Angin gurun bertiup kencang siang itu, meski gedung-gedung tinggi hampir tidak lagi menyisakan tanah lapang. Debu-debu beterbangan bersama hawa panas terik siang hari ba'da dhuhur. Aku melangkah menyusuri jalanan kota Makkah Al Mukaramah menuju Masjidil Haram. Alhamdulillah jarak pondokanku dengan Masjidil Haram lumayan dekat sekitar 300 meter, sehingga memudahkanku untuk jalan-jalan meski sendirian. Saat itu waktu setempat menunjukkan pukul 13.30. Aku kembali ke masjid, setelah sempat pulang ke pondokan untuk makan siang ba'da sholat dhuhur. Langkahku bergegas, teringat janji yang telah diucapkan semalam; "Besok siang ba'da dhuhur sekitar jam 14.00, saya tunggu di tempat ini ya." Ujarnya.
Sambil terus melangkah, aku mulai merangkai kata-kata. Kata-kata yang tepat untuk membatalkan rencana yang telah dia janjikan. Bagaimanapun ada sedikit terselip rasa takut seandainya harus mengikuti rencananya. Teman-teman di pondokan tidak ada satupun yang mau diajak. Di sisi lain, rasa ingin tahuku juga cukup kuat untuk mengikuti ajakannya. Rasa bimbang mengiringi langkahku. Teringat pertemuan kami tadi malam.
Sepuluh hari terakhir setelah selesai ibadah wajib haji, aku berdua bu Imas, ustadzah teman sekamar berazzam untuk i'tikaf di Masjidil Haram. Tadi malam adalah malam ke tiga kami beri'tikaf di masjidil Haram. Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Angin malam bertiup sejuk. Masjidil Haram tak pernah sepi dari orang thawaf. Manusia berbagai warna, datang dari negeri-negeri yang jauh, bersatu dalam munajat cinta Allah. Bahkan semakin malam semakin ramai. Bu Imas sudah tidur di karpet masjid di dekatku. Aku masih tilawah Al Quran sambil sesekali berhenti memandangi Ka'bah. Sungguh nikmat berada dalam suasana ini, suasana yang pada akhirnya selalu aku rindukan.
Tiba-tiba seseorang mendatangiku sambil berujar "Assalamu'alaikum ukhti". Wa'alaikum salam, jawabku sambil menyalaminya. Dilihat dari raut mukanya dan pakaian yang dikenakan, dia berasal dari Timur Tengah. Tiba-tiba dia bertanya, "ukhti berasal dari Malaysia?". Ah, saya terkejut, dia bisa berbahasa Indonesia. Seperti mengerti kebingunganku, dia langsung memperkenalkan diri. "Nama saya Munawar (tulisannya Mounawar), dosen filsafat Islam di Univ. Mashad Iran." Saya bisa berbahasa Melayu, karena banyak mahasiswa saya berasal dari Indonesia dan Malaysia." Perempuan cerdas, batin saya. Ketika aku bilang berasal dari Indonesia, dia rupanya juga cukup banyak tahu tentang Indonesia. Kebetulan saya juga lumayan banyak membaca buku-buku yang ditulis ulama Iran seperti Imam Khomeini, Murtadha Mutahhari, Ali Syariati (yang terakhir ini bahkan penulis favoritku). Akhirnya malam itupun kami lalui dengan obrolan hangat hingga tengah malam. Di ujung pembicaraan, dia mengundang saya untuk bertemu dan berkunjung ke pusat kebudayaan Iran di Makkah. Dan dia menjanjikan, besok siang ba'da dhuhur, ditunggu di tempat ini. Kamipun berpisah malam itu. Sungguh pertemuan yang tidak terduga.
Hampir jam 14.00, ketika aku sampai di tempat perjanjian. Dari jauh aku sudah melihat ibu Munawar (aku panggil dia Ibu, sapaan resmi dan formal, usianya sekitar 40an). Kamipun bersalaman. Belum sempat aku mengucapkan kata maaf hendak membatalkan undangannya, dia sudah mulai berujar. "Saya sudah menunggu hampir dua jam, dan saya sudah mendapat kepastian prof Zahra bersedia menemui ibu di pusat kebudayaan Iran". Saya sempat ragu apakah Anda jadi datang, tapi saya mendapat keyakinan Anda akan datang dari ayat yang saya baca yang mengabarkan Anda akan datang," ujarnya beruntun. Ah, lidahku kelu. Bagaimana ini, ibu Munawar sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengajakku. "Yah, mari kita berangkat ujarku mengiyakan.
Kamipun berdua melangkah keluar masjid. Sambil berjalan, aku berkata bahwa sebenarnya aku ingin membatalkan undangan ini karena kami jamaah perempuan dilarang bepergian sendiri selama di tanah suci. Dia berkata singkat, "hati-hati dan gunakan fikiran". "Tidak akan terjadi apa-apa, Insya Allah aman," ujarnya melanjutkan. Aku terkesima dengan tips and triknya. Ringkas dan bermakna. Pantas saja mereka berani. Dan kami berdua akhirnya mendapatkan taksi yang kebetulan sudah terisi dua orang teman perempuan bu Munawar. Jadilah kami berempat di taksi.
Sesampai di pusat kebudayaan Iran di Makah, kami berdua turun sementara kedua teman ibu Munawar melanjutkan perjalanan. Kami langsung menuju restoran yang berada di gedung itu. Tempat duduk perempuan di restoran itu terpisah dari laki-laki, tertutup tabir, sehingga antara pengunjung laki-laki dan perempuan tidak saling melihat. Meski kesannya agak aneh, karena bahkan di Masjidil Haram tempat laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan tabir sehingga bisa saling melihat. Di restoran itu sudah menunggu prof. Zahra, doktor perbandingan agama di Univ. Teheran. Dia tidak bisa berbahasa melayu, jadi kami berbicang dengan bahasa Inggris. Selesai makan siang dengan menu nasi kebuli khas Iran, prof Zahra mengajak kami ke lantai dua ke ruang kerjanya. Kami melanjutkan perbincangan di situ. Apa saja mulai dari konsep syiah, bagaimana muslim di Iran dan pandangan-pandangan tentang Islam di dunia.
Yang agak surprise, ternyata perempuan-perempuan Iran kenalanku ini terbiasa membuka jilbabnya di momen-momen dan ruangan khusus perempuan. Mereka mempersilahkan aku jika ingin membuka jilbab. Tapi bagiku ini agak ribet, harus membuka dan memakai lagi. Maka aku tetap berjilbab selama perbicangan di ruangan itu. Selama perbincangan prof. Zahra menghidangkan teh Iran yang disajikan dengan gula batu. Cara minumnya, gula batu digigit terlebih dahulu baru menghirup teh. Unik. Tak terasa, waktu sudah hampir ashar. Kamipun menyudahi pembicaraan. Ibu Munawar memberikan kenang-kenangan berupa kompas. Ah, pas bener kenang-kenangannya seperti menyiratkan pesan dengan kompas yang jelas serta sikap hati-hati dan berfikir, jangan takut kemana-mana. Aku, karena tidak mempersiapkan diri, memberikan buka "Wawasan Al Quran" karangan pak Quraish Shihab yang kebetulan ada di tasku. Kami bersama-sama kembali ke Masjidil Haram untuk menunaikan shalat Ashar dan berpisah di sana.
Ah, sungguh momen yang tidak terduga. Sepulang ke Pondokan, dan aku ceritakan pengalamanku hari ini, temen-temen pada berkata, "ah nyesel gak jadi ikut". "Yah, belum rejeki", kataku. Alhamdulillah, tidak ada yang sia-sia dan kebetulan dari setiap kejadian.
#Kisah saat menunaikan ibadah haji tahun2000#
Sambil terus melangkah, aku mulai merangkai kata-kata. Kata-kata yang tepat untuk membatalkan rencana yang telah dia janjikan. Bagaimanapun ada sedikit terselip rasa takut seandainya harus mengikuti rencananya. Teman-teman di pondokan tidak ada satupun yang mau diajak. Di sisi lain, rasa ingin tahuku juga cukup kuat untuk mengikuti ajakannya. Rasa bimbang mengiringi langkahku. Teringat pertemuan kami tadi malam.
Sepuluh hari terakhir setelah selesai ibadah wajib haji, aku berdua bu Imas, ustadzah teman sekamar berazzam untuk i'tikaf di Masjidil Haram. Tadi malam adalah malam ke tiga kami beri'tikaf di masjidil Haram. Waktu menunjukkan pukul 22.30 malam. Angin malam bertiup sejuk. Masjidil Haram tak pernah sepi dari orang thawaf. Manusia berbagai warna, datang dari negeri-negeri yang jauh, bersatu dalam munajat cinta Allah. Bahkan semakin malam semakin ramai. Bu Imas sudah tidur di karpet masjid di dekatku. Aku masih tilawah Al Quran sambil sesekali berhenti memandangi Ka'bah. Sungguh nikmat berada dalam suasana ini, suasana yang pada akhirnya selalu aku rindukan.
Tiba-tiba seseorang mendatangiku sambil berujar "Assalamu'alaikum ukhti". Wa'alaikum salam, jawabku sambil menyalaminya. Dilihat dari raut mukanya dan pakaian yang dikenakan, dia berasal dari Timur Tengah. Tiba-tiba dia bertanya, "ukhti berasal dari Malaysia?". Ah, saya terkejut, dia bisa berbahasa Indonesia. Seperti mengerti kebingunganku, dia langsung memperkenalkan diri. "Nama saya Munawar (tulisannya Mounawar), dosen filsafat Islam di Univ. Mashad Iran." Saya bisa berbahasa Melayu, karena banyak mahasiswa saya berasal dari Indonesia dan Malaysia." Perempuan cerdas, batin saya. Ketika aku bilang berasal dari Indonesia, dia rupanya juga cukup banyak tahu tentang Indonesia. Kebetulan saya juga lumayan banyak membaca buku-buku yang ditulis ulama Iran seperti Imam Khomeini, Murtadha Mutahhari, Ali Syariati (yang terakhir ini bahkan penulis favoritku). Akhirnya malam itupun kami lalui dengan obrolan hangat hingga tengah malam. Di ujung pembicaraan, dia mengundang saya untuk bertemu dan berkunjung ke pusat kebudayaan Iran di Makkah. Dan dia menjanjikan, besok siang ba'da dhuhur, ditunggu di tempat ini. Kamipun berpisah malam itu. Sungguh pertemuan yang tidak terduga.
Hampir jam 14.00, ketika aku sampai di tempat perjanjian. Dari jauh aku sudah melihat ibu Munawar (aku panggil dia Ibu, sapaan resmi dan formal, usianya sekitar 40an). Kamipun bersalaman. Belum sempat aku mengucapkan kata maaf hendak membatalkan undangannya, dia sudah mulai berujar. "Saya sudah menunggu hampir dua jam, dan saya sudah mendapat kepastian prof Zahra bersedia menemui ibu di pusat kebudayaan Iran". Saya sempat ragu apakah Anda jadi datang, tapi saya mendapat keyakinan Anda akan datang dari ayat yang saya baca yang mengabarkan Anda akan datang," ujarnya beruntun. Ah, lidahku kelu. Bagaimana ini, ibu Munawar sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengajakku. "Yah, mari kita berangkat ujarku mengiyakan.
Kamipun berdua melangkah keluar masjid. Sambil berjalan, aku berkata bahwa sebenarnya aku ingin membatalkan undangan ini karena kami jamaah perempuan dilarang bepergian sendiri selama di tanah suci. Dia berkata singkat, "hati-hati dan gunakan fikiran". "Tidak akan terjadi apa-apa, Insya Allah aman," ujarnya melanjutkan. Aku terkesima dengan tips and triknya. Ringkas dan bermakna. Pantas saja mereka berani. Dan kami berdua akhirnya mendapatkan taksi yang kebetulan sudah terisi dua orang teman perempuan bu Munawar. Jadilah kami berempat di taksi.
Sesampai di pusat kebudayaan Iran di Makah, kami berdua turun sementara kedua teman ibu Munawar melanjutkan perjalanan. Kami langsung menuju restoran yang berada di gedung itu. Tempat duduk perempuan di restoran itu terpisah dari laki-laki, tertutup tabir, sehingga antara pengunjung laki-laki dan perempuan tidak saling melihat. Meski kesannya agak aneh, karena bahkan di Masjidil Haram tempat laki-laki dan perempuan tidak dipisahkan tabir sehingga bisa saling melihat. Di restoran itu sudah menunggu prof. Zahra, doktor perbandingan agama di Univ. Teheran. Dia tidak bisa berbahasa melayu, jadi kami berbicang dengan bahasa Inggris. Selesai makan siang dengan menu nasi kebuli khas Iran, prof Zahra mengajak kami ke lantai dua ke ruang kerjanya. Kami melanjutkan perbincangan di situ. Apa saja mulai dari konsep syiah, bagaimana muslim di Iran dan pandangan-pandangan tentang Islam di dunia.
Yang agak surprise, ternyata perempuan-perempuan Iran kenalanku ini terbiasa membuka jilbabnya di momen-momen dan ruangan khusus perempuan. Mereka mempersilahkan aku jika ingin membuka jilbab. Tapi bagiku ini agak ribet, harus membuka dan memakai lagi. Maka aku tetap berjilbab selama perbicangan di ruangan itu. Selama perbincangan prof. Zahra menghidangkan teh Iran yang disajikan dengan gula batu. Cara minumnya, gula batu digigit terlebih dahulu baru menghirup teh. Unik. Tak terasa, waktu sudah hampir ashar. Kamipun menyudahi pembicaraan. Ibu Munawar memberikan kenang-kenangan berupa kompas. Ah, pas bener kenang-kenangannya seperti menyiratkan pesan dengan kompas yang jelas serta sikap hati-hati dan berfikir, jangan takut kemana-mana. Aku, karena tidak mempersiapkan diri, memberikan buka "Wawasan Al Quran" karangan pak Quraish Shihab yang kebetulan ada di tasku. Kami bersama-sama kembali ke Masjidil Haram untuk menunaikan shalat Ashar dan berpisah di sana.
Ah, sungguh momen yang tidak terduga. Sepulang ke Pondokan, dan aku ceritakan pengalamanku hari ini, temen-temen pada berkata, "ah nyesel gak jadi ikut". "Yah, belum rejeki", kataku. Alhamdulillah, tidak ada yang sia-sia dan kebetulan dari setiap kejadian.
#Kisah saat menunaikan ibadah haji tahun2000#
Tidak ada komentar:
Posting Komentar