anak untuk selalu "menghindari" segala sesuatu yang memngakibatkan kedukaan. Anak diajar untuk melarikan diri dari masalah/kegagalan. Alangkah baiknya jika orang tua tidak sekedar membujuk namun membimbing anak untuk mengenali dan menyelesaikan kegagalan/masalah yang membuatnya menangis. Dengan demikian anak belajar menerima masalah/kegagalan dan berupaya menemukan jalan keluar dari masalah bukan melupakannya dengan permen atau mainan.

Pada kenyataannya hidup ini tidak pernah lurus-lurus saja. Senantiasa menemukan gejolak-gejolak dalam perjalannya. Kemampuan menerima kegagalan sama pentingnya dengan kemampuan menerima keberhasilan. Karena hanya orang-orang yang pernah 'menerima' dan bangkit dari kegagalan-lah yang benar-benar bisa menghargai keberhasilan.

Renungan malam di Arcadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...