Kamis, 17 Mei 2012

Konser itu...

Akhirnya saya ikut-ikutan alias gatel untuk ikut mengomentari heboh konser LG yang dibatalkan. Di milis guru, diskusi tentang ini bertahan berhari-hari. Pihak yang pro dibatalkan dan yang kontra dibatalkan saling adu argumen. Dari seluruh simpang siur diskusi, main topiknya adalah sesuai atau tidak sesuai konser LG dengan budaya bangsa. Karena milis guru, masing-masing berargumen dalam kerangka pendidikan. Saya yang ikut-ikutan nimbrung dengan melihat sudut pandang ekonomi  _bahwa lagi-lagi kita hanya dijadikan konsumen produk luar, dan oleh karenanya kenapa harus membela konser LG_ kurang mendapat tanggapan. Stasiun televisi-pun heboh menyiarkan pro-kontra ini. Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Fenomena apa ini?


Belum lama berselang, konser Super Junior dan  Justien Beiber dan konser-konser lain menggebrak Jakarta. Semuanya diterima dan dielu-elukan oleh fans. Bahkan pada saat "Suju" dielu-elukan fans  Jakarta, sempet beredar 'entah benar atau tidak' komentar Justin Beiber bahwa fans Indonesia aneh alias gila. Khusus konser 'Suju" saya sendiri sempat surprise dan mentertawakan teman saya yang guru dan minta ijin mengantar anaknya ke bandara menjemput "Suju". Saya ingat wajah manyun dan kesel si ibu tapi daripada anaknya "hanya" pergi dengan teman-temannya dia akan lebih khawatir terpaksa dia ikut menjemput 'Suju" ke bandara. Hahaha...


Temen saya itu bercerita bagaimana dia tidak habis fikir ketika anaknya memenuhi laptop dengan download-an lagu-lagu Suju, dan ketika di rumah dia menari mengikuti gaya tarian Suju sambil menyanyi. Sedangkan anak temen saya ini, klas XII SMA, perempuan, pake jilbab dan aktif di rohis. Daripada bingung-bingung tanya kenapa, saya akhirnya lihat sendiri atraksi "Suju" melalui youtube. Dan..akhirnya saya mengerti mengapa remaja-remaja itu pada ngefans. Wajah-wajah 'Suju" yang cool ditambah atraksi tarian yang kompak dan enerjik sangat cocok dengan jiwa anak muda. Sebagai anak muda yang berenergi, meskipun berjilbab dan aktif di rohis, semangat dan energi kemudaannya selaras dengan aliran musik 'Suju". Jadi, sebagai orang tua apakah bijak jika kita melarangnya?

Seperti konser Suju dan juga Justin Beiber yang digandrungi anak muda, konser LG_pun pasti punya penggemarnya sendiri. Saya tahu, anak temen saya sama sekali tidak tertarik dengan konser LG. Secara tidak langsung dia sudah menyaring sendiri, mana-mana yang perlu dilihat dan digemari sesuai dengan norma-norma yang dia yakini. Dan dia pasti tahu bagaimana ibunya akan berang kalo dia ngefans dengan LG.  Jadi, dalam iklim keragaman di Indonesia apapun bentuknya pasti ada segmen penggemarnya sendiri-sendiri. Yang jelas pasti harus orang berduit yang sanggup membeli tiket termurah Rp. 500.000,00.

Kembali ke pro kontra konser LG, heboh pemberitaan ini tidak menguntungkan siapa-siapa kecuali LG. Apa manfaatnya buat kita, sementara konser terbatas orang-orang berduit dilarang, anak-anak kita bebas melihat atraksinya di youtube  melalui bilik-bilik warnet maupun akses internet yang makin mudah dimana-mana. Dan seperti 'kasus' anaknya temen saya itu, pendidikan yang baik dari kecil, konsisten dan berkelanjutan tentang mana yang benar mana yang salah, apa yang boleh apa yang tidak_lah yang bisa memfilter anak-anak kita dari serbuan budaya manapun yang tak terbendung. Larangan-larangan saja tanpa proses pendidikan berkelanjutan tidak akan ada artinya.

Salam

Jakarta, suatu siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...