Minggu, 10 Juni 2012

Jika Harus Marah


Intensitas pembicaraan saya dengan Rio dimulai dengan hal yang tidak baik. Ada satu kejadian yang membuat saya sangat marah kepadanya. Begini ceritanya.

Sore itu adzan Ashar berkumandang dari masjid sekolah. Saya, meskipun sedang berhalangan, segera bergegas menyusuri kelas demi kelas mengajak siswa segera menuju masjid untuk shalat Ashar  berjamaah. Rutinitas ini saya lakukan bukan sekedar karena tugas, namun lebih-lebih dikarenakan kesadaran bahwa guru adalah orang tua siswa di sekolah. Melewati salah satu ruang kelas yang tertutup, saya mendengar suara gitar dan nyanyian anak. Saat itu refleks saya merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin anak madrasah main gitar saat adzan berkumandang. Segera saya buka pintu, dan ternyata si Rio sedang asyik bermain gitar di kelilingi teman-temannya yang menyanyi. Melihat pintu terbuka dan saya masuk, mereka terkejut dan segera menghentikan nyanyi-nyanyi. "Semuanya segera keluar, sholat!" kata saya menahan marah.

Tak ingin melampiaskan kemarahan, saya keluar kelas sebelum mereka keluar. Namun, baru beberapa langkah dari pintu, kembali terdengar suara gitar Rio. Dan, kali ini kemarahan saya tidak terbendung. Saya kembali masuk ke kelas, tujuan saya adalah Rio. Saya sangat marah hingga refleks mendaratkan cubitan keras di lengannya sambil kata-kata 'stupid' keluar dari mulut saya. Saya tak berhenti berkata-kata sampai anak itu keluar menuju masjid.

Sesaat saya duduk terdiam. Astaghfirullah, ekspresi kemarahan saya begitu buruk. Tidak seharusnya seperti itu. Saya merasa resah. Berbagai fikiran berkecamuk. Bagaimana kalau Rio dendam kepada saya. Bagaimana kalau dia tidak lagi mau mengikuti kelas saya, sedang sesi pembelajaran masih cukup lama. Bagaimana kalu dia tidak tahu apa yang membuat saya marah padanya. Bagaimana..bagaimana. Di sisi lain, saya menghibur diri, bukankah Rasulullah membolehkan orang tua memukul anaknya jika tidak mau sholat. Bukankah kemarahan saya juga karena itu. Ah, tetap saja saya merasa resah.

Selama menjadi guru, sepertinya saya jarang marah hanya karena siswa tidak mau belajar atau berisik di kelas, atau tidak mengerjakan PR. Tetapi untuk urusan mengajak siswa sholat, saya merasa tidak bisa kompromi. Saya  tidak berharap suatu saat di akhirat kelak salah satu tangan siswa saya menghalangi langkah saya menuju sorga, disebabkan, saya sebagai orang tuanya di sekolah, tidak memberi peringatan dan mengajak kepada kebaikan. Shalat, adalah ibadah utama dan pertama yang wajib dilakukan bagi muslim yang sudah baligh. Saya bisa senewen, jika ada siswa yang begitu sulit diajak shalat.Namun demikian, tidak seharusnya ekspresinya begitu buruk.

Esok harinya saya memutuskan untuk menemui Rio. Kami duduk berhadapan. "Rio, ibu minta maaf karena telah memarahimu kemarin," kata saya memulai. Anak itu diam saja menunduk, Saya merasakan kelopak mata saya mulai panas, tapi saya berusaha menahannya. "Rio, apakah kamu tahu kenapa Ibu marah kemarin?", tanya saya melanjutkan. Dan anak itu masih saja diam menunduk. "Rio, ibu marah karena kamu susah disuruh shalat," kata saya menjawab pertanyaan sendiri. Tiba-tiba Rio bersuara,"Oh jadi ibu bukan marah karena saya main gitar?". Ah, benar anak ini salah sangka. "Ah Rio, ini bukan perkara main gitar, meskipun kamu sedang belajar atau mengerjakan tugas, ibu akan marah jika kamu enggan dan menunda-nunda shalat berjamaah di masjid." Kata saya menjelaskan. "Pernahkah ibu marah ketika kamu tidur di kelas?, pernahkah ibu marah ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau PR?", tanya saya beruntun. Dan anak itu menggelengkan kepalanya. Ibu nggak akan marah untuk urusan dunia yang masing-masing orang punya pilihan. Kamu mau ahli main gitar dan tidak menyukai ekonomi akuntansi, itu pilihan, tapi shalat ibadah yang tidak bisa ditawar. Ibu nggak mau seandainya nanti di akhirat, ibu lagi senyum-senyum jalan ke sorga, tiba-tiba kamu protes ke malaikat. Tidak terima ibu masuk sorga, karena selama menjadi gurumu membiarkan saja kamu tidak sholat." Kata-kata saya beruntun. "Iya bu saya mengerti", katanya, agak tersenyum. "Namun Rio, bagaimanapun tidak seharusnya ibu memarahimu seperti itu, apakah kamu memaafkan ibu?" tanya saya sekali lagi. "Iya bu, katanya singkat.

Dan ketika Rio sudah berlalu, saya tak perlu menahan lagi cairan hangat yang menerobos ke sela-sela kelopak mata saya. "Ah dasar cengeng", batin saya. Pelajaran dari kejadian ini, ketika kita marah pastikan bahwa orang yang kita marahi mengerti bahwa dia dimarahi dan apa yang membuat kita memarahinya. Berusahalah, agar ekspresi kemarahan kita tetap terkendali (ah ini yang sulit). Tanpa itu, kemarahan kita hanya akan menyakitkan diri sendiri dan menghabiskan energi.

Ah, tidak ada yang sia-sia dari setiap kejadian.


'Unyeng-Unyeng'

Konon, pada zaman dahulu orang tua menandai anaknya apakah akan susah diatur atau gampang diatur dari banyaknya "unyeng-unyeng" di kepala. Unyeng-unyeng itu istilah dalam bahasa Jawa untuk menyebut 'pusaran rambut' di kepala kita. Jika 'unyeng-unyeng'nya lebih dari satu maka tandanya anak tersebut akan susah diatur. Entah bagaimana jalan logikanya.Yang jelas jika 'unyeng-unyeng' lebih dari satu, rambut anak tersebut akan susah diatur potongannya.  Jika rambutnya saja susah diatur apalagi orang yang punya rambut. Begitulah barangkali logikanya.

Rio, begitulah dia dipanggil. Dari sosok tubuhnya yang tinggi besar, anak ini mudah dikenali. Lebih-lebih,dia akan mudah dikenali dari potongan rambutnya. Potongan rambutnya agak memanjang lebih panjang dibanding ukuran teman-temannya. Potongan ini sebenarnya tidak cocok dengan jenis rambutnya yang tebal, kaku dan kasar. Sehingga seolah-olah apa saja benda yang mengenai rambutnya akan menancap disitu. Pernah satu kali setelah libur panjang, Rio datang ke sekolah dengan model rambut bekas direbounding. Ah, ada-ada saja anak itu. Jelas itu membuat bentuk rambutnya makin gak karuan dan menjadi bahan pembicaraan temannya. Meski demikian seperti biasa Rio terkesan cuek.

Sudah tak terhitung kali Rio harus berurusan masalah rambut dengan wali kelas maupun bidang kesiswaan. Mulai dari cara paling ringan, diperingatkan, sampai dengan dicukur di sekolah oleh guru. Namun, ternyata perkara rambut ini memang tak mudah bagi dia. Setelah dicermati, jumlah 'unyeng-unyeng' di kepala Rio ternyata lebih dari satu. Woalah.. ini ternyata biangnya. Pantas saja segala model rambut seperti tak pernah cocok untuk kepalanya. Namun urusan dengan Rio tidak saja masalah rambut. Apakah ini berkaitan dengan jumlah unyeng-unyengnya yang banyak sehingga susah diatur, tentu tidak. Meski kebetulan jumlah unyeng-unyeng Rio lebih dari satu. Tak terhitung guru yang sudah menyatakan nyerah menghadapinya.

Rio sebenarnya atau seharusnya anak cerdas. IQ-nya 135. Pada saat masih sebagai siswa baru, dia bahkan pernah diikutkan untuk menjadi salah satu peserta OSN. Namun, kemalasannya belajar membuatnya tereliminasi dari tim OSN. Hampir setiap hari, entah bagaimana caranya  dia selalu membawa gitar ke sekolah. Pada saat jam istirahat, jeda pergantian jam atau jam kosong, alat musik inilah yang selalu dia mainkan. Dan dia seperti tenggelam dalam dunianya sendiri.

Pada awal-awal saya menjadi guru pelajaran ekonomi-akuntansi di kelas Rio, sayapun hampir nyerah menghadapinya. Anak ini hampir tak pernah bisa diam. Seringkali dia bertingkah iseng mengganggu teman-temanya. Atau dia akan mengeluarkan celetukan-celetukan sehingga temannya terpancing dan kelas menjadi ramai. Tentu hal ini tidak bisa dibiarkan karena sudah mengganggu. Karena saya tidak akan pernah memaksa siswa untuk belajar, maka sayapun mengultimatum agar yang  tidak mau belajar supaya diam atau tidur saja. Alhasil, selama sisa jam pelajaran saya, Rio tidur nyenyak di mejanya. Alamak.

Herannya, ketika ulangan, nilai Rio cukup tinggi. Namun, saya curiga ini bukan hasil fikiran dia sendiri namun bantuan dari teman-temannya ketika saya lengah mengawasi. Tak mau terkecoh sekali lagi, maka setiap ulangan berikutnya saya buat soal empat tipe, dan siswa diacak tempat duduknya.  Rio, sengaja saya tempatkan persis di depan meja saya. Dan dia tidak berkutik. Benar, hasil ulangannya jeblok. Berkali-kali seperti ini setiap ulangan. Rupanya, hal ini sedikit mempengaruhinya. Rio tak lagi terlalu berisik dan iseng. Meski juga tidak berubah menjadi rajin belajar.

Sayapun menjadi punya alasan untuk membicarakan hasil ulangannya ini. Namun, saya merasa anak ini menghindar dan tidak ingin membicarakannya. Alhasil, inipun tidak merubah apa-apa.

bersambung....




Kamis, 07 Juni 2012

Kelas XI S-2

Pagi itu jam 8.30 ketika saya bersiap mengakhiri pembelajaran akuntansi di klas XI S2. Tiba-tiba salah seorang siswa bertanya; "ibu, apakah ibu akan mengajar lagi di kelas XII?". Ah iya, baru ingat saya bahwa ini adalah sesi terakhir belajar dengan mereka di kelas XI. Seketika saya merasa diingatkan untuk mengakhiri pembelajaran dengan sesi refleksi setelah setahun kebersamaan dalam belajar mengajar. Saya awali sesi itu dengan permohonan maaf atas kata-kata dan sikap yang barangkali tidak sengaja menyakitkan dan menyinggung murid-murid saya. Saya sampaikan penghargaan karena mereka telah menunjukkan antusiasme belajar dan kemauan bersungguh-sungguh belajar. Saya tidak sedang beretorika, tapi apa yang saya sampaikan memang begitulah adanya mereka.


Kelas XI S2 adalah tantangan tersendiri. Ketika mendapat amanah untuk mengajar mata pelajaran ekonomi dan akuntansi di kelas ini setahun yang lalu, saya tahu saya harus benar-benar memikirkan kelas ini. Sebagian besar siswa "hiperaktif' bergabung di kelas ini. Salah seorang siswa diantaranya bisa dibilang ketua geng. Waktu masih di kelas X, si ketua geng ini sudah menunjukkan kemampuannya untuk mempengaruhi dan mendapatkan pengikut. Namun, karena masih kelas X, "keberanian" mereka belum begitu mendapat tempat. Biasanya, mereka akan menunjukkan eksistensinya di kelas XI, dan mulai menurun lagi di kelas XII. Dengan karakteristik sebagian besar siswa yang seperti itu, saya memang sempat merasa khawatir. Apalagi pelajaran akuntansi yang saya ampu memerlukan tidak sekedar kognitif tapi juga praktek dan ketelitian. 


Benarlah, awal perjalanan tidak mudah. Saya bahkan sempat terpancing emosi saya, marah besar pada si ketua geng. Kemarahan yang akhirnya saya sesali dan membuat saya tidak bisa tidur, namun justru pada akhirnya menjadi titik balik yang membuat suasana menjadi kondusif. Bab kemarahan, mengapa dan bagaimana akan saya tulis khusus. 


Dan saya benar-benar merasa surprise, ketika pada akhirnya kekhawatiran saya tidak terbukti. Justru saya menikmati mengajar di kelas XI S-2, pun sebaliknya saya bisa merasakan mereka juga enjoy belajar. Siswa-siswa 'hiperaktif' tersebut terlihat tekun mnyelesaikan tahapan demi tahapan dalam siklus akuntansi. Bahkan si ketua geng, seringkali paling duluan menyelesaikan latihan-latihan.


Begitulah, pagi itu, pelajaran terakhir di kelas XI S-2 berakhir reflektif. Mereka berharap saya akan mengajar lagi di kelas mereka di kelas XII. Saya bilang:" kenapa kamu ingin belajar sama ibu?". Ada yang menjawab, "karena kalo belajar sama ibu nggak ngantuk." "Karena kalo ngantuk, ibu marahi ya", jawab saya. "Enggak bu", katanya. "Pokoknya enak aja, dan ngerti". Kata mereka lebih lanjut. "Alhamdulillah," kata saya.


Dan pagi itu kami akhiri dengan bersalam-salaman serta berfoto bersama. Good luck..nak.


*****









Rabu, 30 Mei 2012

Mabuk Genjer

Seperti biasa jelang sholat Ashar saya menyusuri ruang-ruang kelas menyisir siapa tahu masih ada siswa yang belum menuju masjid untuk shalat berjamaah. Dari kejauhan saya melihat masih banyak siswa yang bergerombol  di depan ruang kelas XI IPA 1. Begitu mendekat, saya mendengar salah seorang siswa berbicara kepada teman-temannya.."eh..ada bu Ana, ada bu Ana...!". 

Begitu saya masuk ke ruang kelas itu, ternyata memang masih  banyak siswa laki-laki dan perempuan di dalam. Bergegas siswa beranjak ke luar kelas ketika saya bilang "yang boleh tinggal di kelas  yang sedang haid, gila, atau mabuk.!" (karena dengan 3 kondisi ini seseorang haram melaksanakan shalat). Tiba-tiba terdengar salah seorang siswa menjawab, "saya lagi mabuk bu..., mabuk genjer." Hahaha... anak-anak yang lain tertawa. Sayapun turut tertawa. Itu suara  muridku yang memang rada unik. Unik, karena dia selalu menemukan kata-kata yang pas sehingga mudah diingat. Waktu kelas X, dia menyebut teman-temannya yang hanya diam ketika kelompoknya presentasi sebagai "pemanis buatan". Teman-temannya sering menyebut dia kepedean dan sok ganteng. Hehe..ada-ada saja. 

Dan sayapun melangkah dengan ringan menuju masjid sambil mensyukuri hari ini. Saya menyadari, menjadi guru memang pertanggungjawaban dunia akhirat. Apalagi sebagai guru di madrasah. Sebagai orang tua di sekolah, kami para guru harus memastikan setiap anak menjalankan kewajiban ibadah shalat dhuhur dan Ashar sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Alhamdulillah, dengan pembiasaan ini secara umum tidak sulit mengajak mereka shalat berjama'ah dimasjid. Kalaupun ada, hanya satu dua anak yang memang masih perlu perjuangan. 

Ah,..selalu ada hiburan di antara murid-murid, di ruang-ruang kelas dari keisengan dan canda mereka. Alhamdulillah.


Jakarta, jelang senja.







Selasa, 29 Mei 2012

Sekali Lagi UN

Selesai sudah hiruk pikuk dan kesibukan perhelatan besar yang bernama Ujian Nasional. Mulai dari tingkat SD hingga SMA telah selesai dilaksanakan. Saat ini yang ramai adalah berita kelulusan UN dan peraih nilai tertinggi UN tingkat SMA/MA dan SMK/MAK. Nama-nama 10 peraih nilai tertinggi UN diberitakan dimana-mana baik melalui media resmi maupun jejaring sosial. Nilainya sungguh sempurna, nyaris betul semua. Peraih nilai tertinggi UN dengan total nilai 58,6 Triawati Octavia dari SMA Negeri  2 Kuningan bahkan diundang bersama ibundanya di acara prime time TV One "Apa Kabar Indonesia Malam".

Menyaksikan itu, timbul sedikit keraguan, nilai kimia sempurna 10, tidak ada yang salah satupun. Juga mata pelajaran lainnya. Namun suudzon itu tidak baik. Bisa jadi memang, sekolah itu telah membiasakan soal-soal ujian dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada soal-soal UN sehingga soa-soal UN dapat dikerjakan dengan mudah. Demikian juga anaknya memang telah belajar dengan maksimal untuk menghadapi UN.

Meskipun berita kecurangan UN merebak dimana-mana dan pada tingkatan sekolah apa saja, namun pasti masih ada siswa-siswi yang berjuang maksimal dan mengerjakan UN dengan jujur serta mendapatkan nilai terbaik. Saya yakin sebagian besar siswa yang orangtuanya guru dan bukan guru masih memegang teguh prinsip kejujuran. Demikian keyakinan saya, berdasarkan cerita dari milis guru maupun teman-teman saya yang guru yang anaknya mengikuti UN tingkat SMA/MA. Teman saya yang guru kimia, nilai UN kimia anaknya nayris 10 hanya salah satu. Demikian juga yang orangtuanya guru matematika, maka nilai UN matematika anaknya juga nyaris 10. 

Sebagai guru ekonomi, UN yang benar-benar jujur saya alami adalah UN yang pertama. Saat itu, saya mengajar mata pelajaran ekonomi-akuntansi klas XII di salah satu SMA swasta nasional plus di Jakarta Selatan. Murid-murid saya banyak yang berprofesi sebagai artis maupun olahragawan. Ketika kebijakan UN ditetapkan, semua fihak bersiap. Saya merasakan gairah belajar yang lebih pada murid-murid saya waktu itu. Apalagi ketika hasil try out pertama 100% siswa tidak berhasil mencapai nilai minimal batas kelulusan UN untuk mapel ekonomi. Seluruh siswa syok, lebih-lebih gurunya. Namun, kondisi itu menjadi titik balik untuk menyamakan langkah mencapai kelulusan. Saya masih bisa merasakan kebahagiaan itu ketika seluruh siswa akhirnya berhasil lulus dan saya yakin 100% jujur hasil belajar sendiri. Seperti merayakan sebuah kemenangan.

Namun, momen itu tinggal kenangan. UN berikutnya dan berikutnya mulai ditemukan kecurangan disana-sini dan cukup masif. Meskipun demikian, saya yakin diantara siswa-siswa saya masih ada yang memegang teguh kejujuran dalam UN, meski jumlahnya mulai berkurang. Pasti sungguh berat perjuangan mereka menahan godaan untuk tidak memanfaatkan kunci jawaban yang beredar luas. Termasuk, kenyataan pahit ketika menerima pengumuman kelulusan dan nilai yang mereka dapatkan jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang mendapat bocoran kunci jawaban. 

Akan tetapi, kejujuran itu Insya Allah pasti berbuah manis. Beberapa murid saya yang sehari-harinya cerdas, dan ketika UN memegang teguh kejujuran sehingga nilai UN yang mereka peroleh biasa saja(tidak spektakuler),  lolos diterima lewat jalur undangan di universitas-universitas negeri ternama. Alhamdulillah, sungguh happy ending dan membuat kami para guru bangga. Saya yakin, di setiap sekolah masih ada siswa-siswa seperti mereka. Merekalah generasi muda yang bekerja keras dan memilih berpihak pada kejujuran. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, semoga dapat mewarnai negeri ini dengan warna-warna yang cerah. Aaamin.

Congaratulation..



Minggu, 20 Mei 2012

Cinta..

Bu Ana...!!! seru teman saya pagi itu.. seperti tidak sabar..dan akhirnya dia sudah duduk di depan saya. "Saya mau cerita, saya sudah tidak tahan mau cerita", ujarnya beruntun. "Cerita apa bu, kayaknya serius banget", kata saya. "Iya, semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan ini", ujarnya lagi. Lalu tanpa bisa dibendung si ibu mulai menceritakan semua uneg-uneg yang sudah semalaman dia pendam. Saya terhenyak, diam terpaku menyimak ceritanya. Saya tidak akan menceritakan ceritanya di sini detailnya, bisa dibilang aib, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Teman saya merasa shock dan terbebani fikirannya karena kedua pelaku adalah teman yang sama-sama kita kenal.

Laki-laki berpoligami memang tidak dilarang, dan jatuh cinta adalah dorongan alami setiap manusia anugerah Allah, jadi  pasti tidak untuk dielakkan.  Apalagi memang si ibu idaman hatinya perempuan single setelah berpisah dari suaminya. Hanya, memperhatikan banyak yang palsu akhir-akhir ini: alamat palsu, kesaksian palsu, rambut palsu (gayus), plat mobil palsu, dan palsu-palsu lainnya, maka hati-hati juga dengan cinta palsu. Yang terakhir ini perlu digaris bawahi karena 'cinta' yang demikian mengharu biru hidup manusia seharusnya tidak boleh dipalsukan.

Bagaimana kita bisa membedakan apakah cinta itu cinta sejati atau cinta palsu? Itu tidak mudah. Saya jadi teringat pernah mendapat pertanyaan serupa dari seseorang yang berkata "aku merasa lebih baik hidup dalam kerinduan, daripada aku hidup  menjemukan sehingga membuatku putus asa." "Apakah itu salah", tanyanya. Sebelum saya bisa berkata-kata, dia melanjutkan "bukankah cinta sejati tidak bisa mati", tanyanya lebih tepat mungkin untuk dirinya sendiri. Saya berkata, "menurutmu, cinta sejati itu apa"? Dan, rupanya dia masih asyik dengan fikirannya sendiri sehingga tidak menjawab pertanyaan saya.

Setelah panjang lebar pembicaraan, saya mengambil kesimpulan sendiri dan berkata padanya,  "memang cinta sejati tidak bisa mati". Tapi apalah cinta sejati itu...? cinta sejati adalah segala rasa yang membuat kecintaan kita kepada Sang Maha Pemilik Cinta yang hakiki semakin besar dan yang membuat Allah mencintai kita. Jika itu yang kau rasakan, maka itulah cinta sejatimu. Jika sebaliknya, maka hati-hatilah dengan perasaan cinta yang menipu. Dan dia berkata, "Subhanallah, terima kasih ibu". Kemudian dia berlalu, hingga kini entah bagaimana nasib cintanya saya kurang tahu.

Namun memang tidak semudah mengatakan, cinta sejati pasti diuji. Karena jenis cinta ini membuat cinta kita kepada Allah makin besar dan juga Allah mencintai kita, maka ekspresinya pasti  sesuai syariah. Fenomena ganti-ganti pasangan dan kawin cerai sepertinya bukan ekspresi cinta sejati. Namun, cinta yang gagal menghadapi ujian. Dan yang paling mengerti sejauh mana kadar cinta sejatinya hanya diri sendiri yang merasakanlah yang tahu. Kedua teman saya yang sedang jatuh cinta di atas saya tidak dapat menjustifikasi seperti apa jenis cinta mereka. Namun jika ekspresi cinta mereka sudah tidak sesuai syariah, saya bisa pastikan bahwa itu adalah jenis perasaan cinta yang menipu.

Wallahu'alam..


Kamis, 17 Mei 2012

Konser itu...

Akhirnya saya ikut-ikutan alias gatel untuk ikut mengomentari heboh konser LG yang dibatalkan. Di milis guru, diskusi tentang ini bertahan berhari-hari. Pihak yang pro dibatalkan dan yang kontra dibatalkan saling adu argumen. Dari seluruh simpang siur diskusi, main topiknya adalah sesuai atau tidak sesuai konser LG dengan budaya bangsa. Karena milis guru, masing-masing berargumen dalam kerangka pendidikan. Saya yang ikut-ikutan nimbrung dengan melihat sudut pandang ekonomi  _bahwa lagi-lagi kita hanya dijadikan konsumen produk luar, dan oleh karenanya kenapa harus membela konser LG_ kurang mendapat tanggapan. Stasiun televisi-pun heboh menyiarkan pro-kontra ini. Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Fenomena apa ini?


Belum lama berselang, konser Super Junior dan  Justien Beiber dan konser-konser lain menggebrak Jakarta. Semuanya diterima dan dielu-elukan oleh fans. Bahkan pada saat "Suju" dielu-elukan fans  Jakarta, sempet beredar 'entah benar atau tidak' komentar Justin Beiber bahwa fans Indonesia aneh alias gila. Khusus konser 'Suju" saya sendiri sempat surprise dan mentertawakan teman saya yang guru dan minta ijin mengantar anaknya ke bandara menjemput "Suju". Saya ingat wajah manyun dan kesel si ibu tapi daripada anaknya "hanya" pergi dengan teman-temannya dia akan lebih khawatir terpaksa dia ikut menjemput 'Suju" ke bandara. Hahaha...


Temen saya itu bercerita bagaimana dia tidak habis fikir ketika anaknya memenuhi laptop dengan download-an lagu-lagu Suju, dan ketika di rumah dia menari mengikuti gaya tarian Suju sambil menyanyi. Sedangkan anak temen saya ini, klas XII SMA, perempuan, pake jilbab dan aktif di rohis. Daripada bingung-bingung tanya kenapa, saya akhirnya lihat sendiri atraksi "Suju" melalui youtube. Dan..akhirnya saya mengerti mengapa remaja-remaja itu pada ngefans. Wajah-wajah 'Suju" yang cool ditambah atraksi tarian yang kompak dan enerjik sangat cocok dengan jiwa anak muda. Sebagai anak muda yang berenergi, meskipun berjilbab dan aktif di rohis, semangat dan energi kemudaannya selaras dengan aliran musik 'Suju". Jadi, sebagai orang tua apakah bijak jika kita melarangnya?

Seperti konser Suju dan juga Justin Beiber yang digandrungi anak muda, konser LG_pun pasti punya penggemarnya sendiri. Saya tahu, anak temen saya sama sekali tidak tertarik dengan konser LG. Secara tidak langsung dia sudah menyaring sendiri, mana-mana yang perlu dilihat dan digemari sesuai dengan norma-norma yang dia yakini. Dan dia pasti tahu bagaimana ibunya akan berang kalo dia ngefans dengan LG.  Jadi, dalam iklim keragaman di Indonesia apapun bentuknya pasti ada segmen penggemarnya sendiri-sendiri. Yang jelas pasti harus orang berduit yang sanggup membeli tiket termurah Rp. 500.000,00.

Kembali ke pro kontra konser LG, heboh pemberitaan ini tidak menguntungkan siapa-siapa kecuali LG. Apa manfaatnya buat kita, sementara konser terbatas orang-orang berduit dilarang, anak-anak kita bebas melihat atraksinya di youtube  melalui bilik-bilik warnet maupun akses internet yang makin mudah dimana-mana. Dan seperti 'kasus' anaknya temen saya itu, pendidikan yang baik dari kecil, konsisten dan berkelanjutan tentang mana yang benar mana yang salah, apa yang boleh apa yang tidak_lah yang bisa memfilter anak-anak kita dari serbuan budaya manapun yang tak terbendung. Larangan-larangan saja tanpa proses pendidikan berkelanjutan tidak akan ada artinya.

Salam

Jakarta, suatu siang.

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...