Selesai kegiatanku di Bajawa bukan berarti aku bisa langsung pulang ke Jakarta. Berbagai rute dapat dipilih untuk kita kembali ke Jakarta. Rute pertama melalui bandara Ende (1jam dai Bajawa) menuju Kupang baru ke Jakarta. Rute ke dua dari Bandara Bajawa ke Kupang lanjut Jakarta, rute ke tiga lewat Labuhan Bajo-Bali- Jakarta. Kantor di Jakarta mengatur jadwal kepulanganku ke Jakarta kembali melalui Labuhan Bajo. Jadilah aku kembali menempuh perjalanan darat selama 8 jam dari Bajawa menuju Labuhan Bajo. Jadwal pesawatku dari Labnuhan Bajo ke Bali jam 9 pagi, sehingga aku harus transit semalam di Labuhan Bajo.
Sesampai Labuhan Bajo sudah lewat Maghrib. Aku langsung menuju hotel yang direkomendasikan oleh temen yang pernah kesana. Hotel sederhana, bersih dan rapi di pinggir pantai Labuhan Bajo.
Paginya setelah shalat subuh aku jalan-jalan ke pantai. Waktu itu hari Jum'at, sehingga aku lihat kapal-kapal nelayan berjejer di pantai tidak melaut. Setelah aku tanya salah seorang nelayan pemilik kapal, katanya tiap hari Jum'at semua nelayan yang mayoritas berasal dari Bugis libur melaut karena tidak mau melewatkan sholat Jum'at. Iseng-iseng aku tanya kesediaan si bapak nelayan apa bisa kapalnya disewa untuk keliling ke pulau-pulau terdekat Labuhan Bajo. Alhamdulillah si bapak setuju, dan dengan biaya cuma Rp. 50.000,00, aku berkeliling dengan kapal nelayan ke pulau-pulau sekitar Labohan Bajo.
Subhanallah pemandangan pantai pasir putihnya sangat indah. Pulau-pulau kecil itu sudah banyak yang disewakan untuk resort-resort dengan fasilitas wisata yang memadai.
Sayang waktuku terbatas. Jika cukup longgar, kita bisa menyeberang ke Pulau komodo sekitar 4 jam perjalanan dengan kapal dari Labuhan Bajo.
Alhamdulillah, perjalanan yang menyenangkan. Semoga lain kali bisa ke pulau Komodo yang terkenal itu.
Salam
Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya. (QS. Al Mulk; 15).
Kamis, 09 Februari 2012
Flores NTT (part 2); Bajawa
Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa aku akan pernah menginjakkan kaki di kota ini. Bajawa, yah, bahkan nama kotanyapun baru aku dengar setelah mendapat tugas berkunjung kesana.
Selesai kegiatanku selama dua hari di Manggarai, aku melanjutkan perjalanan ke kota Bajawa Flores. Kota ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam dari Manggarai. Kondisi jalan masih sama, bagus dan lancar. Berkelok-kelok melalui pegunungan Flores. Memasuki gerbang kota Bajawa yang terekam dalam benakku adalah ini kota yang dipenuhi rumpun bambu. Di kanan kiri jalanan dipenuhi rumpun bambu. Aku kembali membayangkan suasana kota-kota zaman dulu di Jepang yang aku baca dari novel-novel sejarah Jepang.
Bajawa lebih dingin dibandingkan Manggarai. Alhamdulillah fasilitas hotel yang aku tempat fasilitasnya agak lumayan ada air panas dan ber AC meski selalu aku matikan karena sudah sangat dingin. Ini kota kecil, bahkan menurutku sangat kecil, bisa disusuri seluruh penjuru kota dalam tempo 15 menit dengan naik ojek. Lagi-lagi perdagangan dihidupkan oleh pendatang dari Jawa, Padang dan Sulawesi. Agak terkesima ketika memasuki warung Padang, penjualnya satu keluarga berdialog dengan bahasa Padang di Bajawa Flores, jadi serasa di Bukit Tinggi. Bagi muslim, di pusat kota dekat pasar berdiri satu-satunya masjid di kota ini.
Di Bajawa terdapat kampung adat Bena. Kampung adat terletak sekitar 25km dari kota Bajawa. Karena penasaran, pagi-pagi diantar ojek aku sempatkan mengunjungi kampung adat Bena. Perjalanan selama 1 jam dengan motor lumayan jauh, namun terbayar dengan pemandangan langka kampung adat Bena. Kampung ini terletak di ketinggian, terdiri dari belasan rumah adat yang masih terjaga keasliannya. Rumah-rumah berjajar menghapap ke halaman yang ternyata adalah kuburan adat sejak ratusan tahun silam. Situs megalitikum, ditandai dengan batu-batu yang ditancapkan di atas kuburan.
Pekerjaan penduduk kampung adat ini adalah menenun kain Flores dan bercocok tanam. Selain itu, anak-anak mereka juga boleh bersekolah.
Bagi penduduk asli Bajawa yang mayoritas beragama katolik, kepercayaan terhadap adat dan nenek moyang masih sangat kuat. Menurut cerita tokoh setempat, dari sisi negatif ini salah satu yang membuat perekonomian masyarakat kurang berkembang. Karena hukum adat lebih dipercaya dibanding hukum formal baik perdata maupun pidana. Sehingga pihak luar yang ingin berinvestasi di daerah ini masih ragu.
Bersambung..
Selesai kegiatanku selama dua hari di Manggarai, aku melanjutkan perjalanan ke kota Bajawa Flores. Kota ini dapat ditempuh dengan perjalanan darat selama kurang lebih 3 jam dari Manggarai. Kondisi jalan masih sama, bagus dan lancar. Berkelok-kelok melalui pegunungan Flores. Memasuki gerbang kota Bajawa yang terekam dalam benakku adalah ini kota yang dipenuhi rumpun bambu. Di kanan kiri jalanan dipenuhi rumpun bambu. Aku kembali membayangkan suasana kota-kota zaman dulu di Jepang yang aku baca dari novel-novel sejarah Jepang.
| Gerbang Kota |
Bajawa lebih dingin dibandingkan Manggarai. Alhamdulillah fasilitas hotel yang aku tempat fasilitasnya agak lumayan ada air panas dan ber AC meski selalu aku matikan karena sudah sangat dingin. Ini kota kecil, bahkan menurutku sangat kecil, bisa disusuri seluruh penjuru kota dalam tempo 15 menit dengan naik ojek. Lagi-lagi perdagangan dihidupkan oleh pendatang dari Jawa, Padang dan Sulawesi. Agak terkesima ketika memasuki warung Padang, penjualnya satu keluarga berdialog dengan bahasa Padang di Bajawa Flores, jadi serasa di Bukit Tinggi. Bagi muslim, di pusat kota dekat pasar berdiri satu-satunya masjid di kota ini.
| Masjid |
Di Bajawa terdapat kampung adat Bena. Kampung adat terletak sekitar 25km dari kota Bajawa. Karena penasaran, pagi-pagi diantar ojek aku sempatkan mengunjungi kampung adat Bena. Perjalanan selama 1 jam dengan motor lumayan jauh, namun terbayar dengan pemandangan langka kampung adat Bena. Kampung ini terletak di ketinggian, terdiri dari belasan rumah adat yang masih terjaga keasliannya. Rumah-rumah berjajar menghapap ke halaman yang ternyata adalah kuburan adat sejak ratusan tahun silam. Situs megalitikum, ditandai dengan batu-batu yang ditancapkan di atas kuburan.
| kampung Adat Bena |
Pekerjaan penduduk kampung adat ini adalah menenun kain Flores dan bercocok tanam. Selain itu, anak-anak mereka juga boleh bersekolah.
| Batu Kubur |
Bagi penduduk asli Bajawa yang mayoritas beragama katolik, kepercayaan terhadap adat dan nenek moyang masih sangat kuat. Menurut cerita tokoh setempat, dari sisi negatif ini salah satu yang membuat perekonomian masyarakat kurang berkembang. Karena hukum adat lebih dipercaya dibanding hukum formal baik perdata maupun pidana. Sehingga pihak luar yang ingin berinvestasi di daerah ini masih ragu.
Bersambung..
Flores NTT (part 1); Manggarai
Flores dan wilayah NTT dalam bayanganku adalah wilayah panas, kering, tandus dan gersang. Namun image itu buyar seketika ketika aku mendarat di Labuhan Bajo awal Januari 2010. Pulau Flores yang membentang dari Labuhan Bajo hingga Ende adalah daerah pegunungan yang subur, indah dan dingin.
Flores dapat ditempuh dengan pesawat berkapasitas sekita 60 penumpang dari bandara Bali selama kurang lebih 45 menit. Tujuanku kali ini adalah ke kabupaten Manggarai dan Bejawa. Perjalanan darat aku tempuh dari Labuhan Bajo menuju Manggarai sekitar 5 jam. Jalanan cukup bagus, mulus berkelok-kelok membelah pegunungan Flores yang subur. Berdasarkan info dari teman yang pernah kesana, daerah ini relatif aman. Bahkan kalaupun harus melalui perjalanan dengan mobil rental berdua dengan sopir yang asli orang NTT. Jadi cukup tenanglah.
Manggarai dan juga model kota-kota lain di Flores adalah kota yang menempati daratan di dataran tinggi. Setelah perjalanan berkelok dan mendaki diluar dugaan tiba-tiba dibalik itu kita akan menemui sebuah perkampungan atau kota. Bayanganku seperti kota-kota dalam cerita Mushashi dan novel-novel Jepang jaman dahulu lainnya. Manggarai adalah kota yang berhawa dingin lebih dingin dari Puncak atau Bandung. Bahkan hotel yang aku tempati tak ber AC pun sudah sangat dingin. Saking dinginnya, sebagai pembicara dalam workshop pengembangan sekolah terpadu, aku baru berani mandi setelah sesi break pagi (tapi gak bilang-bilang peserta..hehehe). Manggarai kota yang indah. Tanaman padi juga tumbuh subur di petak-petak sawah yang terbentang. Bahkan disebut sebagai salah satu lumbung padi di NTT.
Kota ini "dihidupkan" oleh pendatang dari Jawa dan Padang yang bergerak di sektor perdagangan. Untuk muslim, kita harus berhati-hati dalam memilih makanan. Karena kota Manggarai dan kota-kota lain di Flores mayoritas beragama katolik sehingga makanan yang disajikan belum terjamin kehalalannya. Untuk itu aku memilih makan di warong Padang saja selama di sana. Warga asli Mangggarai sudah jarang yang menempati rumah adat Manggarai. Hanya beberapa rumah adat yang masih eksis di pinggiran kota Manggarai.
Di Manggarai juga terdapat goa (situs liang hoa) yang sempet terkenal sebagai salah satu tempat asal muasal manusia kerdil. Goa ini terletak di pinggiran kota Manggarai, dan mulai banyak dikunjungi wisatawan.
Bersambung..
Flores dapat ditempuh dengan pesawat berkapasitas sekita 60 penumpang dari bandara Bali selama kurang lebih 45 menit. Tujuanku kali ini adalah ke kabupaten Manggarai dan Bejawa. Perjalanan darat aku tempuh dari Labuhan Bajo menuju Manggarai sekitar 5 jam. Jalanan cukup bagus, mulus berkelok-kelok membelah pegunungan Flores yang subur. Berdasarkan info dari teman yang pernah kesana, daerah ini relatif aman. Bahkan kalaupun harus melalui perjalanan dengan mobil rental berdua dengan sopir yang asli orang NTT. Jadi cukup tenanglah.
Manggarai dan juga model kota-kota lain di Flores adalah kota yang menempati daratan di dataran tinggi. Setelah perjalanan berkelok dan mendaki diluar dugaan tiba-tiba dibalik itu kita akan menemui sebuah perkampungan atau kota. Bayanganku seperti kota-kota dalam cerita Mushashi dan novel-novel Jepang jaman dahulu lainnya. Manggarai adalah kota yang berhawa dingin lebih dingin dari Puncak atau Bandung. Bahkan hotel yang aku tempati tak ber AC pun sudah sangat dingin. Saking dinginnya, sebagai pembicara dalam workshop pengembangan sekolah terpadu, aku baru berani mandi setelah sesi break pagi (tapi gak bilang-bilang peserta..hehehe). Manggarai kota yang indah. Tanaman padi juga tumbuh subur di petak-petak sawah yang terbentang. Bahkan disebut sebagai salah satu lumbung padi di NTT.
Kota ini "dihidupkan" oleh pendatang dari Jawa dan Padang yang bergerak di sektor perdagangan. Untuk muslim, kita harus berhati-hati dalam memilih makanan. Karena kota Manggarai dan kota-kota lain di Flores mayoritas beragama katolik sehingga makanan yang disajikan belum terjamin kehalalannya. Untuk itu aku memilih makan di warong Padang saja selama di sana. Warga asli Mangggarai sudah jarang yang menempati rumah adat Manggarai. Hanya beberapa rumah adat yang masih eksis di pinggiran kota Manggarai.
Di Manggarai juga terdapat goa (situs liang hoa) yang sempet terkenal sebagai salah satu tempat asal muasal manusia kerdil. Goa ini terletak di pinggiran kota Manggarai, dan mulai banyak dikunjungi wisatawan.
Bersambung..
Belitong
Belitong, adalah nama daerah yang akhir-akhir ini mendadak terkenal seiring dengan best sellernya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel ini menggambarkan dengan jelas suasana kota-kota di Belitong yang menjadi setting cerita. Maka, ketika mendapat tawaran untuk bertugas ke Belitong tanpa berfikir lagi langsung aku iyakan. Maka awal Desember 2011, mendaratlah aku di Belitong dengan suka cita.
Meski tujuan ke Belitong untuk urusan pekerjaan, aku sudah menjadwalkan di sela-sela kegiatanku untuk mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi. Kebetulan beberapa sekolah yang aku kunjungi berada di wilayah Belitong Timor yang beribukota di Manggar (kota seribu warung kopi). Setelah selesai urusan pekerjaan, tujuan pertama saya adalah mengunjungi SD Laskar Pelangi.
SD Laskar Pelangi ini adalah replika SD Muhamadiyah Gantong yang diceritakan di novel. SD aslinya sendiri sudah tidak ada dan beralih fungsi. Memasuki sekolah ini terbayang Ikal, Mahar, Lintang dkk dan tentu saja bu Muslimah sang guru fenomenal. Subhanallah, bukan fasilitas yang mebuat siswa berprestasi, namun seorang guru yang dapat menginpirasi siswa.
Setelah ke SD Laskar Pelangi, tujuan selanjutnya adalah pantai Tanjung Tinggi salah satu pantai dengan panorama batu-batu koral yang sangat indah. Pantai ini juga diceritakan dan difilmkan dalam adegan ketika bu Mus memanggil murid-muridnya dengan panggilan laskar pelangi.
Datang di Manggar tidak afdol jika kita tidak menyempatkan diri mampir ke salah satu warung kopi disana. Bahkan salah satu novel Andrea Hirata berjudul "Cinta dalam Secangkir Kopi" khusus menceritakan aktivitas di warong kopi di Manggar ini. Keunikan kopi di warkop Manggar adalah cara pembuatannya. Kopi direbus dalam ketel khusus lalu setelah mendidih dituang ke dalam gelas-gelas. Penikmat bisa menambahkan gula atau susu, sesuai selera. Dengan segelas kopi seharga Rp. 3.000,00 ini kita boleh berjam-jam duduk di warkop ngobrol sepuasnya. Benar, orang-orang dari berbagai etnis, kelas sosial, dan kebanyakan laki-laki tak sepi memenuhi warkop-warkop di kota Manggar.
Kebetulan salah satu sekolah yang aku kunjungi adalah SDN Manggar yang dulunya adalah SD PN Timah yang setelah PN Timah bubar lalu dinegerikan. Untuk ukuran SD sekarang sekolah itu biasa-biasa saja. Namun, pada saat cerita Laskar Pelangi berlangsung, SD ini menjadi SD paling bagus.
Untuk makanan, hidangan laut paling top di Belitong. Aku lupa nama ikannya. Selain itu mie Belitong yang segar juga dapat menjadi menu pilihan.
Sayangnya aku belum berkesempatan menyebarang ke pulo Lengkuas yang terkenal dengan mercu suar dan keindahan alam bawah lautnya. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi. Aamiin.
Meski tujuan ke Belitong untuk urusan pekerjaan, aku sudah menjadwalkan di sela-sela kegiatanku untuk mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan dalam novel Laskar Pelangi. Kebetulan beberapa sekolah yang aku kunjungi berada di wilayah Belitong Timor yang beribukota di Manggar (kota seribu warung kopi). Setelah selesai urusan pekerjaan, tujuan pertama saya adalah mengunjungi SD Laskar Pelangi.
SD Laskar Pelangi ini adalah replika SD Muhamadiyah Gantong yang diceritakan di novel. SD aslinya sendiri sudah tidak ada dan beralih fungsi. Memasuki sekolah ini terbayang Ikal, Mahar, Lintang dkk dan tentu saja bu Muslimah sang guru fenomenal. Subhanallah, bukan fasilitas yang mebuat siswa berprestasi, namun seorang guru yang dapat menginpirasi siswa.
Setelah ke SD Laskar Pelangi, tujuan selanjutnya adalah pantai Tanjung Tinggi salah satu pantai dengan panorama batu-batu koral yang sangat indah. Pantai ini juga diceritakan dan difilmkan dalam adegan ketika bu Mus memanggil murid-muridnya dengan panggilan laskar pelangi.
Datang di Manggar tidak afdol jika kita tidak menyempatkan diri mampir ke salah satu warung kopi disana. Bahkan salah satu novel Andrea Hirata berjudul "Cinta dalam Secangkir Kopi" khusus menceritakan aktivitas di warong kopi di Manggar ini. Keunikan kopi di warkop Manggar adalah cara pembuatannya. Kopi direbus dalam ketel khusus lalu setelah mendidih dituang ke dalam gelas-gelas. Penikmat bisa menambahkan gula atau susu, sesuai selera. Dengan segelas kopi seharga Rp. 3.000,00 ini kita boleh berjam-jam duduk di warkop ngobrol sepuasnya. Benar, orang-orang dari berbagai etnis, kelas sosial, dan kebanyakan laki-laki tak sepi memenuhi warkop-warkop di kota Manggar.
Kebetulan salah satu sekolah yang aku kunjungi adalah SDN Manggar yang dulunya adalah SD PN Timah yang setelah PN Timah bubar lalu dinegerikan. Untuk ukuran SD sekarang sekolah itu biasa-biasa saja. Namun, pada saat cerita Laskar Pelangi berlangsung, SD ini menjadi SD paling bagus.
Untuk makanan, hidangan laut paling top di Belitong. Aku lupa nama ikannya. Selain itu mie Belitong yang segar juga dapat menjadi menu pilihan.
Sayangnya aku belum berkesempatan menyebarang ke pulo Lengkuas yang terkenal dengan mercu suar dan keindahan alam bawah lautnya. Semoga suatu saat bisa ke sana lagi. Aamiin.
Papua
Pagi yang cerah jam 07.00 WIT, ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di bandara Sentani Jayapura setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih 7 jam dari Jakarta. Inilah enaknya penerbangan malam, jadi tidak begitu berasa capeknya.
Ini adalah perjalananku yang pertama kalinya ke tanah Papua. Berbagai informasi tentang Papua sudah aku cari sebelumnya. Termasuk antisipasi nyamuk malaria yang masih menjadi endemi disana.
Memasuki bandara, suasana cukup ramai di terminal kedatangan. Rupanya, transportasi udara menjadi andalan di daerah ini. Masyarakat bepergian ke kabupaten-kabupaten menggunakan pesawat-pesawat kecil. Menggunakan mobil rental, kami meninggalkan bandara ke kota jayapura. Perjalanan dari bandara ke Jayapura memakan waktu sekitar 1 jam. Jalanan cukup bagus, mulus dan lebar mengitari danau Sentani yang luasnya hampir seluas kota Sentani. Sepanjang jalan terpampang keindahan danau Sentani di satu sisi jalan dan di sisi lain pegunungan.
Sesampai di hotel kami mandi dan langsung berangkat ke salah satu SD di daerah pesisir Jayapura. Daerah Pesisir adalah desa-desa yang berada di pinggir laut dan teluk yang mengelilingi Jayapura. Perjalanan ke wilayah tersebut lebih cepat jika menggunakan kapal. Namun pagi itu, karena masih suasana libur natal, maka perjalanan dilalui dengan berjalan kaki. Jadi dapat dibayangkan betapa pegelnya kaki ini setelah menggantung 7 jam di pesawat, sekarang harus melenggang sekitar 2 km untung jalanan menurun. Selesai urusan, kami tak sanggup lagi berjalan kaki, maka meski harus menunggu 2 jam tidak apa-apa untuk kembali dengan kapal.
Untuk hotel di Papua sudah terbilang mahal. Hotel yang kami tempati kualitas bintang 3 dengan harga per malam Rp 600.000,-. Jadi bagi yang baru pertama kali kesana perlu untuk mengecek dan membandingkan tarif hotel dan layanan yang diberikan. Sedangkan makanan, hidangan laut adalah pilihan terbaik. Selain pasti halal, kualitas ikan di sana bagus sehingga dimasak ala kadarnyapun sudah enak. Sesekali sempatkan mencicipi ubi Papau atau sagu sebagai pengganti nasi. Dua jenis makanan ini adalah favorit saya disana. Maknyus. Saya kira ide bagus untuk menjadikan ubi dan sagu makanan pokok. Sepertinya juga lebih sehat karena kadar serat tinggi dan kadar gula rendah.
Demikian sekilas cerita perjalanan ke tanah Papua. Sayangnya tidak sempet menikmati wisata bawah laut yang terkenal.
Ini adalah perjalananku yang pertama kalinya ke tanah Papua. Berbagai informasi tentang Papua sudah aku cari sebelumnya. Termasuk antisipasi nyamuk malaria yang masih menjadi endemi disana.
Memasuki bandara, suasana cukup ramai di terminal kedatangan. Rupanya, transportasi udara menjadi andalan di daerah ini. Masyarakat bepergian ke kabupaten-kabupaten menggunakan pesawat-pesawat kecil. Menggunakan mobil rental, kami meninggalkan bandara ke kota jayapura. Perjalanan dari bandara ke Jayapura memakan waktu sekitar 1 jam. Jalanan cukup bagus, mulus dan lebar mengitari danau Sentani yang luasnya hampir seluas kota Sentani. Sepanjang jalan terpampang keindahan danau Sentani di satu sisi jalan dan di sisi lain pegunungan.
Sesampai di hotel kami mandi dan langsung berangkat ke salah satu SD di daerah pesisir Jayapura. Daerah Pesisir adalah desa-desa yang berada di pinggir laut dan teluk yang mengelilingi Jayapura. Perjalanan ke wilayah tersebut lebih cepat jika menggunakan kapal. Namun pagi itu, karena masih suasana libur natal, maka perjalanan dilalui dengan berjalan kaki. Jadi dapat dibayangkan betapa pegelnya kaki ini setelah menggantung 7 jam di pesawat, sekarang harus melenggang sekitar 2 km untung jalanan menurun. Selesai urusan, kami tak sanggup lagi berjalan kaki, maka meski harus menunggu 2 jam tidak apa-apa untuk kembali dengan kapal.
Untuk hotel di Papua sudah terbilang mahal. Hotel yang kami tempati kualitas bintang 3 dengan harga per malam Rp 600.000,-. Jadi bagi yang baru pertama kali kesana perlu untuk mengecek dan membandingkan tarif hotel dan layanan yang diberikan. Sedangkan makanan, hidangan laut adalah pilihan terbaik. Selain pasti halal, kualitas ikan di sana bagus sehingga dimasak ala kadarnyapun sudah enak. Sesekali sempatkan mencicipi ubi Papau atau sagu sebagai pengganti nasi. Dua jenis makanan ini adalah favorit saya disana. Maknyus. Saya kira ide bagus untuk menjadikan ubi dan sagu makanan pokok. Sepertinya juga lebih sehat karena kadar serat tinggi dan kadar gula rendah.
Demikian sekilas cerita perjalanan ke tanah Papua. Sayangnya tidak sempet menikmati wisata bawah laut yang terkenal.
Minggu, 14 Agustus 2011
Penyebab Kematian Hati dan Do’a Kita yang tidak Dikabulkan Allah.
Dalam Al Qur’an surah Gafir ayat 60 Allah berfirman yang artinya: “berdo’alah kepadaKu, niscaya akan aku perkenankan bagimu/kabulkan do’amu….”. Jika memang Allah menyuruh kita memohon kepadaNya dengan janji akan dikabulkan, mengapa do’a2 kita tidak juga dikabulkan. Menurut Ibrahim bin Adham seorang ulama sufi, penyebab tidak terkabulnya do’a-do’a kita adalah kematian hati kita. Berikut ini 10 penyebab kematian hati, yang menyebabkan do’a-doa kita tidak dikabulkan Allah SWT:
1. Kita mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak Allah.
Sejak kita lahir ke dunia, Allah sudah memenuhi hak-hak kita sebagai manusia. Alam semesta dan seisinya, kasih sayang orang tua dll adalah diantara hak kita sebagai manusia yang sudah diberikan semenjak kita lahir. Hak Allah yang merupakan kewajiban kita manusia baru dituntut semenjak usia baligh. Maka sudah seharusnya kita tidak melalaikan kewajiban kita mengingat jika dihitung-hitung masih lebih banyak hak yang kita terima disbanding kewajiban kita.
2. Kita membaca Al Qur’an tapi tidak mengamalkannya.
Memang baik dan dianjurkan banyak membaca Al Quran apalagi dengan bacaan yang indah, namun yang lebih penting dan lebih baik adalah mengamalkan isi kandungan Al Quran. Karena seperti diriwayatkan ketika sahabat bertanya seperti apa akhlak nabi, maka jawabnya adalah akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Jadi seluruh isi Al Quran sebenarnya adalah tuntunan berakhlak mulia baik sebagai individu maupun social.
