Bu Ana...!!! seru teman saya pagi itu.. seperti tidak sabar..dan akhirnya dia sudah duduk di depan saya. "Saya mau cerita, saya sudah tidak tahan mau cerita", ujarnya beruntun. "Cerita apa bu, kayaknya serius banget", kata saya. "Iya, semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan ini", ujarnya lagi. Lalu tanpa bisa dibendung si ibu mulai menceritakan semua uneg-uneg yang sudah semalaman dia pendam. Saya terhenyak, diam terpaku menyimak ceritanya. Saya tidak akan menceritakan ceritanya di sini detailnya, bisa dibilang aib, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Teman saya merasa shock dan terbebani fikirannya karena kedua pelaku adalah teman yang sama-sama kita kenal.
Laki-laki berpoligami memang tidak dilarang, dan jatuh cinta adalah dorongan alami setiap manusia anugerah Allah, jadi pasti tidak untuk dielakkan. Apalagi memang si ibu idaman hatinya perempuan single setelah berpisah dari suaminya. Hanya, memperhatikan banyak yang palsu akhir-akhir ini: alamat palsu, kesaksian palsu, rambut palsu (gayus), plat mobil palsu, dan palsu-palsu lainnya, maka hati-hati juga dengan cinta palsu. Yang terakhir ini perlu digaris bawahi karena 'cinta' yang demikian mengharu biru hidup manusia seharusnya tidak boleh dipalsukan.
Bagaimana kita bisa membedakan apakah cinta itu cinta sejati atau cinta palsu? Itu tidak mudah. Saya jadi teringat pernah mendapat pertanyaan serupa dari seseorang yang berkata "aku merasa lebih baik hidup dalam kerinduan, daripada aku hidup menjemukan sehingga membuatku putus asa." "Apakah itu salah", tanyanya. Sebelum saya bisa berkata-kata, dia melanjutkan "bukankah cinta sejati tidak bisa mati", tanyanya lebih tepat mungkin untuk dirinya sendiri. Saya berkata, "menurutmu, cinta sejati itu apa"? Dan, rupanya dia masih asyik dengan fikirannya sendiri sehingga tidak menjawab pertanyaan saya.
Setelah panjang lebar pembicaraan, saya mengambil kesimpulan sendiri dan berkata padanya, "memang cinta sejati tidak bisa mati". Tapi apalah cinta sejati itu...? cinta sejati adalah segala rasa yang membuat kecintaan kita kepada Sang Maha Pemilik Cinta yang hakiki semakin besar dan yang membuat Allah mencintai kita. Jika itu yang kau rasakan, maka itulah cinta sejatimu. Jika sebaliknya, maka hati-hatilah dengan perasaan cinta yang menipu. Dan dia berkata, "Subhanallah, terima kasih ibu". Kemudian dia berlalu, hingga kini entah bagaimana nasib cintanya saya kurang tahu.
Namun memang tidak semudah mengatakan, cinta sejati pasti diuji. Karena jenis cinta ini membuat cinta kita kepada Allah makin besar dan juga Allah mencintai kita, maka ekspresinya pasti sesuai syariah. Fenomena ganti-ganti pasangan dan kawin cerai sepertinya bukan ekspresi cinta sejati. Namun, cinta yang gagal menghadapi ujian. Dan yang paling mengerti sejauh mana kadar cinta sejatinya hanya diri sendiri yang merasakanlah yang tahu. Kedua teman saya yang sedang jatuh cinta di atas saya tidak dapat menjustifikasi seperti apa jenis cinta mereka. Namun jika ekspresi cinta mereka sudah tidak sesuai syariah, saya bisa pastikan bahwa itu adalah jenis perasaan cinta yang menipu.
Wallahu'alam..
Laki-laki berpoligami memang tidak dilarang, dan jatuh cinta adalah dorongan alami setiap manusia anugerah Allah, jadi pasti tidak untuk dielakkan. Apalagi memang si ibu idaman hatinya perempuan single setelah berpisah dari suaminya. Hanya, memperhatikan banyak yang palsu akhir-akhir ini: alamat palsu, kesaksian palsu, rambut palsu (gayus), plat mobil palsu, dan palsu-palsu lainnya, maka hati-hati juga dengan cinta palsu. Yang terakhir ini perlu digaris bawahi karena 'cinta' yang demikian mengharu biru hidup manusia seharusnya tidak boleh dipalsukan.
Bagaimana kita bisa membedakan apakah cinta itu cinta sejati atau cinta palsu? Itu tidak mudah. Saya jadi teringat pernah mendapat pertanyaan serupa dari seseorang yang berkata "aku merasa lebih baik hidup dalam kerinduan, daripada aku hidup menjemukan sehingga membuatku putus asa." "Apakah itu salah", tanyanya. Sebelum saya bisa berkata-kata, dia melanjutkan "bukankah cinta sejati tidak bisa mati", tanyanya lebih tepat mungkin untuk dirinya sendiri. Saya berkata, "menurutmu, cinta sejati itu apa"? Dan, rupanya dia masih asyik dengan fikirannya sendiri sehingga tidak menjawab pertanyaan saya.
Setelah panjang lebar pembicaraan, saya mengambil kesimpulan sendiri dan berkata padanya, "memang cinta sejati tidak bisa mati". Tapi apalah cinta sejati itu...? cinta sejati adalah segala rasa yang membuat kecintaan kita kepada Sang Maha Pemilik Cinta yang hakiki semakin besar dan yang membuat Allah mencintai kita. Jika itu yang kau rasakan, maka itulah cinta sejatimu. Jika sebaliknya, maka hati-hatilah dengan perasaan cinta yang menipu. Dan dia berkata, "Subhanallah, terima kasih ibu". Kemudian dia berlalu, hingga kini entah bagaimana nasib cintanya saya kurang tahu.
Namun memang tidak semudah mengatakan, cinta sejati pasti diuji. Karena jenis cinta ini membuat cinta kita kepada Allah makin besar dan juga Allah mencintai kita, maka ekspresinya pasti sesuai syariah. Fenomena ganti-ganti pasangan dan kawin cerai sepertinya bukan ekspresi cinta sejati. Namun, cinta yang gagal menghadapi ujian. Dan yang paling mengerti sejauh mana kadar cinta sejatinya hanya diri sendiri yang merasakanlah yang tahu. Kedua teman saya yang sedang jatuh cinta di atas saya tidak dapat menjustifikasi seperti apa jenis cinta mereka. Namun jika ekspresi cinta mereka sudah tidak sesuai syariah, saya bisa pastikan bahwa itu adalah jenis perasaan cinta yang menipu.
Wallahu'alam..
Jujur menilai, style tulisan ini bagus. Enak dibaca dan perlu. (kok kayak iklan tempo). hehehe... (a.a. ma'ruf)
BalasHapusTks pak, menurut saya menulis itu yang penting jujur.
BalasHapus