Perjalanan
darat dari Madinah ke Mekkah hampir sama waktunya dengan perjalanan
Jeddah-Madinah sekitar 5 jam. Kami
berangkat pagi-pagi habis sarapan pagi menuju
Mekkah. Waktu itu kami sudah menggunakan kain ihram dan berniat umroh sebelum
melanjutkan ke Arafah melaksanakan ibadah haji. Ini adalah perjalanan
spiritual. Sepanjang perjalanan tak henti kami mengumandangkan talbiyah.
Labbaik Allohumma Labbaik.
Perjalanan
siang membuat kami bisa melihat panorama di sepanjang jalan Madinah-Makkah.
Sepanjang jalan yang terlihat di kanan kiri jalan adalah batu dan batu.
Batu-batu berbagai bentuk dan ukuran berganti-gantian sepanjang jalan. Ada
gunung batu yang seolah hanya terdiri satu batu besar sebesar gunung. Ada
gunung batu yang tersusun dari batu-batu sebesar kepala, atau sebesar kerikil
dan sebesar butiran pasir. Melewati padang pasir adalah pemandangan yang
mempesona. Jadi terbayang perjalanan kafilah hijrah Rasulullah. Subhanallah
sejauh ini Mekkah-Madinah melalui hamparan batu dan pasir. Sesekali terlihat rumpun
pohon korma diantara belantar batu. Pertanda di sekitar itu ada oase. Sebelum
memasuki kota Makkah, kami berhenti di miqat, kalau tidak salah di Bir Ali
untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan niat melaksanakan ibadah umroh.
Memasuki
kota Mekkah hatiku mulai bergetar. Dari kejauhan tampak keramaian orang lalu
lalang di kota yang padat. Subhanallah, Allahu Akbar, ditengah padang yang
tandus terbangun kota yang tidak pernah tidur. Kota ini tidak sembarang kota.
Kota yang beribu abad tak pernah hilang dari siklus sejarah bahkan semakin
ramai dan maju. Terbayang Siti Hajar dan putranya Ismail kecil yang memulai
meramaikan padang tandus ini menjadi sebuah kota. Kegigihan dan keyakinannya
kepada Allahlah yang menghidupkan kota ini. Subhanallah..Allahu Akbar.
Jalanan
dipenuhi orang-orang yang lalu lalang berpakaian putih atau hitam. Toko-toko
sepanjang jalan menjual beragam macam barang , berderet berselang-seling dengan
bangunan mirip apartemen. Bangunan dicat dengan warna yang sama krem, dan tidak
terlihat bangunan bercat warna warni.
Rombongan kami langsung menuju hotel ‘Ajyad’ sekitar 100 meter dari
Masjidil Haram. Ini adalah salah satu hotel terbaik waktu itu tahun 1993. Namun
jika kita pergi kesana sekarang, sudah banyak hotel-hotel bertaraf internasional
berdiri di sekitar Masjidil Haram.
Setelah
meletakkan barang-barang di kamar hotel, kami beristirahat sejenak sebelum
menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan umroh. Kami berjalan beriringan menuju
Masjidil Haram. Jalanan berdebu. Angin padang pasir bertiup kencang
menerbangkan debu-debu jalanan. Udara cukup panas. Dalam kondisi ini lebih
nyaman jika kita menggunakan pakain yang tertutup bahkan menutup muka.
Barangkali ini salah satunya, selain keyakinan, yang membuat wanita-wanita Arab
selalu bercadar. Karena dengan tertutp rapat, badan kita terlindungi dari
sengatan panas. Akhirnya kami sampai di depan Masjidil haram.
Aku
segera menyungkur sujud , mensyukuri nikmat Allah hingga aku bisa sampai di
tempat ini. Tempat yang dimuliakan Allah sejak ribuan tahun yang silam. Kami
mencari pintu Babbussalam, pintu yang senantiasa dilalui Rasulullah ketika memasuki Ka’bah. Teringat
sejarah, ketika pembesar Qurays sebelum Islam bertengkar tak bisa menentukan
siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad. Mereka akhirnya memutuskan yang akan
meletakkan adalah siapa yang pertama kali melewati pintu Babbussalam. Dan,
Subhanallah yang memasuki Ka’bah melalui pintu Babussalam pertama kali adalah
Rasulullah. Lalu dengan bijaksana Rasulullah mengusulkan agar batu hitam itu
diletakkan di atas kain dan diangkat bersama-sama oleh para pemimpin kabilah
yang bertikai. Maka kejadian itu berakhir damai.
Subhanallah,
dan kali itu untuk pertama kalinya aku melalui pintu yang sama yang dilalui
Rasulullah. Airmataku seketika bercucuran tak terbendung. Rasa sesak membuncah
memenuhi rongga dada. Rasanya aku ingin berlari memasukinya, seolah tak sabar
hendak berjumpa dengan entah sesuatu yang telah lama terpendam dan dirindukan. Mungkin inilah yang dinamakan fitrah. Kita
merindukan sesuatu darimana kita berasal. Ruh kita berasal dari Allah, dan
perjalanan spiritual ini, menujuNya.
