Jika diibaratkan lari, dunia pendidikan adalah jenis lari marathon. Jenis lari ini menempuh jarak jauh dan memerlukan daya tahan prima. Pelari-pelari marathon berbeda gaya dan strategi dengan jenis pelari jarak dekat. Jika pelari jarak dekat dijuluki sprinter atau manusia tercepat, pelari marathon tidak mendapat julukan ini. Meskipun dalam lari marathon kecepatan juga mendapat penilaian, namun strategi menjadi tercepat berbeda dengan lari jarak dekat. Dalam lari marathon, pelari cenderung menjaga kecepatan konstan. Kecepatan konstan sangat penting bagi pelari marathon untuk menjaga stamina sehingga dapat menyelesaikan seluruh putaran.
Mengapa pendidikan jika diibaratkan lari adalah lari marathon karena dalam pendidikan, tujuan dan hasil-hasil pendidikan tidak dapat diperoleh secara instan. Seperti lari marathon yang menurut sejarahnya bukanlah sekedar lomba lari, tapi berlari untuk mencapai tujuan, demikian juga proses pendidikan. Menurut riwayatnya, lari marathon diilhami oleh kisah utusan Athena 'Pheidippiddes' yang berlari tanpa henti selama 26 mil atau 42.195km dari kota Marathon menuju Athena untuk mengabarkan kemenangan tentara Athena atas Persia. Setelah mengabarkan kemenangannya, kemudian ia pun tewas karena keletihan. Versi lain mengatakan bahwa PHEIDIPPIDES sebetulnya dikirim ke Sparta untuk minta bantuan dengan berlari selama dua hari untuk menempuh jarak 240km. Apapun versinya, lari marathon diilhami oleh kegiatan lari jarak jauh untuk mencapai tujuan.
Pendidikan adalah proses panjang yang bertujuan. Bahkan, dikatakan bahwa pendidikan adalah proses sepanjang hayat. Seperti lari marathon, diperlukan daya tahan untuk melalui proses panjang pendidikan baik mengajar maupun belajar.
Para pelaku pendidikan (terutama pendidik) mesti memiliki gaya dan strategi pelari maraton untuk bisa keluar sebagai pemenang alias mencapai tujuan pendidikan. Gaya itu adalah; berlari. Berlari berbeda dengan berjalan, berlari memberi kesan semangat, kesungguhan, keinginan kuat untuk segera mencapai tujuan. Dan, lari marathon berbeda dengan lari jarak dekat, diperlukan konsistensi kecepatan dan stamina jangka panjang dalam lari marathon.
Oleh karena itu pelaku pendidikan mesti memiliki semangat dan gaya pelari marathon dalam melalui proses pendidikan. Sangat tidak baik jika pelaku pendidikan menggunakan gaya sprinter alias manusia tercepat. Jika gaya ini yang dipilih, yang terjadi adalah proses pendidikan yang tidak konsisten alias "hangat-hangat tahi ayam". Pada saat sedang semangat bisa melaju sangat cepat, kemudian melemah bahkan berhenti sama sekali. Lalu semangat lagi, melaju lagi dan berhenti lagi. Ketidakkonsistenan dalam pendidikan menimbulkan kebingungan dan ketidakjelasan karakter yang hendak dibentuk.
Seperti apa pelaku-pelaku pendidikan di sekitar kita. Mari kita evaluasi diri, karena setiap kita adalah pelaku pendidikan dari sekolah kehidupan. Terlebih lagi, jika profesi kita adalah pendidik. Tanpa kemampuan untuk konsisten, sebaiknya kita evaluasi keterlibatan kita sebagai pendidik. Karena, dikhawatirkan hanya akan mengajarkan ketidakkonsistenan sikap dan kebingungan atas segala sesuatu yang diajarkan.
Arcadia, renungan masih di bulan pendidikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar