Kamis, 02 Agustus 2012

Siapkan Kursi di Sorga

"Teman-teman sebagai anak tentu kita ingin membahagiakan orang tua kita. Kita berfikir bahwa cara membuat orang tua kita bahagia adalah dengan memberinya banyak uang, mempersembahkan hadiah-hadiah kepada mereka. Mungkin saja itu ada benarnya, jika sumber uang/harta tersebut berasal dari rejeki yang halal. Namun alangkah sedihnya orang tua kita seandainya harta yang kita berikan berasal dari sumber yang tidak halal. Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk dapat membahagiakan orang tua. Islam memberi petunjuk dalam sebuah hadis bahwa di akhirat kelak  ada sebagaian orang tua terkejut dan bertanya-tanya  mengapa Allah menyediakan singgasana dan mahkota di syorga kepada mereka. Mereka menyadari amalnya sedikit, ibadahnya pas-pasan, merasa tidak pantas mendapatkan singgasana dan mahkota di syorga. Lalu Allah menjawab, bahwa anak-anak merekalah yang menghadiahkan mahkota dan singgasana ini untuk mereka. Mereka adalah orang tua dari anak-anak yang  membaca, mempelajari dan menghafalkan Al Quran. Jadi teman-teman, perilaku kita sebagai anak dapat menentukan apakah sebenarnya kita sedang mempersiapkan kursi buat orang tua kita di syorga, atau justru sebaliknya menyiapkan kursi di neraka, naudzubillah."

Kata-kata di atas adalah rangkuman ceramah salah seorang muridku klas XI IS. Subhanallah, aku merinding mendengarnya. Kata-katanya lancar, diselingi dengan dalil-dalil yang dibacanya dengan fasih  baik terjemahan maupun dalam bahasa Arabnya. Dia menunjukkan keluasan pengetahuan ilmu agama yang dia miliki. Sehingga, bahkan teman-temannyapun menyimaknya dengan seksama. Meskipun demikian  gayanya tetap kocak dan menunjukkan keremajaannya. Ah.. tak henti aku mengucap pujian kepada Allah yang telah menganugerahkan keluasan ilmu agama kepada muridku ini. Karena jika tidak memiliki ilmu agama, tidak mungkin dia bisa selancar itu berceramah mendadak tanpa pemberitahuan.

Pagi tadi, aku memasuki kelasnya yang kosong. Ternyata jam pelajaran Aqidah Akhlak yang kebetulan gurunya sedang mengikuti PLPG. Setelah mengabsen dan ngobrol sebentar dengan mereka, aku minta salah seorang siswa, Rizki untuk maju ke depan dan berbicara tentang Aqidah - Akhlak. Aku pilih Rizki karena anak ini selama menjadi siswa di madrasah ini dia tinggal di pesantren tahfidz Quran tidak jauh dari madrasah. Jadi aku fikir sedikit banyak pemahaman agamanya lebih tinggi dibanding teman-teman sekelasnya. Subhanallah, tidak salah aku menunjuknya ke depan. Dia memiliki potensi yang baik untuk menjadi seorang da'i. Tanpa persiapan apapun anak ini bisa berbicara seperti rangkuman di atas. Bahkan teman-temannyapun antusias bertanya.

Aku ingat setahun yang lalu, gurunya mendaftarkan Rizki dan dua orang temannya untuk bisa menjadi siswa baru di madrasah ini. Tiga anak ini sebenarnya bukan siswa yang baru lulus SMP/MTs dan akan mendaftar siswa baru. Mereka seharusnya naik ke kelas XI di sekolahnya yang lama. Namun, kata gurunya sekolahnya tersebut, pesantren yang menyelanggarakan pendidikan MA, harus ditutup karena tidak mendapat murid. Anak-anak ini berniat untuk tersu sekolah namun memiliki keterbatasan biaya. Sebelumnya dia tinggal dan sekolah di pesantrennya yang akan ditutup itu dengan membayar ala kadarnya. Orang tua mereka di luar kota. Alhamdulillah kepala madrasah kami memiliki hati yang mulia, ketiga anak ini diterima dan dibebaskan dari seluruh biaya hingga mereka lulus kelak. Dan selama menjadi siswa kami, anak-anak ditampung di pesantren markaz Qur'an tak jauh dari madrasah. Nyaris waktu mereka dihabiskan di madrasah dan di pesantren.

Aku berharap diantara mereka ada yang diterima di Al Azhar Kairo dan menuntut ilmu agama di sana. Semoga kelak mereka menjadi orang yang bermanfaat untuk diri, keluarga dan agama. 
Aamiin Aamiin Yaa Mujiibassailin.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...