3. Kita mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kita mengikuti jejak dan perintahnya, bahkan secara tidak langsung menjadi perpanjangan tangan seta. Naudzubillah. Pak ustadz memberi contoh adalah pacaran sebelum menikah (asmara subuh di beberapa kota), dll.
4. Kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya. Bahkan, bukannya mengikuti sunnah Rasulullah yang terjadi malah menambah-nambahkan apa yang tidak dicontohkan Rasulullah alias bid’ah. Ini bisa terjadi dalam ibadah maupun muammalah.
5. Kita sangat menginginkan surga, tapi tak pernah melakukan amalan ahli surga. Syarat untuk masuk syorga adalah taqwa. Salah satu amalan calon penghuni syorga adalah sedikit tidur di waktu malam, dan memohon ampun kepada Allah di akhir malam (QS. Az Zariyat;, 17-18). Akhir malam/sepertiga malam terakhir adalah waktu yang istimewa untuk berdekatan dengan Allah, saat diijabahnya do’a-do’a. Rasulullah yang mulia saja, setiap hari minimal beristighfar 100 kali, kita manusia yang seringkali berbuat kesalahan mestinya lebih banyak memohon ampun. Oleh karena itu jika kita menginginkan sorga, perbanyaklah sholat malam.
6. Sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri. Yang ini diantara contohnya adalah ghibah, bahkan ada ghibah yang dijadikan tontonan rame-rame sepertin infotainment. Dalam skala lain, banyak tokoh/potisi/bahkan penceramah agama yang mengusung pesan menjelek-jelekkan orang lain yang tidak seide/sealiran dengannya. Bahkan sengaja mencari-mencari aib orang lain untuk mencapai ambisi pribadi. Naudzubillah.
7. Takut dimasukkan ke dalam neraka, namun dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka. Amalan ahli neraka adalah melakukan apa-apa yang dilarang Allah, dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan Allah. Contohnya banyak sekali.
8. Yakin bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
9. Sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.”
No 8 dan 9 hampir sama, seringkali kehidupan dunia melalaikan kita dari mengingat akhirat. Terlalu asyik dengan kegiatan memperoleh dunia sehingga kurang/bahkan tidak menyisakan waktu untuk mengingat akhirat. Contoh, tidak segera memenuhi panggilan adzan saat tiba waktu shalat, dll.
10. Setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian mensyukuri nikmat-Nya.
Mensyukuri nikmat rezeki dari Allah tidak cukup sekedar membaca hamdalah, namun juga dengan memenuhi hak orang orang lain atas rezeki yang kita terima.
Demikian rangkuman kuliah subuh oleh ustadz dari yayasan Khairu Ummah. ( maaf lupa namanya). Semoga bermanfaat.
Wassalam.
1. Kita mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak-hak Allah.
Sejak kita lahir ke dunia, Allah sudah memenuhi hak-hak kita sebagai manusia. Alam semesta dan seisinya, kasih sayang orang tua dll adalah diantara hak kita sebagai manusia yang sudah diberikan semenjak kita lahir. Hak Allah yang merupakan kewajiban kita manusia baru dituntut semenjak usia baligh. Maka sudah seharusnya kita tidak melalaikan kewajiban kita mengingat jika dihitung-hitung masih lebih banyak hak yang kita terima disbanding kewajiban kita.
2. Kita membaca Al Qur’an tapi tidak mengamalkannya.
Memang baik dan dianjurkan banyak membaca Al Quran apalagi dengan bacaan yang indah, namun yang lebih penting dan lebih baik adalah mengamalkan isi kandungan Al Quran. Karena seperti diriwayatkan ketika sahabat bertanya seperti apa akhlak nabi, maka jawabnya adalah akhlak Rasulullah adalah Al Quran. Jadi seluruh isi Al Quran sebenarnya adalah tuntunan berakhlak mulia baik sebagai individu maupun social.
3. Kita mengakui bahwa iblis adalah musuh yang sangat nyata, namun dengan suka hati kita mengikuti jejak dan perintahnya, bahkan secara tidak langsung menjadi perpanjangan tangan seta. Naudzubillah. Pak ustadz memberi contoh adalah pacaran sebelum menikah (asmara subuh di beberapa kota), dll.
4. Kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya. Bahkan, bukannya mengikuti sunnah Rasulullah yang terjadi malah menambah-nambahkan apa yang tidak dicontohkan Rasulullah alias bid’ah. Ini bisa terjadi dalam ibadah maupun muammalah.
5. Kita sangat menginginkan surga, tapi tak pernah melakukan amalan ahli surga. Syarat untuk masuk syorga adalah taqwa. Salah satu amalan calon penghuni syorga adalah sedikit tidur di waktu malam, dan memohon ampun kepada Allah di akhir malam (QS. Az Zariyat;, 17-18). Akhir malam/sepertiga malam terakhir adalah waktu yang istimewa untuk berdekatan dengan Allah, saat diijabahnya do’a-do’a. Rasulullah yang mulia saja, setiap hari minimal beristighfar 100 kali, kita manusia yang seringkali berbuat kesalahan mestinya lebih banyak memohon ampun. Oleh karena itu jika kita menginginkan sorga, perbanyaklah sholat malam.
6. Sibuk mencari aib orang lain dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri. Yang ini diantara contohnya adalah ghibah, bahkan ada ghibah yang dijadikan tontonan rame-rame sepertin infotainment. Dalam skala lain, banyak tokoh/potisi/bahkan penceramah agama yang mengusung pesan menjelek-jelekkan orang lain yang tidak seide/sealiran dengannya. Bahkan sengaja mencari-mencari aib orang lain untuk mencapai ambisi pribadi. Naudzubillah.
7. Takut dimasukkan ke dalam neraka, namun dengan senangnya sibuk dengan perbuatan ahli neraka. Amalan ahli neraka adalah melakukan apa-apa yang dilarang Allah, dan meninggalkan apa-apa yang diperintahkan Allah. Contohnya banyak sekali.
8. Yakin bahwa kematian pasti datang, namun tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
9. Sering mengantar jenazah ke kubur, tapi tidak pernah menyadari bahwa kalian akan mengalami hal yang serupa.”
No 8 dan 9 hampir sama, seringkali kehidupan dunia melalaikan kita dari mengingat akhirat. Terlalu asyik dengan kegiatan memperoleh dunia sehingga kurang/bahkan tidak menyisakan waktu untuk mengingat akhirat. Contoh, tidak segera memenuhi panggilan adzan saat tiba waktu shalat, dll.
10. Setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian mensyukuri nikmat-Nya.
Mensyukuri nikmat rezeki dari Allah tidak cukup sekedar membaca hamdalah, namun juga dengan memenuhi hak orang orang lain atas rezeki yang kita terima.
Demikian rangkuman kuliah subuh oleh ustadz dari yayasan Khairu Ummah. ( maaf lupa namanya). Semoga bermanfaat.
Wassalam.
Kamis, 21 Juli 2011
Analisis Butir Soal Kuantitatif
Analisis kuantitatif disebut juga sebagai validitas empiris (empirical validity). Soal yang baik adalah soal yang valid dan reliabel. Sifat reliabel dan valid diperlihatkan oleh tingginya koefisien reliabilitas dan validitas hasil ukur suatu tes.
Hasil analisis secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana soal dapat membedakan antara peserta tes yang kemampuannya tinggi dengan peserta tes yang kemampuannya rendah. Informasi lainnya adalah bagaimana soal dapat membedakan antara individu maupun antar kelompok.
Analisis soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik internal secara kuantitatif dimaksudkan meliputi parameter soal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas.
Tingkat Kesukaran Butir Soal
Pada analisis butir soal secara klasikal, tingkat kesukaran (p) dapat diperoleh dengan beberapa cara antara lain:
1. skala kesukaran linear,
2. skala bivariat,
3. indeks Davis
4. proporsi menjawab benar
Cara yang paling mudah dan umum dan paling umum digunakan adalah skala rata-rata atau proporsi menjawab benar atau proportion correct (p), yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhnya. Persamaan yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran (p) ini adalah:
p = ∑B
─
Ν
p = proporsi menjawab benar pada butir soal tertentu
∑В = banyaknya peserta tes menjawab benar
N = jumlah peserta tes yang menjawab
Contoh:
Misalnya dari 100 orang peserta tes, jumlah yang dapat menjawab benar pada soal nomor 1 adalah 70 siswa. Dengan demikian maka ”proportion correct” atau tingkat kesukaran (p) soal itu adalah:
70
p = ─- = 0,70
100
Tingkat kesukaran sebenarnya merupakan ukuran kemudahan soal karena makin tinggi indeks tingkat kesukaran (p) maka makin mudah soalnya dan sebaliknya makin rendah tingkat kesukaran (p) makin sulit soalnya. Dengan demikian makin tinggi nilai p makin mudah soal tersebut.
Besarnya tingkat kesukaran berkisar antara 0 sampai dengan 1. Tingkat kesukaran dikategorikan menjadi tiga bagian seperti nampak pada table berikut ini:
Proportion Correct (p) Kategori Soal
p > 0,70 Mudah
0,30 ≤ p ≤ 0,70 Sedang
p < 0,30 Sukar
Suatu soal kadang-kadang dikategorikan ke dalam ekstrim sukar yaitu apabila p mendekati nol dan ekstrim mudah yaitu apabila p mendekati satu.
Daya Pembeda Soal
Daya pembeda atau daya beda suatu soal berfungsi untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada pada kelompok itu. Tujuan dari pengujian daya pembeda adalah untuk melihat kemampuan butir soal dalam membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang berkemampuan rendah.
Salah satu cara untuk mengetahu daya pembeda soal adalah dengan menghitung korelasi point biserial maupun korelasi biserial adalah korelasi product moment yang diterapkan pada data, variable-variabel yang dikorelasikan sifatnya masing-masing berbeda satu sama lain. Variabel soal bersifat dikotomi sedangkan variable skor total atau sub skor total bersifat kontinum. Variabel soal dinamakan dikotomi karena, skor-skor yang terdapat pada soal hanya ada satu dan nol. Seperti halnya pada bentuk soal pilihan ganda, soal yang benar diberi angka satu dan yang salah diberi angka nol. Variabel skor total atau sub skor total peserta tes bersifat kontinum atau non dikotomi yang diperoleh dari jumlah jawaban yang benar.
c. Reliabilitas Tes
Reliabilitas tes (test reliability) adalah suatu hal yang sangat penting pada alat pengukuran yang standar. Reliabilitas dihubungkan dengan pengertian adanya ketepatan suatu tes dalam pengukurannya. Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari suatu pengukuran ke pengukuran lainnya. Jadi reliabilitas dapat dikatakan sebagai tingkat konsistensi atau kemantapan hasil dari hasil dua pengukuran terhadap hal yang sama. Hasil pengukuran itu diharapkan akan sama apabila pengukuran itu diulangi. Dengan perangkat tes yang reliabel, apabila tes itu kita berikan dua kali pada orang yang sama tetapi dalam selang waktu yang berbeda, sepanjang tidak ada perubahan kemampuan, maka skor yang diperoleh akan konstan.
Uji validitas dan reliabilitas dapat dilakukan denganuji statistik menggunakan software-software statisik, maupun program Excel.
Demikian, semoga bermanfaat.
Hasil analisis secara kuantitatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana soal dapat membedakan antara peserta tes yang kemampuannya tinggi dengan peserta tes yang kemampuannya rendah. Informasi lainnya adalah bagaimana soal dapat membedakan antara individu maupun antar kelompok.
Analisis soal secara kuantitatif menekankan pada analisis karakteristik internal tes melalui data yang diperoleh secara empiris. Karakteristik internal secara kuantitatif dimaksudkan meliputi parameter soal tingkat kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas.
Tingkat Kesukaran Butir Soal
Pada analisis butir soal secara klasikal, tingkat kesukaran (p) dapat diperoleh dengan beberapa cara antara lain:
1. skala kesukaran linear,
2. skala bivariat,
3. indeks Davis
4. proporsi menjawab benar
Cara yang paling mudah dan umum dan paling umum digunakan adalah skala rata-rata atau proporsi menjawab benar atau proportion correct (p), yaitu jumlah peserta tes yang menjawab benar pada soal yang dianalisis dibandingkan dengan peserta tes seluruhnya. Persamaan yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran (p) ini adalah:
p = ∑B
─
Ν
p = proporsi menjawab benar pada butir soal tertentu
∑В = banyaknya peserta tes menjawab benar
N = jumlah peserta tes yang menjawab
Contoh:
Misalnya dari 100 orang peserta tes, jumlah yang dapat menjawab benar pada soal nomor 1 adalah 70 siswa. Dengan demikian maka ”proportion correct” atau tingkat kesukaran (p) soal itu adalah:
70
p = ─- = 0,70
100
Tingkat kesukaran sebenarnya merupakan ukuran kemudahan soal karena makin tinggi indeks tingkat kesukaran (p) maka makin mudah soalnya dan sebaliknya makin rendah tingkat kesukaran (p) makin sulit soalnya. Dengan demikian makin tinggi nilai p makin mudah soal tersebut.
Besarnya tingkat kesukaran berkisar antara 0 sampai dengan 1. Tingkat kesukaran dikategorikan menjadi tiga bagian seperti nampak pada table berikut ini:
Proportion Correct (p) Kategori Soal
p > 0,70 Mudah
0,30 ≤ p ≤ 0,70 Sedang
p < 0,30 Sukar
Suatu soal kadang-kadang dikategorikan ke dalam ekstrim sukar yaitu apabila p mendekati nol dan ekstrim mudah yaitu apabila p mendekati satu.
Daya Pembeda Soal
Daya pembeda atau daya beda suatu soal berfungsi untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada pada kelompok itu. Tujuan dari pengujian daya pembeda adalah untuk melihat kemampuan butir soal dalam membedakan antara peserta didik yang berkemampuan tinggi dengan peserta didik yang berkemampuan rendah.
Salah satu cara untuk mengetahu daya pembeda soal adalah dengan menghitung korelasi point biserial maupun korelasi biserial adalah korelasi product moment yang diterapkan pada data, variable-variabel yang dikorelasikan sifatnya masing-masing berbeda satu sama lain. Variabel soal bersifat dikotomi sedangkan variable skor total atau sub skor total bersifat kontinum. Variabel soal dinamakan dikotomi karena, skor-skor yang terdapat pada soal hanya ada satu dan nol. Seperti halnya pada bentuk soal pilihan ganda, soal yang benar diberi angka satu dan yang salah diberi angka nol. Variabel skor total atau sub skor total peserta tes bersifat kontinum atau non dikotomi yang diperoleh dari jumlah jawaban yang benar.
c. Reliabilitas Tes
Reliabilitas tes (test reliability) adalah suatu hal yang sangat penting pada alat pengukuran yang standar. Reliabilitas dihubungkan dengan pengertian adanya ketepatan suatu tes dalam pengukurannya. Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari suatu pengukuran ke pengukuran lainnya. Jadi reliabilitas dapat dikatakan sebagai tingkat konsistensi atau kemantapan hasil dari hasil dua pengukuran terhadap hal yang sama. Hasil pengukuran itu diharapkan akan sama apabila pengukuran itu diulangi. Dengan perangkat tes yang reliabel, apabila tes itu kita berikan dua kali pada orang yang sama tetapi dalam selang waktu yang berbeda, sepanjang tidak ada perubahan kemampuan, maka skor yang diperoleh akan konstan.
Uji validitas dan reliabilitas dapat dilakukan denganuji statistik menggunakan software-software statisik, maupun program Excel.
Demikian, semoga bermanfaat.
Langganan:
Postingan (Atom)
Imam yang Tak Dirindukan
"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam. "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...


