Selasa, 28 Agustus 2012

Tradisi Lebaran di Ponorogo

Seperti daerah-daerah lain yang memiliki tradisi unik dan makanan unik lebaran, demikian juga di Ponorogo. Tradisi unik lebaran di Ponorogo diantaranya adalah makan bersama warga setelah sholat Idul fitri, menaikkan balon kertas/plastik, dan pasar malam. Sedangkan makanan uniknya adalah madu mongso.

1. Makan Bersama Warga
Makan Bersama Setelah Sholat Ied
Tradisi makan bersama seluruh jamaah shalat Ied dilakukan selesai melaksanakan shalat Idul Fitri. Awalnya tradisi makan bersama ini hanya diikuti oleh jamaah laki-laki. Namun beberapa tahun belakangan ini, panitia masjid menyediakan hidangan untuk seluruh jamaah laki-laki, perempuan, anak-anak hingga orang tua. Menu utama dalam beberapa tumpeng adalah ayam lodho. Ayam lodho ini adalah ayam kampung yang dimasak utuh dari kepala hingga ceker dengan bumbu lodho semacam opor tanpa kuah. Hidangan pelengkapnya adalah sambel goreng kentang, tempe kering, bihun dan sebagainya. Selain dalam bentuk tumpeng, panitia juga menyediakan hidangan yang dikemas kecil-kecil (jaman dahulu dibungkus daun pisang, sekarang di dalam plastik mika). Setelah puasa selama satu bulan, makan pagi bersama seluruh warga sungguh nikmat. Selain karena rasa lapar setelah berhenti makan sahur, juga karena kebersamaan. Seluruh warga tanpa melihat jenis kelamin, usia, kelas ekonomi makan dengan menu yang sama. Alhamdulillah, indahnya kebersamaan.

2. Menerbangkan Balon

Membuat dan menaikkan balon baik berbahan kertas minyak maupun plastik sudah menjadi tradisi yang lama di kampung saya di Ponorogo. Sejak saya kecil saya sudah menyaksikan bahkan ikut-ikutan membuat balon ini. Setiap kampung yang ada masjidnya di desa kami biasa membuat balon minimal satu. Balon-balon ini dibuat oleh remaja kampung usia SD hingga SMA. Mereka memperoleh keahlian turun temururn dari seniornya. Balon kertas berukuran cukup besar, tinggi sekitar 8 -10 meter, dan diameter sekitar 1,5 - 2 meter. Kecerdasan natural remaja kampung mampu menghasilkan balon berdesain indah dan ketepatan bentuk dan ukuran sehingga mampu diterbangkan dengan sempurna. Balon-balon ini harus diterbangkan pagi-pagi ketika angin belum bertiup kencang. Maka biasanya balon diterbangkan di hari kedua lebaran.


Persiapan Menerbangkan Balon

Tahun ini kampung saya membuat 3 balon. Dua balon diterbangkan di hari lebaran ke dua, dan satu balon di hari ketiga.Meski unik dan menghibur, tradisi menerbangkan balon ini penuh resiko. Pertama, sumbu balon yang sebelumnya direndam minyak dan dinyalakan untuk menjaga udara di dalam balon tetap penuh berisiko membakar apa saja yang dikenainya jika balon gagal terbang dan jatuh. Kedua, petasan yang digantungkan di balon yang diterbangkan beresiko melukai orang-orang jika meledak sebelum balon terbang.


 
3.Pasar Malam
Pasar malam berlokasi di alun-alun kota Ponorogo. Seperti pasar malam lainnya, area ini dipenuhi aneka permainan seperti kora-kora, halilintar, dsb. Dan tentu saja pasar tempat penjual dan pembeli bertemu untuk jual beli. Tahun ini ada yang baru di pasar malam yaitu becak cinta (disingkat 'becin'). Becin ini berbentuk seperti kereta dan digerakkan oleh roda yang dikayuh oleh penumpangnya. Becin terdiri dari beberapa ukuran mulai yang berpenumpang dua hingga delapan. Peminat becin rupanya cukup banyak sehingga harus antri untuk menyewa becin. Becin disewakan dengan harga Rp. 10.000,00 hingga Rp. 20.000,00 untuk satu putaran mengelilingi alun-alun.

Becak Cinta

Selain tradisi itu, ada satu makanan khas yang hampir setiap keluarga membuatnya di hari lebaran yaitu madu mongso. Madu mongso berbahan dasar ketan hitam. Cara membuatnya cukup lama. Pertama, ketan hitam dibuat tape ketan yang memakan waktu sekitar 3 hari. Setelah menjadi tape, lalu dicampur dengan gula dan santan dan diaduk-aduk di atas nyala api sedang hingga menjadi seperti dodol. Setelah dingin, madu mongso dikemas menggunakan plastik dan kertas aneka warna. Cemilan ini dapat dijumpai hampir di seluruh rumah di hari lebaran.

Demikian, Alhamdulillah senangnya lebaran di kampung halaman.


Minggu, 26 Agustus 2012

Ziarah

Sebelum dan sesudah bulan Ramadhan, kuburan menjadi tempat yang ramai diziarahi. Begitu juga yang aku lakukan. Entah kenapa harus menunggu waktu-waktu ini, ziarah kubur kan sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Namun, tidak ada salahnya melakukan ziarah kubur di sebelum dan sesudah Ramadhan, karena memang tidak ada larangan dalam agama. Begitulah, maka di saat-saat itu kuburan menjadi tempat yang ramai. Dan, seperti setiap keramaian, kebiasaan ziarah kubur menjadi lahan ekonomi bagi pembersih makam, penjual bunga dan peminta-minta. Seperti dua dunia yang menyatu di satu waktu.

Seperti mudik, ziarah kubur juga sebenarnya perjalanan 'menemui' orang-orang di masa lalu kita. Jika mudik, orang-orang yang kita temui hidup di alam yang sama dengan kita dan masih bisa diajak bercanda, ziarah kubur sebaliknya. Oleh karenanya, nuansanya tentu saja berbeda. Ziarah kubur mengingatkan kita semua kemana kita semua akan kembali, apa yang akan  kita bawa, dan seperti apa raga kita akan menjadi.

Meski ramai orang, memasuki areal pemakaman tidak bisa membuat kita bercanda. Orang-orang berjalan dalam diam seperti merenung. Dan setelah menemukan makam keluarga, semua tunduk dalam khusyu' do'a-do'a yang dipanjatkan. Ada yang sebentar, ada yang cukup lama. Masih terlihat ada airmata yang menetes. Benarlah memang "cukuplah kematian sebagai nasihat". Setelah selesai berdo'a, ada yang menaburkan bunga dan membersihkan makam. Aku sendiri "lebih suka" memetik beberapa helai dedauan atau tangkai  tanaman yang kebetulan aku temui dan melatakkan di pusara. Ini seperti yang dicontohkan Rasululllah ketika berziarah kubur beliau memetik beberapa helai daun korma dan meletakkan di pusara.

Rasulullah menganjurkan kita melakukan ziarah kubur, karena akan mengingatkan kita pada kematian. Ingatan ini menyadarkan kita betapa tidak ada manfaatnya kesombongan, kemarahan, kedengkian dan segala keburukan/kemudharatan yang bahkan mungkin tidak sengaja kita lakukan. Ingatan ini menguatkan kita untuk segera bertobat ketika khilaf, segera minta maaf ketika berbuat salah, segera berbuat dan tidak menahan-nahan kebaikan. Ingatan ini menguatkan kesadaran kita kepada Allah tempat semua kita akan kembali.

Aku terduduk lama di pusara itu, tidak untuk menangisinya atau menangisi hidupku. Waktu kepergiannya telah cukup lama. Aku belajar untuk tak pernah menyesali apa-apa dan menerima kehidupan sebagai sesuatu yang sudah digariskanNya. Aku ingin tahu tapi nyaris tak mungkin seperti apa kehidupannya sekarang. Bahagiakah? Seperti harapanku dalam do'a-do'a  yang aku panjatkan semoga Allah membahagiakannya dan mengumpulkannya bersama orang-orang yang saleh. "Jangan mengira mereka yang sudah mati itu mati, sesungguhnya mereka hidup" (hadits apa ayat yah.. lupa). "Mereka melihat kita tapi kita tidak bisa melihatnya', maka malulah kita pada perbuatan buruk kita.

Maka, baiklah sesekali kita melakukan ziarah kubur, agar kehidupan dunia tidak melalaikan kita kemana kita semua akan kembali. Dan untuk itu, kita perlu menyiapkan bekal, sebanyak-banyaknya. Dan, sebaik-baik bekal adalah takwa. Insya Allah, Aamiin.

Mudik

Tak terasa usai sudah ritual tahunan setiap lebaran. Beberapa hari menjalani mudik, tak sempat buka laptop. Beberapa cerita perjalanan tak sempat dituliskan namun terekam erat dalam ingatan. Kini saatnya untuk menguatkan ingatan dengan menuliskannya.

Mudik, ibarat perjalanan menembus waktu kembali ke masa lalu. Dorongan mudik begitu kuatnya bagi kita sehingga rela melakukan perjalanan yang penuh pengorbanan baik waktu, tenaga, dan biaya. Perjalanan menemui orang tua, saudara, kerabat, sahabat, teman-teman yang telah lama kita tinggalkan, seperti menegaskan kembali jalan-jalan yang pernah kita lalui. Kenangan berserakan sepanjang jalan, menggetarkan hati bahwa kita pernah melalui ini. Maka bahkan sejak langkah pertama mudik dilalui, kenangan itu seperti kembali membuncah di ingatan.

Pada umumnya kita mudik ke kampung halaman,  tempat kita dilahirkan dan dibesarkan oleh ayah ibu tercinta. Pertemuan dengan mereka berdua yang mulai renta dan kita yang juga mulai menua sungguh membahagiakan. Menyaksikan mereka berdua sehat wal'afiat dan bahagia menyambut kehadiran kita sungguh tak terkira rasanya.  Dan, dibalik keterbatasan fisik yang mulai melemah, ibu kita masih berusaha menyediakan hidangan-hidangan masa kecil kita. Perlakuan ayah ibu kita yang seperti tidak ada bedanya apakah kita putra-putri kecilnya atau kita putra-putrinya yang yang sudah dewasa. Ah, kasih sayang mereka memang tiada taranya. Semoga Allah SWT membahagiakan dan mengasihi ayah ibu kita seperti mereka mengasihi kita di waktu kecil. Aaamin.

Pertemuan dengan saudara, kakak dan adik kita yang sudah dewasa dan berkeluarga juga mengesankan hati. Mengingatkan kembali saat kita besar bersama, bercanda, berantem, dan berbagi bersama.
Masing-masing kemudian melalui jalan hidupnya sendiri-sendiri. Saat kita dipertemukan kembali di rumah tempat kita dibesarkan seperti memunculkan kembali jiwa kanak-kanak kita. Bercerita tak ada habisnya, mengunjungi tempat-tempat yang dahulu pernah kita akrabi, mencobai  makanan-makanan yang dahulu kita sukai. Ah, tak terasa bahwa kita sudah mulai menua. Waktu telah lama meninggalkan kita dan anak-anak sudah mulai bertambah besar. Namun beginilah memang kehidupan.

Mudik juga mempertemukan kita dengan teman-teman masa lalu kita. Teman-teman SD, SMP, SMA, dan teman-teman kuliah. Bertemu mereka seolah menghentikan waktu. Kita seperti lupa pada usia. Bercanda dengan mereka seolah melupakan masalah-masalah yang masing-masing sedang kita hadapi. Namun demikian, diantara canda tawa itu kita bisa menilai seperti apa teman kita dahulu dan seperti apa teman kita sekarang. Tidak semua melalui jalan yang normal dan mudah. Beberapa diantara mereka menjadi di luar dugaan kita. Waktu tak cukup untuk menjelaskan semuanya. Namun melihat dan merasai kita bisa tertawa lepas meski sejenak cukuplah untuk melepaskan segala kepenatan. Dan lebih dari itu, seperti kembali menampilkan wajah kemudaan kita.

Pertemuan dengan seseorang di masa lalu, siapapun dia, menyadarkan kita pada apa dan siapa yang telah membuat kita seperti sekarang. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup, Allahlah yang mengatur dan menghendaki siapa-siapa yang pernah dan akan kita temui. Semua mereka memiliki andil baik besar ataupun kecil kepada kita. Bersilaturahmi kepada orang-orang yang pernah kita temui di masa lalu tidak sekedar untuk bernostalgia, namun menguatkan kesadaran kita untuk bersyukur dan berterima kasih atas kehidupan yang pernah kita lalui. Selain itu, juga menjadi sarana kita untuk mengevaluasi langkah-langkah hidup yang kita ambil. Jika langkah hidup kita menyimpang, sorot mata orang-orang di masa lalu menyadarkan kita untuk kembali ke fitrah.

Mudik meyeimbangkan hidup kita, atas mimpi-mimpi masa depan dan realita yang sekarang kita hadapi. Masa lalu seperti rem, agar kita tidak sombong, ujub dan takabur atas keberhasilan yang kita raih. Maka dorongan melakukan perjalanan ke masa lalu melalui mudik akan terus ada dan kita lakukan. Sampai ketemu lagi tahun depan. Insya Allah.





Selamat Idul Fitri




SELAMAT IDUL FITRI 1433 H

TAQOBALALLOHU MINNA WA MINKUM

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

SEMOGA ALLAH SWT MEMPERTEMUKAN KITA KEMBALI 
DENGAN RAMADHAN YANG AKAN DATANG 

Aamiin Yaa Robbal'alamiin

Kamis, 02 Agustus 2012

Siapkan Kursi di Sorga

"Teman-teman sebagai anak tentu kita ingin membahagiakan orang tua kita. Kita berfikir bahwa cara membuat orang tua kita bahagia adalah dengan memberinya banyak uang, mempersembahkan hadiah-hadiah kepada mereka. Mungkin saja itu ada benarnya, jika sumber uang/harta tersebut berasal dari rejeki yang halal. Namun alangkah sedihnya orang tua kita seandainya harta yang kita berikan berasal dari sumber yang tidak halal. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk dapat membahagiakan orang tua. Islam memberi petunjuk dalam sebuah hadis bahwa di akhirat kelak  ada sebagaian orang tua terkejut dan bertanya-tanya  mengapa Allah menyediakan singgasana dan mahkota di syorga kepada mereka. Mereka menyadari amalnya sedikit, ibadahnya pas-pasan, merasa tidak pantas mendapatkan singgasana dan mahkota di syorga. Lalu Allah menjawab, bahwa anak-anak merekalah yang menghadiahkan mahkota dan singgasana ini untuk mereka. Mereka adalah orang tua dari anak-anak yang  membaca, mempelajari dan menghafalkan Al Quran. Jadi teman-teman, perilaku kita sebagai anak dapat menentukan apakah sebenarnya kita sedang mempersiapkan kursi buat orang tua kita di syorga, atau justru sebaliknya menyiapkan kursi di neraka, naudzubillah."

Kata-kata di atas adalah rangkuman ceramah salah seorang muridku klas XI IS. Subhanallah, aku merinding mendengarnya. Kata-katanya lancar, diselingi dengan dalil-dalil yang dibacanya dengan fasih  baik terjemahan maupun dalam bahasa Arabnya. Dia menunjukkan keluasan pengetahuan ilmu agama yang dia miliki. Sehingga, bahkan teman-temannyapun menyimaknya dengan seksama. Meskipun demikian  gayanya tetap kocak dan menunjukkan keremajaannya. Ah.. tak henti aku mengucap pujian kepada Allah yang telah menganugerahkan keluasan ilmu agama kepada muridku ini. Karena jika tidak memiliki ilmu agama, tidak mungkin dia bisa selancar itu berceramah mendadak tanpa pemberitahuan.

Pagi tadi, aku memasuki kelasnya yang kosong. Ternyata jam pelajaran Aqidah Akhlak yang kebetulan gurunya sedang mengikuti PLPG. Setelah mengabsen dan ngobrol sebentar dengan mereka, aku minta salah seorang siswa, Rizki untuk maju ke depan dan berbicara tentang Aqidah - Akhlak. Aku pilih Rizki karena anak ini selama menjadi siswa di madrasah ini dia tinggal di pesantren tahfidz Quran tidak jauh dari madrasah. Jadi aku fikir sedikit banyak pemahaman agamanya lebih tinggi dibanding teman-teman sekelasnya. Subhanallah, tidak salah aku menunjuknya ke depan. Dia memiliki potensi yang baik untuk menjadi seorang da'i. Tanpa persiapan apapun anak ini bisa berbicara seperti rangkuman di atas. Bahkan teman-temannyapun antusias bertanya.

Aku ingat setahun yang lalu, gurunya mendaftarkan Rizki dan dua orang temannya untuk bisa menjadi siswa baru di madrasah ini. Tiga anak ini sebenarnya bukan siswa yang baru lulus SMP/MTs dan akan mendaftar siswa baru. Mereka seharusnya naik ke kelas XI di sekolahnya yang lama. Namun, kata gurunya sekolahnya tersebut, pesantren yang menyelanggarakan pendidikan MA, harus ditutup karena tidak mendapat murid. Anak-anak ini berniat untuk tersu sekolah namun memiliki keterbatasan biaya. Sebelumnya dia tinggal dan sekolah di pesantrennya yang akan ditutup itu dengan membayar ala kadarnya. Orang tua mereka di luar kota. Alhamdulillah kepala madrasah kami memiliki hati yang mulia, ketiga anak ini diterima dan dibebaskan dari seluruh biaya hingga mereka lulus kelak. Dan selama menjadi siswa kami, anak-anak ditampung di pesantren markaz Qur'an tak jauh dari madrasah. Nyaris waktu mereka dihabiskan di madrasah dan di pesantren.

Aku berharap diantara mereka ada yang diterima di Al Azhar Kairo dan menuntut ilmu agama di sana. Semoga kelak mereka menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan agama. 
Aamiin Aamiin Yaa Mujiibassailin.




Senin, 30 Juli 2012

Safir Cinta


Saat memasuki rumah sore itu, mataku tertumpu pada paket bungkusan coklat di atas meja. Ini pasti kiriman buku dari bu Fara 'Safir Cinta". Betul sekali nama pengirimnya tertulis Faradina Izhdihary, sekaligus penulis buku yang dikirimkannya. Subhanalllah walhamdulillah, tak sabar aku segera membukanya. Dengan antusias, kuamati sampul buku depan, persis seperti yang bu Fa upload di group guru menulis. Secara fisik, penampilan novel 274 halaman ini cukup menarik. Lalu seperti biasa terhadap buku baru aku melakukan skimming: membaca cuplikan  cerita di halaman belakang,  komentar-komentar dari beberapa tokoh, memperhatikan penerbitnya, dan memulai membuka halaman pertama. Di halaman pertama..bu Fa menuliskan salam cintanya dengan kata-kata indah "cinta adalah kesediaan untuk berkorban". Kuputuskan untuk segera mandi dan berbenah agar aku segera bisa menelusuri kisah perjalanan di novel 'Safir Cinta" ini.

Pada awalnya, antusiasmeku terhadap buku ini lebih kepada penulisnya. Sebagai sesama guru, aku diam-diam takjub dengan produktifitas tulisan bu Fara. Dibalik kesibukan beliau mengajar, beberapa buku sudah terbit dari tangannya baik novel, kumpulan cerpen, puisi, dan beberapa karya ilmiah hasil penelitian. Bahkan bu Fara juga menjadi ghost writer untuk buku biografi. Rasa-rasanya, kegigihan bu Fa menghasilkan itu semua-pun sepertinya layak menjadi cerita novel. Novel 'safir cinta' di tanganku ini adalah novel keduanya.

Membaca adalah proses memahami isi fikiran penulisnya. Judul safir cinta yang dipilih penulis cukup mengundang tanya. Setahuku, safir adalah nama batu yang berwarna biru itu. Biru alias "blue" identik duka. Berarti barangkali  ini novel  tentang duka cinta atau cinta yang duka. Jika demikian, mesti siap-siap tissu atau handuk siapa tahu sambil membaca akan bercucuran air mata.

Membaca prolog dan halaman-halaman awal novel ini, terfikir bahwa kisah dalam novel diilhami oleh kisah nyata. Penulis telah mengambil langkah yang berani dalam memilih tema cinta yang kelam. Rasanya tak sanggup membayangkan jika semua itu  imajinasi semata penulisnya. Dari awal, kisah tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan begitu kelam. Tiga generasi nenek, ibu, dan anak mengalami ketragisan cinta dan hidup yang seolah temurun. Ketika membaca kisah tokoh si ibu, teringat kisah dalam buku "a man called Dave". Kisah yang sangat tragis dan menyedihkan saat si ibu menjadi pelampiasan kebejatan ayah tirinya. Naudzubillah.

Sebagai pembaca, emosiku teraduk-aduk dengan kisah pilu tokoh-tokoh di dalamnya. Di tengah perjalanan emosi tersebut, tiba-tiba penulis dengan lihainya mengejutkan pembaca dengan kisah pembunuhan yang tak terduga. Ini membuat kita pembaca  menjadi penasaran dan ingin tahu kisah selanjutnya. Tak hanya itu, mendekati akhir-akhir cerita, penulis menyajikan hal-hal tak terduga lainnya. Hal ini menyisakan tanda tanya yang barangkali akan terjawab dalam buku kedua 'safir cinta'.

Secara umum, kisah dalam novel ini terjalin apik, melodramatis, dan pasti pesannya sampai. Bahwa, meskipun kadang sepertinya hidup itu tidak bisa memilih, tetap manusia dapat berupaya mengubah jalan hidupnya. Keyakinan akan kasih sayang dan ampunan Allah-lah yang dapat menguatkan, sekelam apapun masa lalu itu.

Terima kasih bu Fa, karya-karya ibu sungguh  menginspirasi.

Selasa, 24 Juli 2012

Hati-Hati dan Gunakan Fikiran

Angin gurun bertiup kencang siang itu, meski gedung-gedung tinggi hampir tidak lagi menyisakan tanah lapang. Debu-debu beterbangan bersama hawa panas terik siang hari ba'da dhuhur. Aku melangkah menyusuri jalanan kota Makkah Al Mukaramah menuju Masjidil Haram. Alhamdulillah jarak pondokanku dengan Masjidil Haram lumayan dekat sekitar 300 meter, sehingga memudahkanku untuk jalan-jalan meski  sendirian. Saat itu waktu setempat menunjukkan pukul 13.30. Aku kembali ke masjid, setelah sempat pulang ke pondokan untuk makan siang ba'da sholat dhuhur. Langkahku bergegas, teringat janji yang telah diucapkan semalam; "Besok siang ba'da dhuhur sekitar jam 14.00, saya tunggu di tempat ini ya." Ujarnya. 


Sambil terus melangkah, aku mulai merangkai kata-kata. Kata-kata yang tepat untuk membatalkan rencana yang telah dia janjikan. Bagaimanapun ada sedikit terselip rasa takut seandainya harus mengikuti rencananya. Teman-teman di pondokan tidak ada satupun yang mau diajak. Di sisi lain, rasa ingin tahuku juga cukup kuat untuk mengikuti ajakannya. Rasa bimbang mengiringi langkahku. Teringat pertemuan kami tadi malam. 


Sepuluh hari terakhir setelah selesai ibadah wajib haji, aku berdua bu Imas, ustadzah teman sekamar berazzam untuk i'tikaf di Masjidil Haram. Tadi malam adalah malam ke tiga kami beri'tikaf di masjidil Haram. Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam.  Angin malam bertiup sejuk. Masjidil Haram tak pernah sepi dari orang thawaf. Manusia berbagai warna, datang dari negeri-negeri yang jauh,  bersatu dalam munajat cinta Allah. Bahkan semakin malam semakin ramai. Bu Imas sudah tidur di karpet masjid di dekatku. Aku masih tilawah Al Quran sambil sesekali berhenti memandangi Ka'bah. Sungguh nikmat berada dalam suasana ini, suasana yang pada akhirnya selalu aku rindukan.

Tiba-tiba seseorang mendatangiku sambil berujar "Assalamu'alaikum ukhti". Wa'alaikum salam, jawabku sambil menyalaminya. Dilihat dari raut mukanya dan pakaian yang dikenakan, dia berasal dari Timur Tengah.  Tiba-tiba dia bertanya, "ukhti berasal dari Malaysia?". Ah, saya terkejut, dia bisa berbahasa Indonesia. Seperti mengerti kebingunganku, dia langsung memperkenalkan diri. "Nama saya Munawar (tulisannya Mounawar), dosen filsafat Islam di Univ. Mashad Iran." Saya bisa berbahasa Melayu, karena banyak mahasiswa saya berasal dari Indonesia dan Malaysia." Perempuan cerdas, batin saya.  Ketika aku bilang berasal dari Indonesia, dia rupanya juga cukup banyak tahu tentang Indonesia. Kebetulan saya juga lumayan banyak membaca buku-buku yang ditulis ulama Iran seperti Imam Khomeini, Murtadha Mutahhari, Ali Syariati (yang terakhir ini bahkan penulis favoritku). Akhirnya malam itupun kami lalui dengan obrolan hangat hingga tengah malam. Di ujung pembicaraan, dia mengundang saya untuk bertemu dan berkunjung ke pusat kebudayaan Iran di Makkah. Dan dia menjanjikan, besok siang ba'da dhuhur, ditunggu di tempat ini. Kamipun berpisah malam itu. Sungguh pertemuan yang tidak terduga.

Hampir jam 14.00, ketika aku sampai di tempat perjanjian. Dari jauh aku sudah melihat ibu Munawar (aku panggil dia Ibu, sapaan resmi dan formal, usianya sekitar 40an). Kamipun bersalaman. Belum sempat aku mengucapkan kata maaf hendak membatalkan undangannya, dia sudah mulai berujar. "Saya sudah menunggu hampir dua jam, dan saya sudah mendapat kepastian prof Zahra bersedia menemui ibu di pusat kebudayaan Iran". Saya sempat ragu apakah Anda jadi datang, tapi saya mendapat keyakinan Anda akan datang dari ayat yang saya baca yang mengabarkan Anda akan datang," ujarnya beruntun. Ah, lidahku kelu. Bagaimana ini, ibu Munawar sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengajakku. "Yah, mari kita berangkat ujarku mengiyakan.

Kamipun berdua melangkah keluar masjid. Sambil berjalan, aku berkata bahwa sebenarnya aku ingin membatalkan undangan ini karena kami jamaah perempuan dilarang bepergian sendiri selama di tanah suci. Dia berkata singkat, "hati-hati dan gunakan fikiran". "Tidak akan terjadi apa-apa, Insya Allah aman," ujarnya melanjutkan. Aku terkesima dengan tips and triknya. Ringkas dan bermakna. Pantas saja mereka berani. Dan kami berdua akhirnya mendapatkan taksi yang kebetulan sudah terisi dua orang teman perempuan bu Munawar. Jadilah kami berempat di taksi.

Sesampai di pusat kebudayaan Iran di Makah, kami berdua turun sementara kedua teman ibu Munawar melanjutkan perjalanan. Kami langsung menuju restoran yang berada di gedung itu. Tempat duduk perempuan di restoran itu terpisah dari laki-laki, tertutup tabir, sehingga antara pengunjung laki-laki dan perempuan tidak saling melihat. Meski kesannya agak aneh, karena bahkan di Masjidil Haram tempat laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan tabir sehingga bisa saling melihat. Di restoran itu sudah menunggu prof. Zahra, doktor perbandingan agama di Univ. Teheran. Dia tidak bisa berbahasa melayu, jadi kami berbicang dengan bahasa Inggris. Selesai makan siang dengan menu nasi kebuli khas Iran, prof Zahra mengajak kami ke lantai dua ke ruang kerjanya. Kami melanjutkan perbincangan di situ. Apa saja mulai dari konsep syiah, bagaimana muslim di Iran dan pandangan-pandangan tentang Islam di dunia. 

Yang agak surprise, ternyata perempuan-perempuan Iran kenalanku ini terbiasa membuka jilbabnya di momen-momen dan ruangan khusus perempuan. Mereka mempersilahkan aku jika ingin membuka jilbab. Tapi bagiku ini agak ribet, harus membuka dan memakai lagi. Maka aku tetap berjilbab selama perbicangan di ruangan itu. Selama perbincangan prof. Zahra menghidangkan teh Iran yang disajikan dengan gula batu. Cara minumnya, gula batu digigit terlebih dahulu baru menghirup teh. Unik. Tak terasa, waktu sudah hampir ashar. Kamipun menyudahi pembicaraan. Ibu Munawar memberikan kenang-kenangan berupa kompas. Ah, pas bener kenang-kenangannya seperti menyiratkan pesan dengan kompas yang jelas serta sikap hati-hati dan berfikir, jangan takut kemana-mana. Aku, karena tidak mempersiapkan diri, memberikan buka "Wawasan Al Quran" karangan pak Quraish Shihab yang kebetulan ada di tasku. Kami bersama-sama kembali ke Masjidil Haram untuk menunaikan shalat Ashar dan berpisah di sana.

Ah, sungguh momen yang tidak terduga. Sepulang ke Pondokan, dan aku ceritakan pengalamanku hari ini, temen-temen pada berkata, "ah nyesel gak jadi ikut". "Yah, belum rejeki", kataku. Alhamdulillah, tidak ada yang sia-sia dan kebetulan dari setiap kejadian.



#Kisah saat menunaikan ibadah haji tahun2000#





Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...