Intensitas pembicaraan saya dengan Rio dimulai dengan hal yang tidak baik. Ada satu kejadian yang membuat saya sangat marah kepadanya. Begini ceritanya.
Sore itu adzan Ashar berkumandang dari masjid sekolah. Saya, meskipun sedang berhalangan, segera bergegas menyusuri kelas demi kelas mengajak siswa segera menuju masjid untuk shalat Ashar berjamaah. Rutinitas ini saya lakukan bukan sekedar karena tugas, namun lebih-lebih dikarenakan kesadaran bahwa guru adalah orang tua siswa di sekolah. Melewati salah satu ruang kelas yang tertutup, saya mendengar suara gitar dan nyanyian anak. Saat itu refleks saya merasa sangat kesal. Bagaimana mungkin anak madrasah main gitar saat adzan berkumandang. Segera saya buka pintu, dan ternyata si Rio sedang asyik bermain gitar di kelilingi teman-temannya yang menyanyi. Melihat pintu terbuka dan saya masuk, mereka terkejut dan segera menghentikan nyanyi-nyanyi. "Semuanya segera keluar, sholat!" kata saya menahan marah.
Tak ingin melampiaskan kemarahan, saya keluar kelas sebelum mereka keluar. Namun, baru beberapa langkah dari pintu, kembali terdengar suara gitar Rio. Dan, kali ini kemarahan saya tidak terbendung. Saya kembali masuk ke kelas, tujuan saya adalah Rio. Saya sangat marah hingga refleks mendaratkan cubitan keras di lengannya sambil kata-kata 'stupid' keluar dari mulut saya. Saya tak berhenti berkata-kata sampai anak itu keluar menuju masjid.
Sesaat saya duduk terdiam. Astaghfirullah, ekspresi kemarahan saya begitu buruk. Tidak seharusnya seperti itu. Saya merasa resah. Berbagai fikiran berkecamuk. Bagaimana kalau Rio dendam kepada saya. Bagaimana kalau dia tidak lagi mau mengikuti kelas saya, sedang sesi pembelajaran masih cukup lama. Bagaimana kalu dia tidak tahu apa yang membuat saya marah padanya. Bagaimana..bagaimana. Di sisi lain, saya menghibur diri, bukankah Rasulullah membolehkan orang tua memukul anaknya jika tidak mau sholat. Bukankah kemarahan saya juga karena itu. Ah, tetap saja saya merasa resah.
Selama menjadi guru, sepertinya saya jarang marah hanya karena siswa tidak mau belajar atau berisik di kelas, atau tidak mengerjakan PR. Tetapi untuk urusan mengajak siswa sholat, saya merasa tidak bisa kompromi. Saya tidak berharap suatu saat di akhirat kelak salah satu tangan siswa saya menghalangi langkah saya menuju sorga, disebabkan, saya sebagai orang tuanya di sekolah, tidak memberi peringatan dan mengajak kepada kebaikan. Shalat, adalah ibadah utama dan pertama yang wajib dilakukan bagi muslim yang sudah baligh. Saya bisa senewen, jika ada siswa yang begitu sulit diajak shalat.Namun demikian, tidak seharusnya ekspresinya begitu buruk.
Esok harinya saya memutuskan untuk menemui Rio. Kami duduk berhadapan. "Rio, ibu minta maaf karena telah memarahimu kemarin," kata saya memulai. Anak itu diam saja menunduk, Saya merasakan kelopak mata saya mulai panas, tapi saya berusaha menahannya. "Rio, apakah kamu tahu kenapa Ibu marah kemarin?", tanya saya melanjutkan. Dan anak itu masih saja diam menunduk. "Rio, ibu marah karena kamu susah disuruh shalat," kata saya menjawab pertanyaan sendiri. Tiba-tiba Rio bersuara,"Oh jadi ibu bukan marah karena saya main gitar?". Ah, benar anak ini salah sangka. "Ah Rio, ini bukan perkara main gitar, meskipun kamu sedang belajar atau mengerjakan tugas, ibu akan marah jika kamu enggan dan menunda-nunda shalat berjamaah di masjid." Kata saya menjelaskan. "Pernahkah ibu marah ketika kamu tidur di kelas?, pernahkah ibu marah ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau PR?", tanya saya beruntun. Dan anak itu menggelengkan kepalanya. Ibu nggak akan marah untuk urusan dunia yang masing-masing orang punya pilihan. Kamu mau ahli main gitar dan tidak menyukai ekonomi akuntansi, itu pilihan, tapi shalat ibadah yang tidak bisa ditawar. Ibu nggak mau seandainya nanti di akhirat, ibu lagi senyum-senyum jalan ke sorga, tiba-tiba kamu protes ke malaikat. Tidak terima ibu masuk sorga, karena selama menjadi gurumu membiarkan saja kamu tidak sholat." Kata-kata saya beruntun. "Iya bu saya mengerti", katanya, agak tersenyum. "Namun Rio, bagaimanapun tidak seharusnya ibu memarahimu seperti itu, apakah kamu memaafkan ibu?" tanya saya sekali lagi. "Iya bu, katanya singkat.
Dan ketika Rio sudah berlalu, saya tak perlu menahan lagi cairan hangat yang menerobos ke sela-sela kelopak mata saya. "Ah dasar cengeng", batin saya. Pelajaran dari kejadian ini, ketika kita marah pastikan bahwa orang yang kita marahi mengerti bahwa dia dimarahi dan apa yang membuat kita memarahinya. Berusahalah, agar ekspresi kemarahan kita tetap terkendali (ah ini yang sulit). Tanpa itu, kemarahan kita hanya akan menyakitkan diri sendiri dan menghabiskan energi.
Ah, tidak ada yang sia-sia dari setiap kejadian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar