Seorang bapak calon orang tua siswa mempertanyakan urgensi dan manfaat pelajaran-pelajaran IPA (fisika, kimia, biologi, matematika) sehingga sepertinya begitu diutamakan di sekolah. Saya yang kebetulan memandu acara merangkai kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut. Saya berkata; bahwa pelajaran-pelajaran IPA membutuhkan penalaran untuk memahaminya. Rumus-rumus matematika, fisika, kimia diajarkan untuk melatih siswa menyelesaikan soal dengan langkah-langkah tertentu. Pembelajaran ini melatih siswa menggunakan kemampuan logika dan membentuk pola fikir siswa. Pada saatnya siswa terjun ke masyarakat, rumus-rumus tersebut tidak bermanfaat secara langsung, namun kemampuan penalaran dan sistematika pola fikir siswa bermanfaat untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Siswa belajar menemukan sebab, menyelesaikan tahap demi tahap dan menemukan jalan keluarnya. Ketekunan dan daya juang siswa proses penyelesaian soal-soal mata pelajaran IPA diharapkan membentuk karakter tekun dan pantang menyerah siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah kehidupan nantinya.
Lalu dimana urgensi mata pelajaran IPS? Sebelum si Bapak itu bertanya saya berkata; bahwa seharusnya pembelajaran IPS-pun dapat membentuk pola fikir dan kemampuan penalaran siswa. Namun sayangnya dalam praktek pembelajaran IPS cenderung 'menghafal' sehingga kurang memanfaatkan daya nalar siswa. Kemampuan guru mata pelajaran IPS untuk meramu materi sehingga menggugah rasa ingin tahu dan daya nalar siswa masih terbatas.
Dalam hati bertanya-tanya, apakah itu jawaban murni apa "apologis", pembenaran dari program sekolah yang IPA minded. Lalu jika benar bahwa pembelajaran IPS cenderung "hanya" menghafal, alangkah ruginya para siswa menghabiskan tenaga, waktu dan biaya belajar IPS? Sekedar tahu nama-nama pahlawan, tanggal-tanggal penting sejarah, kondisi sosiologis suatu masyarakat, atau pengetahuan sekedar tahu tersebut.
Jika urgensi dan manfaat beberapa pelajaran tertentu kurang signifikan sebaiknya ada pembenahan struktur kurikulum. Terlalu banyak beban kurikulum yang harus diterima siswa. Habis waktu siswa di sekolah hanya untuk mengetahui, sesuatu yang di era digital ini sudah sangat mudah perannya digantikan oleh mbah Google.
Hemm... pertanyaan si Bapak diam-diam menggugat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar