Rabu, 24 April 2013

Dangerous Minds

Beberapa hari lalu saat menjelang UN kelas XII, saya dan beberapa teman guru merasa galau menghadapi ulah siswa kelas XII. Hari-hari terakhir jelang UN,  justru beberapa orang siswa berulah  nyaris tak terkendali. Parahnya, ulah  beberapa siswa itu mempengaruhi teman-temannya. Menjelang UN, kami berharap segala daya upaya siswa dikerahkan untuk menghadapi UN. Namun yang kami hadapi sebaliknya. Beberapa siswa  malas belajar, sering bolos, bahkan ketika masuk yang dilakukan adalah membuat onar. Sedang kami para guru dan sekolah  melakukan segala hal untuk menyiapkan mental dan kemampuan akademik mereka.  Tidak saja bimbingan belajar, do’a bersama, istigotsah, kami juga undang beberapa motivator yang kompeten untuk memotivasi siswa secara berkala. Namun melihat ulah beberapa siswa itu, semua seperti tidak ada artinya. Bisa jadi mereka memang stress, panik, dengan UN yang makin dekat.

Dalam kegalauan itu sambil mencari cara terbaik menghadapi ulah mereka, saya menemukan film lama yang berjudul ‘Dangerous Mind”. Film tahun 90-an ini berkisah tentang perjuangan seorang guru “menaklukkan” hati murid-muridnya. Ya, perlu kata berjuang dan menaklukkan karena murid-murid sang guru itu rruar biasa bandelnya. Tidak satu orang  yang bandel tapi satu kelas.  Hari pertama bu guru cantik_ dibintangi artis Michelle Pfeiffer_, mulai mengajar bisa dikatakan gagal total. Murid-muridnya yang luar biasa itu_ ternyata hampir semua berasal dari keluarga miskin dan broken home_ tidak memperdulikan  sedikitpun kehadiran dan kata-kata bu guru. Mereka tetap asyik dengan keonaran kelas, bahkan ada siswa yang sengaja “maaf” memelorotkan celana panjangnya di depan guru sambil membelakanginya. Ada juga yang menggodanya. I can’t imagine if I be her. Singkat cerita ibu guru itu meninggalkan kelas tanpa sempat melakukan apa-apa.

Dalam kegalauannya, ibu guru itu disemangati (dalam film digambarkan ‘dimarah-marahi’) temannya untuk tidak menyerah pada keadaan. Apa yang dilakukan ibu guru itu kemudian adalah sesuatu yang luar biasa. Setelah membaca buku “asertif psychology” (ah ya..ini juga buku yang harus saya baca), ibu guru mengubah dirinya hampir 180 derajad. Inilah ‘dangerous minds’nya. Hari kedua masuk kelas, ibu guru itu sudah ada di kelas sebelum murid-muridnya masuk. Penampilannya tidak lagi feminim seperti sehari sebelumnya. Kali ini dia menggunakan celana jins, kemeja kotak-kotak dan sepatu boot. Dan dia duduk sambil mengangkat kakinya di atas meja dan mengunyah permen karet. Woww.. dan murid-muridnya mulai meliriknya, menggodanya, lebih tepat menjahilinya. Bu guru itu tidak berkata apa-apa menanggapi itu namun menggunakan gerakan bela diri untuk menghindari godaan murid-muridnya. Ulahnya ini makin memancing perhatian murid-muridnya (ah..usaha yang berhasil). Saat murid-muridnya mulai memperhatikan, barulah dia bicara bukan tentang pelajaran, tapi bagaimana menghadapi ‘serangan’. Hari itu bisa dibilang dia berhasil mencuri perhatiannya murid-muridnya. Begitulah seterusnya ibu guru itu menemukan cara-cara yang ‘berbahaya’ dalam mengajar. Salah satunya ketika dia meminta murid-muridnya memberi contoh membuat kalimat dan tidak digubris, ibu guru itu memilih kata kunci “siapa orang yang kau inginkan mati”.  Tema ini rupanya menarik perhatian murid-muridnya dan membangkitkan diskusi yang hidup di dalam kelas.  Dan seterusnya film ini menggambarkan berbagai usaha bu guru mengambil hati murid-muridnya dan akhirnya berhasil.

Film ini sungguh menginspirasi saya terutama untuk tidak pernah menyerah sebagai guru. Saya kira ini film wajib tonton untuk para guru. Murid-murid kita di Indonesia apalagi di madrasah tidak separah yang digambarkan dalam film itu. Sebagian besar malah murid yang manis dan patuh. Maka tidak alasan untuk tenggelam dalam kegalauan menghadapi ulah beberapa siswa. Apalagi terus-menerus memarahinya. Ini justru akan memperburuk keadaan. Seperti dalam film itu, kita mesti mencari cara bagaimana mencuri perhatiannya dan menaklukkan hatinya. Dengan begitu, mereka akan senang belajar. Mengetahui untuk apa harus belajar atau berbuat sesuatu. Punya semangat dan daya upaya untuk meraih mimpi-mimpinya.

Yang saya lakukan kemudian memang tidak “dangerous”. Saya hanya mengajaknya ngobrol secara personal sebagian anak yang membuat onar. Ngobrol yang ringan-ringan saja seperti menanyakan kabarnya, kabar keluarganya, bagaimana perasaannya jelang UN, apa rencananya setelah lulus, dan sebagainya. Saya tidak berharap muluk-muluk mereka langsung berubah. Obrolan ini minimal menenteramkan hati saya, setelah sebelumnya cenderung  menghindari  murid-murid itu agar tak terpancing emosi.
Saya yakin, jika hati kita merasa nyaman bersama siswa, siswapun akan merasakan hal yang sama. Karena yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Saya tak lagi menganggap ulah mereka sebagai keonaran, hanya ekspresi yang berlebihan. Saya bisa memahaminya. Saya hanya berharap mereka melakukan apapun dengan tanggung jawab dan kesadaran. Bukan sekedar ikut-ikutan atau tak bertujuan.

Senin, 25 Februari 2013

Teori Hidup


Seorang teman mengomentari blog saya ini sebagai yang menyajikan berbagai permasalahan riil kehidupan, mulai masalah remaja, sekolah, suami istri dan lain-lain. Teman saya yang boleh dibilang tak pernah terpuaskan dahaga keilmuannya dan terus mempertanyakan tentang makna hidup itu juga mengajukan pertanyaan untuk dikomentari di blok ini tentang berbagai teori kehidupan. Apakah psikologi, filsafat, atau agamakah teori hidup yang tepat untuk diterapkan. Dia sendiri memilih agama, meski agama juga multi tafsir.

Filsafat dan psikologi memberi kita pengetahuan tentang berbagai hal dalam hidup ini. Psikologi sendiri, ilmu yang sedikit banyak, pernah saya pelajari, memberi tahu kita tentang gejala-gejala jiwa. Dari itu kita  memiliki pengetahuan agar bisa mensikapi dengan tepat gejala jiwa yang muncul. Demikian juga filsafat, saya kira. Namun demikian sebagai teori yang dihasilkan dari generalisasi suatu sikap yang teramati, psikologi dan filsafat pasti tidak selalu tepat penerapannya. Hal itu karena sebesungguhnya setiap jiwa adalah unik.  Agama bukan teori, tapi panduan langsung dari Tuhan untuk menuntun hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat. Meski penafsiran tentang petunjuk agama seringkali berbeda-beda, namun petunjuk agama menurut saya lebih bersifat universal. Universalitas agama meliputi ruang dan waktu.

Tentu saja, saya sendiri tidak hendak mengkonfrontir berbagai teori hidup dengan agama. Karena, dalam hal tertentu, teori hidup dapat memperkaya petunjuk agama sehingga upaya kita mensikapi berbagai permasalahan hidup menjadi lebih kaya. Sebagai misal, jika psikologi mempelajari gejala-gejala jiwa, maka agama memberikan petunjuk tentang hakikat jiwa. Jadi, hakikat jiwa bisa lebih mudah dipahami melalui gejala-gejala jiwa.

******
Namun demikian di atas segala teori itu, hidup terus berjalan dengan atau tanpa berbagai teori hidup maupun petunjuk agama. Bahkan seringkali berjalan tidak linier sesuai yang direncanakan dan diharapkan. Gejolak kehidupan menuntut kita tidak sekedar berteori namun menemukan teori/teknik sendiri dalam mengatasi gejolaknya. Kehidupan tidak seperti sekolah formal yang akan diuji setelah kita belajar. Namun seringkali keduanya seiring sejalan bahkan berjalan terbalik, dari ujian maka kita belajar.

Saya sendiri lebih senang menganggap hidup ini sebuah petualangan (life is the adventure). Dengan itu, saya mempersiapkan diri untuk menikmati setiap episodenya sebagai bagian dari petualangan yang tidak akan berhenti sebelum kita dipanggil olehNya. Saya menyadari medan kehidupan yang akan saya lalui dalam petualangan hidup ini tidak selalu mudah, bahkan cenderung penuh tantangan. Namun saya tidak akan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Barangkali sesekali saya akan berkemah di suatu tempat yang indah untuk sejenak melepas lelah dan menikmati keindahan alam sekitar. Namun,  kehidupan akan memberi tanda saat seharusnya saya kembali melanjutkan perjalanan.

Saya tahu tujuan akhir petualangan hidup ini adalah kembali ke haribaanNya dengan ridho dan diridhoiNya seperti disebut dalam QS. Al Balad (90); 27-28, “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya.” Untuk bisa kembali dengan hati yang ridho, tentunya kita harus menjalani hidup ini dengan ridho apapun episode yang sedang kita jalani. Agama memberi petunjuk dengan dua sikap: bersyukur ketika mendapat nikmat, dan bersabar ketika mendapat musibah. Petunjuk yang singkat sangat singkat meskipun akan sangat panjang pembahasannya.

Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa keduanya akan dipertukarkan di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menetap abadi salah satunya. Jadi, ini menguatkan kita untuk penuh harap saat ditimpa musibah, dan tidak berlebihan  bersuka cita saat mendapat karunia. What a lovely life.

Duhai Allah yang Maha Kasih, ajarkan hambaMu ini untuk mencintaiMu di atas segalanya, dan mencintai segalanya hanya karenaMu… Aamiin.

Wallahu’alam

Kamis, 14 Februari 2013

Kasih Sayang yang Sesungguhnya

Kemarin, tanggal 14 Februari, anak-anak murid saya meminta diskusi tentang valentine day.  Meski sekolah sudah melarang perayaan ini, tapi rasa ingin tahu anak tak bisa dibendung. Akhirnya  saya bilang, “mari kita diskusi tentang kasih sayang saja, bukan valentine day”. Maka mengalirlah jawaban riuh rendah siswa ketika saya tanya apa makna kasih sayang menurut kalian.  Sebagian mengatakan cinta kepada lawan jenis, ada yang mengatakan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, atau sebaliknya cinta anak-anak kepada orang tua.

Dalam keriuhan itu tiba-tiba salah seorang murid laki-laki saya bertanya: “bu, bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Kontan saja pertanyaan itu mengundah komentar riuh rendah teman-temannya. Sayapun terhenyak dengan pertanyaan polos dan berani itu. Remaja tanggung usia 15-an itu nampak tersipu ketika teman-temannya akhirnya ramai-ramai menggodanya. Saya berusaha menenangkan suasana kelas dengan mengatakan bahwa pertanyaan itu sebenarnya mewakili sebagian besar kegalauan remaja, jadi mari kita diskusikan.

Saya kembalikan pertanyaan tersebut kepada siswa, “bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Sebagian besar murid saya klas X  yang kisaran usianya 15 tahunan itu hanya tersenyum malu-malu. Di mata saya mereka masih terlihat polos kekanakan. Yah mereka adalah remaja awal. Namun justru pada usia-usia ini banyak hal masih bisa diluruskan dengan lebih mudah. Pada usia remaja lebih tinggi, mereka tak kan mudah menerima begitu saja suatu penjelasan.  Menyadari itu, saya takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka membuka peluang diskusi jadi ini momen yang tepat untuk berbicara dengan mereka.

Akhirnya saya katakan bahwa fitrah kita sebagai manusia adalah memiliki rasa cinta kepada lawan jenis. Begitulah memang Allah menciptakan manusia agar manusia berkembang biak. Jadi rasa cinta kepada lawan jenis adalah perasaan normal yang dialami semua manusia normal. Tak bisa dielakkan tak bisa dihindari. Perkembangan biologis dan psikologis memungkinkan rasa cinta kepada lawan jenis berkembang di usia remaja seperti kalian. Anak-anak nampak tekun menyimak kata-kata saya.  Pertanyaan salah seorang teman kalian itu sebenarnya bisa diawali dengan pertanyaaan, “apakah rasa cinta kepada lawan jenis harus diungkapkan ?” Saya tidak menunggu jawaban murid-murid saya, kerena dilihat dari pandangan mata, mereka masih menunggu kata-kata saya.

Saya lanjutkan kata-kata saya, bahwa tidak salahnya rasa cinta itu diungkapkan. Yang menjadi salah adalah ketika gayung bersambut, dan hubungan cinta antara dua lawan jenis itu membutakan mata sehingga mengganggu kegiatan utama di sekolah yaitu belajar atau bahkan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Saya perhatikan mereka masih menyimak.  Jadi ungkapkan saja misalnya, “saya suka kamu, karena kamu baik, atau “saya suka kamu, karena kamu manis, dan karena kita masih sangat muda maka kita bersahabat saja. Insya Allah di saat yang tepat,jika memang kita berjodoh maka Allah akan mempersatukan kita.” 

Jika kita benar-benar mencintai seseorang maka kita pasti mengharapkan  yang terbaik dari orang yang kita cintai. Bukan malah merusaknya, mengganggunya, membuat prestasi belajar merosot, dan seterusnya. Ingat ya, jika memang benar orang itu mencintai kalian seharusnya rasa cinta membaikkan diri. Jika sebaliknya maka itu pasti bukan cinta.

Begitulah, namun dalam hati saya masih bertanya-tanya, khawatir kata-kata saya berpengaruh buruk terhadap siswa.

Kamis, 17 Januari 2013

Melawan Rasa Bosan

Dalam sejarah Islam diriwayatkan, ketika para sahabat pulang dari peperangan Rasulullah SAW menyampaikan bahwa jihad yang paling besar adalah jihad melawan hawa nafsu (diri sendiri). Meskipun beberapa ulama menjelaskan bahwa hadits ini dhaif, namun dalam konteks perjuangan melawan hawa nafsu agar tunduk dalam tuntunan Allah, hadits ini ada baiknya kita ikuti. Apalagi di zaman sekarang ketika perang dingin yang memerlukan jihad fisik sudah jarang terjadi dan  yang terjadi adalah godaan dunia yang bertubi-tubi, maka konteks jihadun Nafs rasanya relevan.

Diantara nafs buruk yang seringkali muncul  dalam diri kita dan harus kita lawan adalah sifat malas dan bosan. Dua jenis rasa ini saling mendukung satu sama lain dan pasti pernah kita alami. Tidak seperti jenis rasa lain yang jelas diketahui penyebabnya, rasa bosan dan malas kadang datang menyergap tanpa alasan yang jelas. Rasa bosan membuat kita malas melakukan apa saja. Dan jika memaksakan untuk melalukan aktivitas rutin hasilnya pasti asal-asalan bahkan bisa jadi tidak ada hasilnya sama sekali.

Dalam kondisi itulah saatnya kita berperang melawan diri sendiri.  Dan seperti dikemukakan dalam riwayat di atas, berperang melawan rasa bosan dan malas yang menghinggapi diri sendiri  perlu tekad yang kuat dan usaha yang ekstra. Aku sendiri sering melakukan perlawanan terhadap dua rasa yang mengganggu ini.  Biasanya aku lakukan dengan cara meluangkan waktu dengan melakukan hal-hal yang aku senangi. Bahkan ketika rasa bosan dan malas hadir di saat jam-jam sibukpun, aku ‘terpaksa’ melupakan segala kesibukan dan melakukan hal-hal ringan yang aku senangi misalnya membaca novel atau cerita fiksi, atau berbincang ringan dengan siswa atau sesama guru.