Inilah puncak kerinduan kita tanpa kita sadari. Bukan dunia dan segala
isinya yang kita inginkan dan rindukan. Kita sejatinya merindukan asal kita,
fitrah kita yaitu Allah.
Memasuki
masjidil Haram, dadaku makin sesak. Aku akan melihat ka’bah. Bangunan kubus berbalut
kain hitam yang telah lama kita akrabi dari gambar dan sejarahnya. Dan bangunan itu kini di depan mataku.
Airmataku tumpah ruah. Ingin kuberlari merengkuhnya. Tak heran jika melihat
jama’ah yang menangis sambil memegangi ka’bah. Itu adalah ekspresi fisik dari
rindu dan cinta kepada Allah yang tak terlukiskan. Aku menahan diri, meski air mataku tak henti
mengalir. Suasana musim haji, Masjidil Haram penuh sesak. Mendekati Ka’bah
perlu perjuangan tersendiri. Seperti cinta yang memerdekakan, biarkan ada jarak
sehingga menyempurnakan pertumbuhannya, aku berusaha merasa cukup dengan
mengangkat tanganku dari kejauhan searah hajar aswad. Bismillahi Allahu Akbar,
kumulai thawaf pertamaku.
Thawaf
itu seperti shalat, jika batal, maka kita harus berwudhu lagi. Dan seperti
shalat yang memerlukan kekhusyu’an, demikian juga thawaf. Berputar mengelilingi
Ka’bah 7 putaran berlawanan arah jarum jam, memerlukan waktu yang agak lama
dibanding shalat. Apalagi dalam kondisi penuh sesak, maka jarak tempuh putaran
makin jauh dari Ka’bah sehingga makin lama. Sangat penting dalam ibadah ini
stamina fisik yang baik dan lebih dari itu kondisi spiritual yang tinggi.
Pembimbing haji biasanya sudah menyiapkan buku-buku kecil tuntunan do’a yang
digantung di leher untuk memudahkan dibaca. Aku sendiri terkadang memakai itu,
namun lebih sering memusatkan hatiku pada Allah dengan membaca Subhannallah
Walhamdulillah Walaa Illaha illallah. Disela-sela itu kupanjatkan do’a-do’a.
Thawaf ini menguatkan hatiku bahwa Allah ‘memang’ pusat segala putaran hidup.
Tidak lain, tidak bukan, hanya Allah semata. Ka’bah ini hanya simbol, simbol
rumah Allah, tempat kita semua akan kembali.
Ini seperti salah satu bacaan dalam shalat, sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah. Suka duka, tawa-tangis, marah-kecewa, bahkan
setiap helaan nafas kita hanya karena Allah.
Selesai
Thawaf, kami menuju bukit Shafa. Ah, terbayang kembali sejarah Ibunda Hajar
yang berlari-lari mulai dari bukit ini. Pada tahun 1993, bukit Shafa masih
kelihatan bentuknya. Bukit yang tak terlalu tinggi itu awal kita mulai
melakukan sai’, berlari-lari kecil diantara bukit Shafa dan Marwa. Waktu itu
kami masih bisa menaiki bukit Shafa, dan mengangkat tangan menghadap Ka’bah.
Jarak antara kedua bukit itu sekitar 500 meter. Tujuh kali berarti 3500 meter.
Cukup memerlukan kondisi fisik yang prima. Jika Thawaf, menggambarkan ibadah
kita hanya kepada dan untuk Allah, maka Sai’ menggambarkan perjuangan hidup.
Sai’ menggambarkan bahwa kita harus gigih berusaha dalam hidup, tidak boleh
menyerah hingga apa yang kita harapkan terwujud bahkan melampui apa yang kita
harapkan. Subhanallah.
Selesai
melaksanakan ibadah sai’, ibadah umroh diakhiri dengan tahalul, menggunting
sebagian rambut. Jamaah laki-laki biasanya bertahalul dengan mencukur gundul
rambutnya. Setelah menyelesaikan ibadah
umroh, kami menuju ke sumur zam-zam.
Sumur zam-zam, sumber mata air yang tak pernah kering sejak ditemukan
oleh kaki kecil Ismail ribuan tahun yang salam. Sumber air ini terletak tak
jauh dari Ka’bah, masih di pelataran Ka’bah. Kami menuruni beberapa tangga di
bawah pelataran Ka’bah . Pada tahun 1993, bentuk lobang sumur Zam-Zam masih
bisa kita lihat, meski dari balik jeruji yang melindunginya. Banyak jamaah yang
tidak sekedar meminum air zam-zam namun mengguyur sekujur badannya dengan air
zam-zam. Aku cukup membasuh muka, tangan, kaki dan berwudhu. Tentu saja meminum
airnya yang sejuk menyegarkan dan menyehatkan.
Subhanallah Walhamdulillah Walaa Illaha Illallah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar