Selasa, 29 Mei 2012

Sekali Lagi UN

Selesai sudah hiruk pikuk dan kesibukan perhelatan besar yang bernama Ujian Nasional. Mulai dari tingkat SD hingga SMA telah selesai dilaksanakan. Saat ini yang ramai adalah berita kelulusan UN dan peraih nilai tertinggi UN tingkat SMA/MA dan SMK/MAK. Nama-nama 10 peraih nilai tertinggi UN diberitakan dimana-mana baik melalui media resmi maupun jejaring sosial. Nilainya sungguh sempurna, nyaris betul semua. Peraih nilai tertinggi UN dengan total nilai 58,6 Triawati Octavia dari SMA Negeri  2 Kuningan bahkan diundang bersama ibundanya di acara prime time TV One "Apa Kabar Indonesia Malam".

Menyaksikan itu, timbul sedikit keraguan, nilai kimia sempurna 10, tidak ada yang salah satupun. Juga mata pelajaran lainnya. Namun suudzon itu tidak baik. Bisa jadi memang, sekolah itu telah membiasakan soal-soal ujian dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada soal-soal UN sehingga soa-soal UN dapat dikerjakan dengan mudah. Demikian juga anaknya memang telah belajar dengan maksimal untuk menghadapi UN.

Meskipun berita kecurangan UN merebak dimana-mana dan pada tingkatan sekolah apa saja, namun pasti masih ada siswa-siswi yang berjuang maksimal dan mengerjakan UN dengan jujur serta mendapatkan nilai terbaik. Saya yakin sebagian besar siswa yang orangtuanya guru dan bukan guru masih memegang teguh prinsip kejujuran. Demikian keyakinan saya, berdasarkan cerita dari milis guru maupun teman-teman saya yang guru yang anaknya mengikuti UN tingkat SMA/MA. Teman saya yang guru kimia, nilai UN kimia anaknya nayris 10 hanya salah satu. Demikian juga yang orangtuanya guru matematika, maka nilai UN matematika anaknya juga nyaris 10. 

Sebagai guru ekonomi, UN yang benar-benar jujur saya alami adalah UN yang pertama. Saat itu, saya mengajar mata pelajaran ekonomi-akuntansi klas XII di salah satu SMA swasta nasional plus di Jakarta Selatan. Murid-murid saya banyak yang berprofesi sebagai artis maupun olahragawan. Ketika kebijakan UN ditetapkan, semua fihak bersiap. Saya merasakan gairah belajar yang lebih pada murid-murid saya waktu itu. Apalagi ketika hasil try out pertama 100% siswa tidak berhasil mencapai nilai minimal batas kelulusan UN untuk mapel ekonomi. Seluruh siswa syok, lebih-lebih gurunya. Namun, kondisi itu menjadi titik balik untuk menyamakan langkah mencapai kelulusan. Saya masih bisa merasakan kebahagiaan itu ketika seluruh siswa akhirnya berhasil lulus dan saya yakin 100% jujur hasil belajar sendiri. Seperti merayakan sebuah kemenangan.

Namun, momen itu tinggal kenangan. UN berikutnya dan berikutnya mulai ditemukan kecurangan disana-sini dan cukup masif. Meskipun demikian, saya yakin diantara siswa-siswa saya masih ada yang memegang teguh kejujuran dalam UN, meski jumlahnya mulai berkurang. Pasti sungguh berat perjuangan mereka menahan godaan untuk tidak memanfaatkan kunci jawaban yang beredar luas. Termasuk, kenyataan pahit ketika menerima pengumuman kelulusan dan nilai yang mereka dapatkan jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang mendapat bocoran kunci jawaban. 

Akan tetapi, kejujuran itu Insya Allah pasti berbuah manis. Beberapa murid saya yang sehari-harinya cerdas, dan ketika UN memegang teguh kejujuran sehingga nilai UN yang mereka peroleh biasa saja(tidak spektakuler),  lolos diterima lewat jalur undangan di universitas-universitas negeri ternama. Alhamdulillah, sungguh happy ending dan membuat kami para guru bangga. Saya yakin, di setiap sekolah masih ada siswa-siswa seperti mereka. Merekalah generasi muda yang bekerja keras dan memilih berpihak pada kejujuran. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, semoga dapat mewarnai negeri ini dengan warna-warna yang cerah. Aaamin.

Congaratulation..



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...