Minggu, 14 Oktober 2012

Makkah Al Mukarramah

Perjalanan darat dari Madinah ke Mekkah hampir sama waktunya dengan perjalanan Jeddah-Madinah sekitar 5 jam.  Kami berangkat pagi-pagi habis sarapan pagi  menuju Mekkah. Waktu itu kami sudah menggunakan kain ihram dan berniat umroh sebelum melanjutkan ke Arafah melaksanakan ibadah haji. Ini adalah perjalanan spiritual. Sepanjang perjalanan tak henti kami mengumandangkan talbiyah. Labbaik Allohumma Labbaik.

Perjalanan siang membuat kami bisa melihat panorama di sepanjang jalan Madinah-Makkah. Sepanjang jalan yang terlihat di kanan kiri jalan adalah batu dan batu. Batu-batu berbagai bentuk dan ukuran berganti-gantian sepanjang jalan. Ada gunung batu yang seolah hanya terdiri satu batu besar sebesar gunung. Ada gunung batu yang tersusun dari batu-batu sebesar kepala, atau sebesar kerikil dan sebesar butiran pasir. Melewati padang pasir adalah pemandangan yang mempesona. Jadi terbayang perjalanan kafilah hijrah Rasulullah. Subhanallah sejauh ini Mekkah-Madinah melalui hamparan batu dan pasir. Sesekali terlihat rumpun pohon korma diantara belantar batu. Pertanda di sekitar itu ada oase. Sebelum memasuki kota Makkah, kami berhenti di miqat, kalau tidak salah di Bir Ali untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan niat melaksanakan ibadah umroh.

Memasuki kota Mekkah hatiku mulai bergetar. Dari kejauhan tampak keramaian orang lalu lalang di kota yang padat. Subhanallah, Allahu Akbar, ditengah padang yang tandus terbangun kota yang tidak pernah tidur. Kota ini tidak sembarang kota. Kota yang beribu abad tak pernah hilang dari siklus sejarah bahkan semakin ramai dan maju. Terbayang Siti Hajar dan putranya Ismail kecil yang memulai meramaikan padang tandus ini menjadi sebuah kota. Kegigihan dan keyakinannya kepada Allahlah yang menghidupkan kota ini. Subhanallah..Allahu Akbar.

Jalanan dipenuhi orang-orang yang lalu lalang berpakaian putih atau hitam. Toko-toko sepanjang jalan menjual beragam macam barang , berderet berselang-seling dengan bangunan mirip apartemen. Bangunan dicat dengan warna yang sama krem, dan tidak terlihat bangunan bercat warna warni.  Rombongan kami langsung menuju hotel ‘Ajyad’ sekitar 100 meter dari Masjidil Haram. Ini adalah salah satu hotel terbaik waktu itu tahun 1993. Namun jika kita pergi kesana sekarang, sudah banyak hotel-hotel bertaraf internasional berdiri di sekitar Masjidil Haram. 

Setelah meletakkan barang-barang di kamar hotel, kami beristirahat sejenak sebelum menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh. Kami berjalan beriringan menuju Masjidil Haram. Jalanan berdebu. Angin padang pasir bertiup kencang menerbangkan debu-debu jalanan. Udara cukup panas. Dalam kondisi ini lebih nyaman jika kita menggunakan pakain yang tertutup bahkan menutup muka. Barangkali ini salah satunya, selain keyakinan, yang membuat wanita-wanita Arab selalu bercadar. Karena dengan tertutp rapat, badan kita terlindungi dari sengatan panas. Akhirnya kami sampai di depan Masjidil haram.

Aku segera menyungkur sujud , mensyukuri nikmat Allah hingga aku bisa sampai di tempat ini. Tempat yang dimuliakan Allah sejak ribuan tahun yang silam. Kami mencari pintu Babbussalam, pintu yang senantiasa dilalui  Rasulullah ketika memasuki Ka’bah. Teringat sejarah, ketika pembesar Qurays sebelum Islam bertengkar tak bisa menentukan siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad. Mereka akhirnya memutuskan yang akan meletakkan adalah siapa yang pertama kali melewati pintu Babbussalam. Dan, Subhanallah yang memasuki Ka’bah melalui pintu Babussalam pertama kali adalah Rasulullah. Lalu dengan bijaksana Rasulullah mengusulkan agar batu hitam itu diletakkan di atas kain dan diangkat bersama-sama oleh para pemimpin kabilah yang bertikai. Maka kejadian itu berakhir damai. 

Subhanallah, dan kali itu untuk pertama kalinya aku melalui pintu yang sama yang dilalui Rasulullah. Airmataku seketika bercucuran tak terbendung. Rasa sesak membuncah memenuhi rongga dada. Rasanya aku ingin berlari memasukinya, seolah tak sabar hendak berjumpa dengan entah sesuatu yang telah lama terpendam dan dirindukan.  Mungkin inilah yang dinamakan fitrah. Kita merindukan sesuatu darimana kita berasal. Ruh kita berasal dari Allah, dan perjalanan spiritual ini, menujuNya.  Inilah puncak kerinduan kita tanpa kita sadari. Bukan dunia dan segala isinya yang kita inginkan dan rindukan. Kita sejatinya merindukan asal kita, fitrah kita yaitu Allah.

Memasuki masjidil Haram, dadaku makin sesak. Aku akan melihat ka’bah. Bangunan kubus berbalut kain hitam yang telah lama kita akrabi dari gambar dan sejarahnya.  Dan bangunan itu kini di depan mataku. Airmataku tumpah ruah. Ingin kuberlari merengkuhnya. Tak heran jika melihat jama’ah yang menangis sambil memegangi ka’bah. Itu adalah ekspresi fisik dari rindu dan cinta kepada Allah yang tak terlukiskan.  Aku menahan diri, meski air mataku tak henti mengalir. Suasana musim haji, Masjidil Haram penuh sesak. Mendekati Ka’bah perlu perjuangan tersendiri. Seperti cinta yang memerdekakan, biarkan ada jarak sehingga menyempurnakan pertumbuhannya, aku berusaha merasa cukup dengan mengangkat tanganku dari kejauhan searah hajar aswad. Bismillahi Allahu Akbar, kumulai thawaf pertamaku.

Thawaf itu seperti shalat, jika batal, maka kita harus berwudhu lagi. Dan seperti shalat yang memerlukan kekhusyu’an, demikian juga thawaf. Berputar mengelilingi Ka’bah 7 putaran berlawanan arah jarum jam, memerlukan waktu yang agak lama dibanding shalat. Apalagi dalam kondisi penuh sesak, maka jarak tempuh putaran makin jauh dari Ka’bah sehingga makin lama. Sangat penting dalam ibadah ini stamina fisik yang baik dan lebih dari itu kondisi spiritual yang tinggi. Pembimbing haji biasanya sudah menyiapkan buku-buku kecil tuntunan do’a yang digantung di leher untuk memudahkan dibaca. Aku sendiri terkadang memakai itu, namun lebih sering memusatkan hatiku pada Allah dengan membaca Subhannallah Walhamdulillah Walaa Illaha illallah. Disela-sela itu kupanjatkan do’a-do’a. Thawaf ini menguatkan hatiku bahwa Allah ‘memang’ pusat segala putaran hidup. Tidak lain, tidak bukan, hanya Allah semata. Ka’bah ini hanya simbol, simbol rumah Allah, tempat kita semua akan kembali.  Ini seperti salah satu bacaan dalam shalat, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah.  Suka duka, tawa-tangis, marah-kecewa, bahkan setiap helaan nafas kita hanya karena Allah.

Selesai Thawaf, kami menuju bukit Shafa. Ah, terbayang kembali sejarah Ibunda Hajar yang berlari-lari mulai dari bukit ini. Pada tahun 1993, bukit Shafa masih kelihatan bentuknya. Bukit yang tak terlalu tinggi itu awal kita mulai melakukan sai’, berlari-lari kecil diantara bukit Shafa dan Marwa. Waktu itu kami masih bisa menaiki bukit Shafa, dan mengangkat tangan menghadap Ka’bah. Jarak antara kedua bukit itu sekitar 500 meter. Tujuh kali berarti 3500 meter. Cukup memerlukan kondisi fisik yang prima. Jika Thawaf, menggambarkan ibadah kita hanya kepada dan untuk Allah, maka Sai’ menggambarkan perjuangan hidup. Sai’ menggambarkan bahwa kita harus gigih berusaha dalam hidup, tidak boleh menyerah hingga apa yang kita harapkan terwujud bahkan melampui apa yang kita harapkan. Subhanallah.

Selesai melaksanakan ibadah sai’, ibadah umroh diakhiri dengan tahalul, menggunting sebagian rambut. Jamaah laki-laki biasanya bertahalul dengan mencukur gundul rambutnya.  Setelah menyelesaikan ibadah umroh, kami menuju ke sumur zam-zam.  Sumur zam-zam, sumber mata air yang tak pernah kering sejak ditemukan oleh kaki kecil Ismail ribuan tahun yang salam. Sumber air ini terletak tak jauh dari Ka’bah, masih di pelataran Ka’bah. Kami menuruni beberapa tangga di bawah pelataran Ka’bah . Pada tahun 1993, bentuk lobang sumur Zam-Zam masih bisa kita lihat, meski dari balik jeruji yang melindunginya. Banyak jamaah yang tidak sekedar meminum air zam-zam namun mengguyur sekujur badannya dengan air zam-zam. Aku cukup membasuh muka, tangan, kaki dan berwudhu. Tentu saja meminum airnya yang sejuk menyegarkan dan menyehatkan.  Subhanallah Walhamdulillah Walaa Illaha Illallah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...