Sebelum dan sesudah bulan Ramadhan, kuburan menjadi tempat yang ramai diziarahi. Begitu juga yang aku lakukan. Entah kenapa harus menunggu waktu-waktu ini, ziarah kubur kan sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Namun, tidak ada salahnya melakukan ziarah kubur di sebelum dan sesudah Ramadhan, karena memang tidak ada larangan dalam agama. Begitulah, maka di saat-saat itu kuburan menjadi tempat yang ramai. Dan, seperti setiap keramaian, kebiasaan ziarah kubur menjadi lahan ekonomi bagi pembersih makam, penjual bunga dan peminta-minta. Seperti dua dunia yang menyatu di satu waktu.
Seperti mudik, ziarah kubur juga sebenarnya perjalanan 'menemui' orang-orang di masa lalu kita. Jika mudik, orang-orang yang kita temui hidup di alam yang sama dengan kita dan masih bisa diajak bercanda, ziarah kubur sebaliknya. Oleh karenanya, nuansanya tentu saja berbeda. Ziarah kubur mengingatkan kita semua kemana kita semua akan kembali, apa yang akan kita bawa, dan seperti apa raga kita akan menjadi.
Meski ramai orang, memasuki areal pemakaman tidak bisa membuat kita bercanda. Orang-orang berjalan dalam diam seperti merenung. Dan setelah menemukan makam keluarga, semua tunduk dalam khusyu' do'a-do'a yang dipanjatkan. Ada yang sebentar, ada yang cukup lama. Masih terlihat ada airmata yang menetes. Benarlah memang "cukuplah kematian sebagai nasihat". Setelah selesai berdo'a, ada yang menaburkan bunga dan membersihkan makam. Aku sendiri "lebih suka" memetik beberapa helai dedauan atau tangkai tanaman yang kebetulan aku temui dan melatakkan di pusara. Ini seperti yang dicontohkan Rasululllah ketika berziarah kubur beliau memetik beberapa helai daun korma dan meletakkan di pusara.
Rasulullah menganjurkan kita melakukan ziarah kubur, karena akan mengingatkan kita pada kematian. Ingatan ini menyadarkan kita betapa tidak ada manfaatnya kesombongan, kemarahan, kedengkian dan segala keburukan/kemudharatan yang bahkan mungkin tidak sengaja kita lakukan. Ingatan ini menguatkan kita untuk segera bertobat ketika khilaf, segera minta maaf ketika berbuat salah, segera berbuat dan tidak menahan-nahan kebaikan. Ingatan ini menguatkan kesadaran kita kepada Allah tempat semua kita akan kembali.
Aku terduduk lama di pusara itu, tidak untuk menangisinya atau menangisi hidupku. Waktu kepergiannya telah cukup lama. Aku belajar untuk tak pernah menyesali apa-apa dan menerima kehidupan sebagai sesuatu yang sudah digariskanNya. Aku ingin tahu tapi nyaris tak mungkin seperti apa kehidupannya sekarang. Bahagiakah? Seperti harapanku dalam do'a-do'a yang aku panjatkan semoga Allah membahagiakannya dan mengumpulkannya bersama orang-orang yang saleh. "Jangan mengira mereka yang sudah mati itu mati, sesungguhnya mereka hidup" (hadits apa ayat yah.. lupa). "Mereka melihat kita tapi kita tidak bisa melihatnya', maka malulah kita pada perbuatan buruk kita.
Maka, baiklah sesekali kita melakukan ziarah kubur, agar kehidupan dunia tidak melalaikan kita kemana kita semua akan kembali. Dan untuk itu, kita perlu menyiapkan bekal, sebanyak-banyaknya. Dan, sebaik-baik bekal adalah takwa. Insya Allah, Aamiin.
Seperti mudik, ziarah kubur juga sebenarnya perjalanan 'menemui' orang-orang di masa lalu kita. Jika mudik, orang-orang yang kita temui hidup di alam yang sama dengan kita dan masih bisa diajak bercanda, ziarah kubur sebaliknya. Oleh karenanya, nuansanya tentu saja berbeda. Ziarah kubur mengingatkan kita semua kemana kita semua akan kembali, apa yang akan kita bawa, dan seperti apa raga kita akan menjadi.
Meski ramai orang, memasuki areal pemakaman tidak bisa membuat kita bercanda. Orang-orang berjalan dalam diam seperti merenung. Dan setelah menemukan makam keluarga, semua tunduk dalam khusyu' do'a-do'a yang dipanjatkan. Ada yang sebentar, ada yang cukup lama. Masih terlihat ada airmata yang menetes. Benarlah memang "cukuplah kematian sebagai nasihat". Setelah selesai berdo'a, ada yang menaburkan bunga dan membersihkan makam. Aku sendiri "lebih suka" memetik beberapa helai dedauan atau tangkai tanaman yang kebetulan aku temui dan melatakkan di pusara. Ini seperti yang dicontohkan Rasululllah ketika berziarah kubur beliau memetik beberapa helai daun korma dan meletakkan di pusara.
Rasulullah menganjurkan kita melakukan ziarah kubur, karena akan mengingatkan kita pada kematian. Ingatan ini menyadarkan kita betapa tidak ada manfaatnya kesombongan, kemarahan, kedengkian dan segala keburukan/kemudharatan yang bahkan mungkin tidak sengaja kita lakukan. Ingatan ini menguatkan kita untuk segera bertobat ketika khilaf, segera minta maaf ketika berbuat salah, segera berbuat dan tidak menahan-nahan kebaikan. Ingatan ini menguatkan kesadaran kita kepada Allah tempat semua kita akan kembali.
Aku terduduk lama di pusara itu, tidak untuk menangisinya atau menangisi hidupku. Waktu kepergiannya telah cukup lama. Aku belajar untuk tak pernah menyesali apa-apa dan menerima kehidupan sebagai sesuatu yang sudah digariskanNya. Aku ingin tahu tapi nyaris tak mungkin seperti apa kehidupannya sekarang. Bahagiakah? Seperti harapanku dalam do'a-do'a yang aku panjatkan semoga Allah membahagiakannya dan mengumpulkannya bersama orang-orang yang saleh. "Jangan mengira mereka yang sudah mati itu mati, sesungguhnya mereka hidup" (hadits apa ayat yah.. lupa). "Mereka melihat kita tapi kita tidak bisa melihatnya', maka malulah kita pada perbuatan buruk kita.
Maka, baiklah sesekali kita melakukan ziarah kubur, agar kehidupan dunia tidak melalaikan kita kemana kita semua akan kembali. Dan untuk itu, kita perlu menyiapkan bekal, sebanyak-banyaknya. Dan, sebaik-baik bekal adalah takwa. Insya Allah, Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar