Sabtu, 21 Juli 2012

Bulan yang Dinantikan

Alhamdulillah sampai hari ini kita semua masih mendapat kesempatan melaksanakan ibadah puasa tanpa halangan di bulan Ramadhan. Saya sendiri ini adalah hari ketiga puasa Ramadhan 1433 H, karena saya ikut awal puasa tanggal 20 Juli. Tentang perbedaan ini tidak perlu diperdebatkan, karena kembali ke keyakinan masing-masing. Saya sendiri lebih yakin dengan perhitungan/hisab dan ditambah info dari negara-negara lain baik di Timur Tengah maupun beberapa negara di Eropa yang menyatakan telah melihat hilal dan menentukan awal Ramadhan tanggal 20 Juli. Ini 'hanya' soal pilihan. 

Tapi bagi saya sendiri dan keluarga adalah pilihan dengan berbagai pertimbangan. Terutama, karena suatu saat beberapa tahun yang lalu dengan mata kepala sendiri kami pernah melihat bulan/hilal tanggal 1 syawal. Tipis memang, tapi begitu jelas di langit Ponorogo yang cerah. Kami sekeluarga berbondong-bondong keluar rumah dan menyaksikan sendiri bulan tanggal 1 syawal di langit bagian barat habis maghrib. Beberapa saat berikutnya pemerintah mengumumkan 1 syawal bukan hari itu tapi besoknya. Esoknya, selepas sholat maghrib di masjid dekat rumah, bulan sabit tampak dengan jelasnya, dan orang-orang berkata "loh ini bulan tanggal 2". Sejak itu, kami mulai tidak lagi taqlid buta ikut  pemerintah, namun mulai membaca dan mempertimbangkan penentuan 1 Ramadhan atau 1 syawal dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Wallahu'alam.

Lebih dari semua itu, yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi bulan Ramadhan dan mengazzamkan nita untuk menjadikan Ramadhan tahun menjadi ramadhan terbaik dalam hidup kita. Begitu setiap tahun kita azzamkan di awal Ramadhan. Sehingga dengan penuh keyakinan kita menyadari betapa berharganya detik demi detik waktu di bulan Ramadhan ini. Bahkan helaan nafas kitapun bernilai ibadah yaitu ketika kita tidur dan tidak melakukan apa-apa selain bernafas. Tidurnya orang puasa adalah ibadah.

Saya sendiri membiasakan diri dengan tadarus Al Qur'an mulai lagi dari surah pertama Al Fatihah dan berusaha mengkhatamkan Al Qur'an selama Ramadhan. Ritual ini menyadarkan saya akan kehadiran Ramadhan. Ketika mulai membaca juz pertama Al Qur'an saya membayangkan bagaimana Rasulullah setiap Ramadhan bertadarus dengan malaikat Jibril untuk menjaga kemurnian Al Quran. Subhanallah, dan kita sekarang mengikuti sunnah itu dengan tadarus Al Quran baik sendiri-sendiri maupun berjama'ah di masjid.

Saya sendiri, karena ada beberapa hari mendapat halangan dilarang berpuasa dan membaca Al Quran, harus mendisiplinkan diri membaca Al Quran lebih dari 1 Juz sehari. Dengan itu Insya Allah, bisa khatam Al Quran minimal sekali selama  bulan Ramadhan. Untunglah kegiatan saya sebagai guru memungkinkan saya untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al Quran.

Berinteraksi dengan Al Quran di bulan Ramadhan adalah kegiatan utama selain puasa. Karena salah satu keutamaan bulan Ramadhan karena di dalamnya diturunkan Al Quran (QS. Al Baqarah; 185), petunjuk bagi manusia, pembeda jalan yang benar dengan jalan yang batil. Maka tidak saja kita harus membacanya namun juga memahami maknanya dan terutama mengamalkan Al Quran.

Selain berinteraksi dengan Al Quran, Ramadhan adalah bulan berbagi. Bahkan diriwayatkan bahwa memberi makan orang berbuka puasa akan mendapat pahala sama dengan pahalanya orang berpuasa. Anjuran ini sudah diikuti hampir seluruh masjid di Indonesia yang menyediakan tajil berbuka puasa untuk siapa saja yang ada di masjid tersebut. Juga kegiatan tajil on the road banyak dilakukan remaja masjid dengan membagikan makanan berbuka di jalanan. Di masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Haram Mekkah, bahkan katanya orang berlomba memberi makanan gratis untuk berbuka.

Berkaitan yang terakhir itu, itu adalah salah satu mimpi saya yang belum terwujud. Umroh di bulan Ramadhan. Semoga Allah memberikan saya umur dan rejeki untuk dapat melaksanakan umroh di bulan Ramadhan. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...