Libur panjang seperti di bulan syawal dan halal bi halal seringkali menjadi saat yang tepat untuk reuni. Re (kembali) uni (bersatu/bersama), tentu saja berarti pertemuan dengan orang-orang yang pernah hadir di masa lalu kita. Ada reuni masa SD, SMP, SMA, kuliah, tempat kerja pertama dsb. Aku sendiri termasuk orang yang senang menghadiri reuni. Entah kenapa, reuni dengan teman-teman lama seperti mempertegas kembali jalan-jalan hidup yang pernah kita singgahi. Reuni mengingatkan kembali siapa-siapa yang pernah memberi warna hidup kita hingga seperti sekarang. Bertemu teman lama, seperti membuka kembali buku kenangan suka-duka, baik-buruk, momen-momen yang pernah kita alami.
Sabtu lalu, aku meniatkan menghadiri reuni dengan teman-teman di kantor Akuntan Usman &rekan, tempat kerjaku pertama kali di Jakarta. Awal tahun 1992, tepatnya di bulan Februari aku mulai bekerja di kantor itu dan keluar awal tahun 1999. Terhitung hampir 7 tahun, cukup lama untuk ukuran lama kerja di kantor swasta. Lingkungan kerja yang penuh kekeluargaan dan Islami membuat pendatang baru di Jakarta seperti aku ini merasa betah. Sejak keluar dari kantor itu, pernah sekali aku berkunjung ke sana dan baru kali ini bertandang lagi setelah belasan tahun tak bertemu.
Memasuki Kebayoran Lama, jajaran apartemen dan gedung bertingkat membuatku hampir tak mengenali kawasan ini. Kawasan padat berupa pasar dan pertokoan belasan tahun silam kini berubah total. Aku mencoba mencari-cari toko-toko langganan dulu berbelanja, salon tempat kursus potong rambut buat mengisi waktu luang, semua tak kutemukan. Kawasan macet itu kini sudah berubah.
Melewati fly over menuju jalan Ciledug Raya, ternyata suasana tidak banyak berubah. Ruko-ruko berjajar sepanjang jalan masih ada. Holland bakery di kiri jalan, pertokoan kecil-kecil,dan wartel kecil di ujung jalanpun masih ada.Bahkan nasi goreng terenak di Jakarta 'Bang Zen' terlihat bersiap memulai jualannya siang itu, masih dengan suasana warung yang tak jauh berbeda. Akhirnya memorikupun kembali pulih. Semua terbayang kembali di pelupuk mata. Ingin rasanya berhenti di ujung jalan dan mampir ke kos-kosanku dahulu. Namun aku sudah cukup terlambat untuk mampir-mampir. Teman-teman sudah menunggu. Akhirnya, aku dapat mencapai tempat reuni dengan mudah tanpa kesasar.
Tidak banyak yang bisa datang di acara ini. Tak apalah. Yang terutama pak Usman dan keluarga, pemilik dan pimpinan KAP Usman & Rekan sudah menunggu. Beliau tidak saja bos untuk urusan kantor, namun pemimpin dalam segala hal, termasuk proyek perjodohan diantara sesama karyawan. Untuk urusan ini sudah banyak yang berhasil, dan aku termasuk proyek yang gagal karena menikah tidak dengan sesama karyawan. Sebagai orang Bugis, sifat beliau tegas hampir tanpa kompromi. Makanya beliau memilih keluar dari kantor pajak tempatnya semula bekerja dan membuka KAP. Disinipun kami menjalankan roda kegiatan kantor hampir tanpa kompromi. Oleh karena itu, tentu saja tidak semua klien dapat kami layani terutama jika hendak menyalahi hati nurani. Alhamdulillah meskipun demikian, kantor ini masih bisa berjalan hingga sekarang bahkan lebih maju dan berkembang dengan berbagai divisi lain.
Beberapa teman yang berjodoh di kantor ini, hadir. Waktu seolah terhenti sesaat. Dan kami terlibat obrolan seru penuh canda tawa. Tentang masa lalu, tentang anak-anak, dan semuanya. Tak terasa waktupun bergulir sore. Dan kamipun berpisah dengan janji untuk suatu saat akan bertemu lagi. Dalam canda ria itu terselip di sela-sela hati nama seorang sahabat yang telah pergi mendahului kami semua karena kecelakaan. Kami tak membicarakannya, namun diam-diam mengenangnya. Karena keberadaanku di kantor ini dahulu karena dia. Almarhumah sahabat saya inilah yang mengajakku bekerja di kantor ini. Dan kami selalu bersama-sama berdua berpetualang di rimba Jakarta. Kuselipkan sebait do'a semoga dia berbahagia di alamnya sekarang. Allohumma firlaha warhamha wa'afii fa'fu 'anha. Aamiin. Alhamdulillah
Dalam perjalanan pulang, pelan-pelan kusenandungkan lagu kesukaannya..
