Jumat, 05 Oktober 2012

One Moment in My Life (1)

Pagi itu jam 7.30 ketika aku  sampai di kantor PT. Tiga Utama di bilangan Senen Jakarta Pusat, belasan tahun yang silam. Belum ada yang datang, baru ofice boy yang sudah hampir selesai membereskan ruangan. Sudah tiga bulan terakhir aku bekerja di kantor ini, mengemban amanah dari KAP. Usman dan Rekan untuk membantu membenahi sistem akuntansi perusahaan biro perjalanan haji ONH plus terbesar waktu itu. Tempat kosku yang cukup jauh di daerah Cipulir Kebayoran Lama membuatku lebih nyaman berangkat  pagi-pagi. Selain bisa hadir tepat waktu, juga terhindar dari macet dan mendapat tempat duduk di bis kota yang membawaku dari blok M ke Senen. Waktu itu jalanan belum semacet dan seramai sekarang. Sehingga perjalanan Kebayoran Lama-Senen dapat ditempuh dalam waktu 1 jam saja.

Aku sedang bersiap-siap untuk memulai tugasku hari itu ketika bos Tiga Utama, bapak Ande Abdul Latief datang. Beberapa teman terlihat juga sudah hadir. Entah kenapa beliau langsung mendatangi mejaku, dan mengatakan "kamu siap-siap untuk berangkat bersama rombongan haji Tiga Utama tahun ini ya"! Degg, rasanya aku tak percaya.  "Bener pak?", tanyaku tak percaya. "Iya, segera urus paspor", jawab beliau. Baik Pak, jawabku buru-buru". Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa Ila ha Illallah. Kusempatkan untuk shalat dhuha pagi itu dan sujud syukur atas karunia Allah yang tak terhingga ini.

Usiaku menjelang 23 tahun waktu itu, belum lama hijrah ke Jakarta. Sebagai karyawan baru di perusahaan swasta, gajiku waktu itu hanya cukup untuk membiayai  hidup sehari-hari. Hari-hariku  diisi dengan bekerja dari senin hingga Jum'at. Sabtu istirahat, dan minggu seharian ngaji di pengajian Walisongo di Kwitang Senen. Rasanya aku baru berani memimpikan hidup yang lebih baik, bertemu jodoh dan menikah.  Aku tak pernah bermimpi ini, bahkan untuk sekedar berniat menunaikan ibadah haji dalam waktu dekat. Apalagi haji ONH Plus yang biaya terendah  US$ 6.000.  Terbersit tanya "why me Allah"? Dan Allah sepertinya menjawab, "engkau harus tahu, bahwa Aku Maha Kuasa, KehendakKu mutlak. Jika Aku menghendaki kebaikan itu mudah bagiKu, seperti juga sebaliknya. Begitulah yang kupahami saat itu.

Berita gembira ini tentu saja langsung aku kabarkan kepada Bapak dan Ibu di kampung, saudara-saudara, dan teman-teman. Mereka semua tidak menduga. Tapi begitulah yang terjadi. Urusan pasporpun cukup lancar. Hingga hari keberangkatanku ke tanah sucipun tiba. Hanya kakakku seorang diri yang mengantar. Itupun cuma sampai kantor. Setelah itu kami rombongan berangkat ke bandara menggunakan bis. Inilah pengalaman pertamaku naik pesawat. Saat itu, kami menggunakan pesawat Saudi Airlines. Kami  menempati kabin atas. Kabin yang nyaman, dengan kursi-kursi yang besar dan lapang membuat kami bisa tidur sambil selonjoran selama 9 jam perjalanan di atas pesawat. Saat itu yang terbersit dalam fikiranku adalah 'ternyata naik pesawat nyaman sekali ya'. Apalagi dengan layanan full service yang memanjakan. Baru tahu aku sekarang, ternyata kami menempati kelas penerbangan eksekutif waktu itu. Subhanallah..Alhamdulillah.
Sejak itu kuikhlaskan hidupku untuk diatur olehNya.

