Pada perjalanan umrohku tahun 2010 yang lalu, biro perjalanan Khazanah Mandiri, tempat aku dan ibuku tergabung dalam jamaah umroh, mengagendakan perjalanan ke Thaif. Aku sejak berangkat sudah berniat tidak akan ikut perjalanan ke Thaif ini. Entah mengapa rasa hatiku tak nyaman harus bersenang-senang ke Thaif. Aku sampaikan ke ibuku, bahwa sebaiknya waktu kita yang terbatas di Mekkah kita manfaatkan untuk i'tikaf dan berlama-lama di Masijidil Haram. Perjalanan ke Thaif memakan waktu seharian. Karena disana banyak hal yang akan dilihat dan dilakukan
Bagiku dan bagi kita umat Islam yang membaca sejarah Nabi Muhammad, SAW, Thaif adalah sepenggal cerita yang memilukan. Tiga tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah, Rasulullah diam-diam mendatangi kota Thaif. Sejak kepergian Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib, penduduk Mekkah makin berani memerangi dakwah Nabi. Kepergian Nabi ke kota Thaif yang berjarak sekitar 100 km dari kota Mekkah dengan harapan akan mendapat perlindungan dari kekejaman kaum Qurays Mekkah. Namun yang didapatkan Nabi justru sebaliknya. Penduduk Thaif menolak dengan kasar bahkan mengusir Rasulullah dengan lemparan batu. Bersama Zaid bin Haritsah, Nabi bahkan harus bersembunyi di kebun milih "Utbah bin Rabi'ah. Kekasih Allah ini berlindung dari lemparan batu. Masya Allah, begitu kejinya perlakuan penduduk Thaif. Bahkan malaikatpun tak tega, dan bertanya kepada Nabi apakah hendak dibalaskan perlakuan penduduk Thaif? Namun, manusia agung itu menolaknya dan berdo'a:
"Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu."Tergambar betapa beratnya cobaan yang dialami Nabi pada masa itu.
Thaif adalah kota di atas perbukitan yang berhawa dingin. Sungguh berbeda dengan kawasan jazirah Arab lainnya yang gersang dan tandus. Kota berhawa dingin ini menjadi lahan untuk tumbuh suburnya tanaman sayur dan buah-buah. Saat ini Arab Saudi sedang gencar-gencarnya membangun Thaif menjadi daerah tujuan wisata. Berbagai sarana dan fasilitas wisata dibangun. Dari cerita teman yang ikut ke sana, di Thaif mereka naik semacam gondola yang menghubungkan dua bukit sambil menikmati panorama hijau di padang pasir.
Aku tak sanggup melalui itu, terbayang Rasululllah, dan kepedihannya di Thaif. Aku lebih suka duduk di depan Ka'bah dan menikmati kedekatan bersama Allah bersama orang-orang yang tak henti berthawaf dan bermunajat.
Bagiku dan bagi kita umat Islam yang membaca sejarah Nabi Muhammad, SAW, Thaif adalah sepenggal cerita yang memilukan. Tiga tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah, Rasulullah diam-diam mendatangi kota Thaif. Sejak kepergian Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib, penduduk Mekkah makin berani memerangi dakwah Nabi. Kepergian Nabi ke kota Thaif yang berjarak sekitar 100 km dari kota Mekkah dengan harapan akan mendapat perlindungan dari kekejaman kaum Qurays Mekkah. Namun yang didapatkan Nabi justru sebaliknya. Penduduk Thaif menolak dengan kasar bahkan mengusir Rasulullah dengan lemparan batu. Bersama Zaid bin Haritsah, Nabi bahkan harus bersembunyi di kebun milih "Utbah bin Rabi'ah. Kekasih Allah ini berlindung dari lemparan batu. Masya Allah, begitu kejinya perlakuan penduduk Thaif. Bahkan malaikatpun tak tega, dan bertanya kepada Nabi apakah hendak dibalaskan perlakuan penduduk Thaif? Namun, manusia agung itu menolaknya dan berdo'a:
"Ya, Allah kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah Pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapa diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan akhirat dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan dan mempersalahkan diriku. Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu."Tergambar betapa beratnya cobaan yang dialami Nabi pada masa itu.
Thaif adalah kota di atas perbukitan yang berhawa dingin. Sungguh berbeda dengan kawasan jazirah Arab lainnya yang gersang dan tandus. Kota berhawa dingin ini menjadi lahan untuk tumbuh suburnya tanaman sayur dan buah-buah. Saat ini Arab Saudi sedang gencar-gencarnya membangun Thaif menjadi daerah tujuan wisata. Berbagai sarana dan fasilitas wisata dibangun. Dari cerita teman yang ikut ke sana, di Thaif mereka naik semacam gondola yang menghubungkan dua bukit sambil menikmati panorama hijau di padang pasir.
Aku tak sanggup melalui itu, terbayang Rasululllah, dan kepedihannya di Thaif. Aku lebih suka duduk di depan Ka'bah dan menikmati kedekatan bersama Allah bersama orang-orang yang tak henti berthawaf dan bermunajat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar