Kamis, 04 Oktober 2012

Tentang Panggilan Allah

Menjelang bulan Dzulhijah ini, kembali jutaan umat muslim seluruh dunia mulai bergerak ke tanah suci saja menjawab panggilan Allah. Gema..Labbaik Allahumma Labbaik...bergaung dimana-mana membubung ke langit. Tidak memandang suku, ras, bangsa, warna kulit, kekayaan, pangkat dan jabatan, semua menggunakan pakaian yang sama. Ini menunjukkan di hadapan Allah semua itu tidak lagi penting. Maka bagi jamaah calhaj penting untuk mengikhlaskan hati menjadikan Allah sebagai tujuan perjalanan dan meninggalkan kebanggaan-kebanggan dunia yang dimilikinya. Harta, tahta, keluarga terkadang membuat hati kita sombong. Menghadap Allah Yang Maha Tinggi, hendaknya kita meninggalkan segala rasa tinggi hati itu. Maka sebelum meninggalkan rumah menuju tanah suci, penting kiranya melepaskan segala atribut dan urusan dunia sehingga kuat azzam menjadikan Allah sebagai tujuan perjalanan.

Panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji ini boleh dibilang misteri. Tak jarang kita temui, muslim yang berkecukupan belum dapat memenuhi panggilan Allah dengan berbagai alasan. Namun sebaliknya, muslim yang pas-pasan nyaris tak mungkin mampu membiayai ongkos haji bahkan dapat menunaikan ibadah haji. Tidak hanya yang bersifat materi, kadangkala orang yang menurut kita "biasa-biasa saja' dalam hal kesalehan mendapat kemudahan dalam memenuhi panggilan Allah.

Panggilan Allah ini bersifat spiritual, akan sampai dan dijawab oleh hati yang secara spiritual memang merindukannya. Mendambakannya dalam setiap do'a dan tindakan, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, disadari atau tidak disadari. Allahlah yang Maha Tahu, hati mana yang siap memenuhi panggilanNya, hati mana yang diam-diam menjadikanNya muara segala urusan. Oleh karena bagi calhaj penting menyadari ini. Bahwa dirinya memang orang yang tepat dan tepat menjawab panggilan Allah. Dengan kesadaran ini setiap jama'ah tidak akan menyia-nyiakan setiap momen ritual haji luput dari ingatan tentang Allah.

Oleh karena itu, penting sebelum berangkat ke tanah suci untuk membersihkan hati dari rasa marah dan benci. Menyelesaikan kewajiban-kewajiban dunia yang belum tuntas dan bila perlu mewasiatkan urusan-urusan penting sebelum ditinggalkan. Itu menandakan keikhlasan kita  menuju Allah. Menanggalkan pakaian yang selama ini menjadi simbol/atribut kita di mata manusia, dan menggantikannya dengan pakaian ihram tanpa perhiasan apapun yang menandakan bahwa kita sama di hadapan Tuhan.

Dan seperti diserukan berabad-abad yang silam oleh Nabi Ibrahim AS, Bapak ketauhidan kita,

"Dan serulah mereka untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau berkendaraan. Mereka akan datang dari tempat-tempat yang jauh" (QS. 22;27)

Labbaik Allahumma labbaik..









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...