Seperti pagi itu, aku disergap rasa bosan yang amat sangat, bahkan untuk ngobrol saja malas. Untungnya hari itu tidak ada jadwal mengajar. Sejak duduk di belakang meja kerja dan menghidupkan laptop, aku tidak tahu dan tidak mau berbuat apa-apa rasanya. Barangkali teman-teman menyangka aku sedang sibuk karena tidak ada obrolan atau candaan seperti biasanya. Hingga jam 10.00 pagi, kondisi tidak juga juga berubah membaik. Ah, ini tidak bisa dibiarkan, ujarku dalam hati. Banyak pekerjaan harus diselesaikan. Akhirnya, aku putuskan untuk ke perpustakaan. Sepertinya enak, tiduran sambil membaca buku di perpustakaan. Siapa tahu ada bacaan ringan yang menginspirasi.

Setelah di perpustakaan, aku bertanya kepada teh Linda petugas perpustakaan, buku apa yang menurutnya menarik. Dia memberikan satu buku novel remaja karya Asma Nadia berjudul  “Serenade Biru Dinda”. “Ini menarik”, tanyaku setengah tidak percaya. Dalam kondisi normal, buku jenis ini sepertinya tak akan aku lirik. Bukan karena tidak bagus, tapi telalu ringan dan fiksi banget. Rasanya sudah bukan masanya. Namun menghargai teh Linda buku itupun aku ambil dan aku tambahkan dua buku lagi yaitu biografi Steve Jobs dan Bulughul Maram. Meski agak berlebihan aku bawa tiga buku yang bermacam-macam tema itu. Aku fikir, jika salah satu tidak menarik aku gampang menggantinya tanpa harus kembali ke jajaran rak buku. Setelah menemukan tempat yang nyaman dan agak tersembunyi, aku membaringkan diri di situ dan mulai membaca. Pertama aku buka novel itu dan mulai membacanya. Meski jenis bacaan ringan, Asma Nadia memang bisa menjadi jaminan sebuah buku yang enak dibaca.  Kalimatnya mengalir lancar dan alur ceritanya terkesan natural meski agak berlebihan. Tak terasa aku larut dalam bacaan itu, bahkan berurai-urai air mata. Hehe. Untung tempatku membaca tersembunyi jadi tidak ada yang tahu. Sesuai dengan judulnya, novel ini memang menyajikan kisah pilu tokoh utamanya. Namun dengan genre penulis Islam, Asma Nadia mengakhiri kisahnya dengan kembali ke Allah dan happy ending.

Tak sampai satu jam aku telah menyelesaikan buku itu. Subhanallah wal Hamdulillah, selesai membaca buku itu tiba-tiba semangatku kembali pulih. Rupanya menangis dengan sebab apapun, saat ini karena larut dalam bacaan, dapat mengembalikan semangat yang hilang. Rasa bosan dan malas yang tak jelas asal-usulnya itu tiba-tiba menguap begitu saja. Akhirnya setelah mengucapkan terimakasih kepada teh Linda, aku kembalikan buku-buku itu di raknya, dan aku kembali bekerja.  Alhamdulillah.

Rasa bosan dan malas adalah ciptaan Allah maka pasti ada manfaatnya dalam porsinya yang pas.  Rasa bosan dan malas dalam porsi yang pas, sebenarnya menjadi semacam pertanda ada yang tidak sesuai dari apa yang saat ini sedang kita alami. Bisa jadi, pekerjaan kita sudah tidak lagi menantang sehingga pertanda kita harus memilih pekerjaan yang lain atau menambah porsi tantangan. Atau, karena lingkungan kita sudah tidak lagi kondusif, dan sebagainya.  Jadi, rasa bosan dan malas bisa menjadi pertanda baik untuk kita naik tingkat jika kita dapat menyikapinya dengan benar.

Wallahu’alam








Minggu, 13 Januari 2013

Apakah karena Faktor Keturunan?

Seorang teman menceritakan kegalauannya melihat putrinya yang masih duduk di bangku kelas SMP sudah tertarik dengan lawan jenis. Meski hubungan mereka belum termasuk pacaran, namun dari kata-kata dan sikap sudah mengarah  ke pacaran.  Teman saya ini sudah hampir putus asa bagaimana menghadapi putrinya. Saya katakan, coba saja diajak dialog baik-baik apa, karena pada saat anak remaja, melarang saja tanpa penjelasan cukup berbahaya. Dengan setengah putus asa, teman saya ini berkata, apa perilaku anaknya karena faktor keturunan? Dia bercerita bahwa waktu SMP sudah mulai pacaran. Olalala...

Teman saya ini sudah menjalani kehidupan rumah tangganya secara Islami sejak awal pernikahan. Anak-anaknya di sekolahkan di sekolah Islam, dan di rumahpun orangtua memberi contoh pendidikan yang Islami. Segala jerih payah itu seolah tak ada artinya saat dia menghadapi kenyataan putrinya mulai berpacaran pada usia yang sama saat dia mulai berpacaran. Dan sepertinya, dia mulai meyakini bahwa perilaku putrinya dipengaruhi faktor keturunan.

Apakah perilaku/karakter seseorang dipengaruhi oleh faktor keturunan atau pendidikan/pembiasaan menjadi diskursus yang menarik hingga kini. Menurut saya kedua faktor tersebut memang berpengaruh hanya intesitasnya berbeda. Saya sendiri cenderung pada yang kedua, bahwa faktor pendidikan/pembiasaanlah yang dominan mempengaruhi perilaku seseorang. Faktor genetik bisa saja menjadi dominan jika pendidikan yang diterima seseorang tersebut mendukung tumbuhnya perilaku yang sama dengan kedua orangtuanya. Dalam hal ini berarti pendidikan yang diterima seorang anak, sama persis dengan model pendidikan yang diterima ayah atau ibunya.

Menjadikan faktor keturunan sebagai penyebab perilaku seseorang adalah ungkapan pesimistis. Seolah sifat/perilaku itu sudah takdir yang tidak dapat diubah. Jika ini yang diyakini, maka perilaku kita akan cenderung pasif. Kembali ke cerita teman saya di atas,saya sampaikan jika ingin mencari penyebab perilaku anak-anak kita, maka yang pertama harus disalahkan adalah diri sendiri. Benarkah orangtua sudah mendidik dengan baik? Sudahkah memenuhi kebutuhannya tidak saja fisik tapi juga psikis seperti kasih sayang, kenyamanan, rasa dibutuhkan dan diakui keberadaannya. Rupanya teman saya ini cukup pendiam jika di rumah. Dia bukan tipe yang senang berbincang, sehingga ketika di rumah, masing-masing sibuk dengan urusannya. Alhasil,  menurutnya, putrinya ini jika di rumah lebih asyik dengan handphonenya dibanding berbincang dengan saudara-saudaranya atau orangtuanya.

Mendengar penuturannya, saya katakan kepada teman saya itu bahwa dia harus hati-hati. Saya khawatir cowok yang dicintai putrinya pandai bicara, merayu, dan berkata-kata manis. Perasaan diperhatikan, dinomorsatukan, dipuji, dengan kata-kata manis, yang jarang dia peroleh di rumah telah mengisi kekosongannya selama ini. So, tidak ada gunanya memarahinya, karena sedikit banyak ini salah orang tua. Sebaiknya orangtua mulai meluangkan waktu untuk berbincang dengan anak, mengetahui keinginan-keinginannya, kegalauannya dan teman-temannya.

Lebih dari itu, orangtua harus memohon pertolongan Allah agar anak-anaknya dapat terhindar dari perilaku yang akan merugikannya.

Wallahu'alam

Kamis, 03 Januari 2013

Mimpi


Pagi ini selesai melakukan aktivitas pagi; memasak, baca koran, mandi dan shalat dhuha, aku mulai mengumpulkan buku-buku  tentang ekonomi Islam, materi yang akan aku ajarkan di semester ini. Sudah seminggu ini sebenarnya aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pembelajaran yang akan dimulai senin 7 Januari besok. Namun persiapan itu belum sampai ke buku-buku. Aku masih merapikan program semester, analisis kompetensi, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Segala administrasi  itu memakan waktu yang tidak sedikit.  Apalagi sudah setahun ini aku tidak mengajar ekonomi Islam. 

Namun demikian, aku tadi malam terbangun dengan mimpi yang aneh tapi nyata. Dalam mimpiku aku sedang mengajar tapi murid-muridku asyik dengan kegiatannya masing-masing, dan kondisi itu membuatku marah. Astaghfirullah. Mimpi itulah yang membuatku bersemangat untuk mempersiapkan materi pembelajaran dengan baik.  Akhirnya aku temukan empat buku tentang ekonomi Islam dan satu buku yang tidak ada kaitannya dengan ekonomi Islam namun menarik perhatianku. Buku itu berjudul Memories, dreams, reflections tulisan Carl Gustav Jung. Bagi yang pernah belajar psikologi nama Carl Gustav Jung tentu tidak asing lagi. Bersama seniornya Sigmund Freud dan Alfred Alder, menjadi pelopor dalam teori psikoanalisis. Buku lama C.G. Jung ini menarik perhatianku, karena seperti seniornya dan sekaligus gurunya Sigmund Freud, C.G. Jung juga konsen ke masalah-masalah alam bawah sadar salah satunya tentang mimpi. Mimpi yang dimaksud disini adalah pengalaman yang terjadi ketika kita sedang tidur.

Aku sendiri termasuk pemimpi, alias sering bermimpi dalam tidur. Bahkan mengalami mimpi-mimpi yang menurutku spektakuler yang sulit ditafsirkan, namun juga mimpi-mimpi yang nyata seperti mimpiku tadi malam. Kadang ada orang yang lebih sering aku temui dalam mimpi dibanding di alam nyata. Beberapa mimpiku ada yang menjadi firasat sesuatu yang akan terjadi atau bahkan tidak berarti apa-apa. Aku sendiri lebih senang menganggap mimpiku  sebagai kembangnya tidur. Sepertinya indah sekali jika setiap tidur mengalami mimpi.

Berbeda denganku yang hanya menganggap mimpi sebagai kembangnya tidur, Jung menjadikan mimpi dan kejadian di alam bawah sadar menjadi kajian ilmiah yang melahirkan teori-teori dalam psikologi. Dalam buku setebal 568 halaman ini, Jung mengungkapkan fakta, hipotesis dan teori-teorinya.  Tentang mimpi Jung menulis “..biasanya kita membuang petunjukyang dikirim alam bawah sadar-melalui mimpi- misalnya , karena yakin permasalahan tersebut tidak mudah dijawab. Namun,  saya berargumen bahwa jika ada sesuatu yang tidak kita ketahui, maka kita harus menempatkannya sebagai permasalahan intelektual.” Itulah yang mendasari Jung untuk tidak berhenti mengkaji alam bawah sadar sebagai bagian dari ilmu psikologi. Bahwa gejala jiwa tidak saja dapat dianalisis melalui alam sadar yang tampak.

Tentang mimpi Jung menuliskan teorinya begini:
“Mimpi adalah sebuah pintu kecil yang tersembunyi di dalam ceruk jiwa paling dalam dan paling rahasia, terbuka untuk jiwa pada dunia malam kosmis, jauh sebelum munculnya kesadaran ego, dan akan menetap di jiwa, tak peduli seberapa jauh kesadaran ego akan memperluas dirinya. Semua bentuk kesadaran berdiri terpisah-pisah; namun di dalam mimpi, kita mengenakan segala kesamaan dari manusia yang lebih universal, lebih nyata, lebih abadi. Di sana ia masih menjadi keseluruhan, dan keseluruhan itu masih berada dalam dirinya, tak terbedakan dari alam dan terlepas dari segala ego. Dari kedalaman tempat menyatunya segala hal inilah muncul mimpi.”

Teorinya tersebut mungkin agak sulit dipahami. Namun demikian segala jerih payahnya meneliti alam bawah sadar layak kita apresiasi. Sebagian besar kita seperti yang disebutkan dalam argumentasinya di awal, lebih suka membuang apa-apa yang sulit dipahami.  Jung sendiri pernah mengesampingkan buku Freud yang berjudul “the interpretation of dreams”, karena belum bisa memahaminya.Freud dengan teori psikoanalisisnya membagi alam jiwa menjadi 3 yaitu alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Mimpi adalah bagian dari kehidupan di alam bawah sadar.

Bagiku sendiri, ternyata alam sadar dan alam bawah sadarku sama-sama sibuknya.

Wallahu'alam

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...