Senin, 05 Maret 2012

Heboh Jurnal Ilmiah

Akhir-akhir ini dunia pendidikan tinggi kita heboh dengan keharusan menerbitkan jurnal ilmiah sebagai prasyarat lulus untuk jenjang S1, S2, dan S3. Menarik menyimak perdebatan pro kontra tentang kebijakan ini. Mayoritas pendapat bisa dibilang ‘kontra’ atau menolak keharusan ini. Bahkan berita terkini, asosiasi perguruan tinggi swasta Indonesia secara resmi menyampaikan penolakannya kepada Kemdikbud. Alasan penolakannya cukup beragam namun dapat disimpulkan bahwa mahasiswa tidak siap atau tidak mampu memenuhi ketentuan ini, menulis jurnal ilmiah dan menerbitkannya di jurnal ilmiah baik nasional apalagi internasional.

Mengapa menulis jurnal ilmiah seolah menjadi momok sehingga banyak yang keberatan?
Menulis karya ilmiah mesti memenuhi dua poin penting yaitu: pertama, karya ilmiah haruslah karya orisinil, up to date dan karena orisinil maka bebas dari plagiat atau copy-paste. Kedua, karya ilmiah berbentuk jurnal mesti disajikan dengan bahasa yang menarik, mengalir sehingga enak dibaca namun masih memenuhi kaidah ilmiah.

Poin pertama, bagaimana menyajikan pemikiran orisinil dalam karya ilmiah. Saya ingin berbagi pengalaman berkaitan dengan poin pertama ini. Beberapa tahun terakhir saya 'memaksa' diri saya baik secara individu maupun tim, untuk menulis karya berbasis penelitian bidang pendidikan atau psikologi atau gabungan keduanya. Minimal satu penelitian dalam satu tahun dan dipaparkan dalam acara temu ilmiah atau simposium penelitian.

Karya ilmiah berbasis penelitian menurut saya adalah karya yang orisinal, up to date dan lebih mudah menuliskannya. Karena berbasis penelitian, maka hal penting yang harus dilakukan sebelum menulis adalah menemukan ide penelitian dan membuat desain penelitian. Rupanya hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh pengalaman dan terutama kepekaan melihat situasi sehingga dapat menemukan ide penelitian yang menarik.

Selanjutnya adalah 'action research', mulai dari merancang desain penelitian, membuat/menentukan instrumen dan akhirnya meneliti. Memang agak perlu waktu dan tenaga. Namun, karena masalah yang kita teliti adalah bagian keseharian jadi bisa dikerjakan secara paralel.

Poin kedua, bagaimana menulis karya ilmiah dengan bahasa yang menarik, mengalir sehingga enak dibaca tanpa mengurangi kaidah ilmiah. Karya ilmiah berbasis penelitian cenderung disajikan secara kaku sehingga segmen pembacanyapun menjadi terbatas. Memang tidak mudah menyajikan materi berat dengan bahasa yang mengalir lancar dan enak dibaca. Ini tidak bisa instant, perlu latihan terus menerus karena menulis memang perlu ketrampilan. Di sisi lain ada baiknya jika pengelola jurnal ilmiah tidak merepakan aturan yang terlalu kaku dalam penulisan karya ilmiah.

Dari itu semua kuncinya memang 'semangat' atau motivasi. Dan motivasi ini bisa datang dari luar. Saya sendiri melakukan ini karena 'panas' alias dikompori oleh keadaan. Pertama kali saya dan teman saya guru Madrasah mengikutkan hasil penelitian di temu ilmiah psikologi dengan mencantumkan identitas guru MAN. Panitia tanpa bertanya menambahkan huruf 'S' di depan MAN jadilah kami dikenalkan sebagai guru SMAN. Ini yang membuat saya dan teman saya 'panas', ternyata guru madrasah diragukan ikut even ilmiah. Dari situ saya bertekad untuk terus meneliti dan mengikutkan hasil penelitian saya di even ilmiah tujuannya pada awalnya memperkenalkan madrasah. Sekarang saya menikmati.

Jakarta, suatu siang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Imam yang Tak Dirindukan

"Aku besok gak mau tarawih lagi, " gerutu si bungsu saat pulang tarawih tadi malam.  "Loh, kenapa?" Tanya Saya sambil ...