Rabu, 30 Mei 2012

Mabuk Genjer

Seperti biasa jelang sholat Ashar saya menyusuri ruang-ruang kelas menyisir siapa tahu masih ada siswa yang belum menuju masjid untuk shalat berjamaah. Dari kejauhan saya melihat masih banyak siswa yang bergerombol  di depan ruang kelas XI IPA 1. Begitu mendekat, saya mendengar salah seorang siswa berbicara kepada teman-temannya.."eh..ada bu Ana, ada bu Ana...!". 

Begitu saya masuk ke ruang kelas itu, ternyata memang masih  banyak siswa laki-laki dan perempuan di dalam. Bergegas siswa beranjak ke luar kelas ketika saya bilang "yang boleh tinggal di kelas  yang sedang haid, gila, atau mabuk.!" (karena dengan 3 kondisi ini seseorang haram melaksanakan shalat). Tiba-tiba terdengar salah seorang siswa menjawab, "saya lagi mabuk bu..., mabuk genjer." Hahaha... anak-anak yang lain tertawa. Sayapun turut tertawa. Itu suara  muridku yang memang rada unik. Unik, karena dia selalu menemukan kata-kata yang pas sehingga mudah diingat. Waktu kelas X, dia menyebut teman-temannya yang hanya diam ketika kelompoknya presentasi sebagai "pemanis buatan". Teman-temannya sering menyebut dia kepedean dan sok ganteng. Hehe..ada-ada saja. 

Dan sayapun melangkah dengan ringan menuju masjid sambil mensyukuri hari ini. Saya menyadari, menjadi guru memang pertanggungjawaban dunia akhirat. Apalagi sebagai guru di madrasah. Sebagai orang tua di sekolah, kami para guru harus memastikan setiap anak menjalankan kewajiban ibadah shalat dhuhur dan Ashar sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Alhamdulillah, dengan pembiasaan ini secara umum tidak sulit mengajak mereka shalat berjama'ah dimasjid. Kalaupun ada, hanya satu dua anak yang memang masih perlu perjuangan. 

Ah,..selalu ada hiburan di antara murid-murid, di ruang-ruang kelas dari keisengan dan canda mereka. Alhamdulillah.


Jakarta, jelang senja.







Selasa, 29 Mei 2012

Sekali Lagi UN

Selesai sudah hiruk pikuk dan kesibukan perhelatan besar yang bernama Ujian Nasional. Mulai dari tingkat SD hingga SMA telah selesai dilaksanakan. Saat ini yang ramai adalah berita kelulusan UN dan peraih nilai tertinggi UN tingkat SMA/MA dan SMK/MAK. Nama-nama 10 peraih nilai tertinggi UN diberitakan dimana-mana baik melalui media resmi maupun jejaring sosial. Nilainya sungguh sempurna, nyaris betul semua. Peraih nilai tertinggi UN dengan total nilai 58,6 Triawati Octavia dari SMA Negeri  2 Kuningan bahkan diundang bersama ibundanya di acara prime time TV One "Apa Kabar Indonesia Malam".

Menyaksikan itu, timbul sedikit keraguan, nilai kimia sempurna 10, tidak ada yang salah satupun. Juga mata pelajaran lainnya. Namun suudzon itu tidak baik. Bisa jadi memang, sekolah itu telah membiasakan soal-soal ujian dengan tingkat kesulitan lebih tinggi daripada soal-soal UN sehingga soa-soal UN dapat dikerjakan dengan mudah. Demikian juga anaknya memang telah belajar dengan maksimal untuk menghadapi UN.

Meskipun berita kecurangan UN merebak dimana-mana dan pada tingkatan sekolah apa saja, namun pasti masih ada siswa-siswi yang berjuang maksimal dan mengerjakan UN dengan jujur serta mendapatkan nilai terbaik. Saya yakin sebagian besar siswa yang orangtuanya guru dan bukan guru masih memegang teguh prinsip kejujuran. Demikian keyakinan saya, berdasarkan cerita dari milis guru maupun teman-teman saya yang guru yang anaknya mengikuti UN tingkat SMA/MA. Teman saya yang guru kimia, nilai UN kimia anaknya nayris 10 hanya salah satu. Demikian juga yang orangtuanya guru matematika, maka nilai UN matematika anaknya juga nyaris 10. 

Sebagai guru ekonomi, UN yang benar-benar jujur saya alami adalah UN yang pertama. Saat itu, saya mengajar mata pelajaran ekonomi-akuntansi klas XII di salah satu SMA swasta nasional plus di Jakarta Selatan. Murid-murid saya banyak yang berprofesi sebagai artis maupun olahragawan. Ketika kebijakan UN ditetapkan, semua fihak bersiap. Saya merasakan gairah belajar yang lebih pada murid-murid saya waktu itu. Apalagi ketika hasil try out pertama 100% siswa tidak berhasil mencapai nilai minimal batas kelulusan UN untuk mapel ekonomi. Seluruh siswa syok, lebih-lebih gurunya. Namun, kondisi itu menjadi titik balik untuk menyamakan langkah mencapai kelulusan. Saya masih bisa merasakan kebahagiaan itu ketika seluruh siswa akhirnya berhasil lulus dan saya yakin 100% jujur hasil belajar sendiri. Seperti merayakan sebuah kemenangan.

Namun, momen itu tinggal kenangan. UN berikutnya dan berikutnya mulai ditemukan kecurangan disana-sini dan cukup masif. Meskipun demikian, saya yakin diantara siswa-siswa saya masih ada yang memegang teguh kejujuran dalam UN, meski jumlahnya mulai berkurang. Pasti sungguh berat perjuangan mereka menahan godaan untuk tidak memanfaatkan kunci jawaban yang beredar luas. Termasuk, kenyataan pahit ketika menerima pengumuman kelulusan dan nilai yang mereka dapatkan jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang mendapat bocoran kunci jawaban. 

Akan tetapi, kejujuran itu Insya Allah pasti berbuah manis. Beberapa murid saya yang sehari-harinya cerdas, dan ketika UN memegang teguh kejujuran sehingga nilai UN yang mereka peroleh biasa saja(tidak spektakuler),  lolos diterima lewat jalur undangan di universitas-universitas negeri ternama. Alhamdulillah, sungguh happy ending dan membuat kami para guru bangga. Saya yakin, di setiap sekolah masih ada siswa-siswa seperti mereka. Merekalah generasi muda yang bekerja keras dan memilih berpihak pada kejujuran. Meskipun jumlah mereka tidak banyak, semoga dapat mewarnai negeri ini dengan warna-warna yang cerah. Aaamin.

Congaratulation..



Minggu, 20 Mei 2012

Cinta..

Bu Ana...!!! seru teman saya pagi itu.. seperti tidak sabar..dan akhirnya dia sudah duduk di depan saya. "Saya mau cerita, saya sudah tidak tahan mau cerita", ujarnya beruntun. "Cerita apa bu, kayaknya serius banget", kata saya. "Iya, semalaman saya tidak bisa tidur memikirkan ini", ujarnya lagi. Lalu tanpa bisa dibendung si ibu mulai menceritakan semua uneg-uneg yang sudah semalaman dia pendam. Saya terhenyak, diam terpaku menyimak ceritanya. Saya tidak akan menceritakan ceritanya di sini detailnya, bisa dibilang aib, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Teman saya merasa shock dan terbebani fikirannya karena kedua pelaku adalah teman yang sama-sama kita kenal.

Laki-laki berpoligami memang tidak dilarang, dan jatuh cinta adalah dorongan alami setiap manusia anugerah Allah, jadi  pasti tidak untuk dielakkan.  Apalagi memang si ibu idaman hatinya perempuan single setelah berpisah dari suaminya. Hanya, memperhatikan banyak yang palsu akhir-akhir ini: alamat palsu, kesaksian palsu, rambut palsu (gayus), plat mobil palsu, dan palsu-palsu lainnya, maka hati-hati juga dengan cinta palsu. Yang terakhir ini perlu digaris bawahi karena 'cinta' yang demikian mengharu biru hidup manusia seharusnya tidak boleh dipalsukan.

Bagaimana kita bisa membedakan apakah cinta itu cinta sejati atau cinta palsu? Itu tidak mudah. Saya jadi teringat pernah mendapat pertanyaan serupa dari seseorang yang berkata "aku merasa lebih baik hidup dalam kerinduan, daripada aku hidup  menjemukan sehingga membuatku putus asa." "Apakah itu salah", tanyanya. Sebelum saya bisa berkata-kata, dia melanjutkan "bukankah cinta sejati tidak bisa mati", tanyanya lebih tepat mungkin untuk dirinya sendiri. Saya berkata, "menurutmu, cinta sejati itu apa"? Dan, rupanya dia masih asyik dengan fikirannya sendiri sehingga tidak menjawab pertanyaan saya.

Setelah panjang lebar pembicaraan, saya mengambil kesimpulan sendiri dan berkata padanya,  "memang cinta sejati tidak bisa mati". Tapi apalah cinta sejati itu...? cinta sejati adalah segala rasa yang membuat kecintaan kita kepada Sang Maha Pemilik Cinta yang hakiki semakin besar dan yang membuat Allah mencintai kita. Jika itu yang kau rasakan, maka itulah cinta sejatimu. Jika sebaliknya, maka hati-hatilah dengan perasaan cinta yang menipu. Dan dia berkata, "Subhanallah, terima kasih ibu". Kemudian dia berlalu, hingga kini entah bagaimana nasib cintanya saya kurang tahu.

Namun memang tidak semudah mengatakan, cinta sejati pasti diuji. Karena jenis cinta ini membuat cinta kita kepada Allah makin besar dan juga Allah mencintai kita, maka ekspresinya pasti  sesuai syariah. Fenomena ganti-ganti pasangan dan kawin cerai sepertinya bukan ekspresi cinta sejati. Namun, cinta yang gagal menghadapi ujian. Dan yang paling mengerti sejauh mana kadar cinta sejatinya hanya diri sendiri yang merasakanlah yang tahu. Kedua teman saya yang sedang jatuh cinta di atas saya tidak dapat menjustifikasi seperti apa jenis cinta mereka. Namun jika ekspresi cinta mereka sudah tidak sesuai syariah, saya bisa pastikan bahwa itu adalah jenis perasaan cinta yang menipu.

Wallahu'alam..


Kamis, 17 Mei 2012

Konser itu...

Akhirnya saya ikut-ikutan alias gatel untuk ikut mengomentari heboh konser LG yang dibatalkan. Di milis guru, diskusi tentang ini bertahan berhari-hari. Pihak yang pro dibatalkan dan yang kontra dibatalkan saling adu argumen. Dari seluruh simpang siur diskusi, main topiknya adalah sesuai atau tidak sesuai konser LG dengan budaya bangsa. Karena milis guru, masing-masing berargumen dalam kerangka pendidikan. Saya yang ikut-ikutan nimbrung dengan melihat sudut pandang ekonomi  _bahwa lagi-lagi kita hanya dijadikan konsumen produk luar, dan oleh karenanya kenapa harus membela konser LG_ kurang mendapat tanggapan. Stasiun televisi-pun heboh menyiarkan pro-kontra ini. Jadi apa sebenarnya yang terjadi? Fenomena apa ini?


Belum lama berselang, konser Super Junior dan  Justien Beiber dan konser-konser lain menggebrak Jakarta. Semuanya diterima dan dielu-elukan oleh fans. Bahkan pada saat "Suju" dielu-elukan fans  Jakarta, sempet beredar 'entah benar atau tidak' komentar Justin Beiber bahwa fans Indonesia aneh alias gila. Khusus konser 'Suju" saya sendiri sempat surprise dan mentertawakan teman saya yang guru dan minta ijin mengantar anaknya ke bandara menjemput "Suju". Saya ingat wajah manyun dan kesel si ibu tapi daripada anaknya "hanya" pergi dengan teman-temannya dia akan lebih khawatir terpaksa dia ikut menjemput 'Suju" ke bandara. Hahaha...


Temen saya itu bercerita bagaimana dia tidak habis fikir ketika anaknya memenuhi laptop dengan download-an lagu-lagu Suju, dan ketika di rumah dia menari mengikuti gaya tarian Suju sambil menyanyi. Sedangkan anak temen saya ini, klas XII SMA, perempuan, pake jilbab dan aktif di rohis. Daripada bingung-bingung tanya kenapa, saya akhirnya lihat sendiri atraksi "Suju" melalui youtube. Dan..akhirnya saya mengerti mengapa remaja-remaja itu pada ngefans. Wajah-wajah 'Suju" yang cool ditambah atraksi tarian yang kompak dan enerjik sangat cocok dengan jiwa anak muda. Sebagai anak muda yang berenergi, meskipun berjilbab dan aktif di rohis, semangat dan energi kemudaannya selaras dengan aliran musik 'Suju". Jadi, sebagai orang tua apakah bijak jika kita melarangnya?

Seperti konser Suju dan juga Justin Beiber yang digandrungi anak muda, konser LG_pun pasti punya penggemarnya sendiri. Saya tahu, anak temen saya sama sekali tidak tertarik dengan konser LG. Secara tidak langsung dia sudah menyaring sendiri, mana-mana yang perlu dilihat dan digemari sesuai dengan norma-norma yang dia yakini. Dan dia pasti tahu bagaimana ibunya akan berang kalo dia ngefans dengan LG.  Jadi, dalam iklim keragaman di Indonesia apapun bentuknya pasti ada segmen penggemarnya sendiri-sendiri. Yang jelas pasti harus orang berduit yang sanggup membeli tiket termurah Rp. 500.000,00.

Kembali ke pro kontra konser LG, heboh pemberitaan ini tidak menguntungkan siapa-siapa kecuali LG. Apa manfaatnya buat kita, sementara konser terbatas orang-orang berduit dilarang, anak-anak kita bebas melihat atraksinya di youtube  melalui bilik-bilik warnet maupun akses internet yang makin mudah dimana-mana. Dan seperti 'kasus' anaknya temen saya itu, pendidikan yang baik dari kecil, konsisten dan berkelanjutan tentang mana yang benar mana yang salah, apa yang boleh apa yang tidak_lah yang bisa memfilter anak-anak kita dari serbuan budaya manapun yang tak terbendung. Larangan-larangan saja tanpa proses pendidikan berkelanjutan tidak akan ada artinya.

Salam

Jakarta, suatu siang.

Senin, 30 April 2012

Inspirasi dari Acara "Intip Buku"

Sabtu, 28 April 2012, lalu saya menghadiri acara yang luar biasa "Intip Buku" di lantai 3 menara Syafrudin Prawiranegara gedung Bank Indonesia Jakarta. Kehadiran saya disitu berawal dari undangan terbuka Om Jay penulis buku "menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi" di group IGI.  Judul buku itulah sesungguhnya yang memprovokasi saya sehingga saya mendaftar  untuk ikut  ke acara tersebut.

Sehari sebelum acara, saya mendapat email detail rundown acara "Intip Buku" yang membuat saya rasanya semakin tidak sabar menunggu momen itu. Maka pagi-pagi sekali saya sudah meninggalkan rumah saya di Depok menuju Jakarta. Saya tidak ingin terlambat. Sampai di ruang serba guna gedung BI sudah jam 8.30. Tempat acara dihiasi banner-banner berlogo IB alias Islamic Banking sponsor utama acara Intip Buku. Bagi yang belum familier, logo IB berkonotasi Institute Bisnis. Alhamdulillah sebagai guru ekonomi syariah, saya sudah familier dengan bank syariah dan juga logo IB ini.

Memasuki ruang acara, sebagian besar kursi terutama di bagian depan sudah penuh terisi, meski acara belum dimulai. Saya menempatkan diri saya di salah satu kursi kosong di bagian tengah. Dari kejauhan saya bisa mengenali sosok Om Jay yang sebelumnya telah saya kenali sosoknya dari foto-foto di  blog om Jay.  Saya ingin mengucapkan terima kasih atas undangannya, namun kondisi tidak memungkinkan. Tak lama kemudian, acara dimulai. Dari moderator sesi 1 bung Amril Taufiq Gobel (blogger dan kompasioner), saya tahu bahwa peserta acara intip buku ini didominasi oleh  guru-guru dan kompasioner (sebutan member kompasiana.com).

Sesi pertama menghadirkan 3 pembicara. Pembicara pertama bung Pepih Nugraha wartawan senior kompas dan pencetus sekaligus yang membidani kompasiana.com. Beliau menceritakan awal ketertarikannya dalam dunia tulis menulis. Dan sungguh spektakuler, beliau sudah mulai menulis (cerpen) sejak usia SMP dan berhasil dipublikasikan di berbagai majalah ibukota. Bung Pepih yang asli Tasik dan masih tetap medok bahasa sundanya itu menyatakan bahwa menulis bukan monopoli wartawan atau para ahli saja. Menulis adalah dunia orang biasa jadi 'selamat datang di dunia orang biasa' lanjutnya. Sungguh kata-kata yang menyemangati.

Pembicara kedua tak kalah inspiratif, bung Imam FR Kusumaningati. Awalnya saya agak merasa aneh dengan kombinasi namanya, nama maskulin dan feminin jadi satu. Ternyata sosoknya lebih 'unik' lagi. Mahasiswa semester 6 jurusan tarbiyah' pendidikan agama Islam' UIN Syarif Hidayatullah ini adalah penulis buku "menjadi jurnalis itu gampang". Inilah uniknya, mahasiswa calon guru agama Islam 'tapi' menulis buku tentang jurnalisme! Ekspansi yang luar biasa.  Dan semua itu berawal dari mimpinya yang ingin menerbitkan buku sebelum menjadi sarjana. Sungguh inspiratif.

Pembicara ketiga, bung Taufik Effendi, dosen Bahasa Inggris UNJ. Saya rasanya masih tercekat mengingat beliau. Kisah hidupnya tepatnya ujian hidupnya sungguh luar biasa. Masih terbayang bagaimana kami audiens terdiam terpaku bahkan saya dan mungkin yang lain meneteskan airmata mendengarkan beliau mengisahkan hidupnya. Beliau harus menerima kenyataan pahit menjadi tuna netra di  saat  keindahan masa remaja menjelang, klas satu SMA. Kenyataan ini sempat menghancurkan hidupnya hingga selama dua tahun beliau tenggelam dalam kesedihan. Namun, musibah itu rupanya menjadi titik balik yang melejitkan potensi dirinya. Dan saat beliau bangkit, mimpinya adalah 'keliling dunia'. Mimpi yang membuat orangtuanya bersedih. Tak cukup untuk menceritakan kisahnya disini, singkat cerita beliau berhasil mewujudkan mimpinya keliling dunia. Diusianya yang sekarang 30 tahun beliau sudah keliling dunia  melalui 8 beasiswa luar negeri yang diraihnya. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Dan dengan rendah hati beliau menyatakan belum bisa menulis buku. Beliau menceritakan, untuk membaca 1 buku saja  perlu waktu berbulan-bulan, karena mesti discan per lembarnya dan dipindahkan ke program pembaca komputer.
Jadi pelajaran bagi kita yang masih mendapat kemudahan membaca.

Tak terasa sudah jam 11.00 siang dan sesi pertama berakhir. Sayang sekali saya tidak bisa melanjutkan ke sesi ke dua karena harus menghadiri dua kondangan berturut-turut. Padahal sesi kedua menghadirkan Om Jay, bung Prayitno Ramlan  (purnawirawan dan juga kompasioner) dan satu lagi saya lupa. Pasti sesi kedua juga sangat seru. Untuk mengobati kekecewaan saya, saya membeli buku om Jay "menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi"

Ah..sungguh acara yang inspiratif bersama tokoh-tokoh yang inspiratif. Pelajaran yang bisa dipetik, memang benar segala sesuatu berawal dari mimpi. Beranilah bermimpi, dan terutama berjuanglah untuk mewujudkan mimpi. Dan bagi saya pribadi yang sudah senior, saya menambahkan 'jangan merasa terlambat untuk memulai'. Keep spirit and hope. Alhamdulillah.

Depok, 29 April 2012

Rabu, 25 April 2012

Balance

Balance adalah kosa kata bahasa Inggris yang artinya keseimbangan/seimbang.Kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari baik lisan maupun tulisan. Namun balance yang saya maksud di sini adalah salah satu laporan keuangan yang bernama "balance sheet" atau neraca. Jenis laporan keuangan 'neraca' sesuai namanya memang harus seimbang jumlah sisi aktiva dengan jumlah sisi hutang dan modal. Kata 'balance' menjadi ekspresi kepuasan tersendiri bagi murid-muridku saat laporan keuangan mereka benar alias balance, meski balance saja belum tentu benar. 

Seperti siang yang terik tadi, saya memberikan ulangan harian untuk murid-murid kelas XI IPS 1. Soal berbentuk essay menguji kompetensi siswa dalam mencatat jurnal penyesuaian, menyelesaikan kertas kerja dan menyusunnya dalam laporan keuangan. Seperti biasa soal saya buat dalam 4 tipe berbeda dengan harapan siswa bekerja mandiri alias tidak mencontek. Dan benar, selesai soal dibagikan murid-murid asyik dan serius dengan kertas ulangannya masing-masing. Dan oleh karenanya saya cukup sesekali saja mengamati mereka. 

Sambil mengawasi siswa mengerjakan ulangan, pikiran saya menerawang ke saat pertama mulai mengajarkan mapel akuntansi kepada siswa. Karakteristik mapel ini memang perpaduan kognitif analitik dan praktek. Bagaimana mengajarkan mapel yang membutuhkan banyak latihan, ketelitian dan kerapihan kepada siswa IPS yang "terkesan" kurang dalam ketiga hal tersebut, pernah benar-benar menjadi bahan pemikiran. Pada akhirnya saya menggunakan metode seperti menyusun puzzle untuk menarik minat belajar siswa dan sekaligus agar mudah dipahami. Alhamdulillah membawa hasil. Murid-murid yang sempat saya khawatirkan ternyata asyik belajar mapel akuntansi ini, termasuk siswa laki-laki yang biasanya malas. 

"Yes.....laporanku balance!!!" tiba-tiba lamunan saya terputus oleh teriakan puas salah seorang siswa yang ternyata telah menyelelasaikan ulangannya dan balance. Saya lihat dia tersenyum puas sambil mengepalkan tangannya. Alhamdulillah, kataku dengan suara agak keras agar siswa terbiasa mengucap syukur atas hasil kerjanya. Sementara itu sebagian yang lain mulai terlihat resah, karena laporan neraca masih belum seimbang. Helaan nafas panjang dan kata-kata resah sebentar-sebantar terdengar. Diantara itu teriakan "Yes" dan Alhamdulillah kembali terdengar, pertanda siswa telah menemukan letak ketidakseimbangan neracanya dan memperbaikinya. 

Tak terasa 2 jam pelajaran alias 90 menit waktu ulangan telah berakhir. Satu persatu siswa menyerahkan hasil kerjanya dengan dua ekspresi senyum atau manyun. Yang manyun berarti masih belum menemukan kesalahan yang diperbuatnya sehingga mengakibatkan ketidakseimbangan. Apapun hasilnya sukurilah karena kalian telah berusaha. Bagi yang masih kurang akan ada saatnya memperbaiki. 

Begitulah ulangan harian akuntansi kali ini, seperti itu juga ujian-ujian harian hidup kita. Ada yang mengakhiri hari dengan senyum karena telah menyelasaikan ujian dengan baik dan ada juga yang manyun karena masih belum bisa menyelesaikan masalahnya. Namun seperti ulangan harian, Insya Allah masih ada kesempatan kedua untuk menyelesaikan setiap ujian jika kita masih ada umur dan mau memperbaiki kesalahan. Allah Maha Adil. 

Wallahu'alam Jakarta, 25 April 2012

Senin, 23 April 2012

Absurditas

Beberapa hari yang lalu, salah satu media online menurunkan tulisan tentang absurditas kehidupan masyarakat di ibukota. Absurd berarti aneh, konyol, irasional, tidak beralasan, juga tidak bermakna. Segala hal yang absurd terkesan sia-sia belaka. Kehidupan masyarakat ibukota seperti berjalan tanpa logika. Aturan dibuat untuk dilanggar, orang jahat dipuja-puja sebaliknya orang baik menderita. Kisah duka dan bahagia bisa terjadi dalam waktu yang sama membuat orang menangis dan tertawa pada waktu yang sama. Manusia tidak lagi bisa benar-benar memahami apa yang dirasa. Rutinitas tanpa makna tanpa hati menghinggapi keseharian masyarakat ibukota. Orang-orang sudah seperti robot berjalan melakoni keseharusan. Pergi pagi, pulang petang menjalani waktu demi waktu, momen demi momen tanpa penghayatan seperti komputer yang sudah diprogram. Aktivitas tanpa jeda, orang-orang sibuk bekejaran dengan waktu dan seolah tak cukup waktu. Jangankan peduli terhadap orang lain, bahkan terhadap keluarga dan diri sendiripun acapkali abai. Kondisi itu menimpa hampir semua orang, dari direktur sampai tukang cukur. Dari profesor hingga provokator. Dari anak-anak hingga orang tua. Tak membedakan jenis kelamin, tingkat kekayaan, latar belakang pendidikan, agama, suku, dan ras. Pertanyaannya apa yang dicari, apa yang dikejar, apa yang diburu..? Tentu, kita tidak ingin terjebak dalam panggung seperti itu dan membiarkan diri kita menjalani rutinitas tanpa makna. Apa yang kita perlukan adalah menghidupkan hati dan menggugah kesadaran diri agar setiap momen tidak berlalu begitu saja tanpa kita hayati. Jalan termudah untuk mencapai itu sebenarnya sudah disediakan Tuhan bagi kita, namun kita sering melalaikannya. Jalan itu adalah mengingat Allah dalam setiap momen. Mengaitkan setiap momen, setiap pilihan, bahkan setiap helaan nafas kita kepada Allah. Dari itu, kita mampu untuk mensyukuri setiap keadaan sebagai karunia terbaik dari Allah. Jakarta, April 2012

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...