Minggu, 07 Oktober 2012

One Moment in My Life (2)

Hampir jam 9 malam ketika pramugari mengumumkan 'prepare for landing'. Dari jendela pesawat kota Jeddah terlihat bermandikan cahaya lampu. Negara kaya minyak ini rupanya telah mengubah gurun pasir menjadi kota metropolitan. Kamipun bersiap-siap untuk landing.  Sungguh perjalanan yang panjang. Sepertinya sudah berkali-kali tidur-bangun-makan, tidur-bangun-makan, akhirnya mendarat juga.

Begitu keluar dari pesawat, angin gurun  menerpa kami. Baunya khas, dan masih terasa hangat meski hari sudah malam. Aku menghirupnya kuat-kuat dan merasakan hangatnya meresap. Begini rasanya udara tanah Arab, negeri yang diberkahi. Sambil menunggu urusan imigrasi yang cukup memakan waktu, kami bergeletakan di atas tumpukan barang. Kami sudah seperti rombongan musafir yang kelelahan. Panitia membagikan minuman sari buah dalam kaleng. Aku tahu kemudian, bahwa minuman sari buah dalam kaleng ini sangat populer di sini. Lebih populer dibanding jus buah asli yang memang harganya lebih mahal. Jus buah asli dihargai 5 Riyal per gelas, sedang minuman sari buah dalam kaleng hanya 1-2 Riyal per kaleng. Satu Riyal setara dengan Rp. 2.500,00.

Setelah urusan imigrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Madinah. Untuk jamaah yang datang jauh sebelum musim haji, memang rutenya ziarah ke Madinah dahulu. Kami para jamaah membawa paspor kami masing-masing. Perjalanan Jedaah-Madinah Munawarah memakan waktu sekitar 5 jam. Waktu itu belum ada bandara di Madinah, sehingga seluruh jamaah mendarat di Jeddah dan melanjutkan dengan perjalanan darat ke Madinah. Sekarang bandara Madinah sudah ada sehingga jamaah bisa langsung mendarat di Madinah. Sayangnya perjalanan malam, sehingga kami tidak leluasa menikmati pemandangan sepanjang jalan. Sekilas, remang-remang, hanya terlihat batu dan batu.

Di tengah perjalanan bis berhenti di rumah makan khas Arab. Di rumah makan ini disajikan menu nasi kebuli dengan lauk daging atau ayam panggang. Disajikan khas dalam nampan untuk berlima. Namun karena kami masih terlalu kenyang, kami cukup minum teh susu hangat. Teh celup campur susu cair ini menjadi minuman favoritku selama di tanah suci. Rasanya nikmat, gurih dan hangat. Menjelang memasuki kota Madinah, bis harus berhenti untuk pemeriksaan. Di sini setiap jamaah harus menyerahkan paspor untuk dicek. Memang, kota Madinah dan Mekkah hanya dikhususkan untuk umat Islam. 

Menjelang subuh ketika awak bis memberitahu kami bahwa kita sudah memasuki kota Madinah. Rasanya dadaku bergetar. Ah, inilah kota Nabi, Madinah Al Munawarah. Kota tempat tinggal dan wafatnya Nabi Muhammad Rasulullah SAW. Bis melalui perkampungan yang padat. Rumah-rumah penduduk khas Arab yang hanya berbentuk seperti kotak bertingkat dan dikelilingi pagar yang tinggi. Pohon korma menjadi hiasan satu-satunya yang bisa dilihat. Bis mendarat di depat hotel tempat kami menginap. Waktu itu hotel berbintang 5 belum banyak, seingatku hanya ada dua yaitu Green Palace dan Medinah Oberoi. Dua hotel ini ditempati jamaah haji Tiga Utama. Selain itu sebagian jamaah juga menempati hotel bintang 3.

Begitu turun dari bis, di tanah yang aman, kami sujud syukur. Inilah tanah yang barangkali pernah diinjak oleh kaki Rasulullah. Kuletakkan tanganku ke tanah dan kuusapkan ke wajahku. Subhanallah Walhamdulillah Allahu Akbar, akhirnya aku injakkan kakiku di tanah Nabi.  Setelah menyimpan barang-barang bawaan di kamar, kami bergegas ke masjid Nabawi untuk melaksanakan shalat Subuh. Inilah shalat pertamaku di masjid Nabawi. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa shalat di masjid Nabawi, pahalanya 1000 kali lipat. Oleh karena itu jamaah dianjurkan melaksanakan shalat Arbain, shalat 40 waktu berturut-turut di masjid Nabawi. Jadi sekitar 8 hari shalat 5 waktu di masjid Nabawi di Madinah.

