Kamis, 23 Mei 2013

Wanita Berhati Kuat


“Nangisnya sudah habis, tiga tahun nangis terus cukup sudah,” ujar wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu nyaris tanpa ekspresi.  Wanita itu seorang ustadzah dari Tasikmalaya. Kebersamaan kami selama berhari-hari dalam perjalanan ibadah haji membuat kami dekat. Kebetulan kami berada di kamar yang sama, dan sama-sama berangkat sendiri. Ustadzah itu berangkat haji dibiayai oleh menantunya yang sedang menempuh  studi S3 di Universitas Madinah atas biaya pemerinta Arab Saudi. Sekitar 7 hari terakhir menjelang kepulangan ke tanah air, kami berdua melewatkan malam-malam di Masjidil Haram untuk beriktikaf.  Kami mengaji bersama, shalat bersama, berdiskusi, berbincang ringan, dan merebahkan badan di lantai masjid jika rasa kantuk menyerang.
Selama kebersamaan kami, aku hampir tak pernah melihatnya menangis, bahkan dalam do’a-do’a dan ibadahnya di depan ka’bah. Karena merasa dekat, aku tanyakan keingintahuanku itu. Lalu mengalirlah cerita hidupnya yang tak kusangka.
Setelah belasan tahun masa perkawinannya yang bahagia dan harmonis dan sudah memiliki tiga orang anak, tiba-tiba suaminya yang ustadz itu minta ijin menikah lagi. Sebagai seorang ustadzah panutan umat dan tentu saja memahami agama, ibu itu meski galau, mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Pada saat hari pernikahan suaminya dia sendiri yang mempersiapkan segala hantaran dan mas kawin. Anak sulungnya yang masih SMP saat itu sempat bertanya untuk apa segala hantaran ini kepada uminya. Dan pernikahan kedua suaminya akhirnya berlangsung dengan keridhoannya.
Pada saat istri kedua suaminya melahirkan anak pertamanya, ustadzah ini ikut menunggui. Dia sendiri sedang mengandung sembilan bulan anaknya yang ke-empat. Subhanallah.  Semuanya nampak berlangsung dengan baik. Namun demikian kelahiran anak pertama dari istri keduanya ini dan kelahiran anak ke-empat dari ustadzah ini rupanya menjadi awal masa-masa penuh derai air mata bagi ustadzah. Anak ke-empatnya laki-laki, satu-satunya setelah tiga anak sebelumnya perempuan. Anak ini ‘dengan kehendak Allah’ menginginkan kedekatan dengan ayahnya lebih dari biasanya. Saat itu rasa keadilan  benar-benar diuji dan suaminya gagal memenuhi syarat keadilan bahkan terhadap anaknya sendiri. Ustadzah itu bercerita, seandainya saat itu suaminya bisa berlaku adil terutama terhadap anak-anaknya saya tidak akan mengajukan gugatan cerai.
Ustadzah itu, setelah masa tiga tahun, melalui perihnya ketidakadilan, akhirnya mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya.  Tentu saja suaminya menolak. Namun kegigihan ustadzah ini untuk memperjuangkan nasibnya di pengadilan, akhirnya berhasil. Perkawinan yang telah dirawatnya belasan tahun harus berakhir. Dia memilih bercerai dari suaminya. Keputusan ini membuatnya tidak saja dimusuhi oleh mantan suami dan keluarganya namun juga komentar miring masyarakat sekitar. Bagaimana mungkin seorang ustadzah mengguggat cerai suaminya yang juga ustadz. Begitulah komentar yang harus dia terima.
Dan kehidupan terus bergulir, beberapa lama setelah dia melalui masa iddahnya, seorang bujangan yang juga guru agama melamarnya. Dan diapun menikah lagi. Seperti do’a yang dia selalu panjatkan, seorang pengganti yang lebih baik. Dari pernikahannya yang kedua ini dia melahirkan tiga orang anak lagi. Sehingga jumlah seluruh anaknya tujuh orang. Dan kesemuanya dibesarkan dengan suami keduanya ini dengan baik. Bahkan anak pertama dan keduanya menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh suami keduanya. Alhamdulillah perkawinan keduanya sakinah mawwadah wa rahmah. Kebahagiaan hakiki dia rasakan.
Di akhir ceritanya dia berpesan. Dik, (begitulah dia memanggilku), setiap rumah tangga harus melakukan peran dakwah. Jika suami yang berdakwah, maka istri mendukung dakwah suaminya. Jika suami tidak bisa berdakwah,  maka istri harus berdakwah dan suami mendukung dakwah istri.
 Lewat tengah malam ketika dia menyudahi ceritanya. Angin malam di udara Mekkah saat itu bertiup hangat. Ribuan orang masih tak henti berthawaf. Berputar mengelilingi Ka’bah, bergantian antara yang datang dan pergi, seperti roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar. Dan itulah gambaran hidup kita, seharusnya menjadikan Allah sebagai muara segala urusan. Suka- duka, sedih-kecewa, marah-gembira, ujian-musibah, semua dipergilirkan pada waktunya. Dan hanya kepada Allahlah kita pusatkan segala sesuatu.
Bu Imas, nama ustadzah itu, sudah memejamkan mata di lantai masjid. Aku sendiri masih terjaga, terkesan dengan kisah hidupnya. Wanita yang punya pendirian, gumamku dalam hati. Allah-lah yang telah memberinya kekuatan untuk memilih dan memutuskan jalan hidupnya.  Mengijinkan suaminya menikah lagi, menggugat cerai suaminya, dan menikah lagi tentu memerlukan kekuatan hati yang luar biasa. Namun, seperti thawaf, jika semua dikarenakan Allah, segalanya menjadi lebih mudah. Beliau sudah berthawaf jauh sebelum datang ke Ka’bah ini.  Ah, aku akan merindukan saat-saat seperti ini, melakukan perbincangan penuh makna di depan Ka’bah, di Masjidil Haram yang penuh berkah.

Wallahu’alam..




Kamis, 02 Mei 2013

Saat "Boy Band" Sholawatan

Siang itu udara sangat panas. Pendingin ruangan di kelas   menjadi  kurang berfungsi dengan baik, saking panasnya cuaca. Tiga puluh dua siswa kelas X-3 itupun sibuk mengipas-ngipas dirinya. Demikian juga aku yang saat itu mengajar di kelas itu, bersusah-payah mengatasi dua kondisi antara panas dan mengajar. Tentu saja aku tak akan memilih ceramah dalam suasana panas seperti itu. Saat itu kami sedang mengkaji dalil-dalil Al Qur’an tentang perbankan syariah.  Sebelum mendiskusikan makna ayat dan kaitannya dengan perbankan, aku minta siswa yang bacaan Qur’annya bagus untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang perbankan syariah dengan suara nyaring. Kemudian, sesekali seluruh siswa aku minta mengikuti bacaan itu dengan suara nyaring pula. Kegiatan itu cukup menghidupkan suasana yang panas.

Melihat  konsentrasi siswa mudah terpecah antara pelajaran, cuaca panas dan rasa kantuk, di tengah jam pelajaran, aku memutuskan untuk memberikan ice breaker.  Aku pilih ice breaker yang melibatkan semua siswa yaitu permainan konsentrasi dan kegesitan. Dalam kondisi tetap duduk setiap siswa berperan sebagai pemburu dan ular.  Jari telunjuk dianggap sebagai ular, telapak tangan yang terbuka simbul pemburu. Dengan posisi berantai setiap siswa berperan sebagai pemburu sekaligus ular. Permainannya cukup mudah, aku akan bercerita tentang kisah perburuan manusia terhadap ular untuk menjadikan kulitnya sebagai asesoris. Siswa mesti menyimak cerita itu, karena ketika dalam cerita itu disebut kata ular maka kegesitan ular menghindar dan pemburu menangkap ular diuji. Peraturannya siapa yang tertangkap dia kalah dan siap dihukum sesuai permintaan pemburu. Pilihan hukumannya adalah menyanyi, bercerita, menghafal ayat, ceramah, atau membaca ayat Al Qur’an.

Permainan ini membutuhkan konsentrasi, kegesitan dan terutama kepiawaian guru dalam mengarang cerita yang bisa memancing ular dan pemburu bereaksi. Setiap sampai pada kata yang berawalan ‘u’ , aku menggunakan nada tertentu  yang memancing reaksi siswa. Di sini ketegangan mulai terasa. Siswa yang panic akan cepat-cepat bereaksi pada setiap kata yang berawalan ‘u’ disebut. Kelaspun mulai heboh. Dan, justru pada kata ‘ular’, aku mengucapkannya dengan santai dan dalam rangkaian cerita yang tak terduga. Sehingga hanya siswa yang benar-benar konsentrasi dan gesitlah yang berhasil berperan dengan baik. Siang itu, tertangkap tiga ‘ular’ yang kurang gesit menghindar. Dua siswi dan satu siswa.

Ketiga siswa tersebut diminta maju ke depan kelas dan memilih hukumannya.  Satu-satunya siswa putra yang tertangkap merupakan salah satu anggota ‘boy band’ di kelas itu. Yah, disebut anggota boy band, karena di kelas tersebut berkumpul sejumlah siswa yang memerlukan perhatian khusus karena ‘keaktifan’ sikapnya yang seringkali sulit dikendalikan dan mengganggu. Entah mengapa, teman-temannya meminta sang ‘boy band’ untuk khotbah. Permintaan yang aneh, batinku. Sang boy band tidak bersedia berkotbah, dia bilang mau menyanyi saja.  Cukup lama ketiga siswa ‘terhukum’ tersebut menentukan mau menyanyi apa. Berbagai permintaan bermunculan, mulai minta menyanyi lagu Korea, lagu  band Wali, Noah, Ungu, bahkan lagu nasional.

Penonton sudah mulai agak kurang sabar ketika sang boy band tiba-tiba memutuskan untuk menyanyikan sholawat Nabi. Akupun tak menyangka. Lalu remaja tanggung berpenampilan ‘boy band’ itupun mulai melantunkan sholawat nabi dengan suara bass-nya yang lumayan merdu. Dan yang lebih menakjubkan dia tidak melantunkan sholawat Nabi yang biasa kita nyanyikan. Aku  baru pertama kali mendengarnya. Syair sholawat Nabi berbahasa Arab yang cukup panjang itu dinyanyikannya dengan hafal dan lancar tanpa jeda.  Terus terang lantunan sholawat yang disuarakannya membuatku merinding.  Keindahan syair puji-pujian terhadap Rasulullah SAW itu dinyanyikannya dengan khusyu’, oleh siswa yang selama dikenal sebagai anggota ‘boy band’.

Begitu lantunan sholawat berakhir, tepuk tanganpun bergemuruh. Sang ‘boy band’ dan dua siswa yang mendampinginyapun kembali ke tempat duduk. “Subhanallah, ibu terpesona dengan shalawat yang kamu lantunkan”, ujarku. “Dan terus terang ibu tidak menyangka kamu punya hafalan sholawat lebih kaya dari yang ibu duga”, ujarku melanjutkan.  Lalu terjadilah dialog tentang sholawat tersebut; judulnya apa, dimana belajar, dsb. Dan subhanallah, ternyata di kelas tersebut mayoritas siswa putra tergabung dalam kelompok hadrah yang rutin latihan seminggu sekali. Oh pantas saja.

Akhirnya dengan sungguh-sungguh  aku meminta kelompok ‘boy band’ itu untuk menampilkan salah satu lagu favorit mereka. Merekapun tak keberatan dan maju ke depan kelas untuk melantunkan jenis sholawat Nabi yang lainnya. Subhanallah, melihat keseharian mereka dan perilaku yang biasa mereka tampilkan, sungguh tidak menyangka mereka adalah remaja-remaja yang bisa larut dalam kekhusyu’an lantunan sholawat. Akupun makin merinding dan bersusah payah menahan air mata yang mendesak keluar karena haru.

Siang itupun, cuaca panas seperti menguap begitu saja tak berasa. Dan aku mengakhiri  pembelajaran siang itu dengan satu lagi kesadaran bahwa memang setiap anak adalah unik. Dan pasti ada sisi positif yang dimiliki setiap siswa jika kita bersedia mengenalinya. Hari itu bertepatan hari pendidikan nasional 2 Mei, kami belajar bersama tentang aneka warna kehidupan dan pilihan-pilhannya. Bahkan satu orangpun, bisa menampilkan warna yang berbeda-beda. Perlu kesanggupan untuk tidak sekedar mengetahui dan menjustifikasi seseorang dari warna yang ditampakkannya. Sungguh manusia itu unik dan sekaligus misterius. Namun, keterbukaan fikiran dan hati kita untuk mau melihat lebih dari sekedar yang terlihat, membuat hidup ini menjadi lebih bermakna.

Subhanallah wal Hamdulillah

Rabu, 24 April 2013

Dangerous Minds

Beberapa hari lalu saat menjelang UN kelas XII, saya dan beberapa teman guru merasa galau menghadapi ulah siswa kelas XII. Hari-hari terakhir jelang UN,  justru beberapa orang siswa berulah  nyaris tak terkendali. Parahnya, ulah  beberapa siswa itu mempengaruhi teman-temannya. Menjelang UN, kami berharap segala daya upaya siswa dikerahkan untuk menghadapi UN. Namun yang kami hadapi sebaliknya. Beberapa siswa  malas belajar, sering bolos, bahkan ketika masuk yang dilakukan adalah membuat onar. Sedang kami para guru dan sekolah  melakukan segala hal untuk menyiapkan mental dan kemampuan akademik mereka.  Tidak saja bimbingan belajar, do’a bersama, istigotsah, kami juga undang beberapa motivator yang kompeten untuk memotivasi siswa secara berkala. Namun melihat ulah beberapa siswa itu, semua seperti tidak ada artinya. Bisa jadi mereka memang stress, panik, dengan UN yang makin dekat.

Dalam kegalauan itu sambil mencari cara terbaik menghadapi ulah mereka, saya menemukan film lama yang berjudul ‘Dangerous Mind”. Film tahun 90-an ini berkisah tentang perjuangan seorang guru “menaklukkan” hati murid-muridnya. Ya, perlu kata berjuang dan menaklukkan karena murid-murid sang guru itu rruar biasa bandelnya. Tidak satu orang  yang bandel tapi satu kelas.  Hari pertama bu guru cantik_ dibintangi artis Michelle Pfeiffer_, mulai mengajar bisa dikatakan gagal total. Murid-muridnya yang luar biasa itu_ ternyata hampir semua berasal dari keluarga miskin dan broken home_ tidak memperdulikan  sedikitpun kehadiran dan kata-kata bu guru. Mereka tetap asyik dengan keonaran kelas, bahkan ada siswa yang sengaja “maaf” memelorotkan celana panjangnya di depan guru sambil membelakanginya. Ada juga yang menggodanya. I can’t imagine if I be her. Singkat cerita ibu guru itu meninggalkan kelas tanpa sempat melakukan apa-apa.

Dalam kegalauannya, ibu guru itu disemangati (dalam film digambarkan ‘dimarah-marahi’) temannya untuk tidak menyerah pada keadaan. Apa yang dilakukan ibu guru itu kemudian adalah sesuatu yang luar biasa. Setelah membaca buku “asertif psychology” (ah ya..ini juga buku yang harus saya baca), ibu guru mengubah dirinya hampir 180 derajad. Inilah ‘dangerous minds’nya. Hari kedua masuk kelas, ibu guru itu sudah ada di kelas sebelum murid-muridnya masuk. Penampilannya tidak lagi feminim seperti sehari sebelumnya. Kali ini dia menggunakan celana jins, kemeja kotak-kotak dan sepatu boot. Dan dia duduk sambil mengangkat kakinya di atas meja dan mengunyah permen karet. Woww.. dan murid-muridnya mulai meliriknya, menggodanya, lebih tepat menjahilinya. Bu guru itu tidak berkata apa-apa menanggapi itu namun menggunakan gerakan bela diri untuk menghindari godaan murid-muridnya. Ulahnya ini makin memancing perhatian murid-muridnya (ah..usaha yang berhasil). Saat murid-muridnya mulai memperhatikan, barulah dia bicara bukan tentang pelajaran, tapi bagaimana menghadapi ‘serangan’. Hari itu bisa dibilang dia berhasil mencuri perhatiannya murid-muridnya. Begitulah seterusnya ibu guru itu menemukan cara-cara yang ‘berbahaya’ dalam mengajar. Salah satunya ketika dia meminta murid-muridnya memberi contoh membuat kalimat dan tidak digubris, ibu guru itu memilih kata kunci “siapa orang yang kau inginkan mati”.  Tema ini rupanya menarik perhatian murid-muridnya dan membangkitkan diskusi yang hidup di dalam kelas.  Dan seterusnya film ini menggambarkan berbagai usaha bu guru mengambil hati murid-muridnya dan akhirnya berhasil.

Film ini sungguh menginspirasi saya terutama untuk tidak pernah menyerah sebagai guru. Saya kira ini film wajib tonton untuk para guru. Murid-murid kita di Indonesia apalagi di madrasah tidak separah yang digambarkan dalam film itu. Sebagian besar malah murid yang manis dan patuh. Maka tidak alasan untuk tenggelam dalam kegalauan menghadapi ulah beberapa siswa. Apalagi terus-menerus memarahinya. Ini justru akan memperburuk keadaan. Seperti dalam film itu, kita mesti mencari cara bagaimana mencuri perhatiannya dan menaklukkan hatinya. Dengan begitu, mereka akan senang belajar. Mengetahui untuk apa harus belajar atau berbuat sesuatu. Punya semangat dan daya upaya untuk meraih mimpi-mimpinya.

Yang saya lakukan kemudian memang tidak “dangerous”. Saya hanya mengajaknya ngobrol secara personal sebagian anak yang membuat onar. Ngobrol yang ringan-ringan saja seperti menanyakan kabarnya, kabar keluarganya, bagaimana perasaannya jelang UN, apa rencananya setelah lulus, dan sebagainya. Saya tidak berharap muluk-muluk mereka langsung berubah. Obrolan ini minimal menenteramkan hati saya, setelah sebelumnya cenderung  menghindari  murid-murid itu agar tak terpancing emosi.
Saya yakin, jika hati kita merasa nyaman bersama siswa, siswapun akan merasakan hal yang sama. Karena yang berasal dari hati akan sampai ke hati. Saya tak lagi menganggap ulah mereka sebagai keonaran, hanya ekspresi yang berlebihan. Saya bisa memahaminya. Saya hanya berharap mereka melakukan apapun dengan tanggung jawab dan kesadaran. Bukan sekedar ikut-ikutan atau tak bertujuan.

Senin, 25 Februari 2013

Teori Hidup


Seorang teman mengomentari blog saya ini sebagai yang menyajikan berbagai permasalahan riil kehidupan, mulai masalah remaja, sekolah, suami istri dan lain-lain. Teman saya yang boleh dibilang tak pernah terpuaskan dahaga keilmuannya dan terus mempertanyakan tentang makna hidup itu juga mengajukan pertanyaan untuk dikomentari di blok ini tentang berbagai teori kehidupan. Apakah psikologi, filsafat, atau agamakah teori hidup yang tepat untuk diterapkan. Dia sendiri memilih agama, meski agama juga multi tafsir.

Filsafat dan psikologi memberi kita pengetahuan tentang berbagai hal dalam hidup ini. Psikologi sendiri, ilmu yang sedikit banyak, pernah saya pelajari, memberi tahu kita tentang gejala-gejala jiwa. Dari itu kita  memiliki pengetahuan agar bisa mensikapi dengan tepat gejala jiwa yang muncul. Demikian juga filsafat, saya kira. Namun demikian sebagai teori yang dihasilkan dari generalisasi suatu sikap yang teramati, psikologi dan filsafat pasti tidak selalu tepat penerapannya. Hal itu karena sebesungguhnya setiap jiwa adalah unik.  Agama bukan teori, tapi panduan langsung dari Tuhan untuk menuntun hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat. Meski penafsiran tentang petunjuk agama seringkali berbeda-beda, namun petunjuk agama menurut saya lebih bersifat universal. Universalitas agama meliputi ruang dan waktu.

Tentu saja, saya sendiri tidak hendak mengkonfrontir berbagai teori hidup dengan agama. Karena, dalam hal tertentu, teori hidup dapat memperkaya petunjuk agama sehingga upaya kita mensikapi berbagai permasalahan hidup menjadi lebih kaya. Sebagai misal, jika psikologi mempelajari gejala-gejala jiwa, maka agama memberikan petunjuk tentang hakikat jiwa. Jadi, hakikat jiwa bisa lebih mudah dipahami melalui gejala-gejala jiwa.

******
Namun demikian di atas segala teori itu, hidup terus berjalan dengan atau tanpa berbagai teori hidup maupun petunjuk agama. Bahkan seringkali berjalan tidak linier sesuai yang direncanakan dan diharapkan. Gejolak kehidupan menuntut kita tidak sekedar berteori namun menemukan teori/teknik sendiri dalam mengatasi gejolaknya. Kehidupan tidak seperti sekolah formal yang akan diuji setelah kita belajar. Namun seringkali keduanya seiring sejalan bahkan berjalan terbalik, dari ujian maka kita belajar.

Saya sendiri lebih senang menganggap hidup ini sebuah petualangan (life is the adventure). Dengan itu, saya mempersiapkan diri untuk menikmati setiap episodenya sebagai bagian dari petualangan yang tidak akan berhenti sebelum kita dipanggil olehNya. Saya menyadari medan kehidupan yang akan saya lalui dalam petualangan hidup ini tidak selalu mudah, bahkan cenderung penuh tantangan. Namun saya tidak akan berhenti atau menyerah di tengah jalan. Barangkali sesekali saya akan berkemah di suatu tempat yang indah untuk sejenak melepas lelah dan menikmati keindahan alam sekitar. Namun,  kehidupan akan memberi tanda saat seharusnya saya kembali melanjutkan perjalanan.

Saya tahu tujuan akhir petualangan hidup ini adalah kembali ke haribaanNya dengan ridho dan diridhoiNya seperti disebut dalam QS. Al Balad (90); 27-28, “wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoiNya.” Untuk bisa kembali dengan hati yang ridho, tentunya kita harus menjalani hidup ini dengan ridho apapun episode yang sedang kita jalani. Agama memberi petunjuk dengan dua sikap: bersyukur ketika mendapat nikmat, dan bersabar ketika mendapat musibah. Petunjuk yang singkat sangat singkat meskipun akan sangat panjang pembahasannya.

Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa keduanya akan dipertukarkan di sepanjang perjalanan. Tidak ada yang menetap abadi salah satunya. Jadi, ini menguatkan kita untuk penuh harap saat ditimpa musibah, dan tidak berlebihan  bersuka cita saat mendapat karunia. What a lovely life.

Duhai Allah yang Maha Kasih, ajarkan hambaMu ini untuk mencintaiMu di atas segalanya, dan mencintai segalanya hanya karenaMu… Aamiin.

Wallahu’alam

Kamis, 14 Februari 2013

Kasih Sayang yang Sesungguhnya

Kemarin, tanggal 14 Februari, anak-anak murid saya meminta diskusi tentang valentine day.  Meski sekolah sudah melarang perayaan ini, tapi rasa ingin tahu anak tak bisa dibendung. Akhirnya  saya bilang, “mari kita diskusi tentang kasih sayang saja, bukan valentine day”. Maka mengalirlah jawaban riuh rendah siswa ketika saya tanya apa makna kasih sayang menurut kalian.  Sebagian mengatakan cinta kepada lawan jenis, ada yang mengatakan kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, atau sebaliknya cinta anak-anak kepada orang tua.

Dalam keriuhan itu tiba-tiba salah seorang murid laki-laki saya bertanya: “bu, bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Kontan saja pertanyaan itu mengundah komentar riuh rendah teman-temannya. Sayapun terhenyak dengan pertanyaan polos dan berani itu. Remaja tanggung usia 15-an itu nampak tersipu ketika teman-temannya akhirnya ramai-ramai menggodanya. Saya berusaha menenangkan suasana kelas dengan mengatakan bahwa pertanyaan itu sebenarnya mewakili sebagian besar kegalauan remaja, jadi mari kita diskusikan.

Saya kembalikan pertanyaan tersebut kepada siswa, “bagaimana caranya mengungkapkan perasaan pada orang yang kita sukai?”. Sebagian besar murid saya klas X  yang kisaran usianya 15 tahunan itu hanya tersenyum malu-malu. Di mata saya mereka masih terlihat polos kekanakan. Yah mereka adalah remaja awal. Namun justru pada usia-usia ini banyak hal masih bisa diluruskan dengan lebih mudah. Pada usia remaja lebih tinggi, mereka tak kan mudah menerima begitu saja suatu penjelasan.  Menyadari itu, saya takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka membuka peluang diskusi jadi ini momen yang tepat untuk berbicara dengan mereka.

Akhirnya saya katakan bahwa fitrah kita sebagai manusia adalah memiliki rasa cinta kepada lawan jenis. Begitulah memang Allah menciptakan manusia agar manusia berkembang biak. Jadi rasa cinta kepada lawan jenis adalah perasaan normal yang dialami semua manusia normal. Tak bisa dielakkan tak bisa dihindari. Perkembangan biologis dan psikologis memungkinkan rasa cinta kepada lawan jenis berkembang di usia remaja seperti kalian. Anak-anak nampak tekun menyimak kata-kata saya.  Pertanyaan salah seorang teman kalian itu sebenarnya bisa diawali dengan pertanyaaan, “apakah rasa cinta kepada lawan jenis harus diungkapkan ?” Saya tidak menunggu jawaban murid-murid saya, kerena dilihat dari pandangan mata, mereka masih menunggu kata-kata saya.

Saya lanjutkan kata-kata saya, bahwa tidak salahnya rasa cinta itu diungkapkan. Yang menjadi salah adalah ketika gayung bersambut, dan hubungan cinta antara dua lawan jenis itu membutakan mata sehingga mengganggu kegiatan utama di sekolah yaitu belajar atau bahkan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Saya perhatikan mereka masih menyimak.  Jadi ungkapkan saja misalnya, “saya suka kamu, karena kamu baik, atau “saya suka kamu, karena kamu manis, dan karena kita masih sangat muda maka kita bersahabat saja. Insya Allah di saat yang tepat,jika memang kita berjodoh maka Allah akan mempersatukan kita.” 

Jika kita benar-benar mencintai seseorang maka kita pasti mengharapkan  yang terbaik dari orang yang kita cintai. Bukan malah merusaknya, mengganggunya, membuat prestasi belajar merosot, dan seterusnya. Ingat ya, jika memang benar orang itu mencintai kalian seharusnya rasa cinta membaikkan diri. Jika sebaliknya maka itu pasti bukan cinta.

Begitulah, namun dalam hati saya masih bertanya-tanya, khawatir kata-kata saya berpengaruh buruk terhadap siswa.

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...