Kamis, 04 Oktober 2012

Tentang Panggilan Allah

Menjelang bulan Dzulhijah ini, kembali jutaan umat muslim seluruh dunia mulai bergerak ke tanah suci saja menjawab panggilan Allah. Gema..Labbaik Allahumma Labbaik...bergaung dimana-mana membubung ke langit. Tidak memandang suku, ras, bangsa, warna kulit, kekayaan, pangkat dan jabatan, semua menggunakan pakaian yang sama. Ini menunjukkan di hadapan Allah semua itu tidak lagi penting. Maka bagi jamaah calhaj penting untuk mengikhlaskan hati menjadikan Allah sebagai tujuan perjalanan dan meninggalkan kebanggaan-kebanggan dunia yang dimilikinya. Harta, tahta, keluarga terkadang membuat hati kita sombong. Menghadap Allah Yang Maha Tinggi, hendaknya kita meninggalkan segala rasa tinggi hati itu. Maka sebelum meninggalkan rumah menuju tanah suci, penting kiranya melepaskan segala atribut dan urusan dunia sehingga kuat azzam menjadikan Allah sebagai tujuan perjalanan.

Panggilan Allah untuk menunaikan ibadah haji ini boleh dibilang misteri. Tak jarang kita temui, muslim yang berkecukupan belum dapat memenuhi panggilan Allah dengan berbagai alasan. Namun sebaliknya, muslim yang pas-pasan nyaris tak mungkin mampu membiayai ongkos haji bahkan dapat menunaikan ibadah haji. Tidak hanya yang bersifat materi, kadangkala orang yang menurut kita "biasa-biasa saja' dalam hal kesalehan mendapat kemudahan dalam memenuhi panggilan Allah.

Panggilan Allah ini bersifat spiritual, akan sampai dan dijawab oleh hati yang secara spiritual memang merindukannya. Mendambakannya dalam setiap do'a dan tindakan, secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, disadari atau tidak disadari. Allahlah yang Maha Tahu, hati mana yang siap memenuhi panggilanNya, hati mana yang diam-diam menjadikanNya muara segala urusan. Oleh karena bagi calhaj penting menyadari ini. Bahwa dirinya memang orang yang tepat dan tepat menjawab panggilan Allah. Dengan kesadaran ini setiap jama'ah tidak akan menyia-nyiakan setiap momen ritual haji luput dari ingatan tentang Allah.

Oleh karena itu, penting sebelum berangkat ke tanah suci untuk membersihkan hati dari rasa marah dan benci. Menyelesaikan kewajiban-kewajiban dunia yang belum tuntas dan bila perlu mewasiatkan urusan-urusan penting sebelum ditinggalkan. Itu menandakan keikhlasan kita  menuju Allah. Menanggalkan pakaian yang selama ini menjadi simbol/atribut kita di mata manusia, dan menggantikannya dengan pakaian ihram tanpa perhiasan apapun yang menandakan bahwa kita sama di hadapan Tuhan.

Dan seperti diserukan berabad-abad yang silam oleh Nabi Ibrahim AS, Bapak ketauhidan kita,

"Dan serulah mereka untuk melakukan Haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau berkendaraan. Mereka akan datang dari tempat-tempat yang jauh" (QS. 22;27)

Labbaik Allahumma labbaik..









Sabtu, 22 September 2012

Galau

Entah bagaimana jalan ceritanya, kata "galau" menjadi begitu populer akhir-akhir ini. Kata ini menggambarkan segala macam keresahan yang bisa disebabkan oleh apa saja. Siapa saja bisa merasakan galau, tua-muda, kaya-miskin, laki-laki-perempuan. Namun demikian remajalah yang sering merasakan galau. Dan seperti sudah dapat dipastikan alasannya adalah masalah cinta remaja. Seperti siang itu, saya berhadapan dengan remaja tanggung yang sedang 'galau'.

Remaja tanggung murid saya itu, beberapa hari tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan, kadang sakit, kadang ijin, bahkan kadang tanpa pemberitahuan. Ketika dipanggil ke sekolah, orang tuanyapun menyerah membujuk anaknya agar mau sekolah. Dalam kondisi begini kami para guru, meminta ijin kepada orang tua agar bicara empat mata dengan siswa. Karena, seringkali anak menjadi kurang terbuka berbicara jika ada orang tuanya. Mungkin malu, takut, dan sebagainya.

"Ceritakan pada ibu, agar ibu bisa membantu masalahmu", adalah kalimat pembuka yang baik agar anak didik kita mau berbicara. Tentu saja harus diimbangi dengan niat dan kesungguhan untuk membantu masalahnya. Kesungguhan kita akan terbaca dari kekuatan efek kata-kata yaitu anak didik kita percaya pada kita dan mau berbicara. Pada awalnya murid saya ini bercerita macam-macam tentang mengapa dia malas sekolah. Untungnya saya sebagai guru di kelas sebelumnya cukup mengenalnya. Inilah pentingnya guru untuk lebih mengenali murid-muridnya tidak sekedar masalah pelajaran.  Jadi saya bisa berkata, "kamu bukan seperti yang ibu kenal". Dan saya lihat sudut matanya mulai memerah. Lalu mengalirlah dari mulutnya segala beban yang membuat hatinya galau. Olala cinta.

"Mungkin diantara kalian terdapat perbedaan yang jika dipersatukan justru akan menyakitkan satu sama lain. Allah Maha Tahu, sedang pengetahuan manusia terbatas. Apalagi jika rasa cinta yang kuat membutakan satu sama lain.Yakinlah suatu saat, engkau akan menemukan cinta sejatimu."  Remaja tanggung itu hanya diam membisu. Sudut matanya memerah menahan air mata yang ingin disembunyikan. Beban hatinya  seperti begitu berat. Tentu saja saya sebagai gurunya berusaha mengerti perasaannya. Meskipun dalam hati berkata, tidak seharusnya masalah ini membebani keremajaannya. Namun, seperti setiap orang ingin dimengerti, mencoba mengerti keadaan anak didik kita tentu akan membawa dampak yang lebih baik.

Saya tahu, kata-kata saya tidak dapat menenteramkannya saat itu. Masalah hati, tidak semudah membalik tangan atau mengganti baju. Hilang satu, beli yang baru. Hanya dia sendiri dan waktu yang dapat menyembuhkannya. Namun, dengan bercerita sedikit banyak bebannya menjadi lebih ringan. Tetap semangat nak, dunia masih terbentang luas.




Selasa, 18 September 2012

Reuni

Libur panjang seperti di bulan syawal dan halal bi halal seringkali menjadi saat yang tepat untuk reuni. Re (kembali) uni (bersatu/bersama), tentu saja berarti pertemuan dengan orang-orang yang pernah hadir di masa lalu kita. Ada reuni masa SD, SMP, SMA, kuliah, tempat kerja pertama dsb. Aku sendiri termasuk orang yang senang menghadiri reuni. Entah kenapa, reuni dengan teman-teman lama seperti mempertegas kembali jalan-jalan hidup yang pernah kita singgahi. Reuni mengingatkan kembali siapa-siapa yang pernah memberi warna hidup kita hingga seperti sekarang. Bertemu teman lama, seperti membuka kembali buku kenangan suka-duka, baik-buruk, momen-momen yang pernah kita alami.

Sabtu lalu, aku meniatkan menghadiri reuni dengan teman-teman di kantor Akuntan Usman &rekan, tempat kerjaku pertama kali di Jakarta. Awal tahun 1992, tepatnya di bulan Februari aku mulai bekerja di kantor itu dan keluar awal tahun 1999. Terhitung hampir 7 tahun, cukup lama untuk ukuran lama kerja di kantor swasta. Lingkungan kerja yang penuh kekeluargaan dan Islami membuat pendatang baru di Jakarta seperti aku ini merasa betah. Sejak keluar dari kantor itu, pernah sekali aku berkunjung ke sana dan baru kali ini bertandang lagi setelah belasan tahun tak bertemu.

Memasuki  Kebayoran Lama, jajaran apartemen dan gedung bertingkat membuatku hampir tak mengenali kawasan ini. Kawasan padat berupa pasar dan pertokoan belasan tahun silam kini berubah total. Aku mencoba mencari-cari toko-toko langganan dulu berbelanja, salon tempat kursus potong rambut buat mengisi waktu luang, semua tak kutemukan. Kawasan macet itu kini sudah berubah.

Melewati fly over menuju jalan Ciledug Raya, ternyata suasana tidak banyak berubah. Ruko-ruko berjajar sepanjang jalan masih ada. Holland bakery di kiri jalan, pertokoan kecil-kecil,dan wartel kecil di ujung jalanpun  masih ada.Bahkan nasi goreng terenak di Jakarta 'Bang Zen' terlihat bersiap memulai jualannya siang itu, masih dengan suasana warung yang tak jauh berbeda. Akhirnya memorikupun kembali pulih. Semua terbayang kembali di pelupuk mata. Ingin rasanya berhenti di ujung jalan dan mampir ke kos-kosanku dahulu. Namun aku sudah cukup terlambat untuk mampir-mampir. Teman-teman sudah menunggu. Akhirnya, aku dapat mencapai tempat reuni dengan mudah tanpa kesasar.

Tidak banyak yang bisa datang di acara ini. Tak apalah. Yang terutama pak Usman dan keluarga, pemilik dan pimpinan KAP Usman & Rekan sudah menunggu. Beliau tidak saja bos untuk urusan kantor, namun pemimpin dalam segala hal, termasuk proyek perjodohan diantara sesama karyawan. Untuk urusan ini sudah banyak yang berhasil, dan aku termasuk proyek yang gagal karena menikah tidak dengan sesama karyawan. Sebagai orang Bugis, sifat beliau tegas hampir tanpa kompromi. Makanya beliau memilih keluar dari kantor pajak tempatnya semula bekerja dan membuka KAP. Disinipun kami menjalankan roda kegiatan kantor hampir tanpa kompromi. Oleh karena itu, tentu saja tidak semua klien dapat kami layani terutama jika hendak menyalahi hati nurani. Alhamdulillah meskipun demikian, kantor ini masih bisa berjalan hingga sekarang bahkan lebih maju dan berkembang dengan berbagai divisi lain.


Beberapa teman yang berjodoh di kantor ini, hadir. Waktu seolah terhenti sesaat. Dan kami terlibat obrolan seru penuh canda tawa. Tentang masa lalu, tentang anak-anak, dan semuanya. Tak terasa waktupun bergulir sore. Dan kamipun berpisah dengan janji untuk suatu saat akan bertemu lagi. Dalam canda ria itu terselip di sela-sela hati nama seorang sahabat yang telah pergi mendahului kami semua karena kecelakaan. Kami tak membicarakannya, namun diam-diam mengenangnya. Karena keberadaanku di kantor ini dahulu karena dia. Almarhumah sahabat saya inilah yang mengajakku bekerja di kantor ini. Dan kami selalu bersama-sama berdua berpetualang di rimba Jakarta. Kuselipkan sebait do'a semoga dia berbahagia di alamnya sekarang. Allohumma firlaha warhamha wa'afii fa'fu 'anha. Aamiin. Alhamdulillah

Dalam perjalanan pulang, pelan-pelan kusenandungkan lagu kesukaannya..


"Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat

 
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati"


'Belum Ada Judul" song Iwan Fals



Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah

Pernah kita sama sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah
Kau

Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati

Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku
Sobat

Kamis, 06 September 2012

Digugu, Ditiru

"Ibu..bu Ana..kangen nih sama ibu"!, ibu ngajar lagi dong di kelas kami"! Ucapan beruntun segerombolan anak kelas XII yang sedang turun tangga ketika berpapasan denganku siang itu. "Kangen ibu omelin ya", ujarku santai. Salah seorang siswa menjawab; "kangen ketawa-ketawa yang nggak jelas". Hah.. maksudnya apa nih. Parah nih anak, masak gurunya disangka nggak beres, suka ketawa nggak jelas. "eh, maksud kamu apa ketawa-ketawa nggak jelas, maksudnya ibu nggak waras? tanyaku pura-pura serius. "Ah ibu, bukan itu. Ibu kan suka tiba-tiba intermeso cerita lucu yang gak ada hubungan dengan materi, padahal kita lagi serius, jadinya ketawa dan bikin kita nggak ngantuk". Jawabnya. "Oh, jadi cuma karena itu kamu kangen ibu"?. "Nggak juga, ibu suka ngasih motivasi" ujar salah seorang siswa. Yang lain menjawab "ibu suka ngetes" (hehehe..). Siang itupun menjadi riuh rendah.

Begitulah, kejadian itu seringkali berulang. Kadang sambil bercanda aku bilang "bosen ah lihat kamu terus" ketika siswa-siswa itu minta diajar lagi. Dan mereka nyengir aja. Murid-murid yang sudah alumni juga sering bilang begitu. Meskipun mungkin sekedar basa-basi, tentu saja menyenangkan melihat murid-murid kita senang belajar bersama kita sebagai gurunya. Dan itu terjadi ketika kita para guru juga senang belajar mengajar bersama mereka.

Istilah guru digugu dan ditiru dan/atau guruku inspirasiku memang tepat dan beralasan. Sepanjang hari, ruang kelas seperti panggung tempat guru-guru melaksanakan pertunjukan. Murid-murid melihat kita, menilai kita. Tidak saja berkaitan dengan mata pelajaran yang kita ajarkan, namun semua hal. Kepribadian guru, kecerdasan guru, cara mengajar guru, bahasa yang digunakan, ekspresi yang ditampilkan bahkan penampilan fisik setiap hari sepanjang hari dilihat dan diam-diam dinilai siswa. Maka guru sebenarnya adalah teladan atau model bagi siswa. Dan karena itu berlangsung lama (sekitar 3 tahun untuk tingkat SMP/SMA), lambat laun  apa yang ditampilkan guru, baik atau buruk, itulah yang terekam dalam benak siswa. Dan itulah guru dalam penilaian siswa.

Guru memang kunci keberhasilan pendidikan. Faktor lain, seperti sarana, buku-buku dan fasilitas lainnya hanyalah penunjang. Tanpa sarana dan fasilitas memadaipun guru hebat bisa menginspirasi siswanya untuk berprestasi. Sementara, sarana dan fasiltas lengkap tanpa guru yang menginspirasi pembelajaran berlangsung kering. Untuk menjadi guru yang menginspirasi,  guru harus kompeten dibidang ilmu yang diajarkan. Guru harus menguasai materi yang diajarkan. Untuk itu, guru harus mau terus belajar, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya. Dengan penguasaan materi, guru memahami tingkat kesulitan materi. Ini akan sangat membantu guru menentukan dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat untuk materi yang tepat.

Tidak sekedar menguasai materi, yang terutama guru harus mencintai profesinya. Guru yang mencintai profesinya akan senang mengajar, senang bertemu murid-murid dan bangga menjadi guru. Kecintaan terhadap profesi inilah yang mengilhami guru untuk terus menerus, tak kenal lelah dan bosan mendidik murid-muridnya. Tidak saja dalam hal bagaimana murid-muridnya cerdas secara akademik tapi lebih dari itu cerdas secara kepribadian dan segala hal yang dialami murid-muridnya.

Selain itu, faktor kepribadian juga penting untuk bisa menjadi guru yang menginspirasi. Guru yang ramah, percaya diri dan cerdas tentu lebih menyenangkan siswa. Membuat siswa nyaman berada di dekatnya dan senang dengan kelas yang diampunya. Guru memang teladan dalam semua hal. Bahkan penampilanpun tak luput dari penilaian siswa. Pernah suatu saat,salah seorang muridku yang perempuan berkata: "bu, saya ngefans sama ibu, karena ibu cantik". Aih...tentu dia lebay. Meskipun demikian, aku jadi mengerti ternyata bahkan penampilanpun bisa menjadi inspirasi bagi siswa, dilihat, dinilai dan bisa jadi ditiru. Sejak itu, aku berusaha menjaga penampilanku sebagai guru agar tetap rapi,bersih, dan enak dilihat meski sederhana. Tentu saja tetap dalam koridor syariah Islam.

Menyadari itu, kita sebagai guru memang tidak boleh main-main. Segala sikap, penampilan, kata-kata, dan ekspresi kita bisa diikuti oleh siswa. Contoh yang baik akan berpahala. Contoh yang buruk kita akan ikut menanggung dosanya. Naudzubillah.

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...