Dari kejauhan terlihat masjid Nabawi begitu luas dan megah. Arsitektur masjid yang sangat indah memukau mata. Namun keindahan fisik ini tidaklah lebih penting dibanding segala keutamaan tentang masjid ini. Terbayang Rasulullah, Allahumma shali 'ala sayidina Muhammad. Rumah beliau tak jauh dari masjid ini. Di masjid ini beliau berdakwah dan memimpin segala urusan. Rasanya aku sedang menjadi makmum untuk shalat yang beliau imami. Terbayang sahabat nabi, Abu Bakar, Usman, Umar, Ali, istri Nabibunda Siti Khadijah, siti Aisyah, dan putri nabi Siti Fatimah. Mereka semua ada disini 14 abad silam. Tak sanggup ku bendung airmataku. Seperti sedang menemui kekasih hati yang telah lama dirindukan, kusungkurkan wajahku ke lantai masjid, sujud syukur, menangis sepuasnya. Tak lagi terasa rasa lelah. Kusadari waktu itu, rasanya tak ingin kutinggalkan tempat ini.
Kami berlama-lama di masjid. Alhamdulillah meski terlihat penuh dari luar, kami berhasil masuk ke dalam masjid. Teman yang sudah duluan datang memberitahu, meski sudah penuh, biasanya di barisan depan masih banyak yang kosong. Masuk saja dan melipir melalui pinggir.

Menjelang terang di pagi pertama di Madinah, kami bisa mulai melihat dengan jelas pemandangan. Hotel kami tak jauh dari masjid. Melalui jalan yang agak mendaki. Toko-toko dan pedagang kaki lima sudah mulai menggelar dagangannya. Sepanjang jalan aroma kebab meruap kemana-mana, membangkitkan rasa laparku. Aku mampir di kedai teh susu. Memesan segelas teh susu dan sepotong roti isi telur yang digoreng acak. Tak lupa aku mampir ke kedai buah membeli apel dan pisang. Dengan bahsa isyarat, semua transaksi itu dapat dilakukan dengan mudah. PT. Tiga Utama sudah menyediakan makan 3 kali sehari, namun pengin juga sekali-kali mencoba menu masyarakat setempat. Kuucapkan Bismillah dan menikmati hidangan pagi. Terbayang Rasulullah dan kesederhanaannya. Hari itu kami beristirahat dan shalat berjamaah di masjid Nabawi. Besoknya baru mulai berziarah ke tempat-tempat sejarah yang penting.

Raudhah

Raudhah disebutkan sebagai salah satu taman-taman sorga. Ditempat Nabi dimakamkan berdampingan dengan sahabat Abu Bakar dan Umar. Tempat d dalam masjid ini ditandai dengan karpet putih dan pilar-pilar warna putih. Kita disunnahkan untuk shalat sunnah 2 rakaat di Raudhah. Memasukinya merupakan perjuangan tersendiri. Setelah melalui antrian yang cukup panjang, kita harus berdesakan memasukinya. Ruangannya yang terbatas, sementara peminatnya sangat banyak. Hanya dengan niat dan kemauan yang kuatlah kita bisa memasukinya. Inilah salah satu keuntungan jika kita menunaikan ibadah haji di usia muda. Sekali lagi, kita jangan terjebak dengan kondisi fisik. Karena jika itu terjadi maka kekaguman kita hanya terbatas ke fisik. Aku perhatikan banyak jamaah dari negara lain yang menangis meraung-raung di depan pintu makam Nabi. Mungkin saking cinta dan rindunya. Alhamdulillah aku bisa shalat 2 rakaat, mengucap salam, dan berdo'a dengan tenang. Memang sebaiknya kita pergi bersama 2 atau 3 teman, sehingga bisa saling menjaga.

Makam Baqi'

Setelah dari raudhah, kami berziarah ke makam Baqi'. Makam yang luas ini sudah digunakan sejak ribuan abad yang silam. Bahkan jamaah haji yang meninggal di Madinahpun dimakamkan disini. Caranya, jenazah di tumpuk di makam yang sudah lebih dari beberapa tahun. Para sahabat juga dimakamkan disini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...