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati"
'Belum Ada Judul" song Iwan Fals
Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah
Pernah kita sama sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah
Kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku
Sobat
Sabtu lalu, aku meniatkan menghadiri reuni dengan teman-teman di kantor Akuntan Usman &rekan, tempat kerjaku pertama kali di Jakarta. Awal tahun 1992, tepatnya di bulan Februari aku mulai bekerja di kantor itu dan keluar awal tahun 1999. Terhitung hampir 7 tahun, cukup lama untuk ukuran lama kerja di kantor swasta. Lingkungan kerja yang penuh kekeluargaan dan Islami membuat pendatang baru di Jakarta seperti aku ini merasa betah. Sejak keluar dari kantor itu, pernah sekali aku berkunjung ke sana dan baru kali ini bertandang lagi setelah belasan tahun tak bertemu.
Memasuki Kebayoran Lama, jajaran apartemen dan gedung bertingkat membuatku hampir tak mengenali kawasan ini. Kawasan padat berupa pasar dan pertokoan belasan tahun silam kini berubah total. Aku mencoba mencari-cari toko-toko langganan dulu berbelanja, salon tempat kursus potong rambut buat mengisi waktu luang, semua tak kutemukan. Kawasan macet itu kini sudah berubah.
Melewati fly over menuju jalan Ciledug Raya, ternyata suasana tidak banyak berubah. Ruko-ruko berjajar sepanjang jalan masih ada. Holland bakery di kiri jalan, pertokoan kecil-kecil,dan wartel kecil di ujung jalanpun masih ada.Bahkan nasi goreng terenak di Jakarta 'Bang Zen' terlihat bersiap memulai jualannya siang itu, masih dengan suasana warung yang tak jauh berbeda. Akhirnya memorikupun kembali pulih. Semua terbayang kembali di pelupuk mata. Ingin rasanya berhenti di ujung jalan dan mampir ke kos-kosanku dahulu. Namun aku sudah cukup terlambat untuk mampir-mampir. Teman-teman sudah menunggu. Akhirnya, aku dapat mencapai tempat reuni dengan mudah tanpa kesasar.
Tidak banyak yang bisa datang di acara ini. Tak apalah. Yang terutama pak Usman dan keluarga, pemilik dan pimpinan KAP Usman & Rekan sudah menunggu. Beliau tidak saja bos untuk urusan kantor, namun pemimpin dalam segala hal, termasuk proyek perjodohan diantara sesama karyawan. Untuk urusan ini sudah banyak yang berhasil, dan aku termasuk proyek yang gagal karena menikah tidak dengan sesama karyawan. Sebagai orang Bugis, sifat beliau tegas hampir tanpa kompromi. Makanya beliau memilih keluar dari kantor pajak tempatnya semula bekerja dan membuka KAP. Disinipun kami menjalankan roda kegiatan kantor hampir tanpa kompromi. Oleh karena itu, tentu saja tidak semua klien dapat kami layani terutama jika hendak menyalahi hati nurani. Alhamdulillah meskipun demikian, kantor ini masih bisa berjalan hingga sekarang bahkan lebih maju dan berkembang dengan berbagai divisi lain.
Beberapa teman yang berjodoh di kantor ini, hadir. Waktu seolah terhenti sesaat. Dan kami terlibat obrolan seru penuh canda tawa. Tentang masa lalu, tentang anak-anak, dan semuanya. Tak terasa waktupun bergulir sore. Dan kamipun berpisah dengan janji untuk suatu saat akan bertemu lagi. Dalam canda ria itu terselip di sela-sela hati nama seorang sahabat yang telah pergi mendahului kami semua karena kecelakaan. Kami tak membicarakannya, namun diam-diam mengenangnya. Karena keberadaanku di kantor ini dahulu karena dia. Almarhumah sahabat saya inilah yang mengajakku bekerja di kantor ini. Dan kami selalu bersama-sama berdua berpetualang di rimba Jakarta. Kuselipkan sebait do'a semoga dia berbahagia di alamnya sekarang. Allohumma firlaha warhamha wa'afii fa'fu 'anha. Aamiin. Alhamdulillah
Dalam perjalanan pulang, pelan-pelan kusenandungkan lagu kesukaannya..
"Pernah kita sama-sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masing ingatkah kau
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku sobat
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara di hati"
'Belum Ada Judul" song Iwan Fals
Pernah kita sama sama susah
Terperangkap didingin malam
Terjerumus dalam lubang jalanan
Digilas kaki sang waktu yang sombong
Terjerat mimpi yang indah
Lelah
Pernah kita sama sama rasakan
Panasnya mentari hanguskan hati
Sampai saat kita nyaris tak percaya
Bahwa roda nasib memang berputar
Sahabat masih ingatkah
Kau
Sementara hari terus berganti
Engkau pergi dengan dendam membara
Dihati
Cukup lama aku jalan sendiri
Tanpa teman yang sanggup mengerti
Hingga saat kita jumpa hari ini
Tajamnya matamu tikam jiwaku
Kau tampar bangkitkan aku
Sobat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar