Kamis, 06 September 2012

Digugu, Ditiru

"Ibu..bu Ana..kangen nih sama ibu"!, ibu ngajar lagi dong di kelas kami"! Ucapan beruntun segerombolan anak kelas XII yang sedang turun tangga ketika berpapasan denganku siang itu. "Kangen ibu omelin ya", ujarku santai. Salah seorang siswa menjawab; "kangen ketawa-ketawa yang nggak jelas". Hah.. maksudnya apa nih. Parah nih anak, masak gurunya disangka nggak beres, suka ketawa nggak jelas. "eh, maksud kamu apa ketawa-ketawa nggak jelas, maksudnya ibu nggak waras? tanyaku pura-pura serius. "Ah ibu, bukan itu. Ibu kan suka tiba-tiba intermeso cerita lucu yang gak ada hubungan dengan materi, padahal kita lagi serius, jadinya ketawa dan bikin kita nggak ngantuk". Jawabnya. "Oh, jadi cuma karena itu kamu kangen ibu"?. "Nggak juga, ibu suka ngasih motivasi" ujar salah seorang siswa. Yang lain menjawab "ibu suka ngetes" (hehehe..). Siang itupun menjadi riuh rendah.

Begitulah, kejadian itu seringkali berulang. Kadang sambil bercanda aku bilang "bosen ah lihat kamu terus" ketika siswa-siswa itu minta diajar lagi. Dan mereka nyengir aja. Murid-murid yang sudah alumni juga sering bilang begitu. Meskipun mungkin sekedar basa-basi, tentu saja menyenangkan melihat murid-murid kita senang belajar bersama kita sebagai gurunya. Dan itu terjadi ketika kita para guru juga senang belajar mengajar bersama mereka.

Istilah guru digugu dan ditiru dan/atau guruku inspirasiku memang tepat dan beralasan. Sepanjang hari, ruang kelas seperti panggung tempat guru-guru melaksanakan pertunjukan. Murid-murid melihat kita, menilai kita. Tidak saja berkaitan dengan mata pelajaran yang kita ajarkan, namun semua hal. Kepribadian guru, kecerdasan guru, cara mengajar guru, bahasa yang digunakan, ekspresi yang ditampilkan bahkan penampilan fisik setiap hari sepanjang hari dilihat dan diam-diam dinilai siswa. Maka guru sebenarnya adalah teladan atau model bagi siswa. Dan karena itu berlangsung lama (sekitar 3 tahun untuk tingkat SMP/SMA), lambat laun  apa yang ditampilkan guru, baik atau buruk, itulah yang terekam dalam benak siswa. Dan itulah guru dalam penilaian siswa.

Guru memang kunci keberhasilan pendidikan. Faktor lain, seperti sarana, buku-buku dan fasilitas lainnya hanyalah penunjang. Tanpa sarana dan fasilitas memadaipun guru hebat bisa menginspirasi siswanya untuk berprestasi. Sementara, sarana dan fasiltas lengkap tanpa guru yang menginspirasi pembelajaran berlangsung kering. Untuk menjadi guru yang menginspirasi,  guru harus kompeten dibidang ilmu yang diajarkan. Guru harus menguasai materi yang diajarkan. Untuk itu, guru harus mau terus belajar, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang diampunya. Dengan penguasaan materi, guru memahami tingkat kesulitan materi. Ini akan sangat membantu guru menentukan dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat untuk materi yang tepat.

Tidak sekedar menguasai materi, yang terutama guru harus mencintai profesinya. Guru yang mencintai profesinya akan senang mengajar, senang bertemu murid-murid dan bangga menjadi guru. Kecintaan terhadap profesi inilah yang mengilhami guru untuk terus menerus, tak kenal lelah dan bosan mendidik murid-muridnya. Tidak saja dalam hal bagaimana murid-muridnya cerdas secara akademik tapi lebih dari itu cerdas secara kepribadian dan segala hal yang dialami murid-muridnya.

Selain itu, faktor kepribadian juga penting untuk bisa menjadi guru yang menginspirasi. Guru yang ramah, percaya diri dan cerdas tentu lebih menyenangkan siswa. Membuat siswa nyaman berada di dekatnya dan senang dengan kelas yang diampunya. Guru memang teladan dalam semua hal. Bahkan penampilanpun tak luput dari penilaian siswa. Pernah suatu saat,salah seorang muridku yang perempuan berkata: "bu, saya ngefans sama ibu, karena ibu cantik". Aih...tentu dia lebay. Meskipun demikian, aku jadi mengerti ternyata bahkan penampilanpun bisa menjadi inspirasi bagi siswa, dilihat, dinilai dan bisa jadi ditiru. Sejak itu, aku berusaha menjaga penampilanku sebagai guru agar tetap rapi,bersih, dan enak dilihat meski sederhana. Tentu saja tetap dalam koridor syariah Islam.

Menyadari itu, kita sebagai guru memang tidak boleh main-main. Segala sikap, penampilan, kata-kata, dan ekspresi kita bisa diikuti oleh siswa. Contoh yang baik akan berpahala. Contoh yang buruk kita akan ikut menanggung dosanya. Naudzubillah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...