Kamis, 03 Januari 2013

Mimpi


Pagi ini selesai melakukan aktivitas pagi; memasak, baca koran, mandi dan shalat dhuha, aku mulai mengumpulkan buku-buku  tentang ekonomi Islam, materi yang akan aku ajarkan di semester ini. Sudah seminggu ini sebenarnya aku mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pembelajaran yang akan dimulai senin 7 Januari besok. Namun persiapan itu belum sampai ke buku-buku. Aku masih merapikan program semester, analisis kompetensi, silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Segala administrasi  itu memakan waktu yang tidak sedikit.  Apalagi sudah setahun ini aku tidak mengajar ekonomi Islam. 

Namun demikian, aku tadi malam terbangun dengan mimpi yang aneh tapi nyata. Dalam mimpiku aku sedang mengajar tapi murid-muridku asyik dengan kegiatannya masing-masing, dan kondisi itu membuatku marah. Astaghfirullah. Mimpi itulah yang membuatku bersemangat untuk mempersiapkan materi pembelajaran dengan baik.  Akhirnya aku temukan empat buku tentang ekonomi Islam dan satu buku yang tidak ada kaitannya dengan ekonomi Islam namun menarik perhatianku. Buku itu berjudul Memories, dreams, reflections tulisan Carl Gustav Jung. Bagi yang pernah belajar psikologi nama Carl Gustav Jung tentu tidak asing lagi. Bersama seniornya Sigmund Freud dan Alfred Alder, menjadi pelopor dalam teori psikoanalisis. Buku lama C.G. Jung ini menarik perhatianku, karena seperti seniornya dan sekaligus gurunya Sigmund Freud, C.G. Jung juga konsen ke masalah-masalah alam bawah sadar salah satunya tentang mimpi. Mimpi yang dimaksud disini adalah pengalaman yang terjadi ketika kita sedang tidur.

Aku sendiri termasuk pemimpi, alias sering bermimpi dalam tidur. Bahkan mengalami mimpi-mimpi yang menurutku spektakuler yang sulit ditafsirkan, namun juga mimpi-mimpi yang nyata seperti mimpiku tadi malam. Kadang ada orang yang lebih sering aku temui dalam mimpi dibanding di alam nyata. Beberapa mimpiku ada yang menjadi firasat sesuatu yang akan terjadi atau bahkan tidak berarti apa-apa. Aku sendiri lebih senang menganggap mimpiku  sebagai kembangnya tidur. Sepertinya indah sekali jika setiap tidur mengalami mimpi.

Berbeda denganku yang hanya menganggap mimpi sebagai kembangnya tidur, Jung menjadikan mimpi dan kejadian di alam bawah sadar menjadi kajian ilmiah yang melahirkan teori-teori dalam psikologi. Dalam buku setebal 568 halaman ini, Jung mengungkapkan fakta, hipotesis dan teori-teorinya.  Tentang mimpi Jung menulis “..biasanya kita membuang petunjukyang dikirim alam bawah sadar-melalui mimpi- misalnya , karena yakin permasalahan tersebut tidak mudah dijawab. Namun,  saya berargumen bahwa jika ada sesuatu yang tidak kita ketahui, maka kita harus menempatkannya sebagai permasalahan intelektual.” Itulah yang mendasari Jung untuk tidak berhenti mengkaji alam bawah sadar sebagai bagian dari ilmu psikologi. Bahwa gejala jiwa tidak saja dapat dianalisis melalui alam sadar yang tampak.

Tentang mimpi Jung menuliskan teorinya begini:
“Mimpi adalah sebuah pintu kecil yang tersembunyi di dalam ceruk jiwa paling dalam dan paling rahasia, terbuka untuk jiwa pada dunia malam kosmis, jauh sebelum munculnya kesadaran ego, dan akan menetap di jiwa, tak peduli seberapa jauh kesadaran ego akan memperluas dirinya. Semua bentuk kesadaran berdiri terpisah-pisah; namun di dalam mimpi, kita mengenakan segala kesamaan dari manusia yang lebih universal, lebih nyata, lebih abadi. Di sana ia masih menjadi keseluruhan, dan keseluruhan itu masih berada dalam dirinya, tak terbedakan dari alam dan terlepas dari segala ego. Dari kedalaman tempat menyatunya segala hal inilah muncul mimpi.”

Teorinya tersebut mungkin agak sulit dipahami. Namun demikian segala jerih payahnya meneliti alam bawah sadar layak kita apresiasi. Sebagian besar kita seperti yang disebutkan dalam argumentasinya di awal, lebih suka membuang apa-apa yang sulit dipahami.  Jung sendiri pernah mengesampingkan buku Freud yang berjudul “the interpretation of dreams”, karena belum bisa memahaminya.Freud dengan teori psikoanalisisnya membagi alam jiwa menjadi 3 yaitu alam sadar, alam bawah sadar, dan alam tidak sadar. Mimpi adalah bagian dari kehidupan di alam bawah sadar.

Bagiku sendiri, ternyata alam sadar dan alam bawah sadarku sama-sama sibuknya.

Wallahu'alam

Saat Ada Hati Yang Lain

 “Aku pengin ketemu, ada yang ingin aku ceritakan, tolong datang ya”, bunyi sms siang itu. Seorang teman lama, dulu kami pernah sangat akrab. Sempat beberapa lama kami loss of contact setelah masing-masing kami menikah dan pindah keluar kota. Suatu saat aku berkesempatan mengunjunginya dan menemukan keluarga yang dimataku bahagia. Ya, temanku ini memiliki anak-anak yang tidak saja cantik dan ganteng tapi juga pintar seperti kedua orang tuanya. Maka saat sore itu  ada waktu senggang aku sempatkan memenuhi permintaannya , sekaligus bersilaturahmi setelah lama tidak bertemu.

Setelah bercipika-cipiki, temanku itu langsung ke pokok persoalan yang membuatku terhenyak. “Sepertinya aku memang sangat mencintainya”, ujarnya menerawang. “Aku tak mungkin menceritakan ini kepada suamiku, dia sangat baik tak mungkin aku menyakitinya”, ujarnya nyaris seperti berkata kepada diri sendiri. “Tapi rasa ini sungguh menyiksa”, lanjutnya. Aku menahan diri untuk menyela pembicaraannya. Kubiarkan dia terus berkat-kata. “Tak sengaja kami bertemu, setelah bertahun-tahun terpisah. Kami pernah saling mencintai dulu, dank arena ego masing-masing diantara kami, kami berpisah tidak dengan baik-baik. Ada kesalahpahaman yang tidak tuntas. Dia pergi dengan marah, akupun terluka.” Ujarnya sendu.

“Aku merasa bersalah, rumah tangganya tidak bahagia”, katanya melanjutkan. Oh ternyata, mereka sudah banyak berkomunikasi,  batinku.  “Awalnya kami hanya hanya ingin saling bercerita setelah lama tak bertemu. Darinya aku tahu bahwa selama ini dia mencariku, ingin mengetahui keberadaan dan kabarku, tapi seolah kami selalu berselisih jalan.” Dia terus bercerita. “Aku mencintainya, sangat mencintainya.” Ujarnya kelu. “Aku tak sanggup menyimpannya sendiri, tolong aku’, ujarnya mengakhiri. “Aku tidak berbuat macam-macam, kami hanya bicara di telepon, sms, dan bbm, kami menghindari pertemuan”, katanya tanpa ditanya, seolah menangkap kerisauanku.

Aku melihat sinar duka dimatanya. Dia yang memiliki konsep ideal tentang sebuah keluarga, dan menjalani rumah tangga seperti konsep yang diidealkan kini dihadapkan pada situasi sulit; tanggungjawab di depan mata, dan hati  lain yang tanpa disadari  masih tersimpan rapi dalam lubuk hatinya yang terdalam dan kini hadir kembali. Dalam kondisi seperti ini, tentu saja aku tak akan menjustifikasinya dengan dalil agama atau norma sosial bahwa itu dosa dan pengkhianatan. Dia yang berpendidikan dan menjalankan agama dengan patuh itu tak sanggup menahan rasa cinta yang tiba-tiba menyambar hatinya. Siapa yang menyangka akan menghadapi situasi ini. Oh Allah, bagaimana ini.

Aku prihatin dengan keadaannya. Aku juga khawatir jika hal ini akan mengusik kebahagiaan keluarganya. Akhirnya aku hanya bisa bilang, “serahkan pada Allah segala rasa itu, Dia  pemilik dan pencipta rasa cinta  tentu takkan menyia-nyiakan ciptaanNya. Serahkan dan mintalah petunjuk kepadaNya, dan biarlah Dia yang memutuskan. Insya Allah segala keputusanNya pasti baik dan melegakan.” Serahkan saja, dan jangan biarkan hatimu memihak”. Kamipun berpisah. Sambil berangkulan dia bilang “Jangan bosan membalas smsku, sepertinya aku akan banyak curhat lewat sms”.

Sepanjang jalan aku tak berhenti memikirkannya.  Apa yang terjadi dengan temanku, mungkin saja juga terjadi pada pasangan-pasangan yang lain. Aku tahu, temanku tak akan meninggalkan keluarganya, sebesar apapun rasa cinta pada hati yang lain itu menggodanya. Tetapi menjalani hidup dengan menyimpan hati yang lain tentu tidak membahagiakan. Aku mengenal suaminya, dia laki-laki yang baik berpendidikan dan tanggung jawab. Dari tampilan luar semua orang menilai mereka pasangan serasi dan keluarga yang bahagia. Aku tak henti bertanya, mengapa kehadiran sekilas cinta di masa lalu bisa mengoyak batinnya. Apa yang salah, dan bagaimana menyikapinya.

Meskipun temanku itu tidak menceritakan hal ini kepada suaminya, apakah suaminya tidak tahu. Aku yakin, suaminya merasakan perubahan itu, meski mungkin tidak terlalu jelas penyebabnya. Dan seandainya suaminya akhirnya tahu, aku berharap suaminya akan memahami kondisi temanku. Memahami bahwa sebelum menikah dengannya ada masa lalu yang tidak tuntas. Bahwa tidak semua pasangan suami istri menikah dengan seseorang yang pernah menjadi cinta pertamanya. Kesadaran ini diperlukan sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan seperti ini.

Mengapa keharmonisan rumah tangga yang telah dibinanya sekian tahun seolah pupus oleh kehadiran cinta lamanya? Bisa jadi selama ini, mereka sibuk dengan pekerjaan, anak-anak, dan dunianya masing-masing, tak sempat merawat tumbuhan cinta yang sempat mekar di awal-awal pernikahan.  Sudah berapa lama tidak saling memuji dan mengungkapkan kata-kata cinta. Sehingga kehadiran cinta pertamanya membuatnya kembali terkenang pada keindahan cinta masa lalu. Jadi kesalahan bisa saja terletak pada kedua belah pihak yang tidak merawat apa yang sudah diamanahkan.

Dengan kesadaran itu, alangkah baiknya jika suami mau membantu temanku itu menuntaskan masa lalunya. Dengan perhatian dan kasih sayang suaminya aku yakin temanku akan berhasil keluar dari kemelut cinta lamanya. Sebaliknya, jika suaminya tidak bisa memahaminya, dan justru memarahinya dan menuduhnya khianat, aku khawatir segalanya akan berakhir buruk. Oh, semoga ini tidak terjadi.

Perasaan cinta itu seperti halnya perasaan-perasaan lain memang sulit dihindari, tapi  bisa dikendalikan.



Wallahu'alam



Rabu, 02 Januari 2013

Evaluasi dan Resolusi


Kemeriahan pesta telah usai, meninggalkan lelah dan sampah yang berserakan tak tentu arah. Dimana-mana di seluruh dunia   melakukan pesta serupa menyambut tahun baru, seolah waktu akan berhenti bergulir jika tidak disambut. Dan ketika detik-detik pergantian tahun akhirnya bergulir segera disambut meriah oleh dentuman mercon dan nyala kembang api. Semua yang berpesta bersorak-sorai, berdesakan, meniup terompet dan hingar bingar lainnya. Mengapa kegembiraan itu begitu meluap sedang waktupun tetap berdetak sama, dan malampun masih menyelubungi diri dengan misterinya.

Alhamdulillah, sejak remaja dan mulai menangkap fenomena kemeriahan pesta tahun baru, aku tak pernah tertarik untuk bergabung didalamnya. Apalagi sekarang, disaat usiaku sudah tidak remaja lagi. Tentu saja aku tak hendak menyalahkan mereka yang berpesta. Setiap orang memiliki pilihan-pilihan hidupnya masing-masing. Aku sendiri memilih tidur cepat, agar bisa bangun lebih awal untuk memanfaatkan waktu-waktu utama di sepertiga malam terakhir. Aku tak mau ketinggalan qiyammullail pertama di tahun 2013 seperti orang-orang yang berpesta itu tak hendak melewatkan detik pertama tahun 2013. Maka, ketika sebagian besar orang berpesta berangkat tidur, aku terbangun membasuh muka dan tangan dengan wudhu pertama di tahun 2013.

Di momen-momen yang dianggap istimewa ini, alangkah baiknya jika kita sedikit meluangkan waktu untuk merenung, mengevaluasi diri, bermuhasabah, menghitung-hitung lebih banyak amalan baik atau buruk yang telah kita lakukan di satu tahun yang telah lewat. Evaluasi diri baik urusan dunia maupun urusan akhirat. Untuk urusan dunia, apa saja yang pernah kita harapkan, apa yang telah kita lakukan untuk mencapainya, dan apa hasil yang kita terima. Dari itu, kita dapat menemukan apa yang kurang dan apa yang lebih dari usaha kita. Apa yang perlu diperbaiki, apa yang perlu dipertahankan dan apa yang perlu dibuang.

Untuk urusan akhirat, mari kita menghisab diri. Bagaimana amalan wajib kita, sholat, zakat, puasa, menuntut ilmu, menghormati orang tua dan guru, dsb. Apakah kita lakukan semua itu sekedar memenuhi kewajiban, atau dengan kekhusyu’an semata untuk mendekatkan diri kepada Allah? Bagaimana dengan amalan-amalan sunnah? Sudahkah aktivitas harian kita mencontoh Nabi, Rasulullah Muhammad SAW.  Apakah kata-kata yang keluar dari mulut kita berguna atau sia-sia bahkan menyakitkan orang lain? Berkatalah yang baik atau diam, kata Nabi. Apakah kita sudah menghormati tetangga, tamu dan keluarga. Apakah kita sudah manafkahi diri dan keluarga dengan rejeki yang halal? Bagaimana sedekah kita, bantuan kita kepada orang lain yang membutuhkan apakah hanya ketika diminta atau dengan sengaja dan sukarela kita berikan. Dan sebagainya.

Lebih dari semua itu, apakah kita selalu ingat Allah dalam setiap denyut nafas kita, dalam setiap hal yang kita lakukan, dalam duduk dan terbaring kita, dalam suka-duka kita, dalam sempit dan lapang kita, dalam senyum dan marah kita. Apakah kita kembalikan segala urusan kepada Allah, Zat yang maha Kasih dan tak pernah pilih kasih. Tuhan yang Maha Kuasa menentukan segala sesuatu. Ridhokah kita atas segala keputusanNya? Penuh harap atau berputus-asakah kita atas rahmatNya. Berprasangka baikkah kita kepadaNya atas misteri hidup yang terkadang mengoyak jiwa. Sudahkah kita serahkan segala rasa ini kepadaNya pemilik segala rasa. Tahun baru seharusnya menjadi momen kesadaran untuk tidak menyia-nyiakan waktu.

Dari hasil evaluasi itu, mari kita songsong hari dengan kesadaran baru untuk selalu berbuat dan berkata yang manfaat. Dan agar lebih konsisten dan terarah ada baiknya resolusi awal tahun itu dituliskan. Ini akan menjadi pengingat akan target-target yang akan kita capai. Target utama dan terutama tentunya adalah menjadi manusia yang senantiasa hidup dalam bimbingan Allah SWT. Target ini membuat kita rela diatur olehNya. Bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika ditimpa musibah. Segala kejadian tidak ada yang sia-sia bagi orang beriman. Selain itu, ada baiknya kita tuliskan target-target yang konkret dan bisa diukur pencapaiannya.

Dan karena tujuan dari semua tindakan kita adalah kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, maka kita perlu panduan untuk merengkuhnya. Al Quran surah Al Mu’minuun (surah 23) ayat 1-11 dapat menjadi panduan mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Bismillahirrahmanirrohiim 
1.       Sungguh beruntung orang-orang yang beriman
2.       (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya
3.       dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna 
4.       dan orang yang menunaikan zakat 
5.       dan orang yang memelihara kemaluannya 
6.       kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya 
mereka tidak tercela 
7.       tetapi barangsiapa mencari dibalik itu (zina, dsb), maka mereka itulah orang yang melampaui batas
8.       dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya 
9.       serta orang yang memelihara shalatnya 
10.   mereka itulah orang yang akan mewarisi 
11.   (yakni) yang akan mewarisi sorga (firdaus). Mereka kekal di dalamnya

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.





DT, Catatan Akhir Tahun

DT atau  pesantren Daarut Tauhiid, bagi sebagian orang sudah cukup terkenal. Pesantren yang terletak di jalan Geger Kalong Gilang atau tepat di belakang Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung ini merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal. Ketenaran pesantren ini sejalan dengan kepopuleran KH. Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym pendiri pesantren ini.  Akhir tahun 90-an hingga sepanjang tahun 2000-an menjadi puncak kepopuleran Aa Gym. Pengajian-pengajian yang beliau adakan baik di DT maupun di tempat manapun selalu dihadiri ribuan orang. Hal itu berdampak positif bagi perkembangan DT sehingga pesantren inipun mengalami kemajuan pesat dalam hal objek dan media dakwah maupun sarana prasarana pesantren.  Tidak saja bergerak di bidang pendidikan, pesantren ini juga mengembangkan berbagai bidang usaha dakwah seperti : MQFM (radio), MQTV (Televisi), penerbitan buku dan majalah, cottage, retail, dsb.

DT, 12 tahun silam

Akhir tahun 1999, sekitar 12 tahun lalu, aku berada diantara denyut nadi  semangat dakwah Aa Gym dan DT sebagai salah satu dari sekitar 30 (15 putri, 15 putra) santri mukim DT program 6 bulan. Iya, pada masa-masa itu program santri mukim DT hanya berkisar bulanan. Pondokan dan ruang belajar santri putri  berada tepat di seberang rumah panggung keluarga Aa Gym dan teh Ninih, sehingga memudahkan kami untuk belajar dan menangkap semangat dakwah beliau. Konsep dakwah Aa menurutku adalah “sedikit ilmu, lakukan”. Persis dengan slogannya yang terkenal “mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga”. Aa Gym sendiri turun tangan dengan memberi contoh apa-apa yang beliau sampaikan. Maka sudah menjadi keharusan bagi kami para santri selain belajar dan menjalankan amalan sunnah (qiyamullail dan puasa sunnah), adalah menjaga kebersihan dan kerapihan lingkungan pesantren.

Saat itu bintang Aa sudah mulai bersinar. Masjid DT hampir selalu dipenuhi jamaah, bahkan untuk pengajian-pengajian rutin beliau (malam Jum’at dan ba’da dhuhur), dihadiri ribuan jamaah yang rela berada di lapangan/jalanan dengan menonton dari layar lebar yang disediakan. Sebagai santri, aku mendapat tugas berkeliling diantara jamaah putri menarik infak sukarela.Maka dapat dibayangkan betapa ramainya lingkungan DT waktu itu. Keramaian itu menghidupkan aktivitas ekonomi penduduk di sekitar pesantren. Rumah makan, penginapan, toko-toko tumbuh bak jamur di musim hujan. Wanita-wanita berbusana gamis dan kerudung lebar serta pria berbaju koko dan berkopiah putih lalu lalang tiada henti. Kamipun para santri menggunakan pakaian standar, gamis polos lebar dan kerudung lebar. Dengan pakaian ini kami bisa langsung shalat tanpa perlu memakai mukena. Hampir tidakdapat ditemui wanita tanpa busana muslimah berada di lingkungan DT. Minimal pasti menggunakan kerudung, meski seadanya.

Hubungan kami para santri dengan keluarga besar Aa Gym cukup akrab. Sering ada acara kebersamaan kami lakukan dengan acara memasak bersama  teh Ninih atau keluarga Adeda (adik Aa Gym). Sehingga kami para santri cukup mengenal baik keluarga pendakwah ini.

DT, Sekarang

Akhir tahun ini, 29 Desember 2012 hingga 1 Januari, aku dan keluarga menghabiskan akhir tahun dengan berkunjung ke DT. Kami meningap di cottage Darrul Jannah milik DT. Cottage bernuansa alam dengan rumah kayu itu cukup nyaman, bersih dan murah dibandingkan tarif hotel dengan pelayanan dan fasilitas setara. Lebih dari itu, cottage ini dipilih karena masih berada di lingkungan pesantren DT.  Sebelum memilih DT, aku sempat bertanya-tanya seperti apa DT sekarang? Masih ramai seperti dulukah, atau turun drastis seperti ramai diberitakan media? Seperti apa Aa Gym dan teh Ninih sekarang?

Yah, keputusan Aa untuk menikah lagi alias berpoligami, seperti diberitakan, menimbulkan dampak pamor DT meredup saat itu. Pemberitaan gencar tentang pribadi dan pilihan Aa itu juga mempengaruhi diri Aa sebagai da’I kondang. Sebagai orang yang pernah nyantri di DT dan belajar dari beliau, aku sendiri yakin bahwa pasti Aa punya pertimbangan sendiri tidak semata fisik-emosi dalam menentukan pilihan hidupnya. Bahwa akhirnya episode itu mempengaruhi tidak saja pribadi Aa Gym namun juga DT sebagai institusi sedikit banyak sempat membuatku prihatin. Dari teman-teman yang masih tetap di DT baik mengajar maupun bekerja, aku mengikuti perkembangan DT ini.

Namun seperti setiap orang memiliki episode suka-dukanya masing-masing, Aa Gym juga manusia yang melalui berbagai episode itu. Sebagai pihak luar aku tentu saja tetap berusaha menjaga prasangka positif terhadap pilihan Aa ini. Dan diam-diam mendo’akan agar Aa dan teh Ninih dapat melalui episode ini sebagai suatu hal yang tak pernah luput dari campur tangan Allah sehingga ikhlas melaluinya. Karena, dalam setiap episode hidup, yang penting adalah bagaimana mensikapinya. 

Hari sudah siang, ba’da dhuhur  ketika aku tiba di DT. Pesantren dan masjid kebanyakan diisi tamu dan warga sekitar karena santri-santri DT dari TK hingga SMA DT sedang libur. Namun ada sedikit pemadangan yang menggangguku di lingkungan DT sekarang. Dahulu hampir tidak aku temukan wanita tanpa kerudung berada di DT, namun sekarang beberapa kali aku temukan perempuan-perempuan menggunakan pakaian pas-pasan (kaos ketat, celana jins, bahkan ada yang menggunakan celana pendek) berada di lingkungan pesantren bahkan di masjid. Semoga mereka segera mendapat hidayah. Aamiin.

Hari pertama di DT, tanggal 29 Desember, Aa Gym sedang tidak di Bandung. Namun meski tidak ada Aa Gym, kegiatan rutin di masjid tetap berjalan. Ba’da shalat Ashar diisi dengan membaca Al Matsurot, sedangkan ba’da Maghrib diisi dengan kajian tafsir rutin oleh ustadz-ustadz yang sudah dijawalkan mengisi kajian rutin ba’da Maghrib. Besoknya, tanggal 30 Desember hari minggu, kegiatan masjid Dt cukup padat. Diawali, siaran langsung manajemen qolbu pagi ba’da subuh jam 05.00-06.00. Siaran MQ pagi disiarkan langsung melalui radio MQFm dan sudah berlangusng sejak tahun 90-an. Karena Aa Gym tidak di masjid DT maka kami mendengarkan dari radio yang diperdengarkan di masjid. Dan setelah 30 menit Aa ceramah dilanjutkan oleh ustadz Fahrudin dari masjid DT. Kajian berikutnya jam 10.00-12.00, adalah kajian untuk umum, lalu kajian muslimah oleh teh Ninih ba’da dhuhur. Sesuai namanya kajian ini khusus untuk muslimah. Hari itu juga, ternyata Aa Gym datang di DT. Pada saat shalat ashar, terdengar suara khas Aa Gym mengimami shalat Ashar. Ba’da Ashar, Aa Gym member sedikit tausiah dan menyapa para tamu ang datang ke DT.

Alhamdulillah, tiga malam di DT kemarin membukakan mataku bahwa Aa dan teh Ninih perlahan berangsur menunjukkan kualitas pribadi yang ikhlas diatur oleh Allah. Setidaknya begitulah yang aku saksikan. Dan DT sebagai institusi kembali ramai dan berkembang sebagai sentra dakwah. Bahkan, sudah mulai membangun dan mengembangkan beberapa cabang. Subhanallah, benar janji Allah bahwa setiap kejadian bahkan sekecil apapun sebesar zarah tidak ada yang sia-sia dalam pandangan Allah, asal kita benar mensikapinya. 

Perkembangan DT sekarang menurut pengamatanku, mulai berubah sistemik dan ‘menghindarkan’ bergantung dari figure AaGym semata. Meski tidak dapat dihindari, masih banyak orang yang berharap mendengar ceramah-ceramah Aa. Tentu saja ini ini boleh dibilang  sebagai hikmah dari suatu kejadian yang di mata orang masih dianggap masalah. DT sekarang mengembangkan sekolah-sekolah formal yang dilandaskan ruhiah Islamiah. Sebagai orang yang pernah belajar disini, aku mensyukuri perkembangan ini. Kejadian ini sekali lagi memberi contoh bahwa dalam tuntunan dan keyakinan akan pertolongan Allah setiap kejadian adalah sumber kebaikan. 

Seburuk apapun kejadian menurut ukuran manusia tetap akan menjadi kebaikan asalkan kita mampu menyikapinya dengan benar. Dan sebaliknya, sebaik apapun kejadian menurut pandangan manusia, jika menyikapinya salah, akan berakhir menjadi keburukan. Subhanallah.

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...