“Nangisnya sudah habis, tiga
tahun nangis terus cukup sudah,” ujar wanita paruh baya yang masih nampak
cantik itu nyaris tanpa ekspresi. Wanita
itu seorang ustadzah dari Tasikmalaya. Kebersamaan kami selama berhari-hari
dalam perjalanan ibadah haji membuat kami dekat. Kebetulan kami berada di kamar
yang sama, dan sama-sama berangkat sendiri. Ustadzah itu berangkat haji
dibiayai oleh menantunya yang sedang menempuh
studi S3 di Universitas Madinah atas biaya pemerinta Arab Saudi. Sekitar
7 hari terakhir menjelang kepulangan ke tanah air, kami berdua melewatkan
malam-malam di Masjidil Haram untuk beriktikaf.
Kami mengaji bersama, shalat bersama, berdiskusi, berbincang ringan, dan
merebahkan badan di lantai masjid jika rasa kantuk menyerang.
Selama kebersamaan kami, aku
hampir tak pernah melihatnya menangis, bahkan dalam do’a-do’a dan ibadahnya di
depan ka’bah. Karena merasa dekat, aku tanyakan keingintahuanku itu. Lalu
mengalirlah cerita hidupnya yang tak kusangka.
Setelah belasan tahun masa
perkawinannya yang bahagia dan harmonis dan sudah memiliki tiga orang anak,
tiba-tiba suaminya yang ustadz itu minta ijin menikah lagi. Sebagai seorang
ustadzah panutan umat dan tentu saja memahami agama, ibu itu meski galau,
mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Pada saat hari pernikahan suaminya dia
sendiri yang mempersiapkan segala hantaran dan mas kawin. Anak sulungnya yang
masih SMP saat itu sempat bertanya untuk apa segala hantaran ini kepada uminya.
Dan pernikahan kedua suaminya akhirnya berlangsung dengan keridhoannya.
Pada saat istri kedua suaminya
melahirkan anak pertamanya, ustadzah ini ikut menunggui. Dia sendiri sedang
mengandung sembilan bulan anaknya yang ke-empat. Subhanallah. Semuanya nampak berlangsung dengan baik. Namun
demikian kelahiran anak pertama dari istri keduanya ini dan kelahiran anak
ke-empat dari ustadzah ini rupanya menjadi awal masa-masa penuh derai air mata
bagi ustadzah. Anak ke-empatnya laki-laki, satu-satunya setelah tiga anak
sebelumnya perempuan. Anak ini ‘dengan kehendak Allah’ menginginkan kedekatan
dengan ayahnya lebih dari biasanya. Saat itu rasa keadilan benar-benar diuji dan suaminya gagal memenuhi
syarat keadilan bahkan terhadap anaknya sendiri. Ustadzah itu bercerita,
seandainya saat itu suaminya bisa berlaku adil terutama terhadap anak-anaknya
saya tidak akan mengajukan gugatan cerai.
Ustadzah itu, setelah masa tiga
tahun, melalui perihnya ketidakadilan, akhirnya mengajukan gugatan cerai
terhadap suaminya. Tentu saja suaminya
menolak. Namun kegigihan ustadzah ini untuk memperjuangkan nasibnya di
pengadilan, akhirnya berhasil. Perkawinan yang telah dirawatnya belasan tahun
harus berakhir. Dia memilih bercerai dari suaminya. Keputusan ini membuatnya
tidak saja dimusuhi oleh mantan suami dan keluarganya namun juga komentar
miring masyarakat sekitar. Bagaimana mungkin seorang ustadzah mengguggat cerai
suaminya yang juga ustadz. Begitulah komentar yang harus dia terima.
Dan kehidupan terus bergulir, beberapa
lama setelah dia melalui masa iddahnya, seorang bujangan yang juga guru agama
melamarnya. Dan diapun menikah lagi. Seperti do’a yang dia selalu panjatkan,
seorang pengganti yang lebih baik. Dari pernikahannya yang kedua ini dia
melahirkan tiga orang anak lagi. Sehingga jumlah seluruh anaknya tujuh orang.
Dan kesemuanya dibesarkan dengan suami keduanya ini dengan baik. Bahkan anak
pertama dan keduanya menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh suami
keduanya. Alhamdulillah perkawinan keduanya sakinah mawwadah wa rahmah.
Kebahagiaan hakiki dia rasakan.
Di akhir ceritanya dia berpesan.
Dik, (begitulah dia memanggilku), setiap rumah tangga harus melakukan peran
dakwah. Jika suami yang berdakwah, maka istri mendukung dakwah suaminya. Jika
suami tidak bisa berdakwah, maka istri
harus berdakwah dan suami mendukung dakwah istri.
Lewat tengah malam ketika dia menyudahi
ceritanya. Angin malam di udara Mekkah saat itu bertiup hangat. Ribuan orang
masih tak henti berthawaf. Berputar mengelilingi Ka’bah, bergantian antara yang
datang dan pergi, seperti roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar. Dan
itulah gambaran hidup kita, seharusnya menjadikan Allah sebagai muara segala
urusan. Suka- duka, sedih-kecewa, marah-gembira, ujian-musibah, semua
dipergilirkan pada waktunya. Dan hanya kepada Allahlah kita pusatkan segala
sesuatu.
Bu Imas, nama ustadzah itu, sudah
memejamkan mata di lantai masjid. Aku sendiri masih terjaga, terkesan dengan
kisah hidupnya. Wanita yang punya pendirian, gumamku dalam hati. Allah-lah yang
telah memberinya kekuatan untuk memilih dan memutuskan jalan hidupnya. Mengijinkan suaminya menikah lagi, menggugat
cerai suaminya, dan menikah lagi tentu memerlukan kekuatan hati yang luar
biasa. Namun, seperti thawaf, jika semua dikarenakan Allah, segalanya menjadi
lebih mudah. Beliau sudah berthawaf jauh sebelum datang ke Ka’bah ini. Ah, aku akan merindukan saat-saat seperti
ini, melakukan perbincangan penuh makna di depan Ka’bah, di Masjidil Haram yang
penuh berkah.
Wallahu’alam..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar