Kamis, 02 Mei 2013

Saat "Boy Band" Sholawatan

Siang itu udara sangat panas. Pendingin ruangan di kelas   menjadi  kurang berfungsi dengan baik, saking panasnya cuaca. Tiga puluh dua siswa kelas X-3 itupun sibuk mengipas-ngipas dirinya. Demikian juga aku yang saat itu mengajar di kelas itu, bersusah-payah mengatasi dua kondisi antara panas dan mengajar. Tentu saja aku tak akan memilih ceramah dalam suasana panas seperti itu. Saat itu kami sedang mengkaji dalil-dalil Al Qur’an tentang perbankan syariah.  Sebelum mendiskusikan makna ayat dan kaitannya dengan perbankan, aku minta siswa yang bacaan Qur’annya bagus untuk membaca ayat-ayat Al Qur’an tentang perbankan syariah dengan suara nyaring. Kemudian, sesekali seluruh siswa aku minta mengikuti bacaan itu dengan suara nyaring pula. Kegiatan itu cukup menghidupkan suasana yang panas.

Melihat  konsentrasi siswa mudah terpecah antara pelajaran, cuaca panas dan rasa kantuk, di tengah jam pelajaran, aku memutuskan untuk memberikan ice breaker.  Aku pilih ice breaker yang melibatkan semua siswa yaitu permainan konsentrasi dan kegesitan. Dalam kondisi tetap duduk setiap siswa berperan sebagai pemburu dan ular.  Jari telunjuk dianggap sebagai ular, telapak tangan yang terbuka simbul pemburu. Dengan posisi berantai setiap siswa berperan sebagai pemburu sekaligus ular. Permainannya cukup mudah, aku akan bercerita tentang kisah perburuan manusia terhadap ular untuk menjadikan kulitnya sebagai asesoris. Siswa mesti menyimak cerita itu, karena ketika dalam cerita itu disebut kata ular maka kegesitan ular menghindar dan pemburu menangkap ular diuji. Peraturannya siapa yang tertangkap dia kalah dan siap dihukum sesuai permintaan pemburu. Pilihan hukumannya adalah menyanyi, bercerita, menghafal ayat, ceramah, atau membaca ayat Al Qur’an.

Permainan ini membutuhkan konsentrasi, kegesitan dan terutama kepiawaian guru dalam mengarang cerita yang bisa memancing ular dan pemburu bereaksi. Setiap sampai pada kata yang berawalan ‘u’ , aku menggunakan nada tertentu  yang memancing reaksi siswa. Di sini ketegangan mulai terasa. Siswa yang panic akan cepat-cepat bereaksi pada setiap kata yang berawalan ‘u’ disebut. Kelaspun mulai heboh. Dan, justru pada kata ‘ular’, aku mengucapkannya dengan santai dan dalam rangkaian cerita yang tak terduga. Sehingga hanya siswa yang benar-benar konsentrasi dan gesitlah yang berhasil berperan dengan baik. Siang itu, tertangkap tiga ‘ular’ yang kurang gesit menghindar. Dua siswi dan satu siswa.

Ketiga siswa tersebut diminta maju ke depan kelas dan memilih hukumannya.  Satu-satunya siswa putra yang tertangkap merupakan salah satu anggota ‘boy band’ di kelas itu. Yah, disebut anggota boy band, karena di kelas tersebut berkumpul sejumlah siswa yang memerlukan perhatian khusus karena ‘keaktifan’ sikapnya yang seringkali sulit dikendalikan dan mengganggu. Entah mengapa, teman-temannya meminta sang ‘boy band’ untuk khotbah. Permintaan yang aneh, batinku. Sang boy band tidak bersedia berkotbah, dia bilang mau menyanyi saja.  Cukup lama ketiga siswa ‘terhukum’ tersebut menentukan mau menyanyi apa. Berbagai permintaan bermunculan, mulai minta menyanyi lagu Korea, lagu  band Wali, Noah, Ungu, bahkan lagu nasional.

Penonton sudah mulai agak kurang sabar ketika sang boy band tiba-tiba memutuskan untuk menyanyikan sholawat Nabi. Akupun tak menyangka. Lalu remaja tanggung berpenampilan ‘boy band’ itupun mulai melantunkan sholawat nabi dengan suara bass-nya yang lumayan merdu. Dan yang lebih menakjubkan dia tidak melantunkan sholawat Nabi yang biasa kita nyanyikan. Aku  baru pertama kali mendengarnya. Syair sholawat Nabi berbahasa Arab yang cukup panjang itu dinyanyikannya dengan hafal dan lancar tanpa jeda.  Terus terang lantunan sholawat yang disuarakannya membuatku merinding.  Keindahan syair puji-pujian terhadap Rasulullah SAW itu dinyanyikannya dengan khusyu’, oleh siswa yang selama dikenal sebagai anggota ‘boy band’.

Begitu lantunan sholawat berakhir, tepuk tanganpun bergemuruh. Sang ‘boy band’ dan dua siswa yang mendampinginyapun kembali ke tempat duduk. “Subhanallah, ibu terpesona dengan shalawat yang kamu lantunkan”, ujarku. “Dan terus terang ibu tidak menyangka kamu punya hafalan sholawat lebih kaya dari yang ibu duga”, ujarku melanjutkan.  Lalu terjadilah dialog tentang sholawat tersebut; judulnya apa, dimana belajar, dsb. Dan subhanallah, ternyata di kelas tersebut mayoritas siswa putra tergabung dalam kelompok hadrah yang rutin latihan seminggu sekali. Oh pantas saja.

Akhirnya dengan sungguh-sungguh  aku meminta kelompok ‘boy band’ itu untuk menampilkan salah satu lagu favorit mereka. Merekapun tak keberatan dan maju ke depan kelas untuk melantunkan jenis sholawat Nabi yang lainnya. Subhanallah, melihat keseharian mereka dan perilaku yang biasa mereka tampilkan, sungguh tidak menyangka mereka adalah remaja-remaja yang bisa larut dalam kekhusyu’an lantunan sholawat. Akupun makin merinding dan bersusah payah menahan air mata yang mendesak keluar karena haru.

Siang itupun, cuaca panas seperti menguap begitu saja tak berasa. Dan aku mengakhiri  pembelajaran siang itu dengan satu lagi kesadaran bahwa memang setiap anak adalah unik. Dan pasti ada sisi positif yang dimiliki setiap siswa jika kita bersedia mengenalinya. Hari itu bertepatan hari pendidikan nasional 2 Mei, kami belajar bersama tentang aneka warna kehidupan dan pilihan-pilhannya. Bahkan satu orangpun, bisa menampilkan warna yang berbeda-beda. Perlu kesanggupan untuk tidak sekedar mengetahui dan menjustifikasi seseorang dari warna yang ditampakkannya. Sungguh manusia itu unik dan sekaligus misterius. Namun, keterbukaan fikiran dan hati kita untuk mau melihat lebih dari sekedar yang terlihat, membuat hidup ini menjadi lebih bermakna.

Subhanallah wal Hamdulillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...