Pagi itu jam 8.30 ketika saya bersiap mengakhiri pembelajaran akuntansi di klas XI S2. Tiba-tiba salah seorang siswa bertanya; "ibu, apakah ibu akan mengajar lagi di kelas XII?". Ah iya, baru ingat saya bahwa ini adalah sesi terakhir belajar dengan mereka di kelas XI. Seketika saya merasa diingatkan untuk mengakhiri pembelajaran dengan sesi refleksi setelah setahun kebersamaan dalam belajar mengajar. Saya awali sesi itu dengan permohonan maaf atas kata-kata dan sikap yang barangkali tidak sengaja menyakitkan dan menyinggung murid-murid saya. Saya sampaikan penghargaan karena mereka telah menunjukkan antusiasme belajar dan kemauan bersungguh-sungguh belajar. Saya tidak sedang beretorika, tapi apa yang saya sampaikan memang begitulah adanya mereka.
Kelas XI S2 adalah tantangan tersendiri. Ketika mendapat amanah untuk mengajar mata pelajaran ekonomi dan akuntansi di kelas ini setahun yang lalu, saya tahu saya harus benar-benar memikirkan kelas ini. Sebagian besar siswa "hiperaktif' bergabung di kelas ini. Salah seorang siswa diantaranya bisa dibilang ketua geng. Waktu masih di kelas X, si ketua geng ini sudah menunjukkan kemampuannya untuk mempengaruhi dan mendapatkan pengikut. Namun, karena masih kelas X, "keberanian" mereka belum begitu mendapat tempat. Biasanya, mereka akan menunjukkan eksistensinya di kelas XI, dan mulai menurun lagi di kelas XII. Dengan karakteristik sebagian besar siswa yang seperti itu, saya memang sempat merasa khawatir. Apalagi pelajaran akuntansi yang saya ampu memerlukan tidak sekedar kognitif tapi juga praktek dan ketelitian.
Benarlah, awal perjalanan tidak mudah. Saya bahkan sempat terpancing emosi saya, marah besar pada si ketua geng. Kemarahan yang akhirnya saya sesali dan membuat saya tidak bisa tidur, namun justru pada akhirnya menjadi titik balik yang membuat suasana menjadi kondusif. Bab kemarahan, mengapa dan bagaimana akan saya tulis khusus.
Dan saya benar-benar merasa surprise, ketika pada akhirnya kekhawatiran saya tidak terbukti. Justru saya menikmati mengajar di kelas XI S-2, pun sebaliknya saya bisa merasakan mereka juga enjoy belajar. Siswa-siswa 'hiperaktif' tersebut terlihat tekun mnyelesaikan tahapan demi tahapan dalam siklus akuntansi. Bahkan si ketua geng, seringkali paling duluan menyelesaikan latihan-latihan.
Begitulah, pagi itu, pelajaran terakhir di kelas XI S-2 berakhir reflektif. Mereka berharap saya akan mengajar lagi di kelas mereka di kelas XII. Saya bilang:" kenapa kamu ingin belajar sama ibu?". Ada yang menjawab, "karena kalo belajar sama ibu nggak ngantuk." "Karena kalo ngantuk, ibu marahi ya", jawab saya. "Enggak bu", katanya. "Pokoknya enak aja, dan ngerti". Kata mereka lebih lanjut. "Alhamdulillah," kata saya.
Dan pagi itu kami akhiri dengan bersalam-salaman serta berfoto bersama. Good luck..nak.
*****
Kelas XI S2 adalah tantangan tersendiri. Ketika mendapat amanah untuk mengajar mata pelajaran ekonomi dan akuntansi di kelas ini setahun yang lalu, saya tahu saya harus benar-benar memikirkan kelas ini. Sebagian besar siswa "hiperaktif' bergabung di kelas ini. Salah seorang siswa diantaranya bisa dibilang ketua geng. Waktu masih di kelas X, si ketua geng ini sudah menunjukkan kemampuannya untuk mempengaruhi dan mendapatkan pengikut. Namun, karena masih kelas X, "keberanian" mereka belum begitu mendapat tempat. Biasanya, mereka akan menunjukkan eksistensinya di kelas XI, dan mulai menurun lagi di kelas XII. Dengan karakteristik sebagian besar siswa yang seperti itu, saya memang sempat merasa khawatir. Apalagi pelajaran akuntansi yang saya ampu memerlukan tidak sekedar kognitif tapi juga praktek dan ketelitian.
Benarlah, awal perjalanan tidak mudah. Saya bahkan sempat terpancing emosi saya, marah besar pada si ketua geng. Kemarahan yang akhirnya saya sesali dan membuat saya tidak bisa tidur, namun justru pada akhirnya menjadi titik balik yang membuat suasana menjadi kondusif. Bab kemarahan, mengapa dan bagaimana akan saya tulis khusus.
Dan saya benar-benar merasa surprise, ketika pada akhirnya kekhawatiran saya tidak terbukti. Justru saya menikmati mengajar di kelas XI S-2, pun sebaliknya saya bisa merasakan mereka juga enjoy belajar. Siswa-siswa 'hiperaktif' tersebut terlihat tekun mnyelesaikan tahapan demi tahapan dalam siklus akuntansi. Bahkan si ketua geng, seringkali paling duluan menyelesaikan latihan-latihan.
Begitulah, pagi itu, pelajaran terakhir di kelas XI S-2 berakhir reflektif. Mereka berharap saya akan mengajar lagi di kelas mereka di kelas XII. Saya bilang:" kenapa kamu ingin belajar sama ibu?". Ada yang menjawab, "karena kalo belajar sama ibu nggak ngantuk." "Karena kalo ngantuk, ibu marahi ya", jawab saya. "Enggak bu", katanya. "Pokoknya enak aja, dan ngerti". Kata mereka lebih lanjut. "Alhamdulillah," kata saya.
Dan pagi itu kami akhiri dengan bersalam-salaman serta berfoto bersama. Good luck..nak.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar