Siang itu udara sangat panas.
Pendingin ruangan di kelas menjadi kurang berfungsi dengan baik, saking panasnya
cuaca. Tiga puluh dua siswa kelas X-3 itupun sibuk mengipas-ngipas dirinya.
Demikian juga aku yang saat itu mengajar di kelas itu, bersusah-payah mengatasi
dua kondisi antara panas dan mengajar. Tentu saja aku tak akan memilih ceramah
dalam suasana panas seperti itu. Saat itu kami sedang mengkaji dalil-dalil Al
Qur’an tentang perbankan syariah. Sebelum mendiskusikan makna ayat dan kaitannya
dengan perbankan, aku minta siswa yang bacaan Qur’annya bagus untuk membaca
ayat-ayat Al Qur’an tentang perbankan syariah dengan suara nyaring. Kemudian,
sesekali seluruh siswa aku minta mengikuti bacaan itu dengan suara nyaring
pula. Kegiatan itu cukup menghidupkan suasana yang panas.
Melihat konsentrasi siswa mudah terpecah antara
pelajaran, cuaca panas dan rasa kantuk, di tengah jam pelajaran, aku memutuskan
untuk memberikan ice breaker. Aku pilih
ice breaker yang melibatkan semua siswa yaitu permainan konsentrasi dan
kegesitan. Dalam kondisi tetap duduk setiap siswa berperan sebagai pemburu dan
ular. Jari telunjuk dianggap sebagai
ular, telapak tangan yang terbuka simbul pemburu. Dengan posisi berantai setiap
siswa berperan sebagai pemburu sekaligus ular. Permainannya cukup mudah, aku
akan bercerita tentang kisah perburuan manusia terhadap ular untuk menjadikan
kulitnya sebagai asesoris. Siswa mesti menyimak cerita itu, karena ketika dalam
cerita itu disebut kata ular maka kegesitan ular menghindar dan pemburu
menangkap ular diuji. Peraturannya siapa yang tertangkap dia kalah dan siap
dihukum sesuai permintaan pemburu. Pilihan hukumannya adalah menyanyi,
bercerita, menghafal ayat, ceramah, atau membaca ayat Al Qur’an.
Permainan ini membutuhkan
konsentrasi, kegesitan dan terutama kepiawaian guru dalam mengarang cerita yang
bisa memancing ular dan pemburu bereaksi. Setiap sampai pada kata yang
berawalan ‘u’ , aku menggunakan nada tertentu
yang memancing reaksi siswa. Di sini ketegangan mulai terasa. Siswa yang
panic akan cepat-cepat bereaksi pada setiap kata yang berawalan ‘u’ disebut.
Kelaspun mulai heboh. Dan, justru pada kata ‘ular’, aku mengucapkannya dengan
santai dan dalam rangkaian cerita yang tak terduga. Sehingga hanya siswa yang
benar-benar konsentrasi dan gesitlah yang berhasil berperan dengan baik. Siang
itu, tertangkap tiga ‘ular’ yang kurang gesit menghindar. Dua siswi dan satu
siswa.
Ketiga siswa tersebut diminta
maju ke depan kelas dan memilih hukumannya.
Satu-satunya siswa putra yang tertangkap merupakan salah satu anggota
‘boy band’ di kelas itu. Yah, disebut anggota boy band, karena di kelas
tersebut berkumpul sejumlah siswa yang memerlukan perhatian khusus karena
‘keaktifan’ sikapnya yang seringkali sulit dikendalikan dan mengganggu. Entah
mengapa, teman-temannya meminta sang ‘boy band’ untuk khotbah. Permintaan yang
aneh, batinku. Sang boy band tidak bersedia berkotbah, dia bilang mau menyanyi
saja. Cukup lama ketiga siswa ‘terhukum’
tersebut menentukan mau menyanyi apa. Berbagai permintaan bermunculan, mulai
minta menyanyi lagu Korea, lagu band
Wali, Noah, Ungu, bahkan lagu nasional.
Penonton sudah mulai agak kurang
sabar ketika sang boy band tiba-tiba memutuskan untuk menyanyikan sholawat
Nabi. Akupun tak menyangka. Lalu remaja tanggung berpenampilan ‘boy band’
itupun mulai melantunkan sholawat nabi dengan suara bass-nya yang lumayan
merdu. Dan yang lebih menakjubkan dia tidak melantunkan sholawat Nabi yang
biasa kita nyanyikan. Aku baru pertama
kali mendengarnya. Syair sholawat Nabi berbahasa Arab yang cukup panjang itu
dinyanyikannya dengan hafal dan lancar tanpa jeda. Terus terang lantunan sholawat yang
disuarakannya membuatku merinding. Keindahan
syair puji-pujian terhadap Rasulullah SAW itu dinyanyikannya dengan khusyu’,
oleh siswa yang selama dikenal sebagai anggota ‘boy band’.
Begitu lantunan sholawat
berakhir, tepuk tanganpun bergemuruh. Sang ‘boy band’ dan dua siswa yang
mendampinginyapun kembali ke tempat duduk. “Subhanallah, ibu terpesona dengan
shalawat yang kamu lantunkan”, ujarku. “Dan terus terang ibu tidak menyangka
kamu punya hafalan sholawat lebih kaya dari yang ibu duga”, ujarku
melanjutkan. Lalu terjadilah dialog
tentang sholawat tersebut; judulnya apa, dimana belajar, dsb. Dan subhanallah,
ternyata di kelas tersebut mayoritas siswa putra tergabung dalam kelompok
hadrah yang rutin latihan seminggu sekali. Oh pantas saja.
Akhirnya dengan
sungguh-sungguh aku meminta kelompok
‘boy band’ itu untuk menampilkan salah satu lagu favorit mereka. Merekapun tak
keberatan dan maju ke depan kelas untuk melantunkan jenis sholawat Nabi yang
lainnya. Subhanallah, melihat keseharian mereka dan perilaku yang biasa mereka
tampilkan, sungguh tidak menyangka mereka adalah remaja-remaja yang bisa larut
dalam kekhusyu’an lantunan sholawat. Akupun makin merinding dan bersusah payah
menahan air mata yang mendesak keluar karena haru.
Siang itupun, cuaca panas seperti
menguap begitu saja tak berasa. Dan aku mengakhiri pembelajaran siang itu dengan satu lagi
kesadaran bahwa memang setiap anak adalah unik. Dan pasti ada sisi positif yang
dimiliki setiap siswa jika kita bersedia mengenalinya. Hari itu bertepatan hari
pendidikan nasional 2 Mei, kami belajar bersama tentang aneka warna kehidupan
dan pilihan-pilhannya. Bahkan satu orangpun, bisa menampilkan warna yang
berbeda-beda. Perlu kesanggupan untuk tidak sekedar mengetahui dan
menjustifikasi seseorang dari warna yang ditampakkannya. Sungguh manusia itu
unik dan sekaligus misterius. Namun, keterbukaan fikiran dan hati kita untuk
mau melihat lebih dari sekedar yang terlihat, membuat hidup ini menjadi lebih
bermakna.
Subhanallah wal Hamdulillah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar