Kamis, 23 Mei 2013

Wanita Berhati Kuat


“Nangisnya sudah habis, tiga tahun nangis terus cukup sudah,” ujar wanita paruh baya yang masih nampak cantik itu nyaris tanpa ekspresi.  Wanita itu seorang ustadzah dari Tasikmalaya. Kebersamaan kami selama berhari-hari dalam perjalanan ibadah haji membuat kami dekat. Kebetulan kami berada di kamar yang sama, dan sama-sama berangkat sendiri. Ustadzah itu berangkat haji dibiayai oleh menantunya yang sedang menempuh  studi S3 di Universitas Madinah atas biaya pemerinta Arab Saudi. Sekitar 7 hari terakhir menjelang kepulangan ke tanah air, kami berdua melewatkan malam-malam di Masjidil Haram untuk beriktikaf.  Kami mengaji bersama, shalat bersama, berdiskusi, berbincang ringan, dan merebahkan badan di lantai masjid jika rasa kantuk menyerang.
Selama kebersamaan kami, aku hampir tak pernah melihatnya menangis, bahkan dalam do’a-do’a dan ibadahnya di depan ka’bah. Karena merasa dekat, aku tanyakan keingintahuanku itu. Lalu mengalirlah cerita hidupnya yang tak kusangka.
Setelah belasan tahun masa perkawinannya yang bahagia dan harmonis dan sudah memiliki tiga orang anak, tiba-tiba suaminya yang ustadz itu minta ijin menikah lagi. Sebagai seorang ustadzah panutan umat dan tentu saja memahami agama, ibu itu meski galau, mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Pada saat hari pernikahan suaminya dia sendiri yang mempersiapkan segala hantaran dan mas kawin. Anak sulungnya yang masih SMP saat itu sempat bertanya untuk apa segala hantaran ini kepada uminya. Dan pernikahan kedua suaminya akhirnya berlangsung dengan keridhoannya.
Pada saat istri kedua suaminya melahirkan anak pertamanya, ustadzah ini ikut menunggui. Dia sendiri sedang mengandung sembilan bulan anaknya yang ke-empat. Subhanallah.  Semuanya nampak berlangsung dengan baik. Namun demikian kelahiran anak pertama dari istri keduanya ini dan kelahiran anak ke-empat dari ustadzah ini rupanya menjadi awal masa-masa penuh derai air mata bagi ustadzah. Anak ke-empatnya laki-laki, satu-satunya setelah tiga anak sebelumnya perempuan. Anak ini ‘dengan kehendak Allah’ menginginkan kedekatan dengan ayahnya lebih dari biasanya. Saat itu rasa keadilan  benar-benar diuji dan suaminya gagal memenuhi syarat keadilan bahkan terhadap anaknya sendiri. Ustadzah itu bercerita, seandainya saat itu suaminya bisa berlaku adil terutama terhadap anak-anaknya saya tidak akan mengajukan gugatan cerai.
Ustadzah itu, setelah masa tiga tahun, melalui perihnya ketidakadilan, akhirnya mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya.  Tentu saja suaminya menolak. Namun kegigihan ustadzah ini untuk memperjuangkan nasibnya di pengadilan, akhirnya berhasil. Perkawinan yang telah dirawatnya belasan tahun harus berakhir. Dia memilih bercerai dari suaminya. Keputusan ini membuatnya tidak saja dimusuhi oleh mantan suami dan keluarganya namun juga komentar miring masyarakat sekitar. Bagaimana mungkin seorang ustadzah mengguggat cerai suaminya yang juga ustadz. Begitulah komentar yang harus dia terima.
Dan kehidupan terus bergulir, beberapa lama setelah dia melalui masa iddahnya, seorang bujangan yang juga guru agama melamarnya. Dan diapun menikah lagi. Seperti do’a yang dia selalu panjatkan, seorang pengganti yang lebih baik. Dari pernikahannya yang kedua ini dia melahirkan tiga orang anak lagi. Sehingga jumlah seluruh anaknya tujuh orang. Dan kesemuanya dibesarkan dengan suami keduanya ini dengan baik. Bahkan anak pertama dan keduanya menikah dengan laki-laki yang dipilihkan oleh suami keduanya. Alhamdulillah perkawinan keduanya sakinah mawwadah wa rahmah. Kebahagiaan hakiki dia rasakan.
Di akhir ceritanya dia berpesan. Dik, (begitulah dia memanggilku), setiap rumah tangga harus melakukan peran dakwah. Jika suami yang berdakwah, maka istri mendukung dakwah suaminya. Jika suami tidak bisa berdakwah,  maka istri harus berdakwah dan suami mendukung dakwah istri.
 Lewat tengah malam ketika dia menyudahi ceritanya. Angin malam di udara Mekkah saat itu bertiup hangat. Ribuan orang masih tak henti berthawaf. Berputar mengelilingi Ka’bah, bergantian antara yang datang dan pergi, seperti roda kehidupan yang tak pernah berhenti berputar. Dan itulah gambaran hidup kita, seharusnya menjadikan Allah sebagai muara segala urusan. Suka- duka, sedih-kecewa, marah-gembira, ujian-musibah, semua dipergilirkan pada waktunya. Dan hanya kepada Allahlah kita pusatkan segala sesuatu.
Bu Imas, nama ustadzah itu, sudah memejamkan mata di lantai masjid. Aku sendiri masih terjaga, terkesan dengan kisah hidupnya. Wanita yang punya pendirian, gumamku dalam hati. Allah-lah yang telah memberinya kekuatan untuk memilih dan memutuskan jalan hidupnya.  Mengijinkan suaminya menikah lagi, menggugat cerai suaminya, dan menikah lagi tentu memerlukan kekuatan hati yang luar biasa. Namun, seperti thawaf, jika semua dikarenakan Allah, segalanya menjadi lebih mudah. Beliau sudah berthawaf jauh sebelum datang ke Ka’bah ini.  Ah, aku akan merindukan saat-saat seperti ini, melakukan perbincangan penuh makna di depan Ka’bah, di Masjidil Haram yang penuh berkah.

Wallahu’alam..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...