Rabu, 10 Oktober 2012

One Moment in My Life (3)


Madinah Al Munawarah kota madani. Disini ribuan abad yang silam, Rasulullah membangun kota yang aman, nyaman bagi seluruh penduduk kota Madinah. Mayoritas muslim dan minoritas umat Yahudi dan Nasarani. Namun aturan yang jelas dalam kehidupan bermasyarakat, menjadikan warga minoritas terlindungi hak-haknya. Bentuk kota Madinah di zaman Rasulullah menjadi kajian hingga kini sebagai contoh kota yang madani.

Madinah secara historis, kita kenal sebagai masyarakat yang menerima hijrah Rasulullah dengan tangan terbuka. Disaat keamanan dan keberlangsungan dakwah Rasulullah di Makkah terhambat, Rasulullah mendapat perintah untuk berhijrah. Beberapa kota di sekitar jazirah Arab sempat didatangi Rasulullah, namun semua menolak kehadiran beliau, bahkan di kota Thaif beliau diusir dengan kasar oleh penduduk Thaif. Madinahlah yang akhirnya menjadi pusat dakwah Nabi. 

Kultur masyarakat Madinah ramah. Secara fisik kita akan menumpai kesempurnaan wajah fisik ada di penduduk kota Madinah. Wajah laki-laki dan perempuan yang begitu sempurna ketampanan dan kecantikannya. Jika di Indonesia, mereka semua mungkin akan laris manis menjadi artis. Meski tertutup cadar, kita bisa menerka bentuk mata, hidung, yang sempurna. Demikian juga warna kulitnya yang putih kemerahan. Barangkali ini karena faktor cuaca. Meski udara di sana sangat panas, tapi kita hampir tidak pernah berkeringat. Bahkan, pakaian yang tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki menjadi pakaian yang paling nyaman di udara panas dariada menggunakan pakaian terbuka.  Warga Indonesia yang telah lama tinggal di Arab Saudi-pun, lambat laun kulitnya berubah menjadi putih kemerahan.

Disinilah, ditempat yang sama sekali baru aku kunjungi aku merasa seperti pulang kampung, tidak merasa asing.  Barangkali karena dari kecil kita mendengar dan membaca sirah Nabawi, sehingga tempat ini sudah begitu lekat dalam memori kita. Madinah kota yang bersih dan nyaman. Lebih banyak orang berjalan-jalan daripada naik kendaraan. Mereka menggunakan bentuk dan warna baju yang nyaris sama, hitam atau putih. Hari kedua dan seterusnya, aku berkesempatan untuk menyusuri tempat-tempat bersejarah di kota Madinah. 

Jabal Uhud, tempat terjadinya perang uhud dengan kisah fenomenal syahidnya Hamzah paman Nabi dan yang diambil jantungnya oleh Hindun. Seperti dalam riwayat, terdapat dataran rendah di tengah perbukitan uhud. Di sini sebagian tentara Islam diriwayatkan tidak patuh pada perintah sehingga mengakibatkan banyaknya korban. Jabal Uhud seperti gunung-gung di Arab Saudi adalah batu.

Selanjutnya kami menuju masjid Quba, masjid yang pertama kali dibangun di Madinah. Disanalah diriwayatkan Nabi menentukan tempat membangun masjidnya di tempat untanya berhenti. Masjid Quba berada agak di pinggiran kota Madinah. Setelah ke masjid Quba, kami menuju masjid Qiblatain, tempat Nabi menerima wahyu untuk mengubah arah kiblatnya ke Mekkah Al Mukaramah.

Selain masjid, di Madinah kita bisa mengunjungi kebon korma. Di sana juga terdapat pasar korma. Korma yang utama perlu kita beli adalah korma Ajwa yang konon pada awalnya ditanam oleh Rasulullah. Di Madinah juga terdapat percetakan Al Quran terbesar. Setiap jamaah (laki-laki) yang berkunjung disana pasti mendapat Al Quran. Pada waktu itu, belum ditemukan jabal magnetik, jadi kami belum menuju kesana.

Sungguh pengalaman yang mengesankan berada di Madinah. Dalam sujud-sujudku sebelum melanjutkan ke Mekkah, aku berdo'a khusyu' agar mendapat kesempatan mengunjungi masjid Nabawi